Abstrak
This essay examines the Christological stance of St. Ignatius of Antioch in opposition to Docetism, emphasizing how his letters to the churches of Smyrna, Tralles, Ephesus, and others articulate a robust defense of the true humanity and divinity of Christ. Docetism, an early heresy widespread in Smyrna, denied the reality of Christ’s physical body and suffering, claiming His presence was merely an appearance (dokeo). Such a claim inherently undermined the reality of the Eucharist and caused schism within the Church. By integrating Ignatius’s epistolary witness with the broader theological and ecclesiological developments of the early Church, the essay argues that his Christology and defense of the threefold ministry (bishop, presbyter, deacon) remain fully consonant with contemporary Catholic doctrine, thereby reinforcing the orthodoxy that has guided the Church from its apostolic origins to the present day.
Kata kunci: Doketisme, kristologi Ignatius dari Antiokhia, kemanusiaan dan keilahian Kristus, Ekaristi, inkarnasi, kesatuan Gereja, penderitaan Kristus.
Pendahuluan
Dalam perjalanan sejarah, kerap kali Gereja menghadapi banyak tantangan dari berbagai pihak. Ancaman terhadap ortodoksi ajaran iman apostolik di bawah bayang-bayang ajaran para heretik semakin menyebar dan berhasil mendapatkan banyak pengikut, yang didominasi oleh anggota jemaat Gereja di daerah tertentu. Salah satu bidaah yang banyak menebarkan ajaran dan pengaruhnya di tengah Gereja yang masih dalam perkembangan ialah Doketisme, yang ditentang oleh St. Ignatius dari Antiokhia lewat surat-suratnya kepada jemaat di Smirna, Tralles, Efesus, dan lainnya.
Di Smirna, Doketisme muncul dengan membawa paham yang berlainan dengan ajaran iman para rasul mengenai kemanusiaan Yesus Kristus, terlebih penyangkalan terhadap kehadiran nyata Kristus, Tubuh dan Darah-Nya, dalam Ekaristi, sehingga mereka menjauhkan diri dari Ekaristi dan perayaan liturgi.[1] Gereja di Smirna menjadi terpecah belah. Sebagian orang meninggalkan ajaran para rasul yang telah ditanamkan sejak lama oleh Polikarpus dan Ignatius, yang meneruskan Tradisi Rasul Yohanes. Doketisme mengajarkan bahwasanya Yesus Kristus bukanlah sungguh-sungguh manusia, melainkan hanya tampak atau kelihatan memiliki tubuh (kata Yunani dokeo berarti ‘tampak’ atau ‘seolah-olah’) karena itulah mereka dinamakan demikian. Ia hanyalah bayangan atau penampakan dari ranah surgawi di dunia ini.[2]
Dalam kondisi demikian, akibat ajaran Doketisme, Ignatius dari Antiokhia hadir sebagai gembala umat dan guru untuk menuntun kembali jemaat kepada ajaran yang benar. Ignatius dari Antiokhia hadir untuk membimbing Gereja di Smirna lewat surat-suratnya yang menuntun jemaat untuk tidak terpengaruh dengan ajaran Doketisme. Melalui pengajarannya, kita mendapatkan gambaran kristologi dari St. Ignatius dari Antiokhia, yang memperkaya khazanah teologi Gereja Katolik. Kita juga dapat mengerti bahwasanya bidaah yang muncul menimbulkan reaksi dari para Bapa Gereja yang menjadi dasar atau latar belakang munculnya ajaran-ajaran teologis yang otentik guna memperdalam dan memperkaya ajaran iman Gereja. Dari reaksi, yang berupa pengajaran, dari para Bapa Gereja, kita semakin memahami siapa itu Yesus Kristus, sehingga pemahaman iman kita semakin diperdalam dan mengakar kuat.
Isi
- St. Ignatius dari Antiokhia: Penjaga Ortodoksi Iman dan Martir
Ignatius dari Antiokhia (35-107 M), yang juga dijuluki Theoporus (pembawa Allah), merupakan uskup Gereja Antiokhia pada akhir abad pertama dan awal abad kedua Masehi. Ia hidup sezaman dengan Klemens dari Roma dan Simeon dari Yerusalem. Gereja Antiokhia sendiri merupakan pusat bagi kekristenan bangsa-bangsa non-Yahudi. Sementara itu, Antiokhia sendiri adalah kota terbesar kedua dalam Kekaisaran Romawi.[3] Sebutan Theoporus tidak ditemukan sebagai nama pribadi sebelum Ignatius, besar kemungkinan bahwa nama ini diciptakan oleh dirinya sendiri atau untuknya. Dalam terjemahan-terjemahan berikutnya, julukan ini diterjemahkan sebagai “Pembawa Allah” sebagai semacam nama panggilan atau julukan.[4]
Menurut Origenes dan Eusebius, ia merupakan uskup Antiokhia kedua pengganti Petrus. Ada juga yang menganggap bahwa ia adalah uskup ketiga menggantikan Evodius. Pendapat lain lagi mengatakan, bahwa di Antiokhia terdapat dua orang uskup, yaitu Evodius yang diangkat oleh Petrus sebagai uskup atas orang Kristen asal Yahudi sedangkan Ignatius adalah uskup atas orang Kristen kafir yang diangkat oleh Paulus.Ignatius sendiri tidak pernah mengungkapkannya dalam surat-suratnya. Sebagai seorang Uskup, Ignatius juga dipercaya termasuk orang Kristen generasi pertama, orang yang telah mengenal Kristus, dan mendapat pengajaran langsung dari para Rasul.[5]
Ada sumber yang menyebutkan bahwasannya ia adalah murid dari Rasul Yohanes. Namun Ignatius sendiri maupun Eusebius tidak pernah menyebut bahwa ia adalah murid para rasul secara langsung. Sementara kesaksian Hieronimus dan Martyrium Colbertinum yang menyatakan bahwa Ignatius dan Polikarpus, yang merupakan sesama murid Santo Yohanes, justru bertentangan dengan isi surat Ignatius kepada Polikarpus, yang menunjukkan bahwa Ignatius baru mengenal Polikarpus ketika ia tiba di Smirna dalam perjalanan menuju Roma (Pol 1:1-2).[6] Menurut kisah yang muncul kemudian, Ignatius juga disebut sebagai pelindung pertama musik suci dan orang yang memperkenalkan nyanyian antifon di Antiokhia.
Salah satu pembahasan yang terdapat dalam tulisan-tulisannya ialah perlawanan konsep Doketisme yang menolah sisi kemanusia Yesus Kristus. Ajaran Doketisme, yang merebak di Smirna. berisikan usaha untuk menyesuaikan Injil dengan budaya Yunani telah melampaui batas, hingga pada penyangkalan akan realitas tubuh Tuhan. Pandangan dasar dunia Yunani-Hellenistik yang memandang materi sebagai sesuatu yang jahat secara logis menuntun pada penolakan terhadap inkarnasi. Allah, menurut pandangan ini, tidak mungkin memiliki hubungan langsung dengan dunia indrawi, karena dunia itu dianggap berada dalam wilayah kejahatan. Dengan demikian, Kristus tidak sungguh-sungguh menjadi manusia, melainkan hanya tampak atau kelihatan memiliki tubuh (dari kata Yunani dokeo, berarti “tampak” atau “seolah-olah”) karena itu disebut Docetisme. Ia hanyalah semacam bayangan atau penampakan dari ranah surgawi.[7]
Kisah Acta Martyrum menceritakan lebih lanjut bahwa Ignatius dihadapkan kepada Kaisar Trajan di Antiokhia pada tahun kesembilan pemerintahannya (107–108 M), dijatuhi hukuman mati karena menjadi orang Kristen, kemudian dibawa dengan rantai ke Roma, di mana ia dilemparkan kepada singa-singa di Colosseum sebagai tontonan bagi rakyat. Ignatius dirantai dan dijaga oleh sepasukan prajurit, yang ia sebut “sepuluh macan tutul”; orang-orang kasar dan kejam. Ia berjalan kaki melintasi Asia Kecil, kemudian menyusuri pantai barat wilayah yang kini disebut Turki, hingga akhirnya tiba di Troas (wilayah kuno dekat kota Troya). Dari sana, ia berlayar menuju Roma, tempat binatang buas telah menantinya. Selama perjalanan, para penjaganya berhenti di beberapa kota. Karena tidak ada penganiayaan di daerah-daerah itu, beberapa umat Kristen datang untuk menghiburnya dan mencium rantainya, sebagai tanda penghormatan kepada seorang kudus yang akan mati demi Kristus. Dari kota Smirna dan Troas, Ignatius menulis surat-surat kepada jemaat yang telah mengirimkan utusan untuk menemuinya. Tujuh surat singkat yang berhasil ia selesaikan sebelum berlayar dari Troas menjadi semacam wasiat rohaninya.[8]
Setelah menemui ajal, jenazah Ignatius kemudian dikatakan dibawa kembali ke Antiokhia sebagai peninggalan suci yang tak ternilai. Pengiriman Ignatius ke Roma dapat dijelaskan sebagai upaya untuk meredakan semangat kerasnya sang uskup, menakut-nakuti umat Kristen lain di sepanjang perjalanan, dan mencegah terjadinya gejolak fanatisme di Gereja Antiokhia. Namun, bagian kronologis dari kisah ini menimbulkan pertanyaan. Berdasarkan koin dan dokumen kuno lainnya, diketahui bahwa Trajan baru tiba di Antiokhia dalam ekspedisi ke Partia sekitar tahun 114 atau 115 M. Maka, kita harus menempatkan kemartiran Ignatius pada tahun yang lebih akhir, atau, yang lebih mungkin, berasumsi bahwa Ignatius sebenarnya tidak pernah diadili langsung oleh kaisar, melainkan oleh gubernur setempat.[9]
- Selayang Pandang Doketisme
Dalam New Catholic Encyclopedia Vol 4, dipaparkan pengertian dan sedikit latar belakang dari Doketisme. Paham kristologis mereka perihal kemanusiaan Yesus Kristus sungguh bertolak belakang dengan ortodoksi ajaran iman Gereja. Menurut para doketis, Yesus Kristus tidak memiliki tubuh yang sejati dalam keberadaan-Nya di dunia ini, melainkan Ia hanya memiliki tubuh semu saja. Kata ‘Doketisme’, yang menjadi nama dari aliran mereka, sendiri berasal dari Yunani dokein, yang berarti ‘menyerupai sesuatu yang tidak sungguh-sungguh ada dalam kenyataan’, seperti yang dikatakan Tertulianus dalam De Carne Christi. Ajaran sesat ini mungkin muncul dari pandangan umum abad pertama yang melihat bahwa materi pada dirinya sendiri bersifat jahat dan sebagai ungkapan ketidakterimaan dari para doketis terhadap kelemahan tubuh Kristus selama hidup-Nya, terutama saat kematian-Nya di salib. Di kemudian hari, setelah Ignatius dari Antiokhia wafat, Basilides, seorang guru Gnostik, mengemukakan pandangannya yang menentang kebertubuhan Yesus Kristus dengan menyatakan bahwa Simon dari Kirene secara ajaib ditukar menggantikan Kristus dan disalibkan di tempat-Nya, sementara Yesus sendiri kembali ke surga.[10]
Doketisme sendiri mendapat posisi doktrinal dalam aliran Gnostisisme, yang mulai berkembang sejak awal abad 2 s.M. dengan pandangannya yang menyatakan bahwa materi sifatnya jahat dan roh itu baik, serta menyatakan bahwa keselamatan hanya dapat digapai melalui pengetahuan esoterik (gnosis). Dalam pemahaman ini, hanya orang yang rohani atau orang yang bergnosis yang tahu membaca Alkitab secara alegoris. Hanya mereka itulah yang dapat membebaskan zat ilahi yang tertanam dalam jiwa manusia dan yang terkurung oleh tubuh jasmani yang fana, sehingga zat rohani yang ada dapat dipersatukan dengan asalnya, yaitu zat Allah. Keyakinan Doketisme berakar pada pandangan bahwa materi adalah jahat.[11]
Dalam suratnya kepada jemaat di Smirna, Ignatius menyinggung sedikit isi ajaran Doketisme, tanpa menyebut bahwa identitas mereka sebagai ‘penganut Doketisme’. Ia memakai kata kerja Yunani yang sepadan, dokeo (“tampak, kelihatan”), ketika menulis bahwa orang-orang ini mengajarkan bahwa Yesus hanya menderita “secara penampakan saja”:[12]
“For he suffered all these things for us, that we might be saved. And he truly suffered and just as truly raised himself from the dead. He did not suffer merely in appearance, as some the unbelievers say, they themselves being only in appearance, for it will happen to them just as they think, since they will bodiless and demonic” (Smyr. 2).
Dari kutipan surat tersebut, kita mendapat sedikit gambaran mengenai pandangan para doketis mengenai Yesus Kristus. Mereka menolak paham Gereja bahwasanya Yesus Kristus sungguh-sungguh manusia.
- Kristologi Ignatius dari Antiokhia: Melawan Doketisme
- Yesus Kristus: Sungguh Allah dan Sungguh Manusia
Ignatius memiliki penekanan tersendiri dalam menanggapi ajaran Doketisme yang menyangkal bahwa Yesus Kristus itu sungguh manusia. Penekanan pertama ialah keilahian Kristus. Ignatius mengungkapkan iman kristosentrisnya dengan menegaskan bahwa ‘Kristus adalah Allah’ (Smyr 10:1), sekaligus menunjukkan penggunaan kata ‘theos’ yang tidak terlalu ketat dalam dunia Helenistik. Maksudnya, pada konteks Helenistik zaman Ignatius, kata theos tidak merujuk pada satu entitas ilahi saja, melainkan bisa saja dipakai kepada pahlawan, dewa/i Olympus, ataupun manusia agung yang memiliki sifat ilahi. Namun, dengan menggunakan kata theos, Ignatius memberi isi teologis baru dari kata ini yakni ‘Allah sejati yang benar-benar menjadi manusia’; ‘Allah yang benar-benar hadir di dunia dan berinkarnasi’.
Ignatius menggunakan kata theos sebanyak enam kali dalam surat-suratnya. Sekali lagi, ungkapan ini bukanlah sebuah gaya bahasa metafora ataupun pemakaian secara longgar di zaman Helenistik, yang lazim digunakan untuk menyebut manusia agung yang memiliki sifat ilahi, dewa/i, ataupun kaisar sendiri, melainkan Yesus Kristus sungguh Allah yang menjadi manusia. Pernyataan iman kristosentrisnya juga merupakan sikap penolakan terhadap paham Yudaisme yang tidak menerima keilahian Kristus. Ignatius sangat tegas dan tidak ambigu mengenai apa yang ia maksud dengan menegaskan bahwa Kristus, sebagai Allah, melampaui waktu dan tampak bagi manusia lewat peristiwa inkarnasi:[13]
“Look for Him who is above time, the Timeless (achronos), the Invisible (aoratos), who for our sake became visible, the Impassible, who became subject to suffering on our account and for our sake endured everything” (Polyc. 3:2).
Dalam kristologi Ignatius, Allah Bapa menyatakan diri-Nya melalui Yesus Kristus, Putra-Nya, dan melalui Logos atau Sabda-Nya (Magn. 8:2). Ia telah ada sebelumnya di dalam Allah dan bersama Bapa sebelum dunia dijadikan. “Yesus Kristus … keluar dari satu Bapa, berada bersama yang satu itu, dan kembali kepada yang satu itu” (Magn. 7:2). Kristus telah berada di dalam Allah sebelum waktu ada, tak terlihat, dan demi kita Ia menjadi terlihat (Polyc. 3:2). Sebagai Logos, Ia keluar dari ‘keheningan’ Allah, yang berarti bahwa Ia menyatakan diri-Nya kepada dunia melalui inkarnasi, yaitu melalui peristiwa di mana Ia keluar dari Bapa untuk menampakkan diri-Nya (Eph. 7:2).[14]
Penekanan kedua ialah kemanusiaan Kristus. Ignatius menekankan secara khusus kemanusiaan sejati dan keberadaan jasmani Kristus. Kristus dikandung dalam rahim Maria. Ia berasal dari keturunan Daud dan dari Roh Kudus. Ia dilahirkan dan dibaptis (Eph 18:2). Ia sungguh dari perawan (Smyr 1:1). Dalam suratnya kepada jemaat di Tralles, Ignatius juga memaparkan kejasmanian Kristus dengan ungkapan ‘makan serta minum’ (Trall 9:1-2). Hal tersebut sebuah argumentasi yang memaparkan identifikasi spesifik antara manusia Yesus yang memiliki tubuh layaknya manusia biasa yang membutuhkan makanan dan minuman.
Untuk memahami kemanusiaan Kristus, Ignatius juga menekankan peristiwa inkarnasi sebagai pengungkapan diri Bapa. Wahyu Allah tergenapi dalam diri Logos Allah yang menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Rumusan ini penting bagi Ignatius untuk menjelaskan sisi kemanusia sejati Kristus. Allah menampakkan diri-Nya secara manusiawi (Eph 19:3). Yesus Kristus adalah Allah yang menampakkan diri kepada manusia. Yesus Kristus adalah ‘mulut yang tidak dapat berdusta, di dalam-Nya Bapa telah berbicara dengan benar’ (Rom 8:2). Ia adalah ‘pikiran Bapa’ (Eph 3:2), ‘pengetahuan tentang Allah’ (Rom 17:2), dan ‘satu-satunya guru kita’ (Magn 9:1). Ignatius mau menekankan bahwa dalam diri manusia Yesus, manusia kini dapat mengenal Allah secara mendalam, serta mendapatkan pelajaran secara langsung dari Allah. Oleh karena itu, dalam arti ketat, tidak guru lain selain Yesus Kristus.[15]
Sisi kemanusian Kristus juga ditunjukkan dalam ketaatan-Nya sebagai Anak terhadap kehendak Bapa. Ignatius menekankannya sebagai ketaatan ‘menurut daging’ (Magn 13:2). Sebagai seorang manusia, dalam sejarah keselamatan, ketaatan diperlukan bagi Yesus Kristus setelah Ia menjadi manusia, yang menekankan pula bahwa kehendak manusia harus disesuaikan dengan kehendak ilahi (bdk. Yoh 6:38). Kehidupan manusiawi-Nya yang taat sampai mati mencerminkan dan menyingkapkan hubungan pra-eksistensi-Nya dengan Bapa, tetapi, layaknya seorang manusia, hal tersebut tidak dapat diidentifikasi sepenuhnya dengan hubungan tersebut.
Selanjutnya, dalam surat kepada jemaat di Smyrna, Ignatius juga menyematkan peristiwa setelah kebangkitan Kristus, di mana ketika Ia menampakkan diri kepada para rasul. Ia menekankan kebertubuhan Kristus tidak hanya seputar hidup-Nya sebelum Ia bangkit. Bahkan, setelah kebangkitan-Nya pun, Ia juga ‘berada dalam daging…, dan ketika Ia datang kepada Petrus serta para rasul… mereka menyentuh-Nya, dan mereka percaya’ (Smyrn 3:2).
Melalui tulisannya tersebut, Ignatius menekankan bahwa dalam diri Kristus terdapat dua realitas: daging dan roh. Melalui daging, Ia lahir dari Maria; melalui roh, Ia adalah ‘Yang Tak Berawal’. Ia adalah Kehidupan. Ia adalah Allah. Singkatnya, Ia adalah Allah yang datang dalam daging. Persatuan antara manusia dan Allah dalam Kristus tidak dijelaskan secara sistematis oleh Ignatius. Namun, kita dapat melihat sebuah garis yang tak terputus: Yesus Kristus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia.[16]
- Inkarnasi dan Penderitaan Kristus sebagai Dasar Keselamatan
Dalam bukunya, Ignatius of Antioch: A Commentary on the Letters of Ignatius of Antioch (1985), William R. Schoedel[17] memberi penjelasan yang cukup padu untuk memahami konsep inkarnasi oleh Ignatius dari Antiokhia melalui surat-suratnya, terkhusus surat kepada jemaat di Philadelphia (7:2) dan dan Smyrna (3:3). Schoedel menjelaskan bahwa ketika Ignatius menyebut Kristus sebagai ‘baik jasmani maupun rohani’, ia memaksudkan kesatuan unsur ilahi dan manusia dalam Sang Allah-Manusia, dan, dengan demikian pula, mengantisipasi kristologi dua natura (kodrat) klasik. Artinya, pemikiran Ignatius tersebut sudah mengarah, atau menjadi pendahulu (antisipasi), kepada rumusan klasik Gereja mengenai Kristus yang memiliki dua kodrat: ilahi dan manusiawi. Hal tersebut digambarkan dalam ungkapannya: ‘both fleshly and spiritual’, ‘begotten and not begotten’, dan ‘God existing in flesh’. Dengan kata lain, ia menegaskan kesatuan yang nyata antara keilahian dan kemanusiaan Kristus, meskipun, di kemudian hari, rumusan ini telah dibuat dalam Konsili Kalsedon pada tahun 451 M.[18]
Selanjutnya, Schoedel bahwasanya gagasan inkarnasional Ignatius tersebut merupakan sebuah perkembangan, berkaitan dengan ‘kristologi dua tahap’ yang lebih lama (bdk. Rom 1:3-4), kepada suatu kristologi yang didominasi oleh gagasan inkarnasi (lih. Eph 18:2). Yang dimaksudkan dengan kristologi dua tahap ialah di mana identitas ilahi Yesus dilihat sebagai sesuatu yang penuh dinyatakan pada kebangkitan, bukan sejak awal keberadaan-Nya sebagai manusia. Dalam hal ini, Ignatius memiliki gagasan yang paling dekat dengan gagasan inkarnasional dalam Injil Yohanes (lih. Yoh 1:1-14). Yesus adalah Allah yang menjadi manusia sejak awal dalam peristiwa inkarnasi.[19]
Kemudian, Ignatius memperlihatkan hubungan antara inkarnasi dengan penderitaan Kristus sebagai dasar dari keselamatan umat manusia. Hubungan keduanya meruntuhkan argumentasi para Doketis yang menyatakan bahwa Yesus Kristus tidaklah sungguh-sungguh manusia dan Ia seolah-olah menderita:
‘I am well aware that you have been made complete in an unwavering faith, nailed in body and spirit to the cross of our Lord Jesus Christand established in love by the blood of Christ. You are thoroughly convinced that he was of the family of David according to the flesh and the Son of God by God’s will and power, truly born of the virgin and baptized by John in order that all righteousness might be fulfilled by him. He was truly nailed for us in the flesh under Pontius Pilate and Herod the tetrarch. From his most blessed suffering we are the fruit, so that through his resurrection he might raise eternally in the one body of his church a standard for the holy faithful ones, whether among Jews or Gentiles’ (Smyrn 1:1-2).
Melalui peristiwa inkarnasi, keselamatan terwujud melalui kematian Kristus di salib. Hanya dengan menjadi manusia, karya keselamatan itu terjadi. Di sinilah penekanan hubungan antara inkarnasi dengan penderitaan Kristus sebagai dasar keselamatan yang diutarakan oleh Ignatius. Ia sungguh-sungguh menderita layaknya seorang manusia karena, ketika mengambil tubuh insani melalui peristiwa inkarnasi, Allah harus tunduk dengan hukum kebertubuhan manusia. Berkaitan dengan ini, Dister[20] melihat bahwasanya fungsi dari Logos, yang terdapat dalam Yoh 1:1-4, yang diutarakan oleh Ignatius dalam suratnya kepada umat di Magnesia (Magn 8:2) mengandung fungsi revelatoris-soteriologis. Ignatius memandang Sabda itu sebagai seluruhnya bertujuan sebagai Penyelamat melalui Pewahyuan; Sabda itu Sabda pewahyuan/penyelamat (Yoh 1:4). Karya keselamatan oleh Logos (Yesus Kristus sendiri) itu terjadi lewat inkarnasi, menderita, wafat di salib, dan bangkit pada hari ketiga.[21]
‘For he suffered all these things for us, that we might be saved. And he truly suffered and just as truly raised himself from the dead. He did not suffer merely in appearance, as some of unbelievers say, they themselves being only in appearance, for it will happen to them just as they think, since they will bodiless and demonic’ (Smyrn 2). Ignasius menulis bagian ini untuk melawan kaum Doketis, yang mengajarkan bahwa penderitaan dan kematian Kristus hanyalah ilusi jasmani.
Ignasius menegaskan kebalikannya: bahwa Kristus sungguh-sungguh memiliki tubuh manusiawi, sungguh menderita, dan sungguh bangkit karena hanya dengan demikian keselamatan manusia menjadi nyata. Ketika Ignasius berkata bahwa kaum tidak beriman itu akan menjadi ‘bodiless and demonic’ (“tanpa tubuh dan bersifat iblis”), ia menyindir bahwa menolak inkarnasi yang nyata berarti menolak kemanusiaan sejati, dan akhirnya menjauh dari keselamatan menuju keadaan roh tanpa tubuh, seperti para setan.
- Ekaristi: Kehadiran Kristus yang Menyatukan Umat Allah
Dalam suratnya kepada umat di Smyrna, Ignatius berbicara mengenai para Doketis (walaupun ia tidak menyebutkan para penganut Doketisme, melainkan penyangkalan mereka terhadap Ekaristi, kebertubuhan, dan penderitaan Kristus) yang ‘menjauhkan diri dari Ekaristi’ (Smyr 7:1). Perkataan Ignatius tersebut memang sebuah kritikan terhadap paham para Doketis bahwa Kristus ‘seolah-olah’ saja menderita dengan dasar penolokan bahwa Yesus Kristus sungguh-sungguh manusia. Ignatius menyadari kesesatan tersebut dapat menjauhkan umat dari Allah dan yang menyebabkan perpecahan dalam Gereja. Untuk itulah Ignatius menyerukan umat untuk bersatu dalam Ekaristi, sebagai sarana untuk mengalahkan kesesatan setan.
Ignatius menekankan bahwa Ekaristi merupakan unsur paling penting dalam kehidupan Gereja. Persatuan antara Kristus dan umat beriman terjalin dalam Ekaristi. Melalui Ekaristi, umat beriman akan diangkat dan diikut-sertakan dalam persekutuan abadi. Ekaristi sebagai Tubuh dan Darah Kristus merupakan ‘obat keabadian’ (Eph 20:2), yang sanggup membuat kematian menjadi tawar dan menganugerahkan kehidupan abadi. Setiap kali umat memakan roti dan meminum anggur dari cawan Ekaristi, mereka menyatakan kebangkitan.[22]
Ignatius juga mengaitkan kemartirannya sendiri dengan Ekariti. Seperti Ekaristi, kemartiran memperoleh nilainya dari sengsara Kristus dan mengarah pada kebangkitan. Melalui identifikasi dan penyerahan diri kepada Kristus, Ignatius berusaha menggenapi arti radikal kurban Ekaristi dalam kemartirannya. Dalam meniru Kristus (imitatio Christi) sebagai seorang murid, Ignatius menunjukkan bahwa kemartiran yang sangat ia rindukan dan Ekaristi yang terkait erat dengan sengsara Kristus merupakan jalan yang menghantarnya pada persatuan sempurna dengan Kristus yang bangkit dengan mulia.[23]
- Kristus dan Kesatuan Gereja
Dalam audiensinya (14 Maret 2007), Paus Benediktus XVI mengungkapkan bahwasanya Ignatius mengutarakan keinginannya akan persatuan dengan Kristus dan hidup dalam Dia dengan begitu mantap. Kerinduan akan persatuan ini merupakan dasar bagi suatu ‘mistik persatuan’, sehingga ia merupakan orang yang membaktikan diri pada kesatuan. Bagi Ignatius, kesatuan adalah pertama-tama dan terutama merupakan kesatuan mutlak. Ia sering mengulangi bahwa Allah adalah kesatuan dan bahwa hanya dalam Allah, kesatuan ditemukan dalam keadaan murni dan asli. Orang-orang Kristiani harus mewujudkan pola dasar (arkhetipos) ilahi itu, dan sedapat mungkin mendekatinya.[24]
Kesatuan tersebut terwujud dalam dua cara utama: kesatuan dengan Kristus, serta kesatuan umat dengan para gembala mereka (uskup, presbiter, dan diakon). Ia melihat bahwasanya para pemimpin Gereja merupakan perpanjangan tangan Allah. Ia mendesak ketaatan pada uskup untuk menghindari perpecahan:
‘Therefore, children of the light of truth, flee from schisms and false teachings. As sheep do, follow wherever the shepherd leads. For there are many seemingly trustworthy wolves who snare God’s runners by wicked pleasure, but they will have no place in your unity’. (Phil 2)
Ignatius menegaskan pula bahwasanya melawan uskup dan memisahkan diri dari jemaat merupakan sebuah tindakan angkuh dan sebuah perlawanan terhadap Allah. Ignatius menganggap bahwa usia seorang uskup tidak berpengaruh pada legitimasi jabatannya, sebagaimana ditunjukkan oleh dukungannya terhadap Uskup Damas (Magn 3:1–2). Siapa pun yang menentang uskup tidak bertindak dengan hati nurani yang baik (Magn 4:1; Trall 7:2). Ignatius juga mendorong umatnya untuk sejalan dengan pikiran uskup. Ia memuji para presbiter Efesus karena keharmonisan mereka dengan uskup seperti senar pada kecapi (Eph 4:1–2). Dalam tatanan hierarkis, para presbiter tunduk kepada uskup (Magn 3:1). Selain itu, Ignatius secara konsisten menasehati umatnya untuk berjuang demi kesatuan, dengan menunjukkan bahwa kesatuan dengan uskup mencegah perpecahan (Magn 6:2) dan membantu seseorang menghindari orang-orang yang rusak (Trall 7:2). Rujukan tentang “orang-orang yang rusak” dalam suratnya kepada jemaat Tralles ini secara khusus berkaitan dengan kaum Doketis. Dengan demikian, figur uskup dapat dipahami sebagai penjaga terhadap ajaran sesat (bdk. Trall 7–10).[25]
Ekaristi adalah manifestasi tertinggi dari kesatuan Gereja. Karena hanya ada satu daging Kristus (Kristologi), maka hanya boleh ada satu Altar dan satu Ekaristi (Eklesiologi). Ignatius secara tegas menghubungkan persatuan Ekaristi dengan persatuan hierarki dan Kristus:
‘Be zealous, therefore, to have one eucharist. For there is one flesh of our Lord, Jesus Christ, and one cup that brings unity through His blood. There is one altar, as there is one overseer together with the presbyter and deacons, my fellow workers. So that whatever you do, do in the name of God’ (Phil 4).
Penutup
Dalam usahanya untuk melawan ajaran para Doketis, Ignatius dari Antiokhia ‘memperkenalkan’ sebuah ajaran ortodoksi bertemakan Kristologi dalam berbagai surat-suratnya. Ajaran para Doketis dipatahkan, karena mereka menyatakan bahwa Yesus Kristus hanya seolah-olah menderita (dan dengan demikian menyangkal pula kemanusiaan Kristus), dengan khazanah Kristologi dari Ignatius dari Antiokhia, dengan menekankan bahwa Yesus Kristus sungguh Allah dan sungguh manusia, inkarnasi dan hubungannya dengan penderitaan Kristus sebagai dasar keselamatan, Ekaristi, dan kesatuan Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus.
DAFTAR PUSTAKA
Bealmear, Erin et al. The New Catholic Encyclopedia Vol. 4. Washington DC: Gale, 2003.
Ciptamulya, Yakin. “Pengaruh Teologi Ekaristi Ignatius Antiokhia terhadap Ensiklik Ecclesia de Eucharistia”. dalam Jurnal Teologi Sanatha Dharma, vol. 03, no. 01 (Mei 2024), hlm. 26.
C. Richardson, Cyril. Early Christian Fathers. Louisville: Westminster Press, 1953.
D’ Ambrosio, Marcellino. When The Church was Young. [tanpa kota penerbit]: Servant Books, 2014.
Lombe, Marcel-L. Heru Susanto (ed.), Paus Benediktus XVI Bapa-bapa Gereja: Hidup, Ajaran, dan Relevansi bagi Manusia di Zaman Kini (judul asli: The Fathers, diterjemahkan Waskito. Malang: Dioma Media, 2010.
M. Clarke, Kevin. “‘Being Bishoped by’ God: The Theology of the Episcopacy According to St. Ignatius of Antioch”. dalam Nova et Vetera, vol. 14, no. 1 (2016), hlm. 236.
O. Boimau, Albertus et al. “Memahami Konsep Ajaran Doketisme”. dalam Jurnal Pendidikan Agama dan Teologi, vol. 2, no. 2 (Juni 2024), hlm. 153-154.
R. Schoedel, William. Ignatius of Antioch: A Commentary on the Letters of Ignatius of Antioch. Philadelphia: Fortress Press, 1985.
Schaff, Philip. History of the Christian Church, Volume II:Ante-Nicene Christianity. A.D. 100-325. [tanpa kota penerbit]: Grand Rapids, 2002.
Situmorang, Sihol et al. “Kemartiran: Jalan menuju Persatuan dengan Yesus Kristus Surat Ignatius kepada Jemaat di Roma”. dalam Logos, vol. 21 no. 2 (Juli 2024), hlm. 192-193.
Syukur Dister, Nico. Kristologi Sebuah Sketsa. Yogyakarta: Kanisius, 1987.
Vall, Gregory. Learning Christ Ignatius of Antioch and Mystery of Redemption. Washington D.C: The Catholic University of America Press, 2013.
Varner, William. The Apostolic Fathers: An Introduction and Translation. London: T&T Clark, 2023.
[1] Cyril C. Ricahrdson, Early Christian Fathers (Louisville: Westminster Press, 1953), hlm. 114. Dalam suratnya kepada umat di Smirna, Ignatius menuliskan demikian, “Mereka menjauhkan diri dari Ekaristi dan dari ibadat doa, karena mereka menolak untuk mengakui bahwa Ekaristi adalah daging Juru Selamat kita, Yesus Kristus, yang telah menderita bagi dosa-dosa kita dan yang, dalam kebaikan-Nya, telah dibangkitkan oleh Bapa [dari antara orang mati]. Akibatnya, mereka yang berdebat dan memperbantahkan karunia Allah itu menghadapi kematian” (Symrn 7.1).
[2] Cyril C. Ricahrdson, Early Christian Fathers…, hlm. 77.
[3] Philip Schaff, History of the Christian Church, Volume II:Ante-Nicene Christianity. A.D. 100-325 ([tanpa kota penerbit]: Grand Rapids, 2002), hlm. 405.
[4] William Varner, The Apostolic Fathers: An Introduction and Translation (London: T&T Clark, 2023), hlm 137. Ignatius bangga dengan julukan yang diberikan kepadanya: “Theophorus”. Jemaatnya memandangnya sebagai seorang nabi yang mengajar dengan wawasan supernatural melalui kuasa Roh. Oleh karena itu, surat-surat Ignatius juga berfungsi sebagai pesan profetik dan apostolik yang menanggapi kebutuhan spesifik gereja-gereja di Asia Kecil pada saat itu.
[5] Yakin Ciptamulya, “Pengaruh Teologi Ekaristi Ignatius Antiokhia terhadap Ensiklik Ecclesia de Eucharistia”, dalam Jurnal Teologi Sanatha Dharma, vol. 03, no. 01 (Mei 2024), hlm. 26.
[6] Philip Schaff, History of the Christian Church, Volume II:Ante-Nicene Christianity. A.D. 100-325…, hlm 405.
[7] Cyril C. Ricahrdson, Early Christian Fathers…, hlm. 77.
[8] Marcellino D’ Ambrosio, When The Church was Young ([tanpa kota penerbit]: Servant Books, 2014), hlm. 45-46.
[9] Philip Schaff, History of the Christian Church, Volume II:Ante-Nicene Christianity. A.D. 100-325…, hlm 406.
[10] Erin Bealmear et al., The New Catholic Encyclopedia Vol. 4 (Washington DC: Gale, 2003), hlm 795-796.
[11] Albertus O. Boimau et al, “Memahami Konsep Ajaran Doketisme”, dalam Jurnal Pendidikan Agama dan Teologi, vol. 2, no. 2 (Juni 2024), hlm. 153-154.
[12] William Varner, The Apostolic Fathers: An Introduction and Translation…, hlm. 138.
[13] Marcellino D’ Ambrosio, When The Church was Young…, hlm. 49-50.
[14] William Varner, The Apostolic Fathers: An Introduction and Translation…, hlm. 140-141.
[15] Gregory Vall, Learning Christ Ignatius of Antioch and Mystery of Redemption (Washington D.C: The Catholic University of America Press, 2013), hlm. 105-107.
[16] William Varner, The Apostolic Fathers: An Introduction and Translation…, hlm. 140-141.
[17] William R. Schoedel menempuh pendidikan di University of Western Ontario, Concordia Seminary, dan University of Chicago, hingga meraih gelar Ph.D. dalam bidang Perjanjian Baru dan studi Kristen awal. Ia mengajar di Valparaiso University dan Brown University sebelum bergabung dengan fakultas di University of Illinois untuk memulai program studi agama. Ia dianugerahi Guggenheim Fellowship pada tahun 1976.
[18] William R. Schoedel, Ignatius of Antioch: A Commentary on the Letters of Ignatius of Antioch (Philadelphia: Fortress Press, 1985), hlm. 18.
[19] William R. Schoedel, Ignatius of Antioch: A Commentary on the Letters of Ignatius of Antioch…, hlm. 18.
[20] Dr. Nico Syukur Dister OFM seorang dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara (Jakarta) di untuk bidang Teologi Dasar, Psikologi Agama, dan Metafisika.
[21] Nico Syukur Dister, Kristologi Sebuah Sketsa (Yogyakarta: Kanisius, 1987), hlm. 283-284.
[22] Yakin Ciptamulya, “Pengaruh Teologi Ekaristi Ignatius Antiokhia…’, hlm. 27.
[23] Sihol Situmorang et al., “Kemartiran: Jalan menuju Persatuan dengan Yesus Kristus Surat Ignatius kepada Jemaat di Roma”, dalam Logos, vol. 21 no. 2 (Juli 2024), hlm. 192-193.
[24] Marcel Lombe-L. Heru Susanto (ed.), Paus Benediktus XVI Bapa-bapa Gereja: Hidup, Ajaran, dan Relevansi bagi Manusia di Zaman Kini (judul asli: The Fathers, diterjemahkan Waskito (Malang: Dioma Media, 2010), hlm. 21-22.
[25] Kevin M. Clarke, “‘Being Bishoped by’ God: The Theology of the Episcopacy According to St. Ignatius of Antioch”, dalam Nova et Vetera, vol. 14, no. 1 (2016), hlm. 236.





