Hatiku meluap dengan kata-kata indah
Kala Engkau memelukku dengan mesra
Bukan, bukan dengan tangan wanita yang selama ini kulihat
Namun lebih nyata, dalam dekapan Sang Surya
yang menumpahkan hangatnya ke relung jiwa
Engkau terelok di antara anak-anak manusia
Kala keindahan-Mu memanjakan mata
Bukan, bukan keelokan semarak dunia
Namun lebih dekat, lewat busana-Mu yang menawan
yang menenun warna pada kelopak bunga semesta
Engkau penuh kasih dan setia
Kala Engkau senantiasa hadir di dada
Bukan, bukan kesetiaan manusia belaka
Namun lebih teguh, seperti napas kehidupan
yang pulang dan pergi tanpa pernah dusta
Engkau selalu menghiburku kala luka
Bernyanyi lirih tanpa kata-kata
Bukan, bukan iringan musik yang menggelegar di jiwa
Namun lebih megah, seperti kicau burung
yang meneteskan fajar di sunyi telinga
Engkau tak pernah lupa menyapaku
Membelai lembut helai rambutku
Entah, aku tak tahu dari mana asal-Mu
Hanya datang perlahan seperti angin
yang menyelipkan rahasia ke dalam kalbuku
Hai segala manusia, bertepuk tanganlah
Bukan karena pertolongan-Nya di kala susah
Namun karena Ia hadir tanpa lelah
Dalam setiap hela napas dan jejak langkah
yang diam-diam menjaga nyala hidup tetap menyala
Ia ada dalam terang dan gelapku
Dalam diam yang tak mampu kutahu
Bukan, bukan sekadar bayang semu
Namun nyata, lebih dekat dari denyut nadiku
yang menyebut nama-Mu tanpa pernah jemu
Kala dunia merenggut harapanku
Ia diam, namun tak pernah meninggalkanku
Bukan, bukan suara yang memaksa kalbu
Namun bisikan sunyi yang berakar dalam jiwaku
menegakkan aku saat runtuhku
Dalam jatuhku, Ia tak menertawakan
Dalam rapuhku, Ia tak menjauhkan
Bukan, bukan seperti dunia yang mudah melupakan
Namun setia, seperti cahaya kecil
yang bertahan saat gelap menelan harapan
Dia ada…
Asalkan kita membuka mata
Melihat dengan hati, bukan logika semata
Bukan logika zaman yang gemuruh dan fana
Namun rasa yang jernih di kedalaman jiwa
Lihat diri-Nya dari relung hati terdalam
Biarkan Dia menyingkap keindahan malam
Seperti langit yang diam-diam menabur bintang
di antara luka yang perlahan menjadi diam
Asal kita mau berhenti sejenak
Melepas riuh yang terus mendesak
Mendengar dan menyaksikan Diri-Nya bersajak
dalam sunyi yang selama ini luput kita tangkap





