Formasi kita (Kapusin) bukan sekadar belajar teologi, tapi pertama-tama adalah formasi menjadi manusia yang seutuhnya. Kita ingin menjadi seperti St. Fransiskus, seorang manusia yang benar-benar utuh, yang mampu menjadi saudara bagi semua ciptaan. Antropologi Fransiskan mengajarkan kita bahwa semua ciptaan itu dinamis, artinya, selalu bergerak dan berubah. Dan di tengah kedinamisan ini, kita semua dipanggil untuk mencapai kepenuhan kita. Menjadi Kapusin yang sejati berarti mencapai kepenuhan sebagai manusia yang dicintai Allah.
Oleh karena itu, identitas kita tidak statis. Identitas kita justru ditampakkan dalam tindakan hidup kita sendiri. Dari sini muncul tiga pertanyaan eksistensial bagi kita semua:
Mau menjadi siapa saya di hadapan Allah dan saudara?
Bagaimana cara saya ingin hidup hari ini, dan besok?
Nilai-nilai apa yang ingin saya tanamkan dalam diri saya?
Allah menciptakan kita dengan kemampuan dan tanggung jawab penuh untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, untuk membangun identitas pribadi kita sebagai Frater, dan identitas Ordo kita sebagai lembaga.
I. Manusia, Citra Allah
Kita memulai dari kebenaran paling mendasar: Manusia adalah Citra Allah.
Kitab Kejadian 1:26-31 menegaskan bahwa Allah menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya. Ini adalah rahmat asal kita—sebuah kebaikan yang paling awal dan mendalam yang telah Allah tempatkan dalam diri kita masing-masing. Ini adalah martabat kita yang tidak bisa dicabut. Jika Allah adalah Kebaikan Tertinggi, maka kita, sebagai citra-Nya, dipanggil untuk terus merefleksikan kebaikan itu dalam hidup kita. Dalam hidup bakti, kita memasuki sebuah perjalanan yang disebut perjalanan kematangan dan pemurnian motivasi. Proses ini menuntut tiga hal dari kita:
Pengetahuan akan diri sendiri: Kita harus tahu siapa diri kita.
Penerimaan akan kenyataan psikis-sosial diri sendiri:
Psikis berarti kita berani melihat dan menerima kondisi batin, emosi, temperamen, dan sejarah kejiwaan kita, termasuk kelemahan dan luka kita.
Sosial berarti kita menerima konteks keluarga, budaya, dan bagaimana kita berinteraksi dengan lingkungan. Kita menerima diri apa adanya, secara batin dan latar belakang.
Kemampuan pemberian diri secara Cuma-Cuma: Ini adalah buahnya. Jika kita sudah menerima diri sendiri seutuhnya, kita mampu memberi diri tanpa pamrih.
Kita tidak perlu takut dengan proses ini, karena Yesus Kristus sendiri juga menjalani proses ini. Ia, dituntun oleh Roh Kudus, secara dinamis dan bebas, membangun identitas-Nya, menyesuaikan pilihan fundamental-Nya dengan rencana Bapa. Jika Guru Agung kita menjalaninya, kita pun harus berani.
II. Kesendirian dan Relasi, Dimensi-Dimensi Eksistensial
Dua pilar eksistensial: Kesendirian (Solitudo) dan Relasi (Persaudaraan). Ratio menegaskan sebuah kebenaran tegas: Siapa yang tidak dapat hidup sendirian, tidak dapat hidup bersama dengan orang lain. Keduanya bukanlah pelarian. Kita tidak boleh lari ke kesendirian karena sulit berhadapan dengan orang lain, dan kita juga tidak boleh lari ke persaudaraan karena takut berhadapan dengan diri sendiri. Ketidakmampuan kita mengolah ruang keheningan dan kesendirian adalah sumber konflik, terutama di bidang afeksi.
Maka, kita perlu Kesendirian Kontemplatif. Saat kita menyepi dan hening, kita benar-benar bertemu dengan diri sendiri. Kesendirian seperti ini akan membangkitkan kemampuan refleksi kritis, sebuah syarat yang mutlak kita perlukan agar dapat berdialog dan berkomunikasi yang sehat dengan para saudara. Keintiman dan Relasi Bersaudara adalah dasar dari cara hidup kita. Relasi yang sehat membuat kita lebih manusiawi, karena ia melindungi kita dari dua bahaya besar:
Individualisme: Hidup hanya untuk diri sendiri.
Merasa lengkap dalam diri sendiri: Anggapan bahwa kita tidak butuh siapa-siapa lagi.
Di sinilah kebebasan kita dimerdekakan. Kebebasan memampukan kita mengasihi hal yang berbeda dari kita. Dalam hidup bersaudara, kita dipanggil untuk, pertama-tama, mencari kebaikan orang lain. Hubungan kita tidak didukung oleh kepentingan pribadi, melainkan oleh kebaikan yang Allah lakukan melalui setiap saudara yang ada di hadapan kita. Tantangan Psiko-Afektif dan Psiko-Seksual Proses pendidikan kita harus sangat memperhatikan dimensi psiko-afektif dan psiko-seksual. Ini adalah realitas yang kaya dan kompleks, yang tersebar di sepanjang hidup kita.
Dimensi Psiko-Afektif merujuk pada kedewasaan emosi, perasaan, dan kemampuan kita untuk mencintai. Apakah kita mampu menjalin keintiman non-seksual yang tulus? Apakah kasih sayang yang kita berikan sudah matang, atau masih penuh ketergantungan?
Dimensi Psiko-Seksual merujuk pada integrasi identitas seksual dan hasrat kita, khususnya dalam kaul kemurnian. Ini adalah tentang kemampuan untuk mencintai secara transparan, sesuai panggilan selibat, dan tidak membiarkan hasrat menguasai diri.
Mengenai hasrat ini, kita mengenal Eros dan Agape.
Hidup tanpa hasrat (eros) dan risiko adalah hidup yang menyedihkan dan membosankan. Eros diterjemahkan sebagai hasrat, gairah, dan kreativitas dalam diri kita.
Sementara Agape adalah karunia cuma-cuma, kasih ilahi yang memberi tanpa syarat.
Agape inilah yang membebaskan Eros! Agape membebaskan hasrat kita dari godaan untuk memiliki dan berkuasa, yang membuat kita menjadikan orang lain hanya sebagai objek kenikmatan untuk memuaskan kebutuhan diri kita. Kita dipanggil untuk mengintegrasikan keduanya agar hasrat kita menjadi energi kasih yang murni.
III. Menjadi Manusia, Ciptaan Unik dan Tak Dapat Diulang
Allah menciptakan kita unik dan tak dapat diulang. Kita masing-masing adalah karya seni dengan karunia dan bakat yang berbeda-beda. Tanggung jawab kita adalah menggali semua kemampuan itu, dan mencari metode kreatif untuk membagikannya dalam komunitas.
Di sinilah Fransiskan hadir sebagai manusia telanjang. Ketelanjangan adalah gambaran sempurna dari keterciptaan.
Menjadi ciptaan berarti menerima diri miskin, menerima bahwa kita terbatas, bahwa kita tidak sempurna, supaya kita bisa menjadi kaya dalam perasaan dan pengalaman rohani.
Kita harus menerima keterbatasan kondisi manusiawi kita.
Dimensi Manusiawi ini ditutup dengan sebuah seruan yang mendalam dari Kidung Saudara Matahari: “Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena saudari kami maut jasmani.”
Mengapa Maut adalah Saudari dan sebuah rahmat? Sebab hanya Kematianlah yang membangunkan kita dari mimpi menjadi mahakuasa. Dengan menerima maut, kita diajak untuk mengosongkan diri (mencontoh Yesus) sehingga kita bisa menghidupi kekayaan dari seseorang yang dipenuhi kasih dan kebebasan sejati.
Demikianlah, Saudara-saudara. Formasi manusiawi kita adalah perjalanan seumur hidup untuk berani menjadi manusia seutuhnya, manusia yang mampu menjadi saudara, yang sadar bahwa ia adalah Citra Allah, yang berani hening, yang mampu mencintai secara matang, dan yang tidak takut pada keterbatasan dirinya.
Terima kasih. Damai dan Kebaikan!



