Panggilan dan Jubah Cokelatku (Fr. Mesakhi Ndruru,OFMCap)

Aku datang
Bukan sebagai orang yang selesai dengan dirinya.
Aku datang
Sebagai keraguan yang berjalan.

Di belakangku
Dunia masih berteriak tentang keberhasilan,
Tentang nama yang diukir pada halaman kertas,
Tentang masa depan yang dihitung
Dengan nilai dan pujian.

Tetapi ada sesuatu di dalam dadaku
Yang tidak pernah puas
Dengan semua itu.

Suatu hari
di hadapan Dia yang tersalib
Aku mengerti:
Dia tidak memanggil mereka yang hebat,

Mereka yang punya segalanya

Mereka cakap lagi cakep.

Ia memanggil
Orang yang berani menjadi kecil, tak diperhitungkan,

Orang yang bahkan masih bingung dengan dirinya.

Maka aku menanggalkan banyak hal,
Bukan karena aku suci,
Melainkan karena aku lelah
Menjadi tuan atas hidupku sendiri.

Jubah cokelat ini
Bukan pakaian kemuliaan.
Ia hanyalah tanda
Bahwa seseorang telah memilih
Jalan yang sempit, sulit
Dan sering kali tidak dimengerti.

Di jalan ini
Langkah-langkah terasa sederhana:
Doa yang kadang kering,
Tawa saudara-saudara di meja makan,
Suara fals waktu bernyanyi,

Mata yang tiba-tiba sipit ketika ibadat pagi,
Malam-malam panjang
Ketika Tuhan terasa jauh.

Namun justru di sanalah
Aku mulai melihat sesuatu
Yang dulu tidak pernah kulihat:

Tuhan tinggal
Di antara hal-hal yang kecil.

Di wajah saudara yang letih, lesu dan berbeban berat.
Di keheningan kapel,

Di hari rabu menjelang rekreasi,
Di debu jalan
Yang menempel pada sandal seorang pengemis.

Dan aku tahu
Jalan ini tidak akan membuatku terkenal.

Mungkin suatu hari
Hidupku akan hilang
Seperti jejak kaki di tanah basah,
Perlahan dihapus oleh hujan.

Tetapi jika pada akhirnya
Hidup kecil ini
Sempat menjadi tempat
Bagi cinta Tuhan berdiam sejenak,

Maka jubah cokelat ini
Telah menemukan
maknanya.

Tinggalkan komentar