Dari Luka Menuju Panggilan (Fr. Ephram Gultom,OFMCap)

Dalam perjalanan hidup sebagai seorang kapusin, aku mulai menyadari bahwa panggilan tidak selalu tumbuh dari kenyamanan, melainkan justru dari luka. Luka-luka hidup baik berupa kekecewaan, pergulatan batin, maupun rasa tidak layak sering kali menjadi titik awal di mana Tuhan mulai bekerja secara diam-diam dalam diriku.

Sebagai kapusin, aku dipanggil untuk meneladani spiritualitas Fransiskus dari Assisi, yang menemukan makna hidup bukan dalam kemewahan, tetapi dalam kemiskinan, kesederhanaan, dan bahkan penderitaan. Dalam terang itu, luka tidak lagi sekadar sesuatu yang harus disembuhkan, tetapi sesuatu yang harus dimaknai. Luka menjadi ruang di mana aku belajar merendahkan diri, menerima keterbatasan, dan bergantung sepenuhnya pada kasih Tuhan.

Ada saat-saat di mana sengsara terasa begitu berat, seakan-akan Tuhan jauh dan diam. Namun justru dalam keheningan itu, aku belajar bahwa panggilan tidak selalu ditegaskan melalui jawaban yang jelas, melainkan melalui kesetiaan untuk tetap berjalan. Menjadi kapusin berarti berani tinggal dalam proses, bahkan ketika proses itu penuh dengan ketidakpastian dan rasa sakit.

Filosofinya sederhana namun mendalam: luka adalah jalan. Dari luka, aku belajar mengenal diriku yang rapuh; dari kerapuhan itu, aku belajar membuka diri; dan dari keterbukaan itu, aku menemukan Tuhan yang tidak pernah meninggalkan. Panggilan bukanlah tujuan yang langsung jelas di awal, tetapi sebuah ziarah batin yang dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang tidak selalu mudah.          

Dalam spiritualitas kapusin, penderitaan juga menjadi bentuk persatuan dengan Kristus yang tersalib. Salib bukan hanya lambang sengsara, tetapi juga lambang cinta yang paling radikal cinta yang rela memberi diri tanpa syarat. Maka ketika aku mengalami luka, aku tidak lagi melihatnya sebagai kegagalan, tetapi sebagai kesempatan untuk semakin dekat dengan misteri kasih itu.

Akhirnya, aku mengerti bahwa panggilan bukanlah tentang menjadi sempurna, tetapi tentang kesediaan untuk terus dibentuk. Dari luka menuju panggilan adalah perjalanan yang tidak instan, tetapi justru di sanalah letak keindahannya. Sebab di setiap luka yang kujalani dengan iman, selalu ada jejak Tuhan yang membimbingku perlahan menuju diri yang lebih utuh dan panggilan yang semakin jelas.

Pace e Bene

Tinggalkan komentar