Beranda / Artikel / Filsafat / Spiritualitas Ekologis Fransiskan Kapusin Diinsiparasi Gita Sang Surya dalam Konteks Ekologi Integral- (Oleh: Sdr. Samuel Sianipar, OFMCap)

Spiritualitas Ekologis Fransiskan Kapusin Diinsiparasi Gita Sang Surya dalam Konteks Ekologi Integral- (Oleh: Sdr. Samuel Sianipar, OFMCap)

Krisis ekologis yang tengah melanda dunia kontemporer tidak hanya merupakan permasalahan teknis atau ilmiah semata, melainkan juga mencerminkan krisis spiritual dan moral manusia modern. Situasi ini mengundang refleksi mendalam dari berbagai tradisi keagamaan, termasuk Gereja Katolik, yang dalam ensiklik Laudato Si’ menyerukan pentingnya ekologi integral sebagai paradigma baru dalam memahami relasi manusia dengan seluruh ciptaan. Dalam konteks ini, spiritualitas Fransiskan Kapusin memiliki kontribusi signifikan karena diwarisi dari Santo Fransiskus dari Assisi, seorang mistikus dan pembaru Gereja yang secara radikal menghargai dan merangkul keberadaan makhluk hidup lainnya sebagai saudara dan saudari dalam rencana ilahi. Salah satu warisan spiritual Santo Fransiskus yang sangat relevan dalam menghadapi krisis ekologis adalah Gita Sang Surya (Cantico delle Creature), sebuah kidung mistik yang memuji Tuhan melalui ciptaan dan menampilkan kosmologi spiritual yang inklusif serta relasional. Karya ini bukan hanya ekspresi puisi devosional, tetapi merupakan dokumen spiritual yang mendalam dan profetik, mengandung dasar teologis bagi spiritualitas ekologis yang menghormati martabat seluruh ciptaan. Artikel ini bertujuan untuk mengelaborasi bagaimana seorang religius Fransiskan Kapusin dapat mengembangkan spiritualitas ekologis yang berakar pada Gita Sang Surya, diteguhkan oleh refleksi magisterial Gereja Katolik, khususnya melalui Laudato Si’, serta diwujudkan dalam praksis pastoral ekologis (ekopastoral) yang kontekstual. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif reflektif-teologis, tulisan ini menyajikan sebuah kerangka spiritualitas yang bersifat kontemplatif sekaligus transformatif. Tujuannya adalah menawarkan kontribusi nyata terhadap pemulihan bumi sebagai rumah bersama (our common home), dengan menempatkan relasi manusia-ciptaan sebagai panggilan spiritual, bukan sekadar agenda etis atau ekologis.

Kata kunci: Fransiskan Kapusin, Gita Sang Surya, spiritualitas ekologis, ekologi integral, Laudato Si’, ekopastoral, relasi manusia-ciptaan

Pendahuluan

Perkembangan peradaban manusia yang semakin pesat di era modern membawa dampak signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan, baik secara positif maupun negatif. Di satu sisi, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan telah membuka berbagai kemungkinan baru dalam meningkatkan taraf hidup manusia. Namun, di sisi lain, kemajuan tersebut juga telah menciptakan ketimpangan ekologis yang semakin mengkhawatirkan. Perubahan iklim ekstrem, pencemaran udara dan air, deforestasi, krisis keanekaragaman hayati, serta ketimpangan distribusi sumber daya alam merupakan fenomena nyata yang menunjukkan kerusakan ekologis sebagai buah dari sistem ekonomi dan budaya yang antroposentris dan konsumtif.

Gereja Katolik, melalui kepemimpinan Paus Fransiskus, menanggapi situasi ini dengan sangat serius. Dalam ensiklik Laudato Si’ (2015), Paus Fransiskus menegaskan bahwa krisis ekologi tidak dapat dilepaskan dari krisis moral dan spiritual umat manusia.[1] Ia menyatakan bahwa segala sesuatu saling berhubungan (tutto è connesso),[2] dan oleh karena itu, diperlukan suatu bentuk pertobatan ekologis yang menyentuh seluruh dimensi hidup manusia, dari cara berpikir, cara hidup, hingga sistem sosial dan politik. Paus Fransiskus menyebutnya sebagai ekologi integral (ecologia integrale), yaitu pendekatan yang mengintegrasikan dimensi lingkungan, sosial, budaya, ekonomi, dan spiritual secara utuh.[3]

Dalam kerangka inilah, spiritualitas fransiskan kapusin menjadi sangat relevan dan signifikan. Ordo Kapusin, sebagai salah satu cabang dari keluarga besar Fransiskan, mengemban warisan rohani Santo Fransiskus dari Assisi, seorang kudus yang hidupnya mencerminkan cinta radikal terhadap kemiskinan, kesederhanaan, dan terutama terhadap seluruh ciptaan.[4] Gita Sang Surya, yang ditulis oleh Fransiskus menjelang akhir hidupnya, merupakan puncak ekspresi mistik yang memperlihatkan bagaimana ciptaan tidak hanya dilihat sebagai benda mati, melainkan sebagai subjek relasional yang memiliki martabat spiritual..

Gita Sang Surya: Ekspresi Mistik Kosmik Santo Fransiskus

Gita Sang Surya(Cantico delle Creature), yang ditulis oleh Santo Fransiskus dari Assisi pada tahun 1225,[5] merupakan salah satu teks spiritual paling awal yang ditulis dalam bahasa vernakular[6] Italia (Umbria) dan mencerminkan kedalaman pengalaman mistik seorang pribadi yang secara total menghayati kesatuan dengan Allah dan seluruh ciptaan. Kidung ini tidak sekadar berfungsi sebagai puisi religius atau liturgis, tetapi mengandung makna teologis yang mendalam sebagai manifestasi dari spiritualitas kosmik, yaitu spiritualitas yang menyadari keterhubungan eksistensial antara Allah, manusia, dan seluruh alam semesta.

Gita Sang Surya lahir bukan dari kenikmatan estetis atau kenyamanan duniawi, melainkan dari kedalaman kontemplasi Fransiskus atas kebaikan Allah yang tercermin dalam keindahan dan keharmonisan ciptaan. Pandangan kosmik Fransiskus ini dapat dipahami sebagai bentuk spiritualitas ekologis yang sangat mendalam. Dalam teologi kontemporer, pendekatan ini disebut sebagai spiritualitas ekologis relasional, yang mengakui bahwa seluruh ciptaan adalah bagian dari satu komunitas kehidupan yang sakral. Fransiskus menghidupi teologi inkarnasi secara radikal, yakni bahwa Allah tidak hanya hadir dalam sejarah manusia, tetapi juga dalam ciptaan itu sendiri. Alam bukan hanya latar belakang bagi karya penyelamatan, tetapi partisipan aktif dalam drama keselamatan itu.

Lebih jauh, kidung ini juga mengandung suatu dimensi kenabian. Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi dan terasing dari alam, Gita Sang Surya menyerukan suatu pertobatan pandangan, dari paradigma dominasi menjadi paradigma persaudaraan. Dalam pandangan Fransiskus, kemuliaan Allah tidak hanya dinyatakan melalui manusia, tetapi juga melalui unsur-unsur ciptaan lain yang memancarkan kasih dan kebijaksanaan ilahi. Maka, Gita Sang Suryamenjadi manifesto spiritual tentang persaudaraan kosmik dan relasi timbal balik yang kudus antara manusia, sesama makhluk, dan Sang Pencipta.

Implikasi dari Gita Sang Surya bagi spiritualitas fransiskan kapusin di masa kini sangat luas. Pertama, kidung ini menjadi dasar spiritual untuk membangun relasi harmonis dengan alam sebagai bagian dari hidup religius. Kedua, ia menantang para religius untuk mengadopsi gaya hidup yang mencerminkan rasa hormat terhadap ciptaan, bukan hanya dalam simbol atau doa, tetapi dalam praksis harian yang konkret. Ketiga, kidung ini juga menjadi inspirasi liturgis dan kateketis dalam memperkenalkan nilai-nilai ekologi kepada umat.

Fransiskan Kapusin dan Warisan Spiritualitas Ekologis

Salah satu fondasi spiritual dari tradisi Kapusin adalah pemahaman inkarnasional terhadap realitas. Dalam spiritualitas Fransiskan, inkarnasi bukan hanya peristiwa historis yang terjadi dalam diri Yesus Kristus, tetapi juga prinsip kosmik yang menyatakan kehadiran Allah dalam seluruh ciptaan. Dengan demikian, setiap makhluk memiliki nilai sakral karena ia merefleksikan kebaikan dan kemuliaan Penciptanya. Pandangan ini secara teologis ditegaskan oleh Santo Bonaventura, seorang teolog besar Ordo Fransiskan, yang menyatakan bahwa ciptaan merupakan vestigia Dei jejak-jejak Allah yang dapat membawa manusia menuju kontemplasi akan Yang Ilahi.[7]

Bagi para saudara Kapusin, relasi dengan ciptaan bukan sekadar ekspresi belas kasih, melainkan manifestasi iman yang hidup. Cinta Fransiskus kepada makhluk bukanlah romantisme ekologis, tetapi bentuk dari pengalaman mistik yang radikal, di mana seluruh alam semesta dilihat sebagai satu komunitas spiritual yang saling terhubung dalam kasih Allah. Oleh karena itu, spiritualitas ekologis dalam tradisi kapusin merupakan kelanjutan organik dari panggilan mereka untuk menghayati hidup Injili dalam kesederhanaan, kemiskinan, dan persaudaraan universal.

Konstitusi Ordo Kapusin dan Prinsip Ekologis

Dalam Konstitusi tersebut dinyatakan bahwa para kapusin hendaknya “menghargai dan mencintai segala sesuatu yang diciptakan Allah, serta memelihara lingkungan hidup sebagai anugerah dan tanggung jawab bersama.” Pernyataan ini bukanlah tambahan kontemporer, melainkan cerminan dari spiritualitas otentik Fransiskus sendiri yang mengalami dunia sebagai “rumah bersama” (domus communis).

Prinsip ini mengimplikasikan adanya tanggung jawab moral dan spiritual terhadap keberlanjutan bumi. Para Kapusin dipanggil untuk menjadi saksi atas kehidupan alternatif yang bebas dari hasrat kepemilikan dan konsumsi berlebihan. Dalam dunia yang didominasi oleh logika pasar dan individualisme ekologis, gaya hidup sederhana dan solidaritas dengan makhluk lain menjadi bentuk profetis dari pewartaan Injil.

Dimensi Profetis: Doa yang Menjadi Aksi

Dalam spiritualitas Kapusin, doa dan aksi tidak dipandang sebagai dua dimensi yang terpisah, tetapi saling menjiwai. Relasi dengan Allah dalam keheningan kontemplatif mendorong keterlibatan aktif dalam menyembuhkan dunia yang terluka. Oleh karena itu, spiritualitas ekologis Fransiskan Kapusin bersifat kontemplatif-transformatif: berakar dalam doa dan menjelma dalam tindakan nyata. Praksis ini mencakup tiga dimensi utama: Kontemplasi ekologis, memandang ciptaan sebagai tempat pewahyuan Allah. Alam menjadi “kitab kedua” setelah Kitab Suci, yang mengundang umat beriman untuk membaca tanda-tanda kasih Allah melalui keindahan, kerentanan, dan keterbatasan ciptaan. Gaya hidup ekologis, menghidupi semangat kemiskinan dan kesederhanaan secara konkret, dengan menghindari konsumsi berlebihan, mengurangi jejak karbon, serta mengembangkan pola hidup berkelanjutan. Kapusin dipanggil menjadi teladan dalam hal gaya hidup asketik yang ekologis. Tindakan ekologis transformatif, menerapkan nilai-nilai Injil dalam pembelaan terhadap keutuhan ciptaan melalui aksi nyata seperti konservasi alam, pendidikan lingkungan, pertanian organik, advokasi keadilan ekologis, dan pelibatan dalam kebijakan publik terkait pelestarian lingkungan.

Tantangan dan Panggilan Zaman

Dalam dunia yang ditandai oleh ekosida dan eksploitasi sistemik terhadap bumi, panggilan para Kapusin menjadi semakin mendesak. Spiritualitas ekologis bukan hanya respons terhadap ancaman lingkungan, tetapi juga bentuk keberpihakan terhadap kaum miskin yang paling terdampak oleh kerusakan ekologis. Kerusakan lingkungan dan kemiskinan adalah dua sisi dari realitas yang sama, seperti dinyatakan oleh Paus Fransiskus dalam Laudato Si’, bahwa “jeritan bumi dan jeritan kaum miskin adalah satu dan sama.”

Dengan demikian, spiritualitas ekologis Fransiskan Kapusin tidak bersifat elitis atau terpisah dari realitas sosial, tetapi justru menuntut keberanian untuk terlibat dalam penderitaan dunia. Ini adalah spiritualitas “turun ke jalan” yang mewujud dalam solidaritas ekologis, advokasi sosial, dan praksis pastoral yang transformatif. Dalam setiap tindakan pelestarian lingkungan, para saudara menyatakan iman mereka kepada Allah Sang Pencipta dan komitmen mereka untuk menjaga rumah bersama demi generasi kini dan yang akan datang.

Ekologi Integral dalam Dokumen Gereja

Konsep ekologi integral yang diusung oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ (2015) menandai sebuah paradigma baru dalam doktrin sosial Gereja Katolik yang menghubungkan erat antara keutuhan ciptaan, keadilan sosial, dan transformasi spiritual. Ensiklik ini tidak hanya menjadi dokumen penting dalam pengajaran sosial Gereja, tetapi juga menjadi deklarasi moral dan profetis terhadap krisis ekologis global yang dianggap sebagai salah satu ancaman eksistensial paling serius di zaman modern.

Dalam Laudato Si’, Paus Fransiskus berulang kali menegaskan bahwa “segala sesuatu saling berhubungan” (tutto è connesso),[8] sebuah prinsip yang menjadi landasan konseptual dari ekologi integral. Ini bukan hanya sebuah pernyataan ilmiah tentang keterkaitan ekologis, tetapi lebih dalam lagi, merupakan ekspresi dari visi teologis mengenai keterhubungan ontologis antara seluruh ciptaan, manusia, dan Allah. Gagasan ini sejajar dengan spiritualitas Fransiskan yang melihat dunia bukan sebagai kumpulan entitas terpisah, melainkan sebagai sebuah komunitas hidup yang saling menopang dan bersama-sama memuliakan Sang Pencipta.

Keterhubungan ini mencakup dimensi ekologis (alam sebagai rumah bersama), sosial (hubungan antar manusia), dan spiritual (relasi dengan Allah). Dengan demikian, merusak lingkungan bukan hanya tindakan terhadap alam secara fisik, tetapi juga perbuatan yang merusak keadilan sosial dan menodai martabat manusia serta ciptaan. Ekologi integral adalah ajakan untuk membangun kembali jalinan relasi yang rusak, sebagai bentuk pertobatan ekologis.

Krisis Ekologi sebagai Krisis Antroposentrisme dan Konsumerisme

Laudato Si’ secara tajam mengkritik paradigma antroposentrisme modern yang menempatkan manusia sebagai pusat dan penguasa atas ciptaan, serta budaya konsumtif yang mendorong eksploitasi alam secara sistemik. Paus Fransiskus menyebut bahwa ini merupakan bentuk penyimpangan teologis dan moral, karena melupakan bahwa manusia adalah bagian dari ciptaan, bukan penguasa absolutnya. “Jika kita merasa dekat dengan semua ciptaan, hati kita akan penuh dengan kelembutan dan kasih, terutama terhadap makhluk ciptaan yang paling lemah dan rapuh.”[9]

Bagi para religius, termasuk Kapusin, ini berarti bahwa gaya hidup yang bersifat sederhana dan asketik bukan hanya warisan tradisi, tetapi sebuah kesaksian kenabian terhadap sistem nilai dominan yang tidak adil terhadap bumi dan kaum miskin. Spiritualitas ekologis Fransiskan Kapusin menawarkan alternatif yang mendalam: hidup dalam persekutuan dengan alam, dengan kesadaran akan keterbatasan, dan dalam solidaritas dengan semua makhluk ciptaan.

Ekologi Integral sebagai Jalan Pertobatan Ekologis

Salah satu kontribusi utama Laudato Si’ adalah penekanannya pada perlunya pertobatan ekologis (conversione ecologica), yaitu perubahan sikap batin yang menyentuh relasi terdalam antara manusia dengan Allah dan ciptaan. Paus Fransiskus menyatakan, “Krisis ekologis adalah panggilan untuk pertobatan mendalam secara spiritual, untuk perubahan hati.” (bdk. Laudato Si’, no. 217) Pertobatan ekologis menuntut lebih dari sekadar reformasi struktural atau kebijakan publik yang ramah lingkungan. Ia menuntut perubahan paradigma hidup, meliputi cara konsumsi, cara memperlakukan sesama, dan cara manusia berdoa serta berelasi dengan dunia. Bagi para Kapusin, ini berarti bahwa pertobatan ekologis harus menjadi bagian integral dari formasi religius, liturgi, dan pelayanan pastoral.

Ekopastoral: Inkarnasi Spiritualitas dalam Tindakan

Istilah ekopastoralmerupakan sintesis dari dua realitas penting dalam hidup dan perutusan Gereja: ekologi dan pastoral. Dalam spiritualitas Fransiskan Kapusin, kedua realitas ini tidak dapat dipisahkan, sebab spiritualitas yang sejati selalu menemukan perwujudannya dalam keterlibatan konkret di tengah dunia. Ekopastoraldipahami sebagai bentuk praksis pastoral yang berakar pada spiritualitas ekologis dan diarahkan untuk membangun keutuhan relasi antara Allah, manusia, dan seluruh ciptaan. Ini adalah bentuk inkarnasi spiritualitas ekologis Fransiskan yang tidak berhenti pada kontemplasi atau refleksi, tetapi menuntun kepada tindakan nyata yang menyentuh kehidupan umat dan alam sekitar.

Dasar Teologis Ekopastoral: Iman yang Menyentuh Tanah

Dalam kerangka teologi pastoral, ekopastoral bukanlah agenda tambahan atau pelengkap, melainkan ekspresi hakiki dari dimensi inkarnasional iman Kristiani. Allah yang menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus menjadikan dunia ini, termasuk alam semesta, sebagai ruang rahmat dan penyataan diri-Nya. Oleh karena itu, setiap bentuk perawatan terhadap bumi merupakan tindakan partisipatif dalam karya penyelamatan Allah. Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ menegaskan bahwa tanggung jawab ekologis adalah bagian integral dari identitas iman. Ia menyatakan: “Perawatan terhadap alam adalah bagian dari gaya hidup yang menyatakan iman kepada Allah yang menciptakan dan mengasihi dunia.”[10]

Bagi para Kapusin, ekopastoral adalah perpanjangan dari kehidupan doa dan kontemplasi, yang kemudian menyentuh tanah dan relasi sosial. Doa-doa dalam keheningan biara memperoleh maknanya ketika diwujudkan dalam tindakan penyelamatan ekologis, baik secara individu maupun komunitas. Para kapusin, melalui Komisi JPIC (Justice, Peace, and Integrity of Creation), telah menjadi pionir dalam pengembangan ekopastoral di berbagai wilayah. Di Sumatera Utara, misalnya, saudara-saudara kapusin mengembangkan pendekatan pastoral yang melibatkan pendidikan lingkungan, konservasi hutan adat, pertanian organik, serta pendampingan petani kecil.[11] Pendekatan ini tidak hanya menyentuh isu lingkungan, tetapi juga menyentuh martabat dan kesejahteraan masyarakat lokal, serta mendukung pelestarian budaya ekologis tradisional.

Strategi Ekopastoral Fransiskan Kapusin

Untuk menjadikan ekopastoral sebagai bagian integral dari hidup religius dan pelayanan pastoral, dibutuhkan strategi yang sistematis dan kontekstual. Beberapa pendekatan berikut ini telah terbukti efektif dalam praksis. Pendidikan ekologi berbasis iman, mengembangkan modul pendidikan lingkungan yang terintegrasi dengan Kitab Suci, tradisi Fransiskan, dan ajaran sosial Gereja. Ini dapat diaplikasikan dalam formasi awal, seminar paroki, atau sekolah-sekolah Katolik. Liturgi ekologis, merancang liturgi dan doa-doa yang berorientasi ekologis, misalnya Perayaan Hari Ciptaan, Doa Bersama untuk Bumi, dan Ekaristi Kontekstual yang mengintegrasikan simbol-simbol alam setempat. Kolaborasi lintas sektor dan lintas agama, membangun kerja sama dengan LSM lingkungan, komunitas adat, akademisi, dan tokoh lintas agama untuk memperkuat gerakan pelestarian lingkungan berbasis komunitas. Revitalisasi komunitas religious menjadikan rumah-rumah biara sebagai “oase ekologis” yang menjadi saksi nyata gaya hidup berkelanjutan. Ini mencakup pengelolaan limbah, kebun pangan mandiri, energi terbarukan, dan zero waste.

Kesimpulan

Krisis ekologis global dewasa ini bukan sekadar permasalahan teknis atau ilmiah, melainkan gejala mendalam dari krisis spiritual, moral, dan relasional yang melanda peradaban manusia modern. Dalam konteks ini, Gereja Katolik, melalui ensiklik Laudato Si’, mengundang seluruh umat beriman untuk menempuh jalan ekologi integral yang memulihkan hubungan manusia dengan Allah, sesama, dan seluruh ciptaan. Ajakan ini tidak hanya bersifat teoritis, melainkan menuntut transformasi hidup secara menyeluruh, melibatkan perubahan paradigma, gaya hidup, serta arah pelayanan pastoral.

Spiritualitas ekologis fransiskan kapusin menjadi semakin signifikan ketika dipadukan dengan gagasan ekologi integral Gereja. Kedua arus ini menekankan bahwa masalah ekologis tidak dapat dipisahkan dari struktur ketidakadilan sosial, konsumerisme, dan mentalitas dominatif terhadap alam. Oleh karena itu, pertobatan ekologis bukan hanya perubahan cara bertindak, tetapi transformasi cara memandang, merasakan, dan hidup. Dalam spiritualitas Fransiskan, pertobatan ini diwujudkan melalui penyatuan kontemplasi dan aksi: doa yang berakar pada kesadaran akan kehadiran Allah dalam ciptaan, dan tindakan yang lahir dari cinta kepada semua makhluk.

Pada akhirnya, menjadi Fransiskan Kapusin ekologis berarti menghayati Injil dalam konteks ekologis kontemporer, menjadikan hidup sebagai pujian kepada Allah melalui penghormatan dan perawatan terhadap ciptaan-Nya. Ini adalah panggilan profetik yang menuntut keberanian, ketekunan, dan kesetiaan dalam menghadirkan tanda-tanda harapan di tengah dunia yang terluka. Para kapusin dipanggil untuk menjadi fratres universals, saudara bagi semua makhluk, yang memulihkan jalinan relasi kosmik melalui kasih, kesederhanaan, dan keterlibatan aktif dalam membangun rumah bersama (our common home) yang adil, lestari, dan penuh damai.

Daftar Pustaka

Bonaventura. The Journey of thr Mind to God (Itinerarium Mentis in Deum). Diterjemahkan   oleh Ewert Cousins. New York: Paulist Press, 1993.

Budiarto, A. Madah Saudara Matahari: Gita Sang Surya. Yogyakarta: Kanisius, 2003.

Esser, Kajetan (ed.). Fransiskus Assisi, Karya-karyanya (Die Opuscula des Hl. Franziskus von Assisi). Diterjemahkan oleh Leo l. Ladjar, OFM. Yogyakarta: Kanisius, 1988.

Fransiskus, Paus. Ensiklik Laudato Si’. Seri Dokumentasi Gerejawi no.98. Diterjemahkan oleh Martin Harun, OFM. Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2016.


[1]    Paus Fransiskus, Ensiklik Laudato Si’ (Seri Dokumentasi Gerejawi no. 98), diterjemahkan oleh Martin Harun, OFM (Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2016), no. 119.

[2]    Ibid., no. 91.

[3]    Ibid., no. 217-221.

[4]    A. Budiarto, Madah Saudara Matahari: Gita Sang Surya (Yogyakarta: Kanisius,2003), hlm.13-15.

[5]    Kajetan Esser OFM (ed.), Fransiskus Assisi, Karya-karyanya (judul asli: Die Opuscula des Hl. Franziskus von Assisi), diterjemahkan oleh Leo L. Ladjar OFM (Yogyakarta: Kanisius, 1988), hlm. 82.

[6]    Vernakular berarti sesuatu yang bersifat lokal, asli, atau sehari-hari, misalnya Bahasa daerah atau arsitektur tradisional yang lahir dari budaya setempat.

[7]    Bonaventura (ed.), The Journey of the Mind to God (judul asli: Itinerarium Mentis in Deum), diterjemahkan oleh Ewert Cousins (New York: Paulist Press, 1993), hlm. 59-61.

[8]    Saling berhubungan diartikan sebagai kepedulian terhadap lingkungan perlu bergandengan tangan dengan cinta yang tulus bagi manusia dan komitmen yang mantap untuk menangani masalah-masalah masyarakat.

[9]    Paus Fransiskus, Ensiklik Laudato Si’ (Seri Dokumentasi Gerejawi no. 98), diterjemahkan oleh Martin Harun, OFM (Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2016), no. 11.

[10]    Paus Fransiskus, Ensiklik Laudato Si’ (Seri Dokumentasi Gerejawi no. 98), diterjemahkan oleh Martin Harun, OFM (Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2016), no. 217.

[11]    Tindakan ini tidak berhenti di situ saja. Tim JPIC bersama beberapa pihak telah melakukan audensi dengan Komisi XIII DPR-RI untuk tindak lanjut masalah hutan adat akibat Perusahaan PT. Toba Pulp Lestari.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *