JANGAN MENGHAKIMI ORANG LAIN: EKSEGESE & RELEVANSI PASTORAL INJIL MATIUS 7:1-5 (Fr. Laimson Siallagan,OFMCap)

  1. Pendahuluan

Tindakan saling menyalahkan dan menghakimi adalah salah satu masalah teologis dan pastoral yang sering muncul dalam kehidupan manusia dan bahkan Gereja. Banyak konflik yang terjadi bukan karena persoalan yang besar melainkan hanya karena sikap menuduh atau melihat kesalahan orang lain tanpa keberanian untuk mengakui kelemahan diri. Sikap itu dalam sisi teologis sangat bertentangan dengan spiritualitas Kerajaan Allah yang menuntut kerendahan hati dan kesadaran akan keterbatasan manusiawi.

Injil Matius 7:1-5 sangat signifikan dalam larangan menghakimi dan metafora mengenai selumbar dan balok. Larangan ini menghadirkan kritik pedas terhadap moralitas manusia yang sering kali tampil munafik dengan memanggil orang-orang untuk kembali pada kejujuran batin. Teks ini memiliki urgensi besar bagi kehidupan Gereja terutama pada budaya saling menyalahkan atau berantam. Yesus mengenal hati manusia. Yesus juga tahu bila manusia sungguh-sungguh berhenti mencela orang lain, maka akan tercipta sebuah firdaus yang indah[1]. Oleh karena itu, Gereja dipanggil untuk menjadi komunitas yang di dalamnya tidak terdapat penghakiman melainkan relasi persaudaraan yang dilandasi oleh kasih bukan prasangka.

Penulisan artikel ini bertujuan untuk menuliskan eksegese terhadap Injil Matius 7:1-5. Hal ini berguna untuk memahami makna asli larangan Yesus tentang sikap menghakimi dan gambaran tentang “selumbar dan balok serta dapat merumuskan implikasi pastoralnya bagi kehidupan Gereja saat ini atau disebut dengan Gereja Kontemporer. Pertanyaan yang hendak dijawab adalah:

  1. Apa makna teologis dari larangan jangan menghakimi?
  2. Bagaimana metafora selumbar dan balok mengungkapkan kritik Yesus terhadap kemunafikan moral?
  3. Bagaimana ajaran ini dapat diterapkan dalam kehidupan Gereja masa kini agar komunitas iman menjadi ruang pertumbuhan bukan penghakiman?

Metode yang digunakan ialah pendekatan historis-kritis untuk menelusuri konteks penulisan dan dinamika teks, dan pendekatan teologis biblis untuk memperdalam pesan teologisnya, serta pendekatan pastoral untuk menafsirkan makna teks dalam konteks hidup Gereja sekarang.

  • Konteks Teks
    • Konteks Literer

Perikop Matius 7:1-5 merupakan rangkuman pengajaran fundamental Yesus. Perikop ini menjadi bagian penting dari khotbah di bukit yang diceritakan mulai dari Matius 5 sampai Matius 7 dan yang ditekankan mengenai etika kerajaan Allah. Perikop ini muncul dalam bagian penutup khotbah setelah ajaran tentang doa, harta dan kekhawatiran, lalu dibuka dengan rangkaian nasihat praktis mengenai relasi sosial.  Pada ayat pertama ditegaskan larangan menghakimi dengan sembarangan “Jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi”. Penegasan ini diperkuat oleh ayat kedua yang menekankan timbal balik yakni ukuran yang dipakai untuk menilai orang lain akan kembali kepada diri sendiri. Kemudian Yesus memberikan suatu metafora yang terdapat pada ayat 3. Ayat 3 dikenal secara umum sebagai pepatah kuno yang menceritakan tentang selumbar dan balok untuk mengkritik kemunafikan yang cenderung melihat kesalahan kecil orang lain sambil mengabaikan kesalahannya sendiri[2].

Matius 7: 1-5 menekankan bahwa integritas pribadi adalah syarat utama sebelum menegur orang lain. Pesan ini memperlihatkan etika kerajaan Allah bukanlah sekadar aturan lahiriah melainkan suatu sikap hati yang rendah, penuh kasih dan bebas dari kemunafikan. Teks ini juga menegaskan bahwa kehidupan seorang murid Kristus harus ditandai dengan kasih dalam relasi sosial. Hal ini sejalan dengan panggilan untuk hidup benar di hadapan Allah.

  • Konteks Historis

Perikop ini lahir dari konteks sosio-religius Yahudi pada abad pertama, yang mana Yesus dan komunitas Matius berhadapan dengan konflik yang sedang berlangsung dalam Yudaisme[3] dan tekanan dari otoritas agama serta dominasi politik Romawi. Bangsa Israel hidup di bawah kekuasaan bangsa Romawi yang menciptakan ketidakpuasan sosial. Ajaran jangan menghakimi mencerminkan komunitas Kristen Yahudi yang berusaha membangun identitas di tengah konflik dan ketegangan. Ada berbagai aliran seperti Farisi, Saduki, dll, yang masing-masingnya punya cara berbeda dalam menafsirkan hukum Taurat dan menanggapi penjajahan Bangsa Romawi. Yesus sendiri pada waktu itu sering berkonflik dengan kaum Farisi dan ahli Taurat mengenai standar moral yang kaku dan penghakiman. Pesan dari perikop ini adalah untuk mengkritik sikap menghakimi yang merusak solidaritas dan sekaligus ajakan untuk introspeksi diri sebelum menilai orang lain.

Injil Matius adalah buku Yahudi yang ditulis oleh seorang Yahudi[4]. Perikop ini ditujukan untuk komunitas yang masih dekat dengan tradisi Yahudi yang menganggap Yesus sebagai Mesias palsu[5]. Namun komunitas yang dekat dengan tradisi Yahudi itu masih percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Komunitas Matius ini mengalami konflik dengan sesama Yahudi non-Kristen. Mereka ditolak karena iman kepada Yesus. Selain itu, mereka hidup dalam sistem ekonomi dan politik bangsa Romawi yang menumbuhkan ketidakadilan sosial. Ajaran jangan menghakimi dipakai untuk melawan keserakahan dan sikap menghakimi bangsa Romawi serta untuk membentuk karakter khas pengikut Yesus yang berbeda dari budaya religius maupun politik pada zaman itu yakni kepatuhan kepada Allah[6].

  • Konteks Teologis

Perikop ini berada dalam konteks khotbah di bukit, di mana Yesus menyingkapkan etika hidup dalam kerajaan Allah yakni panggilan untuk kerendahan hati dan pertobatan pribadi, bukan sikap menghakimi. Yesus menegaskan bahwa ukuran yang dipakai manusia untuk menilai orang lain akan kembali kepada dirinya sehingga sejatinya penghakiman itu hanya milik Allah. Gambaran tentang selumbar di mata saudara dan balok di mata sendiri adalah simbol untuk menekankan perlunya introspeksi diri sebelum menilai orang lain.

Injil ini mengajarkan bahwa murid Kristus harus lebih dahulu memperbaiki diri, menyadari kelemahan diri dan membiarkan kasih Allah sebagai dasa relasi dengan sesama. Inti teologis dari perikop ini adalah jalan menuju kerajaan Allah bukan melalui penghakiman yang menindas melainkan kasih yang membebaskan, kerendahan hati, semangat mengampuni dan memperbaiki diri sebelum menolong orang lain.

  • Eksegesis Matius 7:1-5
    • Struktur Teks

Matius 7:1-5 dapat dibagi menjadi tiga bagian:

  1. Ayat 1-2: Menceritakan prinsip umum tentang larangan menghakimi dan konsekuensinya.

Ayat 1 “jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” menunjukkan prinsip timbal balik yakni sikap kita terhadap orang lain akan kembali kepada diri kita. Ayat 2 menjelaskan konsekuensinya dan menegaskan bahwa ukuran yang dipakai manusia akan menjadi ukuran yang dipakai Allah terhadap dirinya.

  • Ayat 3-4: Ilustrasi melalui metafora selumbar dan balok yang menyingkapkan kecenderungan manusia.

Ayat 3 memperkenalkan metafora yang bertujuan untuk menunjukkan kecenderungan manusia yakni lebih mudah melihat kesalahan kecil orang lain daripada kesalahan besar diri sendiri. Ayat 4 menggambarkan kemunafikan manusia yang menuntut orang lain berubah namun tidak memperbaiki dirinya. Ini merupakan kritik moral yang tidak konsisten.

  • Ayat 5: Kesimpulan dan ajakan praktis untuk introspeksi diri dan bertobat sebagai syarat untuk bisa menolong sesama.

Ayat 5 menegaskan bahwa hanya dengan kesadaran diri, seseorang dapat membantu sesama. Ayat ini merupakan puncak perikop yang berisi tentang ajakan pertobatan pribadi.

  • Kajian Kata dan Istilah Penting

Krínō (κρίνω) berasal dari kata Yunani yang berarti menghakimi. Arti menghakimi adalah berlaku sebagai hakim terhadap terdakwa. Hakim dikenal bukan hanya sebagai orang yang selalu menjatuhkan hukuman. Namun juga, hakim bertindak sebagai orang yang membebaskan terdakwa dan menyatakan tidak bersalah. Kata krino ini juga bisa berarti menyalahkan (menyatakan/memandang/menganggap salah), mencela (mengatakan bahwa kurang baik atau cacat) atau menghukum (mencela keras) [7].

Yesus tidak melarang menghakimi orang lain dalam arti: berlaku sebagai hakim terhadap suatu sengketa. Pengadilan tidak mungkin berfungsi tanpa adanya hakim. Orang-orang Kristen boleh saja memangku jabatan hakim. Yesus tidak melarang juga mengadili perkara orang lain.

  • Analisis Naratif, Simbolik dan Teologis
  • Tokoh-tokoh

Tokoh yang ditampilkan dalam perikop tidak dinyatakan secara eksplisit, namun dengan membaca alur ceritanya tokoh yang terkandung di dalam perikop ini yakni Yesus, Pendengar (murid) dan saudara. Yesus adalah guru yang berbicara dengan otoritas dan yang menyampaikan ajaran etika Kerajaan Allah. Ia menyingkapkan kecenderungan manusia untuk menghakimi dan mengajak untuk bertobat. Pendengar adalah mereka yang diajak untuk merenungkan pesan Yesus, bukan sekadar mendengar saja karena rentan jatuh dalam sikap menghakimi sesama. Saudara adalah suatu figur yang mewakili sesama manusia. Kehadirannya menunjukkan relasi sosial.

  • Tindakan

Tindakan-tindakan yang terjadi dalam perikop ini adalah menghakimi, melihat selumbar dan mengabaikan balok. Tindakan menghakimi adalah tindakan yang dilarang Yesus karena menempatkan manusia sebagai hakim atas sesama. Tindakan melihat selumbar adalah kecenderungan manusia untuk melihat kesalahan orang lain. Sedangkan tindakan mengabaikan balok adalah ketidakmampuan dalam melihat diri sendiri. Selumbar dan balok saling terkait dan dihubungkan dengan mata. Mata adalah anggota tubuh yang amat halus dan penting. Bila kita terserang oleh penyakit menyalahkan atau menghukum orang lain tanpa ampun, itu berarti kita buta terhadap tindakan kita sendiri. Mata rohani penting bagi kita karena membantu kita untuk berhenti mencela dan mengancam sesama. Bila kita mencela orang lain, sifat kemunafikan mulai menguasai hati kita[8].

  • Simbol
  • Selumbar

Selumbar adalah simbol kesalahan kecil yang sering dibesar-besarkan oleh manusia.

  • Balok

Balok adalah simbol kelemahan besar dalam diri manusia yang sering diabaikan.

  • Munafik

Munafik adalah simbol manusia yang berpura-pura benar. Dia seperti aktor yang memakai topeng tetapi menyembunyikan kelemahan besar.

  • Dialog dengan Sumber-Sumber Eksegesis

Bob Utley menyamakan penggunaan kata Krínō dengan kritik; mengritisi orang lain. Larangan Yesus bukan sekadar soal pengadilan melainkan sikap hati yang terlalu cepat mengritisi  sesama tanpa kesadaran akan kelemahan diri. Neil J McEleney menegaskan bahwa perkataan yang bermaksud baik ketika disampaikan dengan nada yang kasar dapat berubah menjadi hal destruktif terlebih jika perkataan itu tidak memiliki dasar yang objektif. Pandangan ini sejalan dengan pesan Yesus tentang balok di mata sendiri yakni bahwa teguran atau kritik harus lahir dari hati yang penuh kasih bukan sikap arogan. R.T. France mengatakan jangan mengkritik orang jika itu dilakukan secara tidak adil atau tidak objektif. Perikop ini menyingkap kecenderungan manusia untuk lebih kritis terhadap kesalahan kecil orang lain daripada dosa besar diri sendiri[9]. William Barclay mengemukakan ada tiga alasan utama kita tidak boleh menjatuhkan vonis[10], yakni:

  1. Kita tidak pernah mengetahui seluruh kebenaran mengenai keseluruhan pribadi orang lain.
  2. Setiap manusia hampir selalu berat sebelah dalam penilaiannya terhadap orang lain.
  3. Tiada seorang pun yang cukup sempurna untuk menjatuhkan vonis tentang pribadi orang lain.

Yesus melarang kita mengadili orang lain karena kita akan diadili sesuai ukuran kita sendiri. Kita tak dapat memberikan penilaian yang benar-benar apa adanya kepada seseorang, karena semua manusia adalah saudara[11].

  • Sintesis Teologis

Perikop ini bukan hanya ajaran moral, tetapi menampilkan Allah sebagai hakim sejati yang adil dengan prinsip “ukuran yang kamu pakai akan dipakai untuk mengukur kamu”.  Artinya bila kamu menghukum tanpa ampun, hukuman tanpa ampun akan menimpa kamu pula[12]. Prinsip ini menyingkapkan keadilan Allah yang tidak berpihak kepada siapa pun. Allah menghendaki agar relasi manusia dibangun atas dasar kasih bukan penghakiman yang menindas.

Yesus tampil sebagai guru etika dalam kerajaan Allah dengan menyingkapkan kemunafikan manusia dan mengarahkan kepada pertobatan. Manusia cenderung melihat kesalahan kecil orang lain sambil mengabaikan kelemahannya sendiri sehingga timbul sikap arogan yang berujung pada kemunafikan. Manusia dipanggil untuk introspeksi, pertobatan dan rendah hati sehingga mampu menolong orang lain. Gereja dipanggil untuk menjadi ruang kasih. Gereja harus menjadi saksi kerajaan Allah dengan menampilkan kasih yang membebaskan bukan menghakimi.

  • Refleksi Teologis dan Kontekstual

Hakim sejati adalah Allah sehingga manusia tidak berhak mengambil peran untuk menghakimi sesamanya. Kemunafikan manusia yang disingkapkan melalui metafora selumbar dan balok mau mengarahkan orang-orang kepada pertobatan dan kerendahan hati. Ini juga menyerukan kesabaran terhadap saudara dan pemeriksaan diri agar seseorang memperoleh hak untuk memberikan teguran kepada saudara yang berada dalam dosa[13]. Manusia cenderung untuk lebih peka terhadap kesalahan kecil orang lain sambil mengabaikan kelemahannya sendiri. Oleh karena itu diperlukan introspeksi diri agar menjadi orang yang lebih baik.

Dalam konteks Gereja Katolik Indonesia yang hidup di tengah masyarakat majemuk sering menimbulkan sikap saling menghakimi. Perikop ini mengingatkan umat agar tidak terjebak dalam budaya yang mengujar diskriminasi dan kebencian karena para murid mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenarannya akan memiliki sikap tidak menghakimi dan mencari kesalahan orang lain[14]. Gereja dipanggil untuk menjadi ruang kasih dengan menumbuhkan solidaritas dan menjadi saksi kasih Allah.

Dokumen Gaudium Et Spes No. 03 menyerukan agar kehadiran Gereja sebagai tanda kasih Allah di dunia bukan sebagai tempat untuk mengadili atau menghakimi dan juga sebagai tempat untuk melayani. Dokumen Evangelii Gaudium No.44 dan 271 mau menegaskan bahwa pewartaan Injil dilakukan bukan dengan nada menghakimi melainkan dengan kelembutan dan kerahiman.

  • Implikasi Pastoral
  • Bagi Pewartaan

Pewartaan Injil harus dilakukan dengan kelembutan bukan dengan nada kasar atau sikap menghakimi. Homili dan katekese perlu menekankan introspeksi dan pertobatan pribadi sebelum menegur orang lain.

  • Bagi Liturgi

Dimensi pertobatan pribadi kegiatan liturgi seperti Perayaan Ekaristi mengajak umat untuk bertobat melalui doa tobat, pengakuan dosa dan ritus perdamaian. Liturgi Ekaristi menjadi kesempatan untuk memperbaharui komitmen hidup dalam kasih, kerendahan hati dan solidaritas.

  • Bagi Pelayanan Sosial

Gereja dipanggil untuk hadir sebagai rumah bagi semua orang dengan menolak diskriminasi dan penghakiman. Pelayan kepada kaum miskin atau kepada yang berbeda keyakinan harus berlandaskan pada kasih dan kerahiman bukan sikap menghakimi. Solidaritas lintas agama atau budaya dapat dijadikan dan dikembangkan sebagai wujud nyata pesan perikop ini.

  • Bagi Formasi Iman

Formasi iman menekankan kerendahan hati dan introspeksi diri sebagai bagian spiritualitas Kristiani. Pendidikan iman bagi anak-anak hingga OMK harus diarahkan untuk membangun budaya mendengarkan atau berdialog bukan langsung menghakimi.

Implikasi perikop ini menegaskan bahwa Gereja dipanggil untuk mewujudkan kasih Allah dalam pewartaan, liturgi, pelayanan sosial dan formasi iman. Semuanya diarahkan pada kerendahan hati, pertobatan dan kasih yang membebaskan sehingga Gereja menjadi tanda kasih Allah di dunia bukan hakim atas sesama.

  • Kesimpulan

Larangan untuk menghakimi bukan sekadar ajaran moral tetapi merupakan fondasi etika Kerajaan Allah yang menuntut kerendahan hati, kejujuran dan kasih yang tidak munafik. Yesus menyingkapkan kecenderungan manusia untuk melihat kesalahan kecil orang lain sambil menutup mata terhadap kelemahannya sendiri. Melalui metafora selumbar dan balok. Ia mengkritik sikap yang hipokrit (munafik) yang merusak relasi dan kehidupan.

Eksegese menunjukkan bahwa menghakimi dalam pengertian krino bukan sekadar soal hukum tetapi tentang sikap batin yang cepat mencela dan mempermalukan sesama. Yesus mengarahkan manusia pada introspeksi diri agar penilaian terhadap seseorang bisa berdasar pada kerendahan hati, kasih dan keadilan. Perikop ini menuntun Gereja agar sampai pada tiga sikap fundamental yakni mengenali diri dan bertobat dari kelemahan diri, membangun relasi tanpa menghakimi dan menolong sesama dengan hati yang bersih serta penuh kasih. Oleh karena itu, Gereja dapat menjadi ruang pertumbuhan dan penyembuhan bukan sebagai tempat penghakiman, tempat di mana kasih Allah nyata dan mampu mengubah kehidupan banyak orang.

Daftar Pustaka

Amri, Muhammad. SEJARAH TEOLOGI, DAN KEBUDAYAAN YAHUDI. Jl. Ringroad Selatan Km. 5 No. 117-B, Gamping, Sleman, Yogyakarta: Glosaria Media, 2018.

Gultom, Rogate Artaida Tiarasi. Dari Mata Turun ke Hati: Mengembangkan Sikap Menghargai Perbedaan dalam Bingkai Moderasi Beragama. Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 8 No.1 April 2022.

Leks, Stefan. YESUS KRISTUS MENURUT KEEMPAT INJIL. Jl. P. Senopati 24, Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1981.

Lembaga Biblika Indonesia. Tafsir Perjanjian Baru 1: Injil Matius. Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1981.

Nataniel, Demianus. MINORITAS MILITAN: SIKAP KOMUNITAS MATIUS TERHADAP ROH KAPITALISME. Jurnal Abdiel April 2017.

Schnackenburg, Rudolf. The Gospel Of Matthew. Michigan/Cambridge, U.K.: Eerdmans Publishing, 2002.

Silalahi, Haposan. MEREKONSTRUKSI KONTEKS SOSIAL KOMUNITAS INJIL MATIUS. TE DEUM 8/2 Januari-Juni 2019.

Wisantoso, Sandra. Korelasi Konsep Kerajaan Allah dan Pemuridan dalam Injil Matius bagi Pemuridan Masa Kini. Jurnal Teologi dan Pelayanan 18 No.1 (2019).


[1] Stefan Leks, YESUS KRISTUS MENURUT KEEMPAT INJIL JILID 3 (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1981), hlm. 141

[2] Ibid., hlm. 140

[3] Haposan Silalahi, MEREKONSTRUKSI KONTEKS SOSIAL KOMUNITAS INJIL MATIUS, TE DEUM 8/2 Januari-Juni 2019, hlm. 214

[4] Ibid., hlm. 202

[5] Muhammad Amri, SEJARAH TEOLOGI, DAN KEBUDAYAAN Yahudi (Yogyakarta: Glosaria Media, 2018), hlm. 82

[6] Demianus Nataniel, MINORITAS MILITAN: SIKAP KOMUNITAS MATIUS TERHADAP ROH KAPITALISME, Jurnal Abdiel April 2017, hlm. 43

[7] Stefan Leks, YESUS KRISTUS MENURUT KEEMPAT INJIL JILID 3 (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1981), hlm. 137

[8] Stefan Leks, YESUS KRISTUS MENURUT KEEMPAT INJIL JILID 3 (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1981), hlm. 140

[9] Rogate Artaida Tiarasi Gultom, Dari Mata Turun Ke Hati: Mengembangkan Sikap Menghargai Perbedaan Dalam Bingkai Moderasi Beragama, Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 8 No. 1 April 2022, hlm. 262-263.

[10] Stefan Leks, YESUS KRISTUS MENURUT KEEMPAT INJIL JILID 3 (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1981), hlm. 138

[11] Lembaga Biblika Indonesia, Tafsir Perjanjian Baru 1: Injil Matius, (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1981), hlm. 64

[12] Stefan Leks, YESUS KRISTUS MENURUT KEEMPAT INJIL JILID 3 (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1981), hlm. 139

[13] Rudolf Schnackenburg, The Gospel Of Matthew (Michigan/Cambridge, U.K: Eerdmans Publishing, 2002), hlm. 74

[14] Sandra Wisantoso, Korelasi Konsep Kerajaan Allah Dan Pemuridan Dalam Injil Matius Bagi Pemuridan Masa Kini, Jurnal Teologi dan Pelayanan 18 No. 1 (2017), hlm. 53

Tinggalkan komentar