Beranda / Artikel / Refleksi / Memasuki Masa Prapaskah: Kembali dengan Hati yang Sederhana (Fr. Josephan Hasugian,OFMCap)

Memasuki Masa Prapaskah: Kembali dengan Hati yang Sederhana (Fr. Josephan Hasugian,OFMCap)

Rabu Abu selalu datang setiap tahun, tetapi sering kali saya merasa tidak benar-benar siap memasukinya. Tiba-tiba saja masa Prapaskah dimulai, dan saya bertanya dalam hati: apa yang sebenarnya mau saya ubah tahun ini?

Ketika abu ditandai di dahi dan kita mendengar kata-kata, “Bertobatlah dan kembali kepada Injil,” saya sadar bahwa hidup kita harus kembali dan semakin terarah kepada Kristus. Kita sering sibuk mengejar banyak hal nilai, pekerjaan, pengakuan, rencana masa depan, tetapi lupa memperhatikan keadaan hati kita sendiri. Rabu Abu mengajak kita, khususnya saya untuk berhenti sejenak. Bukan hanya berhenti dari kesibukan, tetapi berhenti untuk melihat diri dengan jujur. Apakah saya sudah sungguh-sungguh mengasihi? Apakah saya mudah mengampuni? Apakah doa saya masih menjadi perjumpaan dengan Tuhan atau hanya rutinitas?

Abu adalah tanda kerendahan hati. Ia mengingatkan saya bahwa saya bukan pusat dari segalanya. Saya rapuh, saya bisa salah, saya bisa jatuh. Tetapi justru di situlah indahnya iman. Tuhan tidak menunggu saya menjadi sempurna. Ia menunggu saya mau kembali.

Masa Prapaskah bukan sekadar soal berpantang atau berpuasa. Lebih dari itu, ini adalah perjalanan untuk membersihkan hati. Mengurangi hal-hal yang membuat saya jauh dari Tuhan. Belajar mengendalikan diri. Belajar lebih peduli pada sesama. Belajar lebih peka terhadap suara hati (ke kedalaman hati kita).

Memasuki Rabu Abu, saya tidak ingin membuat resolusi yang terlalu besar. Saya hanya ingin satu hal, yaitu hati yang lebih sederhana dan lebih terbuka. Jika tahun lalu saya masih mudah marah, tahun ini saya ingin belajar lebih sabar. Jika saya masih egois, saya ingin belajar berbagi. Jika saya jarang berdoa dengan sungguh, saya ingin mulai lagi, pelan-pelan.

Rabu Abu bukan tentang kesedihan. Ia tentang harapan. Karena setiap kali saya kembali kepada Tuhan, saya percaya Ia selalu menerima saya dengan kasih yang sama.

Semoga masa Prapaskah ini bukan hanya perubahan di luar, tetapi pertobatan yang sungguh terjadi di dalam hati kita. Pace e Bene.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *