Beranda / Artikel / Karya Saudara / Jejak Kasih Tritunggal Mahakudus – Sdr. Fredericus Fa’asökhi Bu’ulölö OFMCap

Jejak Kasih Tritunggal Mahakudus – Sdr. Fredericus Fa’asökhi Bu’ulölö OFMCap

Pada suatu sore yang tenang, seorang frater muda kapusin bernama Adrian duduk sendirian di taman biara. Angin bertiup perlahan, menggoyangkan daun-daun yang mulai menguning. Di tangannya terdapat sebuah buku doa novena yang baru saja selesai ia baca. Hari itu adalah Hari Raya Tritunggal Mahakudus, tetapi ada satu pertanyaan yang terus berputar dalam pikirannya:

“Bagaimana mungkin Allah itu satu, tetapi juga Bapa, Putra, dan Roh Kudus?”

Adrian sudah berkali-kali mendengar penjelasan tentang Tritunggal Mahakudus. Ia tahu bahwa Allah adalah satu hakikat dalam tiga Pribadi, hal ini ia ketahui karena penjelasan dari dosennya di kampus. Namun, semakin ia mencoba memahaminya dengan akal, semakin ia merasa kebingungan. Ia menutup buku novena yang barus selesai di bacanya dan memandang langit yang mulai berubah warna keemasan. Saat itu, seorang imam tua bernama Pater Markus berjalan melewati taman. Melihat Adrian yang tampak termenung, ia menghampirinya.

“Ada yang sedang kamu pikirkan, Adrian?” tanyanya sambil tersenyum.

“Saya sedang mencoba memahami bagaimana itu Tritunggal Mahakudus, pater,” jawab Adrian. “Tetapi semakin saya memikirkannya, semakin sulit saya mengerti.” Romo Markus duduk di sampingnya.

“Memang misteri Tritunggal tidak akan pernah bisa dipahami sepenuhnya oleh akal manusia,” katanya. “Tetapi kita bisa mengenalnya melalui pengalaman kasih.” Lalu Adrian memandang pater Markus dengan penuh perhatian.

“Coba lihat taman ini,” lanjut pater itu. “Apa yang kamu lihat?”

“Saya melihat pohon, bunga, rumput, dan banyak kehidupan.”

“Dan mengapa semuanya bisa hidup?”

Adrian berpikir sejenak. Lalu jawabnya, “Karena ada tanah, air, dan sinar matahari.”

Romo Markus mengangguk. “Ketiganya berbeda, tetapi bekerja bersama sehingga kehidupan dapat bertumbuh. Begitu juga Allah Tritunggal. Bapa menciptakan, Putra menyelamatkan, dan Roh Kudus menguduskan. Mereka berbeda sebagai Pribadi, tetapi satu dalam kasih dan karya.”

Adrian mulai memahami sedikit demi sedikit, tetapi masih ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Malam itu, setelah doa bersama, Adrian masuk ke kapel biara. Lampu-lampu redup menerangi salib yang tergantung di depan altar. Ia berlutut dan berdoa:

“Tuhan, ajarilah aku mengenal-Mu. Aku ingin memahami kasih-Mu.”

Dalam keheningan itu, Adrian teringat berbagai peristiwa dalam hidupnya.

Ia teringat keluarganya yang selalu mendukungnya sejak kecil. Ayahnya bekerja keras agar anak-anaknya dapat bersekolah. Ibunya tidak pernah lelah mendoakan mereka setiap hari. Dari mereka, Adrian merasakan kasih yang memberi hidup. Lalu ia teringat bagaimana cerita serta peristiwa yang dialami oleh Yesus yang rela menderita dan wafat di kayu salib demi keselamatan manusia. Setiap kali memandang salib, ia melihat kasih yang begitu besar, kasih yang rela berkorban tanpa syarat. Kemudian ia mengingat berbagai pengalaman saat merasa lemah dan putus asa. Dalam saat-saat itu, selalu ada kekuatan yang menghiburnya, memberi harapan, dan mendorongnya untuk bangkit kembali. Ia menyadari bahwa Roh Kudus bekerja secara diam-diam dalam hidupnya. Tiba-tiba Adrian merasakan sesuatu yang baru. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk mencari penjelasan dengan akal, padahal Allah ingin dikenal melalui pengalaman kasih.

Dalam keheningan kapel, sebuah pemahaman sederhana tumbuh dalam hatinya: Bapa adalah sumber kasih. Putra adalah wajah kasih yang dapat dilihat manusia. Roh Kudus adalah kasih yang hidup dan bekerja dalam hati manusia. Dari situ Adrian mulai menyadari bahwa sangat besarlah kasih Allah dalam hidupnya

Beberapa hari kemudian, Adrian mendapat tugas untuk live in di sebuah panti asuhan bersama beberapa teman. Di sana ia bertemu dengan seorang anak kecil bernama Samuel. Samuel adalah anak yang ceria meskipun hidup tanpa orang tua. Ia selalu membantu teman-temannya dan tidak pernah mengeluh.

Saat makan siang, Adrian bertanya kepadanya, “Samuel, apa yang membuatmu selalu tersenyum?” Anak itu menjawab dengan polos, “Karena saya percaya Tuhan selalu bersama saya.” Jawaban sederhana itu menyentuh hati Adrian.

Sepanjang hari ia melihat bagaimana para pengasuh merawat anak-anak dengan penuh perhatian. Ia melihat para relawan membagikan waktu dan tenaga mereka tanpa mengharapkan imbalan. Ia melihat anak-anak saling membantu dan berbagi. Di tengah pengalaman itu, Adrian kembali teringat akan Tritunggal Mahakudus. Ia melihat gambaran kasih Allah yang hidup dalam hubungan antar manusia.

Allah tidak hidup dalam kesendirian. Sejak kekal, Bapa, Putra, dan Roh Kudus hidup dalam persekutuan kasih yang sempurna. Karena itu manusia, yang diciptakan menurut gambar Allah, juga dipanggil untuk hidup dalam kasih dan persaudaraan.

Sepulang dari tempat live in tersebut, Adrian merasa bahwa ia telah menemukan jawaban yang selama ini dicari. Pada perayaan Ekaristi Hari Minggu berikutnya, imam dalam homilinya berkata:

“Tritunggal Mahakudus bukanlah teka-teki yang harus dipecahkan, melainkan misteri kasih yang harus dihidupi.”

Kalimat itu terasa sangat dekat dengan pengalaman Adrian. Ia menyadari bahwa setiap kali seseorang mengampuni, Allah Tritunggal sedang bekerja. Setiap kali seseorang menghibur yang sedih, Allah Tritunggal sedang hadir. Setiap kali keluarga hidup dalam kasih, setiap kali komunitas saling mendukung, setiap kali Gereja melayani sesama, kehidupan Tritunggal tercermin di dunia.

Setelah Misa selesai, Adrian berdiri di halaman gereja sambil memandang langit biru yang cerah. Ia tersenyum. Kini ia tidak lagi berusaha menjelaskan seluruh misteri Tritunggal dengan kata-kata yang rumit. Ia mengerti bahwa Allah ingin dikenal melalui kasih yang nyata. Bapa mengasihinya dan memberinya hidup. Putra menebusnya dan menunjukkan jalan keselamatan. Dan Roh Kudus membimbingnya setiap hari menuju kekudusan.

Sejak saat itu, Adrian bertekad untuk menjadi saksi kasih Allah di mana pun ia berada. Baginya, refleksi tentang Tritunggal Mahakudus bukan lagi sekadar pelajaran iman, melainkan panggilan untuk hidup dalam kasih, persatuan, dan pelayanan.

Dan setiap kali ia membuat tanda salib sambil mengucapkan, “Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus,” ia mengingat bahwa hidupnya berada dalam pelukan kasih Allah yang satu, yang dinyatakan dalam tiga Pribadi Ilahi.

Pesan dari cerita berupa refleksi:

Tritunggal Mahakudus mengajarkan bahwa Allah adalah kasih yang hidup dalam persekutuan. Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk mencerminkan kasih itu melalui persaudaraan, pengorbanan, pelayanan, dan kesatuan dengan sesama. Dengan demikian, dunia dapat melihat pantulan kasih Bapa, Putra, dan Roh Kudus dalam kehidupan kita sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *