Saudaraku, lihatlah, bukan dengan mata yang cepat berlalu,
Tetapi dengan hati yang mau tinggal di bawah kayu yang berat itu.
Ia yang menyapa bunga bakung di ladang,
Ia yang memberi makan burung pipit di udara,
kini diam membisu di antara dua penjahat,
tubuh-Nya telanjang, diludahi, dihina.
Tidak ada keindahan yang tertinggal pada-Nya,
namun Fransiskus justru lari memeluk-Nya,
seperti dahulu ia memeluk si kusta di pinggir jalan,
dan menemukan di sana wajah Kristus yang sesungguhnya.
Suadara Paku, kau mengikat tangan yang menyembuhkan.
Saudari Duri, kau menobatkan raja tanpa kerajaan.
Suadara Cuka, kau adalah minuman terakhir bagi Dia yang mengubah air menjadi anggur pesta.
Di kaki salib itu berdiri seorang ibu, tidak berteriak, tidak melarikan diri, hanya hadir, hanya setia, hanya mencintai, mengajarkan kita arti dari doa tanpa kata.




