Beranda / Uncategorized / CAHAYA SURYA DI SIPOLIN TIDAK SELALU BAIK TANPA ADANYA KEHADIRAN HUJAN-Sdr. Willibrordus Simamora OFMCap

CAHAYA SURYA DI SIPOLIN TIDAK SELALU BAIK TANPA ADANYA KEHADIRAN HUJAN-Sdr. Willibrordus Simamora OFMCap

Desa Sipolin adalah sebuah desa yang sangat indah, desa tersebut berada di kecamatan silima kuta atau biasa disebut saribudolog. Desa sipolin terletak di sebuah lembah yang dikelilingi bukit-bukit hijau. Dan juga keberadaan desa ini sungguh cukup jauh dari pusat kota silima kuta, dan juga akses jalan menuju sipolin cukup rusak, dan juga jalannya sangat sempit. Desa Sipolin memang sungguh memprihatinkan, karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap desa tersebut. Biasanya, bila bulan Mei tiba, desa itu penuh kehidupan. Sawah-sawah berundak menghijau seperti permadani, sungai mengalir jernih, anak-anak berlarian di pematang sambil bermain perahu kertas, dan burung-burung kicau seakan tak pernah lelah memberi irama pagi. Namun tahun ini, semuanya berbeda.

Bulan April kehadiran hujan sudah mulai berkurang. Dan juga kehadiran angin juga cukup kencang sehingga debu-debu tanah sering berterbangan dan membuat masyarakat harus menutupi hidung mereka dengan baju maupun handuk kerja mereka. Musim kemarau tahun ini datang terlalu Panjang di desa Sipolin. Matahari seperti tak mau beranjak dari puncak langit, membakar tanah hingga merekah. Jalan desa berubah menjadi lorong debu. Setiap kali sebuah motor lewat, kepulan debu mengepul seperti asap, menempel di wajah dan baju siapa saja yang berdiri di pinggir jalan dan jemuran.

Di tepi sawah, masyarakat hanya melihat tanah sawah mereka penuh dengan tanah yang kering, dan juga rumput yang tumbuh ditanah itu sudah semakin layu karena tidak mendapatkan air yang menyegarkan bumi. Desa Sipolin terkenal dengan lahan cabai yang begitu luas sehingga desa ini disebut sebagai penghasil cabai nomor satu di kecamatan silimakuta atau khususnya di saribudolog. Tetapi tahun ini menjadi hal yang sebaliknya, dikarenakan kemarau panjang membuat cabai tidak dapat tumbuh dengan baik, dan juga air tidak ada untuk menyiram cabai tersebut. Cabai yang sudah sempat ditanam dengan baik dan juga sudah menghasilkan buah, semakin lama menjadi layu karena tidak pernah mendapatkan air.

Ternak-ternak yang biasanya gemuk kini terlihat kurus. Kerbau lebih sering berbaring lemah di kubangan kering, lidah terjulur, napasnya berat. Kambing-kambing mengembik mencari rumput hijau yang sudah lama lenyap. Ladang rumput kerbau yang dulunya ditumbuhi dengan lebat, sekarang menjadi lahan yang kering dan juga sebagian sudah terbakar. Masyarakat desa Sipolin sungguh merasakan kesedihan dan kerinduan akan kehadiran hujan di desa mereka. Sebagian masyarakat sudah mulai stress karena mereka tidak bisa menanam apa-apa, sehingga warga desa sipolin lebih banyak diam dirumah dan bermenung seraya menunggu kehadiran hujan.

Bagi kaum bapak-bapak yang sudah mulai merasa tidak sanggup lagi dengan penderitaan tersebut. Mereka terpaksa harus pergi ke desa orang lain untuk memancing ikan demi menghilangkan stress karena di rumah tidak tahu apa yang mereka kerjakan khususnya di ladang. Para kaum bapak-bapak juga dulunya memiliki kesepakatan untuk pergi bersama memancing ke haranggaol demi menjaga kekompakan sebagai satu desa. Sungai Sipolin yang biasanya jadi nadi kehidupan desa kini tinggal aliran kecil. Anak-anak yang dulu suka berenang kini hanya bisa berdiri di tepi sungai, melempar batu ke genangan dangkal. Airnya keruh, penuh lumut, tak layak lagi untuk diminum apa lagi sebagai tempat berenang.

Di halaman rumah-rumah, tempayan kosong berderet. Ibu-ibu terpaksa berjalan jauh ke sumber air yang sudah dibor khusus untuk desa tersebut sebagai sumber air bersih keperluan untuk minum dan lain sebagainya. Kehadiran sumber air bor tersebut sebagai bantuan dari paroki Saribudolog, karena melihat kondisi desa sangat sulit untuk mendapatkan air bersih. Bahkan air itu pun makin hari makin habis karena hujan tidak pernah hadir.

Di antara keluarga yang merasakan getirnya musim kering itu adalah keluarga Riel Saragih. Remaja berusia lima belas tahun itu tinggal bersama ayahnya, seorang pengambil tuak, dan ibunya, seorang petani. Setiap pagi, Riel duduk di tangga rumah sambil memperhatikan ibunya mengangkat air dari sumur bor. “Ma, ini airnya keruh kali,” kata Riel sambil memandangi isi ember. Ibunya hanya tersenyum tipis. “Tak apa, Gar. Kita saring saja. Yang penting masih bisa direbus untuk diminum. ”Riel mengangguk, tapi hatinya perih. Ia tahu, ibunya berusaha menenangkan, padahal ia sendiri kelelahan.

Ayahnya lebih sering termenung di tepi batang pohon aren. Setiap kali Riel mendekat, ayahnya hanya bergumam, “air tuaknya semakin sedikit, Nak. Kalau seminggu lagi hujan belum turun, kita terpaksa harus stop mengambil tuak. ”Kata-kata itu menghantam hati Riel. Ia tahu betapa beratnya bagi ayah yang terbiasa menjual tuak kini harus berhenti sementara berjualan tuak. Malam hari, Riel sering bermimpi. Dalam mimpinya, ia berlari di tengah hujan deras. Ia mencium bau tanah basah yang harum, mendengar suara katak bersahutan, melihat sungai kembali penuh air. Saat terbangun, ia mendapati hanya keringat yang membasahi tubuhnya.

Suatu sore, lonceng kecil di menara gereja Sipolin berbunyi. Dentangnya terdengar sampai ke rumah-rumah. Warga tahu, itu panggilan untuk berkumpul dan berdoa. Gereja sederhana itu terletak di tengah desa. Malam itu, hampir semua warga datang. Anak-anak duduk di lantai, orang tua duduk di bangku panjang, sementara Frater yang live-in di desa itu berdiri di depan altar bersama tetua desa, Ama Saragih. “Damang-Dainang,” suara Frater terdengar tenang namun tegas, “musim ini memang berat. Tanah retak, sawah gagal panen, air susah didapat. Tapi kita jangan kehilangan pengharapan. Tuhan tidak akan membiarkan kita binasa. Mari kita bersatu dalam doa, memohon agar hujan turun, agar tanah kita kembali hidup.”

Suasana hening. Hanya bunyi jangkrik di luar jendela menemani. Lalu doa Rosario pun dimulai. Suara doa mengalun, kadang lirih, kadang penuh semangat. Ada yang berdoa dengan suara lantang, ada pula yang hanya berbisik sambil menitikkan air mata. Riel duduk di barisan tengah, menutup mata. Dalam hatinya ia berkata: Tuhan, turunkanlah hujan. Bukan hanya untuk kami, tapi untuk semua makhluk di desa ini. Ketika doa selesai, Ama Saragih berdiri. Rambutnya sudah memutih, wajahnya dipenuhi keriput, tapi suaranya masih berwibawa. “Anak-anakku,” katanya, “ingatlah cerita orang tua kita dulu. Hujan selalu datang, meski terlambat. Alam ini tidak pernah ingkar janji. Percayalah, ketika waktunya tiba, kita semua akan melihat berkat turun dari langit.” Warga mengangguk. Ada semacam ketenangan baru di wajah mereka. Dengan demikian umat desa Sipolin pun terus selalu berharap akan kedatangan hujan di desa mereka.

Beberapa hari setelah doa bersama, langit mulai berubah. Sore itu, awan kelabu muncul. Angin berhembus sangat kencang seakan badai akan segera turun, membawa aroma yang aneh-seakan seperti janji akan kehadiran hujan. Anak-anak berlari keluar rumah, sambil bermain layang-layang dan diantara mereka ada yang berteriak “Hujan! Hujan!. Riel ikut berlari menengadah ke langit. Butiran kecil jatuh di pipinya. Ia terkejut senyum lebar menghiasi wajahnya. Tetapi hujan itu hanya sebentar sekedar menyeberang dari desa itu, dan hujan itu pun sekedar gerimis.

Setelah itu langit kembali cerah, matahari sore menelan semua harapan. Warga yang hanya menyaksikan peristiwa itu merasa kecewa, tetapi tetap bersabar. Bahkan anak-anak juga merasa bahwa desa itu seakan ingin dicobai dengan peristiwa kemarau yang terlalu lama. Kata Ama Saragih kepada orang disekitarnya saat berada di lapo tuak, mungkin Tuhan sedang mencobai kita. Percayalah hujan pasti akan datang.

Beberapa hari setelah itu, langit kembali mendung. Kali ini awannya lebih tebal dan hitam, sekaligus dentuman petir yang menyatu dengan awan tebal tersebut. Angin bertiup kencang, kilat sesekali memecah langit. Di rumah Riel duduk di samping jendela. Ayanya sedang mengambil kain dari jemuran, berjaga-jaga kalau hujan deras. Ibunya menyiapkan ember kosong, berharap bisa menampung air hujan untuk keperluan mandi dan mencuci. “Riel,” kata ayahnya, kalau hujan turun biarlah kau pertema keluar untuk melihatnya dan merasakannya. Mata Riel berbinar. Ia menunggu dengan sabar, meski jantungnya berdebar kencang.

 Tiba-tiba, suara tik…tik…tik… terdengar di atap seng. Semakin lama semakin banyak, lalu hujan deras turun tanpa banyak kompromi lagi. Togar memandang dari teras rumahnya, air hujan membasahi teras rumah mereka karena sangking derasnya. Di sekitar rumah mereka warga juga ikut keluar seakan merasa senang, ada yang berteriak gembira, ada yang menangis haru, dan ada juga yang sibuk untuk mengambil ember kosong untuk menampung air hujan.

Suara kodok mulai terdengar dirawa-rawa sekitar pedesaan dan sawah warga, jangkrik mulai saling bersahutan seakan ikut merasakan kesejukan akan kehadiran hujan. Daun-daun pohon bergetar, seolah menyambut Kawan lama. Tuhan terima kasih “teriak sang ibu”. Air mulai mengalir dijalan, parit persawahan sudah mulai berisi dan mengalir mengisi sawah yang dulunya sudah kering total. Bau khas tanah memenuhi udara hujan turun sepanjang malam, seakan membayar lunas kerinduan selama berbulan-bulan.

Suasana malam itu benar-benar luar biasa. Hujan yang bagi sebagian orang hanya dianggap hal biasa, bagi warga Sipolin adalah mukjizat. Mereka merasa doa-doa panjang yang diucapkan di gereja kecil itu akhirnya dijawab. Tidak ada perbedaan usia, semua larut dalam kegembiraan: dari anak kecil hingga orang tua, semua bersukacita. Bagi warga sipolin kehadiran Frater ditempat itu seakan membawa berkat bagi desa itu, bahwasanya pengharapan akan kedatangan hujan melalui doa tidak berlangsung lama.

Pagi setelah hujan deras itu, Desa Sipolin seperti terlahir kembali. Udara yang kemarin terasa panas dan penuh debu, kini diganti dengan kesejukan yang menenangkan dada. Embun menempel di dedaunan, mengilap diterpa cahaya matahari yang malu-malu muncul dari balik awan. Aroma tanah basah memenuhi udara, seolah-olah seluruh desa menghirup napas baru.

Sawah-sawah yang kemarin kering dan retak kini sudah terisi air. Permukaan sawah berkilau memantulkan langit biru, seperti cermin besar yang terbentang di tengah desa. Para petani turun ke sawah dengan wajah penuh semangat. Ada yang menaburkan benih, ada pula yang memperbaiki pematang. Senyum kembali merekah, dan tawa kembali terdengar di antara mereka.

Sungai yang kemarin hanya menyisakan genangan kecil, sekarang mengalir deras, bening, dan dingin. Anak-anak berlari menuju sungai, terjun ke dalamnya dengan riang. Suara cipratan air bercampur dengan tawa mereka, membuat suasana desa penuh keceriaan. Burung-burung kembali beterbangan, hinggap di dahan pohon sambil berkicau seakan ikut merayakan kehidupan baru.

Di ladang, rumput hijau tumbuh cepat. Kambing dan kerbau yang sebelumnya lemas kini tampak segar kembali. Mereka sibuk merumput, memamah hijau-hijauan yang sudah lama tidak mereka temukan. Ibu-ibu desa menjemur pakaian sambil bercengkerama, bercerita dengan wajah lega. “Puji Tuhan, doa kita dijawab,” kata salah seorang ibu sambil tersenyum lebar.

Riel berdiri di pematang, menatap sekeliling. Baginya, desa yang sempat muram dan kering itu kini tampak seperti surga kecil. Ia merasakan betul bagaimana hujan membawa kehidupan baru, bukan hanya untuk tanah, tapi juga untuk hati manusia. Ia menulis dalam catatannya: “Hidup memang penuh ujian, tapi seperti hujan yang selalu datang pada waktunya, pengharapan tak pernah sia-sia.”

Hari-hari berikutnya, desa semakin hidup. Petani kembali ramai dengan hasil bumi, anak-anak kembali berlarian tanpa khawatir debu, dan orang-orang mulai bernyanyi lagi saat bekerja. Semua orang menyadari satu hal: hujan bukan sekadar air dari langit, tetapi berkat yang membuat Sipolin hidup kembali.

Di gereja kecil di tengah desa, lonceng dipukul berulang-ulang sebagai tanda syukur. Orang-orang berdatangan, bukan karena ada misa khusus, melainkan karena hati mereka terdorong untuk mengucap terima kasih. Di desa sipolin jika ada pertemuan yang mengharuskan semua warga hadir, barulah lonceng gereja berbunyi sebagai tanda biar seluruh desa mendengarnya. Di sipolin umatnya hampir 99% lebih katolik. Mereka tahu, hujan bukan hanya peristiwa alam, tetapi juga anugerah yang menyatukan kembali manusia dengan alam dan Sang Pencipta.

Bagi Sipolin, hujan ini bukan sekadar air yang turun dari langit. Ia adalah jawaban doa, tanda bahwa kesetiaan dan kesabaran tidak pernah sia-sia. Lebih dari itu, hujan menjadi pengingat bahwa kehidupan tidak pernah berjalan sendirian. Ada saat-saat kering yang harus dilalui, ada kesulitan yang menguji, tetapi selalu ada harapan yang pada waktunya datang membawa kehidupan baru.

Saat sore menjelang, warga duduk bersama di bale-bale bambu, memandang sawah yang kembali hijau. Obrolan mereka sederhana, penuh tawa, penuh rasa syukur. Mereka bercerita bagaimana sulitnya bertahan selama kemarau, dan bagaimana luar biasanya sukacita ketika hujan akhirnya turun. Cerita itu bukan hanya menjadi kenangan, melainkan juga pelajaran hidup: bahwa setiap kekeringan, seberapa pun beratnya, pasti berakhir; dan setiap hujan selalu membawa awal yang baru.

Desa Sipolin kini kembali hidup, bukan hanya karena tanahnya kembali subur, tetapi karena hati warganya telah dipenuhi sukacita. Mereka belajar bahwa hujan yang dirindukan tidak pernah datang terlambat, melainkan selalu tepat waktu. Dan di setiap tetesnya, mereka menemukan alasan untuk terus berharap, berjuang, dan bersyukur.

Malam turun perlahan, meninggalkan aroma tanah basah yang masih terasa segar. Di langit, bintang-bintang kembali bersinar, menemani Sipolin yang telah kembali bernyawa. Cerita tentang hujan pertama itu akan terus hidup, tersimpan di hati setiap orang, menjadi warisan syukur yang tak akan pernah habis diceritakan.

Sebagai pesan cerpen ini: rencana kita tidak selalu indah dihadapan Tuhan, tetapi rencana Allah akan selalu indah untuk kita umatnya. Allah selalu mencobai kita dalam segala hal, tetapi kita sebagai umatnya jangan lupa terus berharap kepadanya sebagai sang pencipta dan pemberi segala kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *