Kesetiaan yang Membawa Keselamatan (Luk 21:7-19)

Fr. Jorgi Peranginangin, OFMCap

Dalam kesempatan kali ini, saya akan mencoba membagikan permenungan saya atas perikop injil Lukas. Semoga kita mendapat makna atau pesan bagi kehidupan panggilan kita masing-masing.

            Saudara-saudari yang terkasih terkasih, dalam Injil Lukas 21:7-19 , Yesus berbicara terus terang tentang kesulitan yang akan dialami oleh para murid-Nya. Dalam perikop ini Yesus tidak menyembunyikan kenyataan bahwa untuk menjadi murid-Nya akan ada penolakan, penganiayaan, dan situasi yang menggoyahkan hati yang akan dialami oleh para murid. Namun di balik kata-kata yang tampak keras ini, Yesus juga menyingkapkan kedalaman penyertaan Allah. Bagi kita pun yang telah memilih dan yakin serta percaya kepada-Nya, sabda ini tidak lagi menjadi ancaman tapi menjadi suatu undangan untuk memaknai kembali panggilan yang telah kita jalani sampai saat ini.

            Di awal Yesus berkata bahwa para murid dan kita sekarang ini adalah murid Tuhan Yesus akan “diserahkan”, “dianiaya”, bahkan “dibenci”. Bagi kita yang memilih pilihan hidup yang berbeda, bentuk-bentuk penderitaan itu sangat banyak dan beragam. Penderitaan itu bisa hadir dalam rupa kekerasan fisik, emosional, mental lewat pengalaman hidup sehari-hari dan bisa juga ‘penderitaan’ ini bersifat tersembunyi. Contohnya dalam tuntutan pekerjaan kita, study, masyarakat, status kita dan contoh lainya yang sudah kita alami. Dalam hal rohani kita contohnya, dalam doa-doa kita merasa kering dan pergumulan batin karena kehidupan ini. Akhirnya akhir dari semua itu kita  merasa lelah, letih, lesu yang berat dalam menjalani kehidupan, tugas dan tanggung jawab kita.

            Syukur kepada-Nya karena la ternyata tidak berhenti pada kata ancaman. la berkata, “Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat”. Di sini, Tuhan menegaskan bahwa seorang tidak boleh dan tidak pernah bisa berjalan mengandalkan kekuatannya sendiri.  Apa yang kita miliki sekarang bukan karena hebat kita tapi anugrah dari Bapa Anugerah yang dicurahkan oleh Roh Kudus dan itu hanya bagi mereka yang tetap setia tinggal dalam kehendak Allah. Para saudara-saudari sekelaian kita semua dipanggil bukan untuk menjadi sempurna, tetapi untuk menjadi tempat di mana Allah berkarya. Meskipun itu menyakitkan dan terasa sia-sia, kita hanya diminta untuk setia hadir dengan rendah hati serta tekun, selebihnya la yang akan melengkapinya.

            Setelah kita mengenal serta mengetahui derita-derita yang akan kita alami sebagai orang yang beriman dan percaya kepada-Nya. Selanjutnya kita mau memasrahkan serta percaya kepada-Nya. Maka, Yesus menutup dengan kalimat yang menjadi inti pilihan panggilan hidup kita masing-masing, yakni : “Dengan ketekunanmu kamu akan memperoleh hidupmu. Saudara saudari yang baik, ketekunan bukan hanya sekadar bertahan di dalam derita itu, tetapi kita harus terus melangkah dan menghidupi panggilan hidup dengan hati yang terarah pada Kristus. Kita harus setia pada doa walau jiwa lelah, setia pada ketaatan terhap pekerjaan, tugas, status kita meski tidak selalu mudah, tetap setia mengasihi mereka yang dekat dengan kita dan orang- orang yang ada disekitar meskipun mereka itu agak jugul dan sulit dipahami. Setia menjalankan semua derita bukan sebagai beban, tetapi sebagai jalan menuju kebebasan sejati.

            Yakin dan percaya lah para saudara-saudari bahwa Tuhan melihat kesetiaan-kesetiaan kecil itu. Yesus tidak menjanjikan hidup mulus yang tanpa tantangan dan rintangan. Tetapi la menjanjikan satu hal yang lebih berharga: penyertaan dan kasihnya yang tidak akan pernah meninggalkan kita dalam segala perjuangan, dan pengorbanan yang kita lakukan meski tersembunyi dari mata dunia tapi akan selalu terlihat oleh Allah dan memiliki nilai kekal.

            Semoga sabda dan permenungan ini menguatkan kita untuk terus berjalan, memikul salib harian kita dengan sukacita, dan menyerahkan seluruh hidup kepada Dia yang setia menyertai sampai akhir dan yang tidak akan pernah meninggalkan kita.

Amin.

Tinggalkan komentar