Di dunia yang sibuk mencari kekuasaan dan kekayaan
langkah sederhana berjalan tanpa mencari dunia.
Jubah cokelat menyentuh tanah,
tanda hati yang rela hidup miskin dengan damai.
Seperti Santo Fransiskus yang mencintai ciptaan,
mereka merangkul orang kecil dan bumi yang terluka.
Saudara kecil berjalan bersama,
membawa kasih yang jernih seperti air sungai.
Di rumah doa yang diterangi lilin,
malam menjadi saat hening penuh kedamaian.
Keheningan bukanlah kesepian,
melainkan tempat Tuhan berbicara dengan lembut.
Mereka menemukan wajah Kristus
di mata yang lelah, di tangan yang kosong,
di jiwa yang hampir putus asa
dan menyalakan kembali harapan dengan karismanya.
Wahai saudara Kapusin yang dina,
hidupmu adalah Injil yang berjalan:
miskin namun penuh sukacita,
hening namun menyala dengan cinta Tuhan.
tetaplah bersinar dalam karisma
menjadi teladan hidup dina
sehingga orang-bertobat
Kembali kepelukan Tuhan.