Beranda / Artikel / Karya Saudara / “TERPUJILAH ENGKAU TUHANKU…” (Fr. Anju Situmorang,OFMCap)

“TERPUJILAH ENGKAU TUHANKU…” (Fr. Anju Situmorang,OFMCap)

“Di sebuah desa kecil yang tengah digempur rencana pembangunan pabrik kertas, seorang pemuda bernama Mario berjalan setiap hari sambil menggumamkan doa St. Fransiskus: “Terpujilah Engkau, Tuhanku…” Bagi sebagian orang ia tampak aneh, bagi sebagian lain ia gila. Namun di balik keanehan itu, tersimpan kesetiaan, cinta alam, dan keberanian lembut yang perlahan mengubah hati banyak orang.”

Matahari pagi memercikkan cahaya keemasan di sela-sela pohon kelapa yang berjajar di tepian Desa Silangkitang. Udara masih basah oleh embun. Burung-burung kecil bersahut-sahutan di atas atap rumah kayu sederhana milik keluarga Mario. Di dalam rumah, suara ibu sedang menanak nasi berpadu dengan aroma kopi hitam yang mengepul.

Mario bangun dengan rambut acak-acakan. Sambil mengucek mata, ia berdiri di jendela, menghirup udara segar, lalu spontan berkata, “Terpujilah Engkau, Tuhanku…”. Sambil mengucapkan itu, Mario tersenyum lebar sehingga dua lubang tampak dipipinya. Senyum khas yang dimilikinya memang sangat memikat. Ya, Mario memiliki dua lesung pipi yang katanya itu adalah cacat, tetapi untuk Mario itu adalah Rahmat karena melalui itu, ia dapat membuat orang bahagia ketika ia tersenyum.

Dari dapur terdengar suara ibunya, Bu July, yang setengah tertawa. “Mario, Amang, Naboha do ho…?  (Nak, Bagaimana kamu ini?) belum gosok gigi sudah memuji Tuhan lagi,” celetuknya. Mario menyeringai sambil mengangkat kedua tangan. “Hehe, Mak… itu spontan. Biar Tuhan juga tahu aku bangun dengan mulut beraroma alam.” Bu July hanya menggeleng. “Ehee, Maup! Lane Maridi Ho!” (Ah, Dasar Kau! Pergi Sana Mandi!)

Bagi sebagian orang, kebiasaan Mario dianggap aneh. Mereka kadang risih melihat Mario berkata-kata sendiri. Bahkan tidak sedikit orang sudah mengatakan bahwa Mario sudah gila. Namun Bu July tahu, anaknya bukan gila. Ia hanya terlalu mencintai doa yang dulu ia lantunkan setiap pagi di biara Kapusin: Kidung Saudara Matahari. Doa St. Fransiskus itu telah melekat erat di dalam jiwanya.

***

Beberapa tahun sebelumnya, Mario adalah seorang postulan Kapusin. Ia rajin, cerdas, dan penuh semangat hidup saleh. Namun ada kriteria kesehatan fisik dan mental yang tidak sepenuhnya ia penuhi. Dengan berat hati, para pembimbing memutuskan agar ia berhenti. Mario mengemasi barang-barangnya dengan perasaan hancur. Di tangannya ia menggenggam sebuah buku doa lusuh: Kidung Saudara Matahari. Ia membaca pelan-pelan, matanya basah.

“Aku mungkin bukan Kapusin lagi… tapi aku tetap saudara kecil-Mu, Tuhan,” gumamnya lirih.

Sejak hari itu, Mario tetap setia pada doa tersebut. Saat berjalan, bersantai, bahkan saat tidur pun ia sering mengigau: “Terpujilah Engkau, Tuhanku…” Kalimat itu keluar tanpa ia sadari, seperti napas.

***

Kehidupan Mario kini sederhana. Ia bekerja serabutan: membantu mengajar anak-anak katekese, membantu tetangga memperbaiki pagar, atau membantu imam paroki menata altar. Tetapi satu hal tidak pernah ia tinggalkan: doa dan kecintaannya pada alam. Ia mengisi hari-harinya dengan penuh sukacita. Ia tidak malu bahwa ia tidak berpendidikan tinggi seperti teman-temannya yang lain. Baginya, yang penting adalah pemberian diri dan ketulusan. Ia merasa cukup dengan itu dan ia meyakini bahwa dengan itu saja ia akan hidup.

Anastasia dan Agatha, teman semasa SMA yang kini kembali ke desa setelah kuliah, sering melihat Mario berjalan sendirian sambil bergumam doa. Dulu, mereka kagum kepada Mario karena Mario tergolong anak yang tergolong pandai. Di tambah dengan lesung pipi yang memikat hati, Agatha pernah begitu dekat dengan Mario. Bahkan semasa SMA, satu setengah tahun mereka menjalin relasi yang lebih sekadar teman. Yaa kata orang-orang mereka berpacaran. Relasi mereka langgeng dan berjalan mulus. Hanya saja, Keputusan Mario untuk masuk ke dalam Biara Kapusin, memaksa mereka untuk memutuskan hubungan mereka sebagai pacar. Relasi mereka tidak putus, hanya saja sekarang mereka hanya teman.

Suatu kali, Agatha dan Anastasia melihat Mario duduk Santai di bawah sebatang pohon rindang. Mereka kembali melihat perubahan yang terjadi dalam diri Mario. Mario bergumam, “Terpujilah Engkau Tuhanku…” Awalnya mereka cemas apalagi mereka juga sudah mendengar bahwa banyak orang sudah mengatakan bahwa Mario gila.

“Gatha, kamu lihat Mario itu? Ngomong sendiri di jalan. Jangan-jangan dia…” bisik Anastasia.
Agatha langsung memotong. “Ssst… jangan sembarangan. Dia bukan gila. Dia itu Mario yang dulu rajin misa, rajin doa. Aku kenal baik dia. Tak mungkin aku salah. Sekarang, dia memang bukan Mario yang kukenal dulu, tetapi aku yakin sekarang Mario adalah pribadi yang lebih baik.”

Akhirnya mereka sepakat mendekati Mario dengan lembut. “Mar, boleh ikut nyantai?” tanya Anastasia.

Mario menoleh dan tersenyum lebar, lagi-lagi kedua lobang di pipinya meluluhkan hati Agatha dan Anastasia. Agatha spontan bergumam sambil mengenang masa-masa SMA mereka dan berkata dalam hati, “Ahh Mario, kau masih memikat seperti yang aku tahu dulu.” Mario menjawab mereka, “Tentu. Tapi jangan kaget kalau aku tiba-tiba bilang ‘Terpujilah Engkau Tuhanku’. Itu reflek.” Keduanya terkekeh. “Tenang saja, sejauh ‘Terpujilah Engkau Tuhanku, tidak disandingkan dengan nama kami, kami siap.” Mereka tertawa bersama walaupun dalam hati Mario sudah mengatakan, “Terpujilah Engkau Tuhanku, karena kedua gadis yang begitu cantik dan baik hati ini. Sungguh indah ciptaan-Mu, Tuhanku”

Sejak itu, ketiganya kembali dan sering bersama menikmati suasana desa mereka. Kedua teman Mario tidak merasa khawatir dengan perkataan orang-orang, karena mereka tahu saat ini Mario adalah Mario yang lebih baik.

***

Beberapa bulan terakhir, sebuah perusahaan besar hendak membangun pabrik kertas di dekat desa. Mereka menebang pohon dan menyemprot racun ke tanah agar tanaman mati. Perusahaan ini sudah cukup terkenal di daerah mereka, bahkan sampai di luar daerah. Perusahaan ini terkenal karena ternyata mereka banyak mengambil lahan adat dan menjadikan lahan itu sebagai lahan mereka. Mereka menanam pohon-pohon euchaliptus yang merupakan bahan utama mereka sebagai pabrik kertas. Mereka terkenal tamak dan tidak peduli dengan keadaan masyarakat sekitar. Masyarakat resah, tapi tak berdaya. Masyarakat sudah beberapa kali melakukan penolakan, tetapi mereka tidak berdaya. Mereka hanya bisa diam, melihat dan menyaksikan alam mereka dirusak, bahkan ladang mereka juga dirampas.

Mario yang hatinya terpaut pada ciptaan Allah merasa terpanggil. Ia tidak punya senjata, tidak punya uang, tetapi ia punya doa. Ia bertekad untuk membantu masyarakat sekalipun tidak melakukan hal-hal yang luar biasa. Sederhana, setiap hari ia masuk ke lahan yang dirusak, berjalan pelan sambil mengucapkan: “Terpujilah Engkau Tuhanku…” Kadang ia membawa sepotong roti bekal, kadang hanya botol air.

Para pekerja sering merasa risih melihatnya, karena mereka tidak mengenal Mario dan mereka tidak punya urusan dengan Mario. Mereka justru merasa bahwa Mario mengganggu pekerjaan mereka. Para pekerja pabrik sering mengusirnya. “Hei, orang gila! Ini area kerja. Keluar!” teriak mandor. Terikan-teriakan bahkan caci maki dan ejekan sering Mario terima sembari ia mengelilingi hutan. Tetapi ia tidak merasa terganggu. Ia justru menyapa para pekerja setiap kali masuk ke hutan. Ia hanya berdoa, dan seperti bernafas, kata-kata “Terpujilah Engkau, Tuhanku…” terus menemani langkahnya.

Ketika Mandor membentaknya dan mengatakan Mario orang gila, Mario menoleh, senyumnya tenang. “Terpujilah Engkau Tuhanku… yang menciptakan Saudara Mandor juga.” Mandor mendengus, tetapi di balik wajahnya ada sesuatu yang bergetar. Mandor sangat terkejut dengan perkataan itu. “Bagaimana dia bisa mengatakan Terpujilah Engkau Tuhanku, padahal aku sudah memarahinya”, ucapnya dalam hati. Ada sesuatu yang membuat Mandor kagum, tetapi ia tidak mengerti perasaan apa yang sedang ia alami saat ia mendengarkan perkataan Mario

Hari berganti hari, Mario setia datang ke Lokasi kerja Perusahaan tersebut. Anastasia dan Agatha juga semakin sering ikut dengan Mario berjalan-jalan di hutan. Namun, sering terjadi fenomena yang begitu menarik, dikala Mario berjalan di tengah hutan dengan sopntanitasnya itu. Hewan-hewan liar mulai mendekat. Burung-burung hinggap di bahu Mario. Seekor rusa kecil mengikuti langkahnya. Tak ada satu hewan pun yang bergerak menjauhi Mario. Agatha yang sering ikut bersama Anastasia menyaksikan itu kerap terharu bahkan sampai menangis.

“Aku merinding. Sudah kubilang, Mario bukan seperti dulu. Ia luar biasa. Seperti St. Fransiskus saja…” bisik Agatha.

“Iya… ini bukan kebetulan, ini sangat mengagumkan” jawab Anastasia.

Selain itu, tanaman yang disemprot racun di jalur yang sering dilalui Mario tetap hijau. Tentu hal ini menjadi pemandangan tak biasa bagi para pekerja-pekerja di sana. Mereka semakin bingung tetapi sekaligus merasakan getaran yang luar biasa di hati mereka masing-masing. Mereka mulai bertanya-tanya, “Ada apa Gerangan?”

***

Tentu keluarga Mario, secara khusus ayah dan ibunya menyaksikan apa yang sering dilakukan Mario. Kadang mereka merasa resah karena pandangan orang yang mengatakan bahwa Mario sudah gila. Tetapi mereka juga bangga karena anak mereka sungguh memiliki hidup rohani yang mendalam. Mereka tidak menjadi terganggu sekalipun orang-orang berkata bahwa Mario sudah gila. Justru mereka selalu mendukung apa yang dilakukan oleh Mario.

Suatu malam, Pak Guido, ayah Mario, bicara serius di ruang tamu.

“Nak, Ayah bangga kamu peduli alam. Tapi kamu hati-hati. Orang bisa mencurigaimu,” katanya.

Mario menunduk. “Ayah… kalau aku diam, aku juga ikut bersalah. Aku cuma mau menyanyi pujian pada Tuhan di alam yang sekarang terluka.”

Bu July menimpali, “Doa itu indah, Nak. Biar Tuhan yang bekerja lewat kamu.”

Mario tersenyum. “Iya, Ma.”

Hari demi hari berlalu. Mario tetap setia menjalankan apa yang sudah dia mulai. Seperti biasa, Mario selalu berjumpa dengan para pekerja di lahan itu. Dengan lembut, Mario menyapa mereka satu persatu setia kali berjumpa dengan mereka. Suatu kali, Mario bertemu dengan Mandor Pabrik. Ia menyapanya lembut dengan senyuman khasnya, “Selamat Pagi, Pak…” Mandor pabrik – bernama Surya – memanggil Mario. Nama “Surya” terasa seperti pertanda.

“Hei… kamu ini siapa sebenarnya? Kenapa tiap hari ke sini?” tanya Surya.

“Aku hanya orang biasa. Aku hanya ingin memuji Tuhan di rumah-Nya: bumi ini,” jawab Mario.

Surya terdiam. Kata-kata itu menempel di kepalanya hingga malam, membuatnya gelisah. Kata-kata itu sangat singkat, tetapi entah apa yang membuatnya merasa bahwa kata-kata itu langsung merasuki hatinya. Dia semakin berada dalam dilema. Tetapi getaran itu semakin kuat ketika setiap hari ia menyaksikan Mario dan kedua temannya berjalan di hutan. Hatinya semakin bergetar ketika ia menyaksikan hewan-hewan liar yang sangat dekat Mario. Bahkan seekor ular tidak menjauhi Mario ketika Mario mendekat. Ini membuat hatinya sangat bergetar dan getaran itu sungguh tidak ia mengerti sama sekali.

Beberapa pekerja lain juga mulai resah. Mereka melihat rusa dan burung mendekat ke Mario. Mereka kagum. Mereka mulai menyadari bahwa hewan-hewan itu ternyata bisa bersatu dengan manusia ketika manusia baik terhadapnya. Hati mereka luluh. Mereka semakin sadar ternyata apa yang mereka lakukan sudah merusak tempat tinggal hewan-hewan liar itu. Kesadaran semakin tumbuh. Satu per satu mereka mulai tidak datang lagi ke tempat kerja. Satu per satu meninggalkan pemotong kayu dan tidak kembali untuk melanjutkan pekerjaan.

Mario yang sudah selalu ditemani oleh Agatha dan Anastasia sering bercerita bersama sambil berjalan. Cerita mereka pasti selalu terpotong. “Wahhh, Terpujilah Engkau Tuhanku, karena di sini ada seekor kumbang yang sangat indah”, ucap Mario dengan girang di kala Agatha sedang bercerita. Agatha dan Anastasia sudah terbiasa dengan ini. Mereka tidak sakit hati ketika cerita mereka terpotong dengan “Terpujilah Engkau Tuhanku…”. Mereka justru tertawa bersama.

Di tengah situasi berat, Mario kadang lucu. Suatu hari ia lupa melepas sandal jepit yang sudah bolong ketika masuk ke area hutan. Sandal itu terjepit akar pohon dan putus. Mario tiba-tiba berteriak dan membuat dua temannya terkejut, “Terpujilah Engkau Tuhanku… Akar pohon itu begitu kokoh sehingga sendalku putus!” Agatha dan Anastasia langsung tertawa terbahak-bahak. Kemudian Mario melanjutkan sambil sedikit tertawa, “Waduh… sandal pun ingin ikut jadi martir rupanya,” keluhnya.

Anastasia dan Agatha semakin tertawa. “Hahaha… Martir sandal, Santo Sandalus!”

Kejadian-kejadian kecil seperti itu membuat mereka bertiga tetap ringan di tengah perjuangan. Mereka sungguh tidak terbebani karena mereka yakin bahwa usaha mereka saat ini pasti disertai oleh Tuhan.

Sudah lebih dua minggu, kebiasaan itu dilakukan oleh Mario dan dua temannya. Masyarakat sekitar juga semakin menyadari berkurangnya aktivitas pekerja pabrik. Masyarakat pun mulai tergerak dan mau melibatkan diri untuk maju bersama Mario.

Suatu pagi, Mario datang lagi. Tapi kali ini ia tidak sendiri. Anastasia, Agatha, dan belasan warga ikut. Mereka membawa lilin dan bernyanyi. Mario memimpin dengan suaranya:

“Terpujilah Engkau Tuhanku, bersama Saudara Matahari…”

Suara itu menggema di hutan. Pekerja pabrik berhenti bekerja. Mandor Surya berdiri terpaku, lalu menurunkan gergajinya. “Aku… aku lupa kalau alam ini rumah kita semua,” katanya lirih. Air mata mengalir di pipinya. Ia meminta maaf pada warga. Pekerja lainnya menyusul. Mereka menyerahkan serbuk racun yang tersisa. Setelah mereka berhenti para pekerja diundang oleh masyarakat untuk menikmati minuman yang diminta oleh Mario untuk disediakan oleh kedua orangtuanya. Orangtuanya tidak keberatan dan setelah memuji Tuhan di tengah hutan, mereka semua, baik masyarakat yang ikut ke sana maupun para pekerja, menikmati kopi dan teh manis yang sudah disiapkan oleh Ibu July, ibu Mario.

***

Beberapa bulan kemudian, kawasan hutan itu menjadi area konservasi warga. Mario diangkat menjadi koordinator komunitas lingkungan. Ia masih rajin berdoa. Tetapi kini ia tidak lagi dianggap “gila”. Ia dianggap inspirasi.

Di sebuah misa lingkungan hidup, Pastor paroki menyebut Mario sebagai “saudara kecil” yang menghidupkan kembali semangat St. Fransiskus di masa kini. Anastasia dan Agatha tersenyum bangga.

Suatu sore, Mario duduk di bawah pohon besar. Ia menatap matahari terbenam.
“Terpujilah Engkau Tuhanku… yang memberi harapan baru,” bisiknya.
Burung-burung berkicau serentak, seolah mengamini.

PESAN CERPEN:

Cerita “Gita Sang Surya” mengingatkan kita bahwa kesetiaan pada nilai rohani dan kecintaan pada alam tidak harus menunggu status atau jabatan resmi. Mario menunjukkan bahwa doa yang tulus bisa menjadi gerak nyata yang mengubah lingkungan dan hati orang lain. Di tengah gempuran kepentingan ekonomi dan kerakusan manusia, sikap lembut, konsisten, dan penuh pengharapan justru mampu menghadirkan perubahan yang lebih dalam daripada kekerasan. Kegembiraan kecil yang ia pelihara bersama teman-temannya pun menjadi tenaga untuk bertahan. Cerita ini mengajak kita semua untuk tidak meremehkan tindakan sederhana yang berakar pada iman dan kasih, sebab tindakan itu bisa menjadi sumber harapan baru bagi alam, masyarakat, dan generasi yang akan datang.

Satu Komentar

  • Yunia Zendrato, S.H
    Balas

    Cerita nya bagus Frater. Memberikan pesan bahwa tindakan kecil bila dilakukan dengan tulus dan penuh cinta dan rasa syukur akan sangat besar pengaruh dan manfaat nya. Tindakan kecil bisa dipakai oleh Tuhan untuk menyadarkan orang akan kesalahan dan berani memperbaiki nya. Cahaya kecil bila kita tempatkan pada tempat nya bisa menerangi dan menghidupkan nyala api dalam diri orang lain. Terimakasih banyak Frater mari menjaga bumi sebagai rumah kita bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *