Fransiskus dari Assisi adalah salah satu orang kudus yang sangat terkenal dalam sejarah Gereja Katolik. Lahir di Assisi, Italia dalam keluarga yang kaya, namun sejak pertobatannya, Fransiskus memeluk kemiskinan hingga akhir hidupnya. Fransiskus Assisi dikenal karena cara hidupnya yang miskin dan sederhana, di samping banyaknya keutamaan lain yang dimilikinya. Cara hidupnya mengundang banyak orang, pria maupun wanita, untuk mengikuti dia. Para pengikutnya disebut dengan nama Fransiskan, yang masih terbagi dalam berbagai kelompok religius.
Dalam Konsili Vatican II, kepada setiap religius ditandaskan bahwa mengenal semangat asli Pendiri Tarekat adalah suatu keharusan. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk membantu kita semakin memperkaya pengenalan dan pemahaman kita akan Fransiskus dari Assisi. Secara khusus bagi kita, para pengikutnya, untuk menggali kembali semangat St. Fransiskus Assisi yang memberi warna dan kekhasan dalam hidup panggilan kita.
Dalam diri St. Fransiskus ada banyak keutamaan yang menjadi teladan bagi para pengikutnya. Selain cara hidup yang miskin dan sederhana, ketaatan merupakan semangat yang diwariskan oleh St. Fransiskus. Kepada para pengikutnya, Fransiskus berulang kali menekankan pentingnya ketaatan. Hal ini dapat kita lihat dalam tulisan-tulisannya. Namun demikian, pada zaman Fransiskus, tradisi hidup monastik telah mengenal kaul ketaatan. Jadi, ini bukanlah suatu hal baru yang dibuat oleh Fransiskus, melainkan dia menerimanya dari tradisi zaman itu.
Dalam menghidupi ketaatan, Fransiskus tidak hanya menekankan pada para pengikutnya untuk melakukannya, tetapi dia juga melakukannya. Dalam tulisan-tulisannya dan kisah-kisah tentang dia kita akan banyak menemukan bagaimana dia menghidupi ketaatan. Baginya, ketaatan adalah jalan hidup yang harus dihidupi. Bahkan, untuk tetap taat, dia menolak menjadi pemimpin dan meminta agar saudara yang lain menjadi pemimpin atas dirinya juga. Sekali lagi, ini agar dia tetap menghidupi ketaatan itu. Dari sinilah dapat kita lihat bahwa ketaatan itu bukan sebagai sikap pasif tetapi sebagai suatu pilihan aktif yang glahir dari kerendahan hati.
Ketaatan Fransiskus adalah ketaatan yang penuh cinta kasih dan didasarkan pada ketaatan Kristus kepada Allah Bapa. Ketaatan Kristus kepada Bapa merupakan tanda cinta. Sebagaimana Cinta Kristus kepada Bapa tidak ada batasnya, ketaatan-Nya kepada Bapa pun adalah sampai sehabis-habisnya. Inilah ketaatan yang penuh cinta kasih. Fransiskus pun ingin ikut ambil bagian dalam cinta Kristus itu dengan taat. Dengan demikian, taat tidak menjadi mengurangi kebebasan melainkan jalan untuk ambil bagian dalam cinta Kristus. Ketaatan bukan menjadi tuntutan religius, melainkan jalan untuk bersatu dengan Kristus.
Ketaatan Fransiskan adalah unik karena untuk mengertinya kita harus melihatnya dalam kerangka persaudaraan. Fransiskus sendiri cukup keras terhadap para pengikutnya yang mengabaikan ketaatan dan memilih menuruti kemauannya sendiri. Setiap saudara dipanggil untuk mengikuti Injil dan mereka dipersatukan dalam satu persekutuan fratres minores. Karena itu, ketaatan yang dimaksud di sini adalah saling melayani, menaati dan menempatkan diri dalam relasi atas dasar cinta satu sama lain. Dengan demikian, mereka membuka diri bagi semua orang dan memperteguh persaudaraan dan ketaatan menjadi jalan untuk bersatu dengan sesama.
Karena itu, ketaatan Fransiskan tidak berbentuk hierarkis yang vertikal agar tidak menghilangkan makna persaudaraan dan kesetaraan. Karena itu, Fransiskus menolak menggunakan istilah prior untuk pemimpin ordo melainkan minister yang artinya pelayan. Sekali lagi, Fransiskus ingin agar setiap pengikutnya menghidupi ketaatan dengan saling melayani. Meski begitu, Fransiskus juga menekankan dan memperteguh wewenang pemimpin ordo demi mencegah ketidakdisiplinan dalam cara hidup para saudara.
Saat ini, ada banyak tantangan dalam menghidupi ketaatan ini. Kurangnya disiplin meciptakan penegasan kekuasaan dan ketaatan. Sehingga, secara perlahan yang dilihat hanyalah sikap tunduk saja, mau mengikuti aturan demi menciptakan ordo yang berdaya guna. Ketaatan menjadi suatu pembatasan diri dari kebebasan. Kembali kepada semangat Fransiskus, kita diajak untuk taat dasar dasar kasih dan persaudaraan. Kita tidak dipanggil untuk hidup sendiri melainkan untuk hidup dalam kasih dan persaudaraan yang saling membangun.
Kiranya tulisan ini masih terlalu sedikit untuk membahas Spritualitas Ketaatan Fransiskan ini. Masih ada beberapa hal penting yang harus disampaikan dan saya masih akan mengaitkannya dengan ketaatan dalam Ordo Kapusin. Saya akan mencoba memperdalam pembahasan ini dalam tulisan berikutnya. Terima kasih telah membaca. Semoga bermanfaat.
Pace e Bene





