Jam wacker yang ada di samping tempat tidur seorang pemuda berbunyi seolah-olah bersepakat dengan cahaya surya agar pemuda itu bangun dari tidurnya. Hasilnya, pemuda itu bangun dan mulai mempersiapkan diri untuk lari santai di pagi hari. Meskipun masih subuh pemuda itu tetap berlari santai di pagi hari tepatnya di California. Pemuda itu bernama Finch. Finch berlari dengan earphone di telinga yang digunakannya untuk menambah semangatnya untuk berlari. Finch berlari dengan bersemangat dan saat kakinya hendak sampai di Golden Gate Bridge, pandangan Finch diganggu dengan seorang gadis yang berdiri di pinggir jembatan. Finch mencoba mendekati gadis itu secara perlahan. Seraya Finch mendekati, gadis itu menaiki tembok jembatan itu dengan tatapan kosong dengan air matanya yang mengalir begitu deras. Finch mendugai gadis itu ingin mengakhiri hidupnya. Gadis itu seperti mulai mengambil ancang-ancang untuk melombat ke bawah jembatan yang mana di bawah jembatan itu ada sungai yang mengalir deras.
Dugaan Finch menjadi kebenaran dan ia langsung berlari ke arah gadis itu dan langsung menarik tangan gadis itu hingga gadis itu jatuh di pelukan Finch tanpa sengaja. Secara cepat gadis itu menolak dekapan itu dengan mendorong tubuh Finch, setelah itu ia gadis itu berlari dan menaiki tembok jembatan. “VIOLET!!” teriak Finch. Gadis itu tersentak dan dirinya membeku kaku mendengar suara itu. “Apa yang kau lakukan?” tanya Finch. “Pergilah! Kumohon, menjauh dariku!” balas Violet. Sejenak Finch terdiam, lalu dia menghampiri Violet dengan menaiki tembok jembatan dan kini mereka sama-sama berdiri di tembok jembatan. “WOW! Ini sangat tinggi dan menarik jika melompat ke bawah secara bersamaan.” gurau Finch. “CUKUP! Kamu kira lucu? Tolong jangan ikutin aku dan jangan lakukan apa yang hendak aku lakukan!” saut Violet. Finch menjawab, “Kamu masih takut?” “TIDAK!” jawab gadis itu dengan tubuh yang bergetar. Finch mengulurkan tanganya sambil berkata, “Mari kita turun bersama.” Violet melihat mata Finch yang sangat tulus sehingga secara spontan ia menerima uluran tangan itu.
Suasana hening dan sepi menyelimuti kamar Finch pada malam hari. Ia duduk di atas ranjangnya sambil mengingat kejadian yang telah terjadi pada pagi hari. Akhirnya nama gadis itu bisa disebutkannya karena selama ini Finch hanya mampu melihatnya dari kejauhan di universitas yang sama. Nama yang singkat, namun penuh makna itu membuat rasa penasaran Finch meledak sehingga ia mengetik Violet Markey di Google. Kemudian, mata Finch terbelangak melihat satu fakta dari berita yang dihadirkan Google tentang kecelakaan maut yang dialami Violet Markey dan Eleanor Markey. Kecelakaan itu menewaskan Eleanor Markey sementara Violet Markey selamat. Peristiwa itu terjadi pada 17 September 2024. “1 tahun yang lalu.” gumam Finch. Kemudian, Finch mengambil kertas kecil dan menulis suatu kalimat “Ia harus sembuh, cobalah untuk fokus.” Kertas itu di tempelnya di dinding kamarnya dan kemudian, melemparkan senyum ke arah kertas seraya berkata, “Violet Markey.”
Keesokan harinya, Universitas Santa Clara, California dipenuhi oleh ribuan mahasiswa yang umumnya memiliki tujuan yang sama yakni menimba ilmu. Akan tetapi Finch berbeda dengan yang lain dia datang untuk sesuatu yang besar namun masih rahasia. Bel keras dari universitas menandakan bahwa perkuliahan akan dimulai. Dosen yang bernama Mr. Hudson masuk di kelas Finch. “Selamat Pagi, semuanya.” sapa dosen itu. “Pagi Pak!” balas mahasiswa. “Sekedar mengingatkan bahwa kalian sebentar semester ini akan selesai, saya akan memberi tugas ringan kepada kalian. Kalian harus berjalan-jalan di California dan cobalah untuk menuliskan apa yang kalian temukan di sana dan apa makna, kesan, dan pesan dari tempat itu, lalu hasilnya buat dalam bentuk paper dan …” kata dosen.
Kata-kata dosen itu terputus karena seorang gadis yang masuk ke kelas dengan terburu-buru sambil membawa buku yang banyak dan kemudian buku itu jatuh sehingga suasana kelas ricuh karena gelak tawa mahasiswa lain melihat kejadian itu. Finch sejenak tertegun melihat kenyataan bahwa gadis itu ialah Violet dan ia langsung menjatuhkan kursinya agar pandangn mahasiswa lain tertuju kepadanya. “Wah! Kursi saya juga jatuh tetapi mengapa kalian diam?’ kata Finch. Finch melakukan itu demi Violet agar ia jangan jadi pusat ejekan saat itu. Kemudian, Violet duduk di kursinya dan menatap Finch, lalu Finch membalasnya dengan senyum. Tak lama kemudian bel yang menandakan pulang berbunyi. Finch menjumpai Violet dan memintanya untuk masuk dalam kelompok yang akan melakukan perjalanan di California. Violet dengan raut wajah yang datar menolak permintaan Finch sambil terus berjalan. Finch pun kesal.
Malam hari yang sunyi dan sepi kembali mewarnai kamar Finch dan kini, Finch berada di backtup berisikan air dan dia membenamkan dirinya ke dalam air sambil menutup mata. Ia terbayang dengan sesuatu yang terus menghantui dirinya di masa lalu dan itu terkadang tidak bisa mengendalikan dirinya, namun saat bayangan itu muncul terlintas wajah Violet, sehingga Finch sadar dari mimpinya dan keluar dari air yang ada di backtup dan bergegas pergi ke suatu tempat. Tempat yang dituju Finch ialah suatu gereja kecil yang dijaga oleh seorang pastor fransiskan yang bernama Father Roben. Saat sampai di gereja itu, Finch langsung berjumpa dan mengajak pastor itu untuk mendengarkan cerita Finch. Bapa Roben langsung menerima permintaan itu karena Finch adalah sesuatu yang istimewa baginya.
Handphone yang bergetar berulang kali di atas meja berhasil membangka Violet dari tidurnya. Kemudian dirinya tersentak dengan video Finch yang bernyanyi untuk meminta agar Violet mau ikut dalam melakukan perjalanan di California. Video itu telah di-posting di forum publik dan Violet menelpon Finch. “Tolong, hapus video itu!” kata Violet dengan nada marah. “Bisa, asalkan kita berjumpa malam ini.” balas Finch. “Baiklah, tetapi sekarang cepat hapus video itu!” kata Violet.
Finch menghapus video itu. Pada malam hari Finch datang ke Violet dan Violet keluar dari rumah secara perlahan karena takut orangtuanya terjaga. Finch dan Violet berjalan berdua menikmati malam di California. “Jadi, aku tak sengaja menemukan namamu di Google.” kata Finch membuka pembicaraan. “Apa? Untuk apa kau lakukan itu?” balas Violet dengan penasaran. “Yah, hanya tidak sengaja saja.” saut Finch dengan senyum. “Aneh!” Ucap violet. “Mmmm, apa yang kamu lakukan di jembatan saat itu? Mau bunuh diri?” kata Finch membuka kembali percakapan. “Tidak! Saya hanya menenangkan diri saat itu.” balas Violet dengan nada suara yang ragu. “Oh, begitu. Tetapi, seandainya kau mau bunuh diri saat itu berarti aku telah menyelamatkanmu.” ucap Finch dengan senang. “Memang gila! Sebenarnya apa yang kau mau?”, kata Violet. “Nah, bagaimana kita menjadi satu rekan perjalanan dalam mengerjakan tugas yang diberi Mr. Hudson?” kata Finch penuh yakin. “Tidak! Saya tidak suka perjalanan dan saya akan meminta izin kepada Mr. Hudson untuk mengerjakan tugas lain.” balas Violet dengan cepat dan datar. “Wah, sayang sekali padahal kita akan menemukan keindahan dalam hal-hal yang tak terduga yang telah disediakan alam semesta bagi kita.” ucap Finch. “Maaf, saya tidak tertarik sama sekali dan saya pulang dulu, Finch!” jawab Violet. Violet pulang ke rumahnya dan meninggalkan Finch sendiri di tengah California pada malam hari yang mulai dingin dan dihiasi lampu-lampu yang indah dengan keadaan yang sunyi dan sepi.
Senin, 08 Oktober 2025, Violet berbincang dengan Mr. Hudson tentang izin terkait dengan tugas dari dosen ini di ruang kelas. Setelah berbincang dengan cukup lama, Violet keluar dari ruang kelas dengan wajah yang menunjukkan rasa kesal yang besar dan ia langsung pulang ke rumah dengan sepedanya. Saat perjalanan menuju rumahnya ia bertemu dengan Finch yang menggunakan mobil klasiknya. Finch menghadang perjalan Violet sehingga Violet terpaksa memberhentikan laju sepedanya. “Hai, Violet! Bagaimana dengan izinnya?” kata Finch “Tidak diberi izin.” balas Violet dengan nada datar. “Jadi?’ tanya Finch “Baiklah, kita bisa menjadi rekan dalam kelompok namun kita berpergian menggunakan sepeda karena menurutku mobil itu mengangguku.” Jawab Violet. “Baiklah, Violet Markey.” balas Finch. Mereka pergi ke tempat tertinggi di California. Pohon-pohon rindang mendampingi mereka saat di perjalanan dengan kicauan burung yang terus berbunyi seolah-olah menyambut kedatangan mereka sehingga perjalanan mereka diiringi dengan suasana yang tenang dan gembira. Tak terasa mereka sampai di puncak tertinggi California dan Violet terkejut karena hanya ada batu yang mirip dengan batu nisan namun di dalam batu itu hanya ada angka-angka yang menunjukkan ukuran puncak tertinggi di California. Bagi Violet ini sesuatu yang tak berkesan. Namun, Finch membuat ini berkesan. Finch naik ke batu itu. “Ayo, naik ke sini.” kata Finch sambil mengulurkan tangan ke arah Violet. Violet menerima ulurang tangan itu dan ikut naik bersama Finch. “Indahnya tempat ini jika kita melihat dari atas. Ada banyak hal bisa kita lihat dari atas. Yang kita lihat sangat indah bahkan dari hal terkecil dapat timbul keindahan. Kata Bapa Roben Tuhan hadir dalam setiap hal sehingga itu indah.” ucap Finch. “Kamu pandai juga berpuisi.” balas Violet dengan tersenyum meihat raut wajah Finch. “Tersenyum lebih baik daripada mencemaskan segala hal. Ayo, kita melompat bersama dari tempat tertinggi di California.” kata Finch. Mereka pun bersama-sama melompat dan tersenyum bersama. Mereka pun mulai akrab dan mulai bersama-sama mengunjungi tempat-tempat sederhana namun menjadi berkesan karena dilakukan bersama.
Klakdon mobil terus berbunyi di depan rumah Violet sehingga keluarga Markey keluar dari rumah. Ternyata Finch adalah dalang dari bunyi klason itu dan ia keluar dari mobi itu. “Selamat Pagi, Mr dan Mrs. Markey. Saya hanya ingin mengajak Violet ke Pantai Lylia. Apakah boleh?” tanya Finch. “Tidak!” jawab orangtua Violet dengan cepat. “Ayah, Bu, ini demi tugas kuliah jadi tolong bantu aku!” ucap Violet dengan wajah memelas. “Baiklah, tetapi Finch, kau harus membawa dia dengan selamat dan jangan sampai larut malam.” tandas orangtua Violet. “Siap!” ucap Finch dengan semangat. Mereka berangkat dengan mobil, namun ada sesuatu yang berbeda dengan diri Violet. Violet menutup mata saat ia ada di mobil. Finch sedikit terkejut melihat sikap Violet. “Dalam perjalanan kita harus membuka mata karena kalau tidak kita tidak akan tahu apa-apa saja yang telah kita lewati. Padahal keindahan akan selalu ada dalam perjalanan dan saat kita menutup mata maka hanya kegelapan yang kita lihat.” ucap Finch. Perlahan Violet membuka matanya yang sudah berkaca-kaca dan dia mulai secara spontan menceritakan kecelakaan yang ia alami dengan kakaknya. Ia menangis karena kecelakaan itu terjadi begitu cepat dan merenggut nyawa kakaknya pada saat hari ulang tahun kakaknya. Mendengar itu, Finch langsung memutar lagu gembira di mobil dan mulai bernyanyi. Violet pun perlahan mengikuti Finch dan mereka bernyanyi bersama di mobil sambil menikmati perjalanan menuju Pantai Lylia, California.
Saat sampai di pantai, mereka disambut dengan cahaya matahari yang cukup panas dan mereka langsung lari ke arah air dan mulai berenag bersama sambil bermain. Tak lama kemudian, mereka rehat sejenak duduk di pesisir pantai. “Saya iri melihat makhluk lain yang bebas melakukan apa saja di alam semesta. Mereka hidup dan mati secara bebas tanpa beban karena mereka seperti dijaga alam.” kata Finch. “Iya, juga ya.” balas Violet. “Kata bapa Roben mereka mengalami penderitaan yang sedikit karena bergantung pada Sang Pencipta, padahal aku tidak.” ucap Finch. “Maksudnya?” tanya Violet. “Oh, tidak apa-apa.” ucap Finch. Finch berdiri dan berlari ke arah pantai sambil berteriak, “Saya berenang dulu, Violet!” Violet tersenyum dan mengeluarkan buku diarynya dan mulai mencatat pengalamannya dengan Finch. Tak terasa hari mulai gelap tetapi Finch belum kembali. “FINCH, FINCH, FINCH!” teriak Violet. Teriak Violet hanya dibalas oleh suara desiran gelombang air laut dan keheningan malam. Akhirnya, Violet memutuskan untuk pulang sendiri dengan tangis yang cukup dalam karena ia kembali merasa takut.
Keeseokan harinya, Finch menekan bel rumah Violet dan kemudian disambut oleh orangtua Finch. “Maaf.” ucap Finch dengan kepala menunduk. “Tidak bisa dipercaya, dasar anak aneh!” ucap orangtua Violet dengan kasar sambil menutup pintu dengan keras. Finch pun pergi. Esok hari Violet datang ke kampus dan dia melihat bangku Finch kosong dan dia pikir Finch malu kepada dia. Keesokan harinya dan seterusnya Finch tetap tidak hadir dan ini membuat Violet khawatir dan curiga sehingga ia bertanya dengan teman-teman dekat Finch dan mereka juga tidak tahu. Violet semakin kalut melihat peristiwa ini. Violet pun memutuskan untuk mengunjungi tempat-tempat yang pernah mereka kunjugi bersama. Tempat pertama, kedua dan ketiga tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaan Finch dan akhirnya, Violet pergi ke tempat terakhir Pantai Lylia. Violet mulai mencari di sekitaran pantai dan sudah cukup lama mencari, tiba-tiba Violet dikejutkan dengan dengan pakaian Finch yang ada di batu besar. Violet langsung menelpon pihak berwajib untuk menemukan Finch. Akhirnya, Finch ditemukan meninggal akibat tenggelam dan itu membuat Violet kembali terluka.
Tiga hari setelah kematian Finch, Violet mencoba mencari informasi tentang Finch dari keluarga dekat Finch. Namun, Violet hanya menemukan informasi dari kakak Finch bernama Lisa. Lisa hanya memberitahu bahwa selama ini Finch sering konseling dengan psikiater. Informasi itu tidak cukup. Kemudian, ia mencari tahu dimana bapa Roben berada. Ternyata bapa Roben berada di Gereja Santa Agata yang tidak jauh dari rumah Finch. Violet sangat beruntung bisa langsung berjumpa dengan bapa Roben dan ia ingin mendengar cerita dari bapa Roben. “Selamat Siang, bapa Roben.” sapa Violet. “Apakah kau Violet?” balas bapa Roben. “Iya.” jawab Violet.
“Baiklah, saya sudah tahu maksud kedatanganmu. Finch adalah anak yang penuh dengan luka. Saat masih kecil Finch tinggal dalam keluarga yang jahat. Kekerasan adalah pemberian wajib dari ayahnya, sementara ibunya sibuk melacur. Kemudian, Finch diletakkan di panti asuhan dna kebetulan saat itu saya memimpin misa di tempat itu dan ia sering bertanya dan cukup aktif. Saya tertarik dengan dia dan saya memberikan perhatian khusus kepadanya. Ia seorang yang penuh dengan mimpi namun sayang sekali banyak mimpi yang tidak bisa ia capai karena luka-luka yang begitu banyak dalam dirinya sehingga ia tidak bisa mengendalikan dirinya pada saat-saat tertentu. Finch yang sudah bertumbuh dewasa juga belum mampu melawan dirinya. Namun, saat aku mengetahui dia bersahabat denganmu aku senang karena mungkin ini jalan Tuhan untuk menyembuhkannya, namun ternyata prediksiku salah. Namun jangan merasa bersalah karena Finch memberikan harapan pada orang yang membutuhkan harapan. Saya senang melihat Finch yang menyembuhkan sahabatnya meskipun ia masih memiliki banyak luka dalam dirinya. Aku memohon agar engkau tetap menjadi sahabatnya melalui doa-doamu kepadanya.” uscap bapa Roben.Violet menangis begitu hebat melihat perjuangan Finch kepada dirinya.
Bunyi bel di kampus berbunyi itu menandakan mahasiswa masuk kelas masing-masing. Violet masuk ke dalam kelas dan pelajaaran Mr. Hudson menjadi pelajaran pembuka pada hari ini. Tugas Proyek Keliling California dikumpul dan dibaca di depan kelas dan kebetulan Violet langsung diunjuk Mr. Hudson.
“Aku adalah orang yang paling mencemaskan segala hal. Aku banyak melewatkan banyak hal bermakna dalam hidup sehingga aku sering merasa putus asa. Namun, pertemuan dengan Finch mengubah hidupku dari yang tidak mempunyai harapan menjadi memiliki harapan untuk hidup. Finch mengajariku cara melanjutkan hidup dengan membawa aku ke tempat-tempat sederhana namun indah karena dalam semua tempat hadir Sang Pencipta. Finch menyembuhkanku namun aku tak menyadari dia juga butuh disembuhkan. Finch membuatku sadar bahwa di semua tempat ada terang dan jika tidak ada terang maka jadilah terang untuk tempat itu dan itu yang dilakukan Finch kepadaku. Terimakasih Finch telah memberiku harapan untuk hidup meskipun engkau sedang menyimpan banyak rasa sakit. Engkau adalah matahari yang memberiku cahaya Tuhan dalam menjalani hidupku. I Love You, Finch.” Ucap Violet dengan tulus.
Pesan: “Jadilah terang yang memberikan harapan, laksana matahari yang memberikan cahaya pada setiap hari baru.”


