Beranda / Artikel / Karya Saudara / Hutan Gita Sang Surya

Hutan Gita Sang Surya

(Fr. Mulyadi Pardosi,OFMCap)

Aku sedang menikmati senja di pojok sotoh kontrakan di kota ketika telepon itu berdering. Jam dinding sudah menunjukkan waktu untuk segera mandi, tapi mataku masih belum siap meninggalkan senja yang membawaku pada suasana desa. Entah mengapa senja itu selalu mengingatkanku pada indahnya masa kecilku di kampung. Aku memang sudah lama meninggalkan kampung halaman demi pekerjaan di kota. Kala itu, aku mengangkat telepon dan kudengar suara adikku pecah-pecah di antara isak.

“Kak, Ayah ditangkap polisi.”

Aku tersentak. “Apa? Kenapa?”

“Dia melawan perusahaan itu, Kak….tanah adat kita..” suara adikku semakin tenggelam oleh isak tangis.

“Perusahaan apa? Kok bisa? Apa yang terjadi?”

“Pulang Kak, aku takut……ma…m…mama juga udah nangis terus” tangis adikku makin pecah.

“Haaa? Sialannnn…”

Aku mematikan telepon. Wajah ayah yang selalu sabar dan peduli terhadap kami memenuhi pikiranku. Dadaku panas menyumpahi siapa saja yang membuat ayahku ditangkap polisi. Pikiranku semakin kacau tatkala dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Apakah aku harus meninggalkan profesi yang telah membuatku nyaman atau meninggalkannya demi mendapatkan keadilan di kampung halaman. Ibu dan adikku membutuhkan teman. Di samping itu pekerjaanku juga sudah cukup menjanjikan untuk masa depanku. Aku dilema. Aku termenung di tengah malam yang sepi. Semalaman aku tak bisa tenang. Ternyata wajah ayah tak bisa lepas dari pikiranku sepanjang malam itu. Maka, aku pun memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Aku menangis sejadi-jadinya meninggalkan kota yang membawaku pada kenyamanan.

Desa Bukit Indah menyambutku dengan sunyi. Jalanan kering berdebu dan pohon yang dulu rindang sudah dibabat habis. Kini pandanganku sudah bisa menembus ke kampung tetangga yang juga sudah digunduli perusahaan biadab itu. Padahal, dulu yang tampak dari jalanan hanya batang pohon yang rindang. Sekarang kampung tetangga pun sudah tampak jelas karena hutan yang habis dibabat. Hatiku semakin panas mendekati rumah kami yang tak lagi berdiri kokoh. Ternyata rumah kami diserang juga oleh para suruhan perusahaan yang membenci ayah. Aku turun di depan rumah ayah, tempat di mana ia berkuasa atas tanah yang dipenuhi pohon-pohon besar dan tempat aku merasakan pelukan hangat dari seorang bapak. Adikku memelukku erat, tubuhnya gemetar. Tangisnya tak terbendung dan ibu tak kuasa menahan tangisan histerisnya yang bercampur dengan amarah. Mulutku bungkam dan menyadari air mata sudah jatuh di pipiku.

“Kak, ayah sudah di penjara, mereka bilang ayah provokator.” Katanya lagi, “Tanah kita sudah mereka tanami pohon Kaliptus untuk pabrik mereka.”

Aku menatap adikku. Di sana ada rasa takut dan marah yang sama denganku. “kita harus melawan,” kataku.

“Kita akan berjuang agar Ayah bisa bebas.” Tambahku menghibur mereka.

            Malam itu kami yang menjadi korban ketidakadilan berkumpul di rumah ayah. Kebetulan ayah adalah ketua adat di kampung ini. Suara mereka pecah-pecah menceritakan kejadian yang memilukan itu: perusahaan besar datang dengan janji dan ancaman; hutan yang menjadi sumber hidup ditebang secara paksa; tanah masyarakat pun ditanami Kaliptus tanpa izin. “habis sudah harapanku panen besar karena lahanku sudah diporak-porandakan perusahaan itu,” ucap seorang ibu janda dengan histeris.

            Aku menunduk. Hatiku panas dan seperti diremas. aku mencoba mengajak mereka untuk mengadu kepada Pemerintah Setempat. Tapi mereka malah berkata, “suara kita rakyat kecil tak lagi didengar oleh pemerintah”. Ternyata, mereka sudah ditunggangi perusahaan dengan uang yang mengalir lancar ke rekening. Aku berpikir keras mencari cara agar suara kami didengar. Bukan hanya suara kami, tapi alam pun sudah memberi suara dengan kekeringan yang melanda kampung selama berbulan-bulan. Kampung ini sudah kering kerontang. Tak ada lagi sumber penghasilan dari tanah. Inilah letak ketidakadilan itu. Sepanjang malam itu kami berusaha mencari cara untuk keluar dari keadaan buruk ini. Lalu, entah bagaimana, aku tiba-tiba memiliki ide untuk menyebarkan situasi ini ke media sosial. Teman-teman awalnya skeptis dengan ide tersebut. Akan tetapi, “tak ada salahnya untuk mencoba” ucapku optimis.

Kami memotret hutan yang gundul, sungai yang mengering, wajah ibu-ibu yang menangis, anak-anak yang tertekan, dan lahan masyarakat yang dikuasai oleh perusahaan. Kami menulis cerita tentang ayah, tentang tanah adat, dan situasi mental masyarakat. Kami mengunggahnya ke Facebook, Instagram, dan Twitter. Kami tag media, organisasi dan siapa saja yang kami pikir memiliki pengaruh. Bahkan, semua kenalanku mulai dari kecil sampai dewasa ini pun kuminta untuk menyebarkan situasi ini.

Beberapa hari pertama hanya ada like dan komentar singkat. Tapi, setelah berminggu-minggu mulai banyak orang yang membagikan unggahan kami di media sosial. Semakin banyak like dan komentar. Itu menandakan bahwa sudah banyak orang yang menyaksikan penderitaan kami. Sialnya, para pejabat itu hanya diam saja. Tak ada respon sedikit pun untuk membangkitkan harapan kami. Bukan like dan komentar saja yang kami butuhkan. Kami butuh mereka hadir memberi bantuan nyata, khususnya para pejabat-pejabat negara. Kala itu, saya hampir frustasi. “Tampaknya usaha ini pun tidak membuahkan hasil” ucapku dengan nada kecewa. Aku memandang Gereja yang berdiri kokoh di perbukitan. “Tuhan, jika Engkau memang ada tolonglah kami. Kami sangat membutuhkan pertolongan-Mu” ucapku lirih.

Di suatu pagi yang sepi sorak-sorai burung, dua orang lelaki berjubah cokelat datang ke kampung. Wajahnya teduh, senyumnya hangat dan penampilannya sederhana. Aku tidak tahu siapa mereka. Namun, auranya menunjukkan persaudaraan. Aku mendekat dan menyapa mereka. Mereka memperkenalkan diri sebagai Pastor Kapusin. Terdengar aneh di telingaku, tapi tak membuatku ragu untuk menyambutnya.

“Kami membaca cerita tentang kalian di media sosial,” katanya. “boleh kami tahu apa yang sebenarnya terjadi? Barangkali kami bisa membantu,” tambahnya.

Jantungku berdebar. Darahku mengalir kencang. Rasanya aku seperti melihat seberkas cahaya di tengah kegelapan. Spontan aku langsung menceritakan semua kejadiannya dengan baik. Sesekali cerita ditambahi oleh teman-teman yang juga memiliki asa yang sama denganku. Mereka akhirnya mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tampak simpatik. 

 Hal yang paling membuatku terkejut bercampur bahagia, mereka membawa utusan dari kami untuk bercerita di tengah forum rapat mereka. Mereka menyebutnya Kapitel Kapusin. Teman-teman sekampung spontan mengutusku sebagai salah satu utusan dengan alasan keturunan ketua adat. Ya, ini adalah kesempatan yang sangat berharga. Seminggu kemudian kami hadir di sebuah bangunan yang dikelilingi pohon-pohon rindang. Katanya itu adalah rumah pusat mereka. Aku yang diutus untuk ikut dalam forum tersebut melihat ratusan pria berjubah cokelat dalam tatapan yang penuh kasih. Mereka mendengar secara saksama dan penuh simpati. “Ya Tuhan, siapa mereka ini sebenarnya. Apakah mereka ini utusanmu?” ucapku dalam hati dengan perasaan berdebar-debar.

            Para Pastor Kapusin memutuskan untuk membantu kami, khusunya mengeluarkan ayah dari penjara. Tak berselang lama setelah pembicaraan dalam forum, dua Pastor Kapusin itu selalu rutin datang ke kampung kami. Namanya adalah Pastor Tobok dan Pastor Adi. Mereka diutus secara khusus untuk mengayomi kami dan menjadi perantara antara Kapusin dengan Masyarakat adat. Tindakan mereka sangat nyata. Dalam bulan itu juga ayah berhasil dikeluarkan dari penjara setelah melalui proses hukum yang sangat dramatis. Aku terkejut, “Ternyata ada juga pastor yang ahli hukum”. Aku berpikir pastor itu hanya berkotbah saja seperti pendeta di Gerejaku.

Setelah ayah bebas, kami pun lanjut untuk memperjuangkan kembali lahan yang telah mereka rampas. Aku melihat perubahan itu dengan mata kepalaku sendiri. Aparat yang sebelumnya menolak mulai membuka pintu. Proses hukum semakin mulai transparan. Tekanan publik semakin besar, tapi ternyata banyak juga yang mendukung perusahaan tersebut. Mereka tidak memperdulikan nasib kami. Mereka hanya melihat kerugian apabila perusahaan dituntut tutup. Padahal, kami yang merasakan penderitaan secara langsung sudah menjerit-jerit minta tolong. Begitulah dunia ini selalu dualistik. Ada yang baik dan ada yang jahat. Ada yang jujur dan ada yang pembohong. Ada yang bahagia dan ada yang sengsara. Namun, semua ini kuserahkan pada kuasa Yang Ilahi. Walaupun kemarin-kemarin aku jarang beribadah dan berdoa, kini kehadiran Pastor Kapusin itu telah merubah keimananku.

Pagi-pagi buta, aku dan ayah dijemput oleh Pastor Tobok. Kami dibawa ke pusat kota untuk menghadiri sidang hukum tuntutan perampasan lahan di Pengadilan Tinggi. Dalam perjalanan aku menangis.

“Pastor, ke..ke..kenapa kalian baik hati membantu kami?” tanyaku dengan terbata-bata karena haru yang menggetarkan.

“Ini adalah kewajiban kami Rudi. Kami ini kan Pastor Kapusin yang terkenal dekat dengan alam ciptaan. Spiritualitas kami menuntut untuk menjaga keutuhan ciptaan.”

Oh ido Pastor, mauliate godang ma. Hamu do tutu suru-suruan ni Debata i” ucap ayah menimpali dengan suara gagahnya. Ayah berterima kasih kepada pastor dan mengatakan bahwa merekalah sungguh-sungguh utusan Tuhan.

Persidangan berlangsung dengan panas. Pihak perusahaan tampak arogan sedangkan Pastor ahli hukum itu berargumen dengan penuh kasih, namun tepat. Sekali lagi aku terkagum-kagum dengan Pastor Kapusin. Sialnya, kali ini kami kalah di Persidangan Tinggi. Aku tak menyangka bahwa kami masih kalah dengan bukti-bukti yang sudah jelas. Aku curiga pihak Pengadilan telah menerima bayaran dari pihak Perusahaan. Hari itu kami pulang dengan hati sedih. Para Pastor itu tampak kecewa namun tetap berusaha menghibur kami.

“Sepertinya kita tak kuat melawan mereka ya Pastor!” gumamku.

“Jangan takut Rudi…., kita akan naik banding lagi kok”

“Tapi kan butuh dana besar Pastor?

“Tenang aja, Tuhan akan memberi kita dengan caranya” katanya dengan nada meyakinkan. Sungguh ungkapan Pastor Fransiskus yang menjadi ahli hukum itu membuatku damai. Kata-katanya penuh dengan harapan.

Satu bulan kemudian, kami hadir di pengadilan yang lebih tinggi, yakni Mahkamah Agung. Kali ini Pastor Kapusin yang hadir semakin ramai. Mereka betul-betul ingin membantu kami. Sidang berlangsung dengan menegangkan. Saya pun tak pernah melihat suasana sepanas ini sebelumnya. Aku membantu Pastor ahli hukum itu dengan doa singkat yang kudapatkan ketika Sekolah Minggu. Sore itu, Hakim mengetuk palu dan memutuskan bahwa lahan yang telah dirampas oleh Perusahaan Pulp harus dikembalikan kepada masyarakat adat. Aku tercengang, tanah adat kami akhirnya kembali, tapi belum semua. Kendati demikian aku sudah merasa sangat bahagia. kami pulang membawa kabar gembira bagi semua masyarakat Desa Bukit Indah. Ternyata usaha tidak akan sia-sia.

            Meskipun tanah adat kami belum seluruhnya kembali, tapi apa yang kami dapatkan berkat bantuan Pastor Kapusin sudah membangkitkan harapan kami. Dengan mata kepalaku sendiri kulihat masyarakat desaku menangis secara massal. Ada ungkapan terima kasih yang tak dapat mereka ucapkan. Mereka berlomba-lomba untuk mencium tangan Pastor Tobok dan Pastor Adi serta Pastor ahli hukum itu. Anehnya, Para Pastor Kapusin belum meninggalkan kami. Mereka masih mengajak kami untuk menanam pohon di lahan tersebut. Semua warga Desa Bukit Indah menyambutnya dengan antusias. Pastor Kapusin mengatakan itu adalah seruan Gita Sang Surya bagi kita. Aku tak mengerti apa itu Gita Sang Surya, tetapi aku mendengar Pastor itu menjelaskan bahwa Gita Sang Surya adalah Pujian Kepada Tuhan melalui seluruh ciptaan. Akhirnya aku mengerti mengapa mereka ini terkenal dengan kedekatannya pada alam. Mereka sungguh-sungguh bekerja secara nyata “Memang benar mereka ini adalah utusan Tuhan untuk menolong kita,” sorak warga.

            Hari-hari berikutnya kami semakin dekat dengan Pastor-Pastor Kapusin. Mereka memberi kami bantuan makanan dan memberi juga bimbingan rohani untuk menguatkan mental kami dalam menhadapai hari-hari yang akan datang. Walaupun penduduk desa tak banyak yang beragama katolik, tapi banyak juga masyarakat yang senang dengan kegiatan rohani tersebut. Aku sendiri pun termasuk di dalamnya. Mereka telah menanamkan arti beriman kepada kami. Mereka telah memulihkan jiwa yang putus asa menjadi jiwa yang penuh harapan.

            Hari-hari berikutnya kami semakin cinta pada alam. Kami menanam banyak pohon. Anak-anak, ibu-ibu, para pemuda dan Para Kapusin melakukan aksi tanam pohon sekali sebulan. Kami memberi nama pada setiap pohon sebagai tanda bahwa kami pernah berjuang demi keutuhan hutan adat. Di sela-sela penanaman itu, kutatap wajah ayah yang penuh kelelahan. Wajahnya kembali bersinar, bibirnya terkatup tak mampu berkata-kata melihat semua peristiwa ini.

            Di sisi lain, sebenarnya aku belum sanggup meninggalkan pekerjaanku di kota. Hidup nyaman dalam keramaian adalah hal yang masih kurindukan. Tapi, situasi ini menuntutku untuk melupakan itu. Aku merasa terpanggil untuk meneruskan tanggung jawab ayah sebagai ketua adat dan meneruskan perjuangan untuk menjaga hutan yang telah kami perjuangkan selama ini. Ya, aku memutuskan untuk tinggal di kampung. Aku ikhlas akan kenyamanan itu. Aku percaya akan menemukan yang lebih baik bila tinggal di Desa Bukit Indah tercinta ini.

Kini, aku melihat pohon-pohon itu tumbuh. Daun-daunnya hijau, akarnya mengikat tanah leluhur, mata air mulai muncul lagi, dan kicauan burung mulai terdengar lagi. Aku tahu perjuangan belum selesai. Perusahaan masih ada yang artinya ancaman pun masih ada. Namun, aku tahu bahwa harapan itu masih ada kalau kami bergerak bersama. Aku memandang bukit hijau itu dengan dada berdebar. Di dalam hati aku menggumamkan doa syukur Gita Sang Surya yang diajarkan oleh Pastor. Gita Sang Surya adalah nyanyian pujian kepada Sang Pencipta lewat ciptaan-Nya. Betapa baiknya Tuhan mengutus para Pastor Kapusin untuk menolong kami dengan spiritualitasnya yang dekat dengan seluruh ciptaan, orang kecil dan yang tertindas. Aku bertanya pada semesta. Mengapa hanya Pastor Kapusin yang nyata hadir bersama kami? Di manakah pejabat negara kami dan sesama kami yang lain?

Para Pastor Kapusin adalah insan-insan yang membawa harapan bagi kami dan terutama bagi lingkungan hidup. Sebagai ungkapan rasa syukur, hutan yang mulai bertumbuh itu pun kami beri nama Hutan Gita Sang Surya. Lewat peristiwa ini masyarakat desa kami semakin solid dalam hidup bersama.

Pesan Cerita:   Jangan pernah takut untuk membela keutuhan lingkungan walaupun harus   melawan institusi yang besar!

                        Perlakukanlah alam dengan hormat!

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *