Kemarin seorang anak kecil bertanya kepada ibunya,
“Ma, kenapa hujan sekarang sering marah?”
Ibunya diam.
Sebab bagaimana mungkin ia menjelaskan
bahwa orang-orang dewasa
telah menebang terlalu banyak doa dari hutan?
Di televisi, seorang pejabat tersenyum
di depan banjir setinggi dada.
Ia berkata,
“Keadaan masih terkendali.”
Sementara seorang bapak
menggendong lemari yang tinggal separuh,
dan seorang ibu mencari ijazah anaknya
di antara air bercampur lumpur dan solar.
Aneh sekali dunia ini.
Kita menyebut pembangunan sebagai kemajuan,
meski burung-burung kehilangan alamat pulang.
Kita menyebut tambang sebagai harapan,
meski gunung dibelah seperti roti murah di meja makan.
Kita menyebut efisiensi sebagai masa depan,
meski manusia sekarang lebih sering berbicara
kepada layar
daripada kepada langit.
Mungkin bumi sebenarnya tidak marah.
Ia hanya lelah
menjadi rumah bagi makhluk
yang selalu ingin memiliki segalanya.
Lihatlah kota-kota itu.
Lampunya megah,
tetapi orang-orang di dalamnya
tidur dengan kepala penuh cemas.
Mereka membeli udara dari pendingin ruangan,
membeli suara ombak dari aplikasi relaksasi,
membeli senyum dari media sosial,
lalu bertanya mengapa hidup terasa kosong.
Lucu, ya?
Manusia modern berhasil pergi ke luar angkasa,
tetapi gagal duduk lima menit
tanpa menyentuh telepon genggamnya.
Kita menyelamatkan foto makanan
lebih cepat
daripada menyelamatkan makanan itu sendiri
dari orang yang kelaparan.
Kita menanam pohon saat kampanye,
lalu menebangnya setelah menjabat.
Kita marah kepada sampah di sungai,
padahal tangan kita sendiri
yang melemparkannya diam-diam
saat tidak ada yang melihat.
Dan barangkali yang paling menyedihkan bukan itu.
Yang paling menyedihkan adalah:
bumi sedang sekarat,
tetapi manusia masih sempat bertengkar
tentang siapa yang paling benar di internet.
Seorang anak muda menulis
“save the earth”
dengan jari yang ‘memesan’ barang kelima bulan ini.
Seorang religius berkhotbah tentang kesederhanaan
dengan suara dari mikrofon mahal
di ruangan berpendingin udara.
Seorang aktivis berteriak tentang keadilan
sambil diam terhadap luka
yang dibuatnya sendiri pada orang terdekat.
Dan aku?
Aku juga bagian dari masalah itu.
Aku menulis puisi tentang bumi
di atas layar
yang mungkin dibuat dari logam
hasil pengerukan tanah yang sama.
Betapa mudah menjadi manusia:
cukup merasa peduli,
lalu mengira itu sudah menyelamatkan dunia.
Malam ini bumi belum kiamat.
Lampu kota masih menyala.
Kafe masih penuh.
Musik masih diputar keras-keras
agar manusia tidak mendengar
suara hatinya sendiri.
Tetapi entah kenapa,
angin belakangan ini terdengar seperti seseorang
yang sedang mencoba bertahan hidup.





