Kristus di Wajah Bumi yang Luka (Fr. Mayu,OFMCap)

Alarm di ponselku berdering nyaring, memecah kesunyian dini hari. Dengan mata masih terpejam dan tubuh berbalut pakaian tidur kusut, Aku berusaha bangkit dari pulau kapuk ternyamanku. Tangan kiriku  meraba meja kecil di samping tempat tidur, meraih ponsel, lalu mematikan alarm agar tidak mengganggu penghuni biara lainnya. Aku menaruhnya kembali, menghela napas berat, dan berjalan gontai ke arah jendela.

Kelopak mataku masih berat, enggan untuk terbuka. Dengan sisa tenaga, aku meraih tirai, menyibakkannya perlahan. Kuduga udara kamar akan berganti dengan sejuknya angin pagi, menghadirkan kesegaran yang menenangkan. Sesaat aku memejam, membiarkan hembusan itu menyentuh wajah. Namun harapan itu seketika runtuh. Bukan kesejukan yang datang, melainkan aroma busuk yang menusuk tajam hingga ke dada. Aku terperanjat, sadar bahwa di samping biara terbentang sungai yang penuh sampah, berdekatan dengan TPA yang tak henti menebarkan bau menyengat. Dengan tergesa aku menutup jendela rapat-rapat. Pendingin ruangan yang sudah setengah rusak tetap kubiarkan menyala, seolah mesin renta itu mampu mensterilkan udara. Meski jauh di dalam hati, aku tahu kesegarannya tak akan pernah sama.

Aku menuju kamar mandi. Niatku sederhana: membasuh badan agar lebih segar. Tapi begitu kubuka keran, air berwarna kuning kecokelatan mengalir keluar, disertai bau besi yang menyengat. Tanganku sempat enggan menyentuhnya. Air ini jauh berbeda dari masa kecilku, bening, jernih, berkilau saat disentuh sinar. Aku rindu mandi di pancuran desa, rindu air yang dulu meneteskan kesejukan sampai ke hati.

Namun kini, air yang keruh ini pun harus kuterima. Air yang kusam itu mengalir pelan, bagai cerita yang tetap berjalan meski dipenuhi noda. Dan aku, dengan segala keterpaksaan, harus belajar menerima bahwa bahkan kekeruhan pun memiliki caranya sendiri untuk membersihkan.

***

Langit masih gelap. Fajar belum menampakkan diri. Udara gerah menyelimuti, membuat langkah terasa berat. Aku dan beberapa Frater berjalan bersama menuju kapel besar tempat kami biasa beribadah harian. Ada rindu yang tak bisa aku jelaskan , rindu pada sesuatu yang lebih agung. Kapel berukuran 40 x 60 meter itu sudah dipenuhi para biarawan dan biarawati. Ibadah tetap berlangsung meski ruangan pengap, meski enam pendingin ruangan berusaha keras menyalurkan udara segar.

Dari podium, tema ekologi kembali digaungkan, seolah gema doa yang tak henti dipanjatkan. Sudah lima tahun terakhir, tema ini selalu hadir, seakan ingin mengingatkan kami bahwa bumi yang kami tinggali sedang sekarat. Sungai yang merintih keruh, hutan yang tercabik,dan udara yang kian sesak. Betapa tega kami, anak-anak-MU yang seharusnya menjaganya, justru menikamnya perlahan dengan keserakahan.

Selesai ibadah, aku melangkah menuju kampus. Jalan yang harus kulewati adalah jembatan panjang yang membentang di atas sungai penuh sampah. Seakan tempat ini adalah sebuah museum yang tak diingankan oleh siapun. Bau busuk kembali menyerang. Aku menahan napas, berusaha berjalan cepat. Namun di tengah jembatan, aku tak kuat lagi. Dengan terpaksa kuhirup udara tercemar itu. Bau busuk, asap kendaraan, dan limbah pabrik berpadu menjadi orkestra maut. Perutku bergolak. Dalam hitungan detik, makanan yang kulahap satu jam lalu keluar begitu saja. Aku muntah di atas jembatan, tubuhku lemas.Aku terhuyung, lalu meneguk air minum dari botol yang kubawa. Setidaknya rasa pahit di tenggorokan sedikit reda.

                        ***

Hari itu, kuliah terasa begitu berat. Tubuhku masih payah setelah muntah di jembatan. Aku berusaha mendengarkan penjelasan dosen, tapi pikiranku kosong. Hingga kuliah usai, aku tetap terpaku di kursi, tak mampu bangkit.

“Kamu kenapa, Frater?” suara dosen memecah lamunanku.

Aku tersadar, lalu menjawab lirih, “Tidak apa-apa, Romo. Saya baik-baik saja.”

“Kamu pucat. Sudah sarapan?” tanyanya.

“Sudah, Romo. Tadi pagi,” jawabku pelan sambil menunduk.

Beliau menatapku dalam. “Sungai itu, ya? Akhir-akhir ini memang sangat mengganggu. Cuaca juga tidak menentu. Hutan-hutan ditebang, tanah rusak, sungai kotor. Dunia kita di ambang kehancuran. Manusia sudah lupa menggunakan akal sehatnya.”

Aku menelan ludah. “Saya takut, Romo”. Kalau alam sudah bicara, kita bukan siapa-siapa lagi.”

Romo Stef menghela nafas, seakan melihat luka bumi yang tak kasat mata.” Kini para pemangku kepentingan seolah kehilangan nurani, dan hanya mengejar gemerincing uang”. Hutan ditebang, gunung dikoyak tanpa ampun. Bahkan suara mereka yang dulu lantang membela alam , kini mulai redup, dicekik hukum dan kekuasaan.’’ Kalau ini terus berlanjut, banjir bandang dari gunung bisa menyapu kota kita dalam sekejap.

 Aku terdiam. Kata-katanya menggema dalam kepalaku, seperti sebuah peringatan yang menembus dada.

Jam dinding menunjukkan pukul 12.45. “Romo, saya pamit. Terima kasih.” Aku bangkit perlahan menunduk hormat.

“Hati-hati dan gunakan pelindung bila perlu” Romo Steff tersenyum tipis.

 Aku mengangguk lirih. Kata-kata itu terngiang hingga aku melangkah pergi. Dan ketika jembatan kembali terbentang di hadapanku, sungai itu tampak seperti sebuah museum yang tak diinginkan, benar-benar seperti kuburan terbuka bagi lingkungan.

***

Berita televisi pun kerap menyiarkan isu yang sama: penggundulan hutan, tambang ilegal, pencemaran udara, perubahan iklim. Dari berita, talkshow, bahkan program anak-anak yang ada kartunnya disisipi pesan menjaga lingkungan. Tapi entah mengapa, semua terasa seperti angin lalu. Orang-orang mendengar, lalu lupa.

Di ruang makan komunitas, Romo Ben membuyarkan lamunanku, “ Frater bulan ini kamu pulang kampung?”

Aku mengangguk. “Iya, Romo.”

“Kalau sudah sampai, jangan lupa singgah ke komunitas di sana,” pesannya.

“Baik, Romo,” jawabku.

Aku makan dengan hening, hanya ditemani suara sendok dan garpu beradu. Televisi di sudut ruangan masih ribut tentang krisis iklim, seakan tidak pernah kehabisan topik. Dalam hati aku bergumam, “Dunia yang Kauciptakan begitu indah tetapi kini dipenuhi luka. Bukankah Engkau sudah menitipkan bumi ini kepada kami untuk dirawat?”

***

Hari kepulangan tiba. Bus yang kutumpangi meninggalkan asap pekat dari knalpotnya. Aku refleks menutup mulut dan hidung dengan tangan. Wajahku meringis, betapa kerasnya dunia ini sekarang. Kota macam apa ini, bahkan udaranya pun terasa sangat mahal.

Sesampainya di rumah, ibuku menyambut dengan senyum hangat. “Pulang kau, Nak?”

Aku mengangguk, lalu bertanya, “Ayah mana, Mak?”

“Masih kerja, di tambang dekat sungai,” jawab ibuku.

Aku tercengangt. “Lalu bagaimana dengan ladang kita  Mak?”

“Ya begitulah. Tinggal tanaman rumahan. Tanah sudah kering, air susah”. Sejak tambang masuk, para petani tidak bisa berharap banyak lagi.”

Aku menghela napas panjang. “Apakah perusahaan bertanggung jawab, Mak?”

Ibuku mendesah. “Katanya begitu. Tapi nyatanya? Kami hanya bisa diam. Lagipula bapakmu digaji. Kalau tidak, mungkin sekampung sudah menuntut.”

Aku terdiam. Membayangkan penderitaan umat di kampungku, dan bahkan tanah adat juga sudah direbut oleh PT TPL. Sungguh menyakitkan, bukankah bumi adalah milik Tuhan dan segala isinya Dalam hati aku berdoa, Ya Tuhan, Engkau tahu hati ibuku. Engkau tahu penderitaan umat-Mu di kampung ini. Jangan biarkan mereka tenggelam dalam keputusasaan. Berilah mereka harapan yang baru.

Aku melangkah masuk ke kamar, meletakkan barang-barang bawaan. Dari jendela, aku melihat debu beterbangan di udara, langit kering, tanah gersang. Aku teringat kampungku dulu yang hijau dan asri. Kini, semua tampak cokelat, tandus, dan mati. Bahkan mereka yang berusaha bersuara akan berhadapan dengan hukum. Akh,,sungguh malang nasib kampungku,Dolok Parmonangan.

            Keesokan harinya kusempatkan menyusuri sungai yang diceritakan ibuku, sudah ditambang. Mulai dari batu,pasir semua diangkut.

‘’ Hai..” terdengarku teriakan dari jauh menyapa. Aku menoleh sosok yang memanggilku terlihat berjalan cepat mendekatiku.

‘’Sudah mau pulang”tanyaku

“ sudah, yok balik” uda mau hujan” ajaknya setelah memelukku.

“ sejak kapan Ayah bekerja disini”? tanyaku sambil berjalan

‘’ sejak mereka buka lahan di sini” lama juga pikirku.

***

Masa libur usai, kini saatnya kembali berlayar di samudra ilmu . Malam itu, aku  sengaja duduk di depan unit Subasio sembari menyalakan labtob dan menelusuri jurnal- jurnal tentang environmental philosophy. Yah..kadang ide datang ketika tubuh tenang seperti bintang yang tiba-tiba muncul di langit paling sepi. Dari beberapa sumber yang pernah saya baca, juga dari penjelasan dosen di kampus , filsafat ini kerap dikaitkan dengan pembahasan tentang relasi manusia dengan alam. Di sela-sela pencarianku, sesekali kuseruput kopi kiriman dari Sidikalang, kota yang sejak lama dikenal sebagai penghasil kopi berkhasiat tinggi. Aroma pahitnya menyatu dengan udara malam, menemani pikiranku yang terus bergulir pada pertanyaan tentang bagaimana seharusnya manusia memperlakukan alam.

Tak lama, Hiro sahabat sekampusku menyapaku dan membawa buku catatan kecil dan menatap layar labtobku.

“ Eh,,Jo selamat malam..masih tentang filsafat lingkungan?’’ tanyanya sambil tersenyum.

‘’Bah, malam ambia. Olo bah, Semakin saya baca betapa kita semakin sering menaruh manusia di pusat. “sejatinya manusialah yang merindukan naungan alam,bukan alam yang bergantung pada keberadaan manusia” Ucap Jo penuh semangat

 ‘’ Hehehe Memang kalau sudah berbicara dengan kamu Jo, aku selalu merasa diajak  melihat sisi yang lebih terang. Benar juga ya. Kita memang seharusnya memandang alam bukan sebagai objek semata, melainkan saudara dalam keluarga ciptaan.”

 “ Ambia itu lah sebabnya saya kepikiran untuk membuat gerakan kecil di kampus” lanjut Jo

Hiro mencondongkan badan ,matanya berbinar. “ Gerakan seperti apa?” Hiro semakin penasaran”

“ Sederhana dulu misalnya kita bisa mengurangi sampah plastik. Lalu, setiap kali keja bakti, kita menanam bunga dan pohon di sekitar unit. Dari hal kecil, lama –lama jadi besar”

 “ kalau begitu besok kita ajak teman- teman yang lain. Siapa tahu dari meja kecil ini , lahir sebuah gerakan” Ucap Hiro antusias.

Jo menatap layar labtobnya. Dalam hatinya,semangat yang sempat redup kini menyala kembali..

Kopi Sidikalangku yang hampir habis terasa lebih hangat malam itu. Bukan semata karena pahitnya , melainkan karena percakapan yang memberi secercah harapan, bahwa bumi masih mungkin diselamatkan, dimulai dari niat sederhana dua mahasiswa di pojok unit subasio

            Keesokan harinya Joy dan Hiro melangkah dengan hati yang mantap, mengumpulkan kawan- kawan seperjuangan. Ada yang mengangguk penuh semangat, ada pula yang masih diblenggu ragu. Namun keduanya berdiri sebagai pelopor , menyalakan api keyakinan, gerakan ini bukanlah milik segelintir orang , melainkan suara nurani bagi mereka yang hidup di batas kesederhanaan , masyarakat kecil yang bahkan untuk seteguk air bersih pun harus berjuang dengan perih.

“Kalau bukan kita yang mengawali, siapa lagi yang sanggup merangkul derita ini lalu menumbuhkannya menjadi harapan?” doa itu mereka gumamkan lirih dalam hening. Sejak saat itu, hari-hari di komunitas pendidikan tersebut berubah perlahan. Para frater mulai menapaki langkah kecil: belajar mencintai ekologi, membentuk sebuah tim sederhana bernama Panitia Ekologi. Dari tangan mereka, barang-barang bekas yang tadinya dianggap tak berguna disulap menjadi sesuatu yang bernilai. Sampah berkurang, kulit buah yang kerap terbuang kini diolah menjadi eco-enzim, menyimpan janji kehidupan baru bagi bumi yang mulai lelah

            Awalnya beberapa warga sekitar dan mahasiswa prodi lainnya menertawakan niat mereka. Ada yang mencibir, menyebut usaha itu tak lebih dari buang- buang waktu. “ sesuatu yang mustahil” begitu komentar sebagian orang, ada pula yang sinis berbisik bahwa mereka hanya mengejar hadiah kalpataru. Bahkan tak sedikit yang menuduh mereka ingin viral, setiap gerak dan momen selalu didokumentasikan, seolah- olah sedang merangkai panggung untuk tampil di layar kaca. Begitulah cara pandang sebagian manusia  kini, yang mudah menilai perjuangan orang  lain hanya dari sorot kamera dan gemerlap tanyangan televisi. Namun hari demi hari, benih kecil itu tumbuh. Apa yang semula dipandang remeh, perlahan menjelma menjadi gerakan yang hidup. Aku menyaksikan sendiri, bagaimana tangan-tangan mereka mulai menolak plastik dengan membawa tas belanja sendiri, bagaimana hati mereka tergerak menanam pohon, seakan bumi akhirnya menemukan sekutu yang tulus dalam jiwa-jiwa muda itu.

            Joy dan Hiro melihat semakin banyak orang yang memilih peduli . Dari langkah kecil menjadi besar . Puncaknya ketika JPIC Kapusin akan mengadakan aksi penanaman pohon  di Dolok parmonangan.

“ Dolok Parmonangan,kampung halamanku” suara Joy bergetar . Ingatan kelam menamparnya  tentang perusahaan besar yang dulu merampas tanah leluhurnya, ingatan tentang satpam-satpam berseragam kuning meratakan tanaman warga masih menyisakan luka dalam sukmanya. Saking penasarannya Jo mengakses internet, hatinya bergetar. Ternyata masyarakat dolok pamonangan bersama dengan JPIC Capusin dan kelompok pecinta lingkungan telah berhasil merebut kembali tanah adat tersebut dari bayang-bayang konflik. Tanah yang dulu berlumur air mata kini kembali kepangkuan rakyatnya.

            Hari berahmat itu pun tiba, Jo dan Hiro dan para Frater lainnya ikut menanam pohon  bersama kelompok pecinta lingkungan lainnya. Angin pagi berhembus lembut seakan ikut bernyanyi riang gembira menyambut langkah para pegiat bumi. Ratusan biarawan- biarawati dan kaum awam sudah berkumpul. Ada yang membawa bibit,cangkul dan tak kalah pula ada datang hanya dengan senyum dan doa. Para pegiat ekologi itu menyalakan kembali semangat perjuangan sebagai tanda komitmen menjaga bumi dan membela kehidupan. Bersama membela mereka yang terpinggirkan dan menjaga bumi.

            ***

Alunan madah ibadah pagi di hari Jumat itu menggema lembut, menyusup ke relung hati Jo. Kata-kata dalam lagu terasa menegur dirinya: “Kristus ada di setiap waktu, mengapa harus menunda? Carilah wajah-Nya sekarang, jangan menunggu senja.”Jo terdiam. Sebuah kesadaran menyingkap dirinya,bahwa menjaga bumi pun adalah jalan sederhana untuk menemukan wajah Kristus. “Jika hari ini aku bisa mulai, mengapa harus menunggu esok?” bisiknya dalam hati.

Sejak hari itu, langkahnya berubah menjadi doa yang hidup. Bersama teman-teman, ia menyalurkan kasih dalam tindakan nyata. Menuangkan eco-enzim yang sudah mereka permentasikan di komunitas ke museum yang tak pernah benar-benar diinginkan siapa pun, merawat apa yang ditinggalkan. Setiap Jumat, mereka duduk di tepian sungai dekat biara, mendaraskan doa rosario ekologis sambil menyerahkan bumi kepada Sang Pencipta. Sesudahnya, tangan-tangan mereka bergandeng dalam aksi sederhana membersihkan aliran sungai. Bagi Jo, setiap tetes keringat dan doa itu adalah ziarah,sebuah pencarian wajah Kristus yang hadir dalam daun, dalam aliran air, dalam bumi yang tengah merintih.

Luka bumi itu perlahan sembuh, seperti wajah letih yang kembali memancarkan cahaya senyumnya. Sungai di dekat biara, yang dulu keruh dan murung, kini berkilau seolah bercermin pada langit biru. Jembatan tua yang selama ini bisu, kini seakan ikut bernyanyi bersama aliran air yang riang. Di kejauhan, Dolok Parmonangan berdiri anggun, memeluk siapa saja yang datang dengan kehangatan yang sederhana. Anginnya berhembus pelan, membawa bisikan ramah yang mengingatkan pada bait-bait indah dalam lirik Sabada Alam.

Aku tertegun, menyadari betapa alam pun tahu cara menyembuhkan dirinya, asal manusia mau mendengar dan ikut menjaga. Di tengah ketenangan itu, aku merasakan bumi tersenyum, dan untuk pertama kalinya aku benar-benar paham: keindahan tak selalu datang dengan tiba-tiba, kadang ia hadir perlahan, seperti doa yang akhirnya menemukan jawabannya.

Jo, Hiro dan para Frater lainnya menutup hari itu  dengan lembut membiarkan lagu Sabda Alam karya Chrisye  mengalun, seakan menjadi doa penutup yang menyatu dengan napas bumi dan bisikan angin.

Tinggalkan komentar