Ordo Saudara Dina Kapusin merupakan gerakan yang berawal dari kerinduan mendalam untuk kembali menghidupi semangat asli Santo Fransiskus dari Assisi secara lebih radikal terkhusus dalam menghayati hidup dalam kemiskinan.
Dalam buku Konstitusi Saudara Dina Kapusin pada bab IV mengenai Hidup Kita Dalam Kemiskinan pasal I nomor 61 ayat 1-2 tertulis “Berpegang teguh pada ihlam injili Santo Fransiskus dan tradisi Ordo, kita menerima sebagai tugas khusus mengikuti kemiskinan Tuhan kita Yesus Kristus dengan hidup sederhana, ugahari nan gembira, dengan kerja keras dan pasrah pada penyelenggaraan ilahi, dan dalam cinta kasih terhadap semua orang. Kemiskinan, yang dipilih untuk mengikuti Kristus, membuat kita mengambil bagian dalam hubungan-Nya selaku Anak terhadap Bapa dan dalam keadaan-Nya sebagai saudara dan hamba di tengah manusia, juga mendorong kita untuk hidup setia kawan dengan rakyat kecil di dunia ini (AngTbul 9,1-5)”.
Pemaknaan hidup saya berdasarkanpengalaman mulai dari postulan hingga saat ini, saya menyadari bahwa penghayatan kemiskinan bukanlah sesuatu yang sekali jadi, tetapi terus menjadi bahan refleksi. Sering kali saya mendengarkan dan menjadi bahan perbincangan tentang penghayatan kemiskinan baik itu dari saudara muda maupun saudara tua. Penghayatan kemiskinan menjadi salah satu tolak ukur hidup yang sesuai sebagaimana saudara yang hina-dina dan hal itu harus direalisasikan pada situasi dan kondisi zaman sekarang ini. Dan paling mendasarnya aspek penghayatan itu lebih ditekankan lagi ketika saya sudah beberapa bulan hidup di biara rumah pendidikan Alverna, Sinaksak. Penghayatan kemiskinan ini terletak pada topik “uang pribadi” yang sebelumnya diberi kepercayaan kepada saudara-saudara muda untuk mengatur kebutuhannya sendiri. Namun baru-baru ini menjadi perbincangan kembali agar sungguh-sungguh terarah pada penghayatan kemiskinan seturut Konstitusi Saudara Dina Kapusin.
Ketika topik ini kembali menjadi bahan perbincangan dan evaluasi bersama, saya merasa cemas dan gelisah namun saya harus mau melihatnya sebagai panggilan untuk kembali pada inti sesuai semangat Konstitusi. Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa kemiskinan bukan hanya aturan hidup, tetapi sebuah proses pembentukan diri. Ia menjadi semacam “cermin” untuk melihat apakah hidup saya sungguh sederhana, tulus, dan sesuai dengan semangat sebagai saudara dina. Penghayatan kemiskinan ini juga saya belajar dalam menuntut kejujuran terhadap diri sendiri, berani melihat motivasi, mengendalikan keinginan, dan belajar cukup dengan apa yang ada. Hidup dalam kemiskinan bukanlah beban, tetapi rahmat. Melalui proses ini, Tuhan membentuk saya menjadi pribadi yang lebih bebas, lebih peka, dan lebih bersaudara. Kemiskinan menjadi jalan untuk semakin dekat dengan Allah, karena ketika saya tidak bergantung pada banyak hal, saya belajar bergantung sepenuhnya kepada-Nya.
Di tengah konteks zaman sekarang yang penuh dengan tawaran kenyamanan dan gaya hidup konsumtif, pergulatan ini menjadi semakin nyata, ingin selalu memiliki yang baru, yang lebih bagus, dan yang lebih banyak. Akibatnya, hati menjadi mudah gelisah, tidak pernah puas, dan bahkan relasi dengan sesama bisa terganggu karena sikap mementingkan diri sendiri. Namun hal inilah panggilan saya diuji: apakah saya mau sungguh hidup sederhana, atau hanya mengikuti arus dunia? Uang memang perlu dalam hidup, tetapi cara kita menggunakannya menunjukkan sikap hati kita. Apakah kita menggunakan uang untuk kebutuhan yang sungguh perlu, atau lebih mengikuti keinginan? Apakah kita masih mampu berbagi dengan orang lain, atau justru menjadi semakin melekat? Pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya relevan bagi semua orang, bukan hanya bagi hidup dalam biara.
Hidup dalam kemiskinan juga mengajak setiap orang untuk belajar percaya kepada Tuhan. Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, manusia sering mencari rasa aman dalam harta atau jaminan materi. Namun, semangat kemiskinan mengingatkan bahwa Allah adalah sumber kehidupan yang sejati. Ketika kita berani hidup sederhana, berbagi dengan sesama, dan tidak melekat pada harta, kita sebenarnya sedang membuka diri pada karya Tuhan dalam hidup kita.
Dengan demikian, kemiskinan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, tetapi sebuah jalan menuju hidup yang lebih bebas, damai, dan penuh makna. Ini adalah panggilan bagi semua orang untuk hidup lebih sederhana, lebih rendah hati, dan lebih mengandalkan Tuhan dalam segala hal.
PACE E BENE






