Beranda / Artikel / Filsafat / Dari Kekaguman Menuju Pertobatan Ekologis: Membaca Kosmos dalam Terang Santo Fransiskus Asisi  (oleh Sdr. Yudhistira O. Sitorus, OFMCap)

Dari Kekaguman Menuju Pertobatan Ekologis: Membaca Kosmos dalam Terang Santo Fransiskus Asisi  (oleh Sdr. Yudhistira O. Sitorus, OFMCap)

Abstraksi
Manusia dan alam mempunyai hubungan yang sangat erat. Manusia membutuhkan alam untuk hidupnya dan disisi lain alam memanggil manusia untuk merawat dan melestarikannya. Mulai dari dulu, manusia sudah mencari-cari makna terdalam tentang kosmos ini. Sejarah mencatat bahwa pada abad 6 SM, orang-orang Hellen mulai memikirkan asal-usul dari kosmos yang menakjubkan ini. Pencarian itu sampai kepada penghayatan iman tentang apa yang disebut sebagai Causa Prima. Hal yang sama juga dialami oleh Santo Fransiskus. Ia memiliki kedekatan yang intim dengan kosmos atau yang sering kita sebut sebagai alam semesta. Sejarah mencatat bahwa kedekatannya itu tampak dalam gerak-gerik, perbuatan dan karyanya sendiri. Sebuah kisah klasik dirinya dan seekor serigala di Gubbio menjadi salah satu contoh dari kedekatannya dengan alam. Baginya, alam merupakan pancaran Wajah Allah yang sangat mengagumkan dan nyata. Pencarian akan asal usul kosmos dimulai dari kekaguman akan alam semesta ini. Namun tidak semua orang berpandangan sama dengan para pengagum alam tersebut. Hal itu nyata dalam krisi lingkungan hidup yang kita alami saat ini. Figur Fransiskus dan teladan hidupnya dalam mencintai alam menjadi contoh yang sangat baik untuk manusia dewasa ini.

Kata Kunci:  Kosmos    Kekaguman      Fransiskus Asisi   Laudato Si’   Laudato Deum   Gita Sang                             Surya           

  1. Pendahuluan

“Masa lampau adalah pelajaran yang harus dipahami

untuk membentuk masa kini dan masa depan.”

(Filsuf Stoik Romawi Seneca)

Pembicaraan tentang masa lampau pada hakikatnya juga merupakan pembicaraan tentang masa kini. Hal ini disebabkan oleh hadirnya kristalisasi nilai-nilai masa lalu yang terus memengaruhi perkembangan zaman. Dengan demikian, masa lampau dan masa kini tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Sebagaimana dinyatakan oleh Friedrich Hegel: “Sejarah yang nyata adalah karya roh manusia[1]”.Dengan demikian, makna kehidupan masa kini dapat dipahami melalui refleksi atas pencarian yang telah berlangsung di masa lampau.

 Pencarian akan kosmos diprakarsai oleh orang-orang Hellen[2]  pada abad ke 6 SM yang mulai memikirkan asal-usul dari kosmos yang menakjubkan ini.  Tyang mulai merefleksikan asal-usul kosmos. Upaya ini tidak sesederhana yang tampak, karena mereka berusaha menemukan asas pertama atau prinsip mutlak yang berada di balik segala perubahan. Dengan demikian, mereka mencari dasar hakiki dari seluruh realitas, yang pada akhirnya mengarah pada penghayatan akan Causa Prima[3].

Hal yang sama juga dialami oleh Santo Fransiskus. Ia memiliki kedekatan yang intim dengan kosmos atau yang sering kita sebut sebagai alam semesta. Sejarah mencatat bahwa kedekatannya itu tampak dalam gerak-gerik, perbuatan dan karyanya sendiri. Sebuah kisah klasik dirinya dan seekor serigala di Gubbio menjadi salah satu contoh dari kedekatannya dengan alam. Baginya, alam merupakan pancaran Wajah Allah yang sangat mengagumkan dan nyata.

  • Isi
    • Pencarian dari Yunani

Sebuah pencarian yang dimulai pada zaman Yunani kuno, adalah pencarian mengenai asal-usul kosmos. Kata kosmos sendiri berasal dari bahasa Yunani kuno yang memiliki beragam arti, seperti mengatur dan menyiapkan, tetapi khususnya berarti mengatur dan menata atau menetapkan.[4] Pencarian tersebut digerakkan oleh orang-orang yang menyebut diri mereka Philosophia artinya pecinta Kebijaksanaan. Para Filsuf Yunani kuno mulai mencari tentang asal kosmos secara rasio dan mengkritisi mitologi-mitologi yang ada pada zaman tersebut.

Pencarian akan asal-usul kosmos dipromotori oleh oleh sebuah konsep bahwa “dunia adalah segalanya”[5]. Konsep itu didasari akan kekaguman manusia pada zaman itu akan keharmonisasian dan keteratuaran dunia. Seperti asal usul katanya, keteraturan adalah ciri dari alam semesta yang paling luar biasa. Seperti kata Imanuel Kant: “Dunia hadir membuka kita sebuah adegan yang sedemikian tak terukur lagi dari kemajemukannya, dari keteraturannya, dari tujuannya, dan dari keindahannya bahwa setiap isyarat di hadapkan kepada begitu banyak hal-hal yang luar biasa yang tak dapat dipahami sepnuhnya tentang kebesarannya”[6].

Kekaguman para filsuf Yunani tidak pernah berhenti. Hal itu tampak dalam pencarian mereka yang terus menerus. Kekaguman Thales dari Miletos akan kosmos menjadi pencarian pertama dari sekian banyak filsuf. Ia merupakan salah satu pendukung awal penjelasan naturalistik[7] atas fenomena yang dapat diamati di kosmos. Ia berpendapat bahwa segala sesuatu berasal dari air, dan akan kembali ke air[8]. Ia yakin bahwa air merupakan elemen utama pembentuk kosmos karena air dapat ditemukan dalam semua makhluk hidup. Dengan demikian, Thales mengungkapkan dasar-dasar kosmos dalam istilah yang dapat dijelaskan oleh alam, alih-alih mitologi atau spiritualitas. Seakan menjadi pemantik, pemikiran Thales mulai disempurnakan dan dikritisi oleh beberapa orang pada jamannya. Pencarian ini kemudian menemukan pandangan baru dalam tokoh bernama Anaximandros yang kemudian menyempurnakan pemikiran gurunya. Baginya segala sesuatu muncul dari apeiron (Tak Terbatas) dan kembali padanya. Kemudian, pendapat ini dikembangkan kembali oleh Anaximenes yang sedikit meyerupai pemikiran awal bahwa kosmos berasal dari udara yang mengembun menjadi air, kemudian tanah, dan akhirnya batu. Perkembangan penghayatan tentang kosmos semakin terlihat dari pemahaman Herakleitos. Menurutnya, dunia mengalami perubahan terus-menerus. Meski demikian, Parmenides menolak perubahan tersebut. Bagi dia, realitas itu tunggal, abadi, dan tidak berubah. Bagi Empedokles segala sesuatu berasal dari tanah, air, api, dan udara, yang digerakkan oleh Cinta (persatuan) dan Benci (perpecahan). Lain dari itu, Anaxagoras kemudian berpendapat bahwa semua tersusun dari “benih-benih” yang dikendalikan oleh Nous (akal kosmis). Hingga pencarian ini dikembangkan lagi oleh Demokritos bahwa Alam semesta tersusun dari atom-atom dan ruang kosong. Semua pendapat dari para filsuf Yunani ini menunjukkan bahwa segala sesuatu terjadi karena mekanisme, bukan kehendak Ilahi. Pemikiran-pemikiran awal ini menjadi sesuatu yang sangat penting bagi generasi selanjutnya. Pertanyaan sederhana mengenai asal usul kosmos ini membawa manusia pada penghayatan yang lebih dalam hingga menghubungkannya dengan Yang Ilahi. Keterhubungan antara kosmos dan Yang Ilahi mulai tampak dalam paham pantheisme (pan = semua dan theos = Tuhan). Didalamnya, doktrin bahwa Tuhan bukanlah suatu kepribadian atau makhluk supernatural transenden, tetapi bahwa semua hukum, gaya, manifestasi, dan sebagainya dari alam semesta yang ada dengan sendirinya merupakan Kesatuan ilahi yang mencakup semuanya[9]. Paham ini menunjukkan penghayatan yang lebih dalam pada asal muasal alam semesta ini.

Pencarian tersebut sampai kepada penghayatan iman tentang apa yang disebut sebagai Causa Prima[10]. Dalam pencarian ini, Santo Thomas Aquinas memainkan peran yang epic dengan pernyataan bahwa “Allah mencipkan dari yang tidak ada (Ex Nihilo).[11]” Penciptaan tersebut merupakan karya Allah yang terus berlanjut, dengannya Allah memelihara segala hal yang bersifat sementara. Santo Thomas Aquinas menyatakan bahwa alam semesta ditujukan atau ditata menuju tujuan tertentu. Ia menggambarkan konsep teleologi, yaitu bahwa ada tujuan yang tersembunyi dalam setiap bagian alam semesta dan ia melihat keberadaan tujuan ini sebagai tanda keberadaan Allah sebagai pencipta dan pemelihara alam semesta.[12]

  • Pencarian dari Asisi

Dalam pencarian yang panjang mengenai asal-usul kosmos ini, tanah Asisi juga ikut memberikan sebuah sudut pandang yang berbeda lewat cara hidup seorang pria bernama Fransiskus atau yang dikenal dengan Santo Fransiskus dari Asisi. Ia, yang menyebut dirinya sendiri saudara dina, hidup dalam keharmonisasian bersama alam ciptaan. Hal itu tampak dalam sebuah kisah klasik dalam buku Fioretti[13]. Kala itu, ada sebuah kejadian dimana ia memperdamaikan penduduk kota Gubbio dengan seekor serigala yang ganas.

Pada waktu itu, di Gubbio[14] hiduplah seekor serigala yang amat besar, lagi mengerikan dan ganas. Ia bukan saja memakan binatang-binatang, tetapi juga manusia. Semua penduduk kota itu hidup dalam ketakutan dan tidak berani pergi sendirian. Melihat situasi yang demikian St. Fransiskus merasa kasihan, sehingga ia ingin mendamaikan serigala itu dengan penduduk kota Gubbio, sekalipun mereka melarangnya pergi. Ketika Fransiskus memasuki daerah serigala itu bersama-sama sahabatnya, ia membuat tanda salib dan menaruh kepercayaan sepenuh-penuhnya pada Allah. Ketika saudara-saudara lain tidak mau pergi lebih jauh lagi, St. Fransiskus berjalan terus menuju tempat serigala itu bersarang. Ketika serigala itu melihat Fransiskus, maka ia pun menyerbu ke arahnya dengan cakar-cakar yang terbuka. Ketika ia mendekat, St. Fransiskus membuat tanda salib di atasnya dan menyapanya, “Kemarilah saudara Serigala. Demi nama Kristus aku memerintahkan kepadamu jangan menyerang aku”. Dan aneh bin ajaib, begitu Fransiskus membuat tanda salib, serigala yang ganas itu pun memasukkan cakar-cakarnya kembali. Ia menaati perintah St. Fransiskus dan datang membaringkan diri di kaki Fransiskus dengan lembut seperti seekor anak domba. Kemudian Fransiskus mengajak Serigala itu membuat suatu perjanjian dengan penduduk kota Gubbio. Dari pihak Serigala, ia harus berjanji bahwa ia takkan mengganggu dan melakukan kejahatan dengan penduduk kota Gubbio lagi. Dari pihak penduduk kota Gubbio, mereka berjanji, akan menyediakan makanan yang dibutuhkan serigala itu setiap hari. Dan sebagai jaminan bahwa perjanjian itu akan dilaksanakan dan ditepati, maka St. Fransiskus mengulurkan tangannya, dan serigala itu mengangkat kaki depannya dan menempatkannya dengan lembut dalam tangan Fransiskus, sebagai bukti kesetiaannya.[15]

Kisah tersebut memperlihatkan penghayatan dan cara pandang Santo Fransiskus yang berbeda dari kaum skolastik pada zamannya. Perjumpaannya dengan serigala di Gubbio menjadi pengalaman rohani yang mendalam dan membentuk hidupnya. Dalam peristiwa itu, Fransiskus mengungkapkan relasi kepedulian yang intim dengan kosmos.[16]Ia membentuk dirinya sebagai saudara bagi seluruh makhluk hidup dalam kosmos, bahkan memandang kosmos itu sendiri sebagai saudaranya. Sikap ini tampak dalam penghormatannya yang mendalam terhadap setiap makhluk hidup, melampaui batas-batas yang lazim dipahami manusia.[17]. Alam dijadikannya sebagai sahabat untuk berdialog, bersyair, dan berdoa. Ia bahkan berkhotbah kepada berbagai jenis burung, seolah-olah mereka memiliki akal budi.[18]Seperti yang dikatakan oleh Santo Paulus, “Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri” (Flp 2:3). Demikian pula, Fransiskus merendahkan dirinya di hadapan alam ciptaan. Santo Bonaventura melukiskan, “Ketika menikmati keindahan alam, Santo Fransiskus mengagumi keindahan itu sendiri, yakni Allah Penciptanya.”[19].Penghayatan yang mendalam ini, bahwa keindahan kosmos mencerminkan Allah sebagai Pencipta, dirangkum Fransiskus dalam ungkapan “Laudato si’, mi’ Signore…” (“Terpujilah Engkau, Tuhanku…”). Dalam gubahannya, Kidung Saudara Matahari, ia menulis: “Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena saudari kami Ibu Pertiwi; dia menyuap dan mengasuh kami, serta menumbuhkan aneka ragam buah-buahan, bunga warna-warni, dan rumput-rumputan.” Melalui gubahan ini, tampak jelas kecintaannya setiap kali ia memandang matahari, bulan, dan bahkan bintang-bintang yang paling kecil.Dalam momen tersebut, ia bernyanyi dengan melibatkan seluruh makhluk dalam pujiannya. Santo Fransiskus memahami bahwa ekologi integral menuntut keterbukaan terhadap kategori-kategori yang melampaui bahasa matematika dan biologi, serta mengantar manusia pada pengenalan akan hakikat dirinya (LS 11).

Pandangan Santo Fransiskus mengenai alam sebagai pancaran Wajah Allah merupakan suatu penghayatan yang mendalam. Kendati memiliki kemiripan dengan paham pantheisme, pengalaman tersebut tidak identik dengannya, melainkan lebih tepat dikategorikan sebagai panentheisme (pan = semua, en = di dalam, theos = Allah). Dalam kerangka ini, Allah tidak melebur sepenuhnya dalam ciptaan, tetapi tetap transenden sekaligus hadir dalam kedalaman setiap ciptaan.[20] Eksistensi dan kemuliaan Allah terungkap dalam setiap ciptaan, sehingga masing-masing memantulkan sebagian dari kemuliaan-Nya yang misterius, transenden, dan tak terkatakan sepenuhnya[21]. Pandangan ini berakar dari doa dan kontemplasi yang menghantarnya pada kehadiran Kristus dalam kosmos. Seperti yang sudah ditegaskan oleh Paulus, “Sebab dalam Kristus telah diciptakan segala sesuatu, baik di angkasa maupun di bumi: baik yang kelihatan maupun yang tak kelihatan, singgasana, kerajaan, pemerintah dan penguasa. Segala sesuatu diciptakan dengan perantaraan-Nya dan untuk Dia” (Kol 1:16).

  • Dari Kekaguman menjadi Panggilan

Cara hidup Fransiskus dari Asisi memberi sebuah pemahaman bahwa segala sesuatu memiliki keterikatan: manusia, ciptaan, ekonomi, budaya, bahkan spiritualitas. Keterikatan itu menunjukkan bahwa manusia dan alam tidak dapat terpisahkan. Manusia bergantung pada alam dan alam memanggil kita untuk merawatnya.

Panggilan untuk merawat alam ciptaan sudah tampak dalam kehidupan Santo Fransiskus. Cara hidupnya, yang merupakan seorang mistikus dan peziarah keliling yang berjalan sambil berbuat baik[22]”, telah memanggil manusia pada zamannya untuk mengubah mind-set terhadap alam ciptaan. Bahkan panggilan itu semakin diperjelas dalam sebuah kidung yang ia gubah 800 tahun yang lalu yakni Kidung Saudara Matahari. Dalam gubahannya itu, ia membawa tranformasi pandangan bahwa alam tidak boleh dilihat sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai subjek ciptaan yang memiliki nilai pada dirinya sendiri. Ia menyapa semua ciptaan dengan sebutan khas dari dirinya yakni Fratello et Sorella[23]. Baginya, menghormati alam ciptaan sama halnya dengan menghormati anggota keluarganya yang berada dalam satu rumah yakni rumah alam raya ini.[24] Di dalamnya, kita dapat melihat gagasan Fransiskus bahwa dirinya sebagai “milik” dan pemilik “atas” planet ini.[25]

Ia memandang bumi sebagai “rumah bersama”, bukan sekadar penyedia sumber daya, sehingga harus dirawat dengan penuh tanggung jawab. Ketika berbicara tentang kosmos, yang dimaksud olehnya adalah relasi yang erat antara manusia dan alam. Manusia merupakan bagian dari alam, hidup di dalamnya, dan terjalin dengannya. Oleh karena itu, kita diajak untuk menemukan solusi yang komprehensif melalui pendekatan integral, yang tidak hanya bertujuan melestarikan alam, tetapi juga memerangi kemiskinan dan memulihkan martabat mereka yang tersingkir (LS 139).

  • Kosmos menuju Khaos

Dewasa ini, permasalahan alam merupakan problematika yang sering kita jumpai. Sejarah mencatat bahwa permasalahn tersebut meliputi perubahan iklim dan pemanasan global, pencemaran, deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, penipisan sumber daya alam seperti air, dan masalah limbah dan sampah plastik.

Permasalahan yang ada memunculkan seruan-seruan untuk merawat alam ciptaan. Salah satu seruan itu muncul dari Paus Fransiskus, melalui ensiklik Laudato Si’ (2015) dan Laudate Deum (2023)[26]. Ia mengajak seluruh umat manusia untuk melihat kosmos yang mengarah pada ke-khaosan ini. Ia menjelaskan bagaimana pencemaran lingkungan oleh limbah-limbah berbahaya semakin menumpuk terus menerus. Bahkan teknologi yang digadang-gadang dapat memecahkan masalah alam, malah menciptakan permasalahan yang lebih besar lagi (LS 16). Berangkat dari permasalahan yang ada, ia mengajak manusia untuk meneladani Santo Fransiskus Asisi dalam kedekatanya dengan alam semesta. Dengan begitu, ke-khaosan pada kosmos dapat dicegah dan ditanggulangi.

  • Kesimpulan

Santo Fransiskus dan para filsuf ini, meski datang dari jalur yang berbeda, seolah berjumpa pada simpul yang sama: kesadaran akan keterhubungan yang mendalam antara manusia dan alam. Kekaguman mereka terhadap kosmos yang begitu indah ini membawa mereka pada pencarian yang sangat panjang. Baik melalui wahyu iman maupun refleksi akal budi, keduanya seakan menyerukan bahwa merawat bumi adalah tugas moral dan spiritual yang tidak dapat ditunda. Kita juga diajak mencintai alam sebagai saudara dan belajar menghormatinya sebagai ciptaan yang teratur dan penuh makna. Dunia membutuhkan cinta dan akal, kasih dan keadilan, spiritualitas dan logika. Ketika kita memandang alam hanya dengan logika saja, kita hanya melihat alam sebagai “budak”. Kita diundangan untuk bertobat dalam cara kita memandang dunia. Kedua pemahaman di atas mengajak kita pada kesadaran yang sama: bahwa alam bukan benda mati, melainkan kehidupan yang saling terkait dan harus dihormati. Bahkan pemahaman itu memanggil kita untuk bertobat. Panggilan untuk bertobat merupakan hal konkret yang tertuang dalam Kidung Saudara Matahari. Bertobat dan kembali menjadi kerabat bagi makhluk hidup yang lain, dapat menjadi pengalaman yang membebaskan kita. Tidak cukup hanya menyelamatkan bumi demi kelangsungan spesies kita, tetapi karena memang sudah seharusnya kita mencintai ciptaan, bukan karena gunanya, tetapi karena ia layak dicintai sebagaimana kita pun ingin dicintai bukan karena manfaat, melainkan karena keberadaan kita sendiri.

Memihak dan memberi suara kepada bumi yang kini menderita berarti berani hidup dengan membumikan diri lewat berbagai tindakan konkret. Contohnya mengurangi pemborosan energi serta polusi dengan mau berkonsumsi dan berekreasi dalam wilayah-hidupnya (Bioregion) sendiri, lebih menghargai produksi, pasar, dan pelayanan setempat. Tindakan konkret selanjutnya ialah memilih sarana transportasi yang alternatif, melakukan konservasi air, megusahakan rumah atau komunitas yang hemat energi dan berjuang untuk melindungi habitat (seperti JPIC)[27] dan ikut mengolah sampah di rumah atau komunitas kita.

Memandang alam seharusnya membawa kita pada sebuah aksi nyata akan keperluan zaman ini. Kekaguman kita akan masa lampau tidak hanya terbatas pada keterpautan saja. Kita seiyogiyanya “menjelmakan” panggilan Santo Fransiskus Asisi, yang telah disuarakannya ratusan tahun yang lalu, ke dalam waktu kita sekarang ini. Kita dipanggil lewat Perayaan Centenario 800 Gita Sang Surya pada sikap yang membumikan diri. Persatuan dengan alam, kosmos yang indah ini, kedekatan dengan kaum kecil dan tertindas menjadi hasil dari panggilan kita akan cara hidup dan semangat santo Fransiskus.

Daftar Pustaka

Celano, Thomas dar. The Life of Saint Francis, I, 29, 81: in francis of Asissi: Early Documents, vol. I. New York- London-Manila, 1999.

Celano, Thomas. Fransiskus dari Assisi: Riwayat hidup yang kedua. JAKARTA: SEKAFI, 1981.

Copleston. “Filsafat Thomas Aqinas.” n.d.: 58.

Fransiskus, Paus. “APOSTOLIC EXHORTATION LAUDATE DEUM OF THE HOLY FATHER TO ALL PEOPLE OF GOOD WILL.” Roma, 4 Oktober 2023.

Groenen, C. “Ekologi Modern dalam terang Lampu Sorot Alkitab.” Perantau edisi 14, 1991.

Grula, John W. “Pantheism Reconstructed: Ecotheology as a Successor to the Judeo‐Christian, Enlightenment, and Postmodernist Paradigms.” Zygon: Journal of Religion and Science, 2008: 43.

Hadiwijono, Dr. Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Yogyakarta: Kanisius, 1980.

Harun, Martin. “Ensiklik Laudato Si’; Tentang perawatan rumah kta Bersama.” In Ensiklik Laudato Si’, by Paus Fransiskus, 9. Jakarta: Obor, 2015.

Hegel, G. W. F. Fenomenologia dello Spirito. La Nuova Italia, n.d.

Henaklyn, Br. Markus Meran. “Ensiklik Laudato Si’: Perawatan Eumah Kita Bersama-Rumah kita di Alam ini.” Jurnal Jumpa Vol. IV, No. 1, April 2016: 31.

Kant. Critica della ragione pura. Italia: Einaudi, 1957.

L.A.S. Gunawan, SCJ. Kosmologi Pengantar Filsafat Alam. Yogyakarta: Kanisius, 2019.

OFM, Leo. L. Ladjar. Fransiskus Assisi dan Karya-karyanya, Terjemahan. Yogyakarta: Kanisius, 1989.

OFM, Markus Meran. “Pertobatan Ekologis dalam Ensiklik Laudato Si’.” Jurnal Jumpa Vol. IV No. 1, April 2016: 32.

SEKAFI. “Fioretti.” In Fioretti, by Leo Sherley Price, 92. JAKARTA: SEKAFI, 1997.

Simsic, Wayne. “Hikmat Fransiskus hikmat kita.” In Living Wisdom of St. Francis, 49. SEKAFI, 2008.

Stanislaus, Surip. “Peduli Ekologi Ala Fransiskus Asisi.” Majalah Logos Vol.18 No.2, Juni 2021: 66.

Uriel. “Kosmologi Yunani Kuno.” Agustus Jumat, 2023.


[1] Friederich Hegel, Fenomenalogia dello spirito, hlm. 1055.

[2] Hellen (atau Hellenes) merupakan nama untuk orang-orang Yunani kuno, merujuk pada nenek moyang mereka yang disebut Hellen.

[3] Dr. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, hlm. 16.

4 Kosmologi Yunani Kuno, Uriel Kantor, BA Seni Liberal dan Humaniora4 Agustus 2023 

[5] L.A.S. Gunawan, SCJ, Kosmologi Pengantar Filsafat Alam, hlm. 165.

[6] I. Kant, Critica della ragione pura, hlm. 642.

[7] Menurut wikipedia, naturalisme adalah gagasan bahwa hanya hukum dan gaya alam (bukan Supernatural) yang berlaku di alam semesta.

[8] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, hlm. 16.

[9] Grula, John W.2008. “Pantheism Reconstructed: Ecotheology as a Successor to the Judeo‐Christian, Enlightenment, and Postmodernist Paradigms.” Zygon: Journal of Religion and Science 43 (1): 159–80.

[10] Prima causa adalah sebuah kalimat bahasa latin yang berarti penyebab atau faktor utama tanpa diawali oleh faktor lain

[11] Dr. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, hlm. 109.

[12] Copleston, Filsafat Thomas Aqinas,58.

[13] Fioreti Adalah kuntum-kuntum kecil berisi pengalaman Fransiskus dan pengikut pertamanya yang ditulis oleh   Leo Sherley Price.

[14] Kota dan komune di Italia yang terletak di ujung timur laut provinsi Perugia (Umbria)

[15] Leo Sherley Price, Fioretti, hlm. 92.

[16] Ensiklik Laudato Si’; Tentang perawatan rumah kta Bersama, Paus Fransiskus, penerjemah Martin Harun, OFM, Obor, Jakarta, 2015, hlm.9.

[17] Jurnal Jumpa Vol. IV, No. 1, April 2016, hlm. 32.

[18] Bdk. Thomas dar Celano, The Life of Saint Francis, I, 29, 81: in francis of Asissi: Early Documents, vol. I, New York- London-Manila 1999, hlm.251.

[19] Thomas Celano, Fransiskus dari Assisi: Riwayat hidup yang kedua, (Jakarta, SEKAFI,1981), hlm.128.

[20]  Surip Stanislaus, Peduli Ekologi Ala Fransiskus Asisi, Majalah Logos Vol.18 No.2, Juni 2021, hlm.66.

[21] C. Groenen, “Ekologi Modern dalam terang Lampu Sorot Alkitab, “dalam Perantau 14 (1991).

[22]Br. Markus Meran Henaklyn, OFM, Ensiklik Laudato Si’: Perawatan Eumah Kita Bersama-Rumah kita di Alam ini, Jurnal Jumpa Vol. IV, No. 1, April 2106, hlm.31.

[23] Dalam bahasa Italia, fratello berarti “saudara laki-laki” dan sorella berarti “saudara perempuan”

[24] Bdk. Fransiskus Assisi dan Karya-karyanya, Terjemahan Leo. L. Ladjar OFM, (Yogyakarta, Kanisius 1989), hlm 160-162.

[25] Wayne Simsic (saduran) dari buku Living Wisdom of St. Francis, Hikmat Fransiskus hikmat kita (SEKAFI, 2008), hlm. 49.

[26] Seruan Apostolik Paus Fransikus kepada semua Orang yang Berkehendak Baik atas Krisis Perubahan Iklim, Roma, 04 Oktober 2023

[27] JPIC adalah sebuah akronim yang digunakan dalam Gereja Katolik untuk merujuk pada lembaga atau komisi pastoral yang bergerak dalam upaya menegakkan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *