Beranda / Uncategorized / Monster Tanah- Sdr. Martinus Manullang, OFMCap

Monster Tanah- Sdr. Martinus Manullang, OFMCap

Aku bukan pahlawan di medan perang. Aku hanya seorang perjaka yang menulis sejarah di tanah kelahiran. Aku menggurat bukan saja dengan pena. Tetesan darah menjadi tanda guratan kisahku. Tanah leluhur menjadi kertas putih tempatku menggurat kaligrafi pilu, mencoba berjuang mengais keadilan di tanah sendiri. Memperjuangkan keadilan atas ‘rumah’ kediaman bersama alasan utamaku melanjutkan guratan kisah di tanah leluhur. Tanah yang menjadi sahabat karib sejak nenek moyang kami. Bahkan sampai mereka pergi, tanah memeluk jasad mereka. Romansa persahabatan yang luar biasa antara dua realitas, antara manusia dan alam. Saling memberi, bukan saling memakan, itulah prinsip mereka. Sangat romantis.

Ya, Persahabatan yang semula romantis itu dirusak oleh yang kami sebut ‘monster tanah’ yang biadab. Mereka bukan hanya merusak pertalian darah, namun mengisi cawan dengan darah. Mereka bukan kerabat, apalagi saudara, mereka ‘monster’ yang harus dimusnahkan. Masih terngiang dalam ingatanku peristiwa subuh itu, bukti keganasan para ‘monster’ ini. Tangan-tangan kejam yang dibalut kerakusan. Menusuk malam yang rabun dengan mata pisau keserakahan.

               Dalam gelapnya malam, hembusan angin menyeruak dari celah-celah dinding bambu. Udara kian kencang berhembus karena langit mendung. Di luar, sesekali tampak percikan cahaya bergandengan dengan suara guntur. Hamparan pohon Ekaliptus, tak jelas dalam pandangan. Malam kian hening dan menakutkan. Sampai-sampai, Turbo bersembunyi ketakutan di bawah meja di depan teras rumah. Seakan sudah menduga sesuatu yang tak baik akan terjadi. Jarak rumah yang jauh dari pemukiman, menambah keheningan malam. Kesunyian malam mendekap tubuh rentah yang sedang was-was. Sesekali dari balik tirai jendela, dia mengintip ke luar rumah. “Peristiwa apa yang akan terjadi malam ini.” mungkin pikirnya cemas. Pikiran liar berkecamuk mengisi misteri kegelapan malam. Malam itu bapak tampak sangat gelisah.

               Merasa situasi tenang, dia beralih ke kamar tidur. Ditariknya selimut sampai melewati dada. Aku hanya dapat melihatnya, tanpa sepata kata keluar dari mulut. Kuhampiri dia dan tidur satu selimut dengannya. Suara benturan air mulai terdengar dari atap rumah. Bapak gelisah seolah benturan itu terdengar sangat keras di telinganya. Tangannya mulai melepas dekapan dari tubuhku. Disingkapkannya selimut dan mengeluarkan kaki hendak berdiri, mengintip dari tirai jendela, lalu kembali tidur. Untuk kesekian kalinya, dia melakukan hal yang sama. Aku tetap diam, tidak tahu apa-apa. Hingga subuh. Alam membawa kabar melalui teriakan sahabatnya.

               Gonggongan Turbo terdengar jelas di telinga. Suaranya semakin besar, seperti ada yang mendekatinya. Semakin besar, tiba-tiba hening. Suara pukulan keras, seperti balok kayu yang dibenturkan ke permukaan yang tidak terlalu keras. Gonggongan lenyap dalam keheningan malam. Suara gedoran keras terdengar dari depan. Bapak tersentak, terbangun, buru-buru menuju dapur mengambil sebilah parang yang sore kemarin diasahnya. Aku mengintip dari kamar tidur, ketakutan tak berani bergerak. Diletakkannya parang itu tepat di samping pintu. Bergetar, tangannya hendak membuka pintu. Belum sempat mengambil kunci dari sakunya, pintu sudah menganga karena didobrak dari luar. Bapak terlempar dan rebah di lantai. Bapak menjerit keras. Aku terduduk. Dengan segera empat orang dewasa bertopeng masuk ke dalam rumah. Seorang dengan cepat menendang bapak yang hendak bangkit. Yang seorang lagi memukul di bagian wajah saat hendak berdiri untuk kedua kali, hingga darah menjulur ke bagian tubuh lain. Dua orang lagi mengikat tangan dan mendekap mulut bapak menggunakan gulungan kain. Dari balik tirai, samar-samar kulihat peristiwa itu. Wajahku pucat, badan bergetar. Ketakutan, sampai aku  membisu. Seorang yang menendang bapak sempat membuka tirai kamar dan melihatku. Berbadan besar, hingga bayangannya menutupi seluruh bagian dalam kamar. Aku menutup diri dengan selimut. Terdiam, takut. Kegaduhan berhenti. Mereka membawa bapak dengan paksa melewati celah-celah hujan. Malam yang hening semakin menakutkan. Air mata membasahi selimut. Hingga mentari terbit aku menangis ketakutan.

               Paman datang. Dilihatnya Turbo yang sudah mati tergeletak di depan teras rumah. Pintu depan menganga. Dengan suara keras dan nada marah, dia memanggil bapak, “Bang…bang…”. Dibukanya tirai kamar. Dilihatnya aku tersedu-sedu. Dipeluknya badanku yang lemas dan bergetar ketakutan. Tak ada kata, hanya desahan nafas yang tak beraturan terdengar jelas. Paman membawaku ke rumahnya, lalu bergegas pergi menjumpai Kepala Adat. Bibi memelukku sambil menangis. “Gak papa, ya Mang, jangan takut. Ada kami di sini,” sambil mengangkat daguku yang semula tertunduk, bibi berkata dengan lembut, mencoba untuk menenangkanku.

               Hampir genap sepekan, bapak belum juga kembali. Belum ada informasi sejak paman memberitahu peristiwa penculikan itu kepada Kepala Adat. Pihak berwajib tampak lambat dalam menindaklanjuti peristiwa ini. Dalam kekhawatiran ini, tersebar kabar kembali terjadi penculikan di tempat lain. Masyarakat berkumpul di rumah Kepala Adat untuk membahas peristiwa ini. Berbeda dengan peristiwa bapak, penculikan ini terjadi secara terang-terangan. Pak Horas, yang tinggal di seberang bukit dibawa paksa oleh beberapa orang tidak dikenal. Pak Horas adalah sosok yang pemberani. Dia sangat frontal menolak para ‘monster tanah’ yang ingin merebut tanah leluhur kami. Peristiwa ini terjadi saat ia sedang bekerja di ladangnya. Didugai, penangkapan ini merupakan puncak dari rangkaian usaha yang dilakukan oleh para mafia tanah. Sebelumnya, beberapa kali keluarga Pak Horas mendapat intimidasi dari pihak yang tak bermoral ini.

               Peristiwa penculikan ini tersiar setelah ibu Meranti, istri Pak Horas melaporkan kejadian itu kepada kepala adat, bahwa suaminya tidak kembali sejak pagi kemarin. “Biasanya, bapak pulang sekitar jam enam sore, namun sampai berjam-jam berlalu, bahkan sampai saat ini dia belum juga kembali. Saya sudah mencoba mencari ke ladang, namun tidak mendapatinya di sana. Saya mendapat informasi dari Pak Juan, yang ladangnya bersebelahan dengan ladang kami bahwa dia melihat beberapa orang turun dari mobil sedan, tepat di tepi jalan di depan ladang kami sebelum peristiwa itu terjadi,” ibu Meranti menjelaskan. “Sekitar jam delapan pagi, saya masih berjumpa dengan Pak Horas. Dia datang mengendarai sepeda motor GL, yang biasa dikendarainya. Namun, sekitar jam sepuluh pagi, ada mobil sedan berhenti, di depan ladang Pak Horas. Saat itu, saya hendak pergi mengambil pupuk ke rumah, sehingga tidak terlalu memperhatikan. Saya hanya melihat beberapa orang berbadan tegap keluar dari dalam mobil. Setelah saya kembali, saya tidak melihat mobil itu lagi,” penjelasan Pak Juanta ketika ditanyai oleh Kepala Adat.

               Mendengar berita itu, masyarakat semakin murka dan menuntut agar banyak peristiwa itu ditindaklanjuti. “Bapak Kepala Adat, kejadian ini tidak boleh didiamkan. Mereka sudah keterlaluan. Beberapa hari lalu satu dari antara kita ditangkap secara paksa dan kejam, dan sampai saat ini belum diketahui jejaknya. Sekarang dengan terang-terangan mereka membawa paksa warga kita. Besok, lusa, saya atau bapak-bapak yang lain juga akan bernasib sama. Kita harus menghentikan para ‘monster tanah’ ini.” ungkap Pak Berkat. Seorang bapak, yang tanahnya lebih banyak diambil oleh para mafia tanah. “Sabar bapak-ibu, kita tidak boleh bertindak gegabah mengenai persoalan ini. Peristiwa ini sudah saya laporkan kepada pihak berwajib. Kita tunggu saja hasilnya. Kalau masih tidak ada tindakan cepat dari mereka, maka kita yang akan turun tangan,” ungkap Kepala Adat menenangkan masyarakat.

               Tiga hari berlalu. Aku duduk di kursi di depan teras rumah paman. Sudah sembilan hari lamanya aku tidak masuk sekolah karena trauma dengan kejadian yang berlalu. Di seberang jalan, dari kejauhan aku melihat banyak orang dengan pakaian berkebun membawa cangkul, guris, parang, dan perlengkapan bertani lainnya. Mereka beramai-ramai berjalan menuju rumah paman sambil menyanyikan lagu nasional. “Tanah airku tidak kulupakan, kan terkenang selama hidupku,…” salah seorang memimpin menggunakan Toa. Beberapa yang lain membentangkan baliho bertuliskan: Ini tanah kami, biarkan kami mengolahnya, pergi dari sini.” “Pak Monang!” panggil bang Olo saat tiba di depan rumah paman. Bang Olo merupakan seorang mahasiswa Hukum, yang kuliah di pulau Jawa, anak pertama dari Pak Horas, yang tiga hari lalu diculik. “Ayo, Pak. Kita berangkat,” seru bang Olo mengajak paman berkumpul menuju rumah Kepala Adat. Ternyata masyarakat sudah bersepakat untuk mengadakan demonstrasi ke markas para monster tanah. Demonstrasi ini sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, karena melibatkan beberapa kampung.

               Pagi itu semua masyarakat berkumpul di rumah Kepala Adat untuk persiapan demonstrasi. “Kita tidak boleh gegabah, jangan ada tindakan anarkis. Kita ke sana untuk berdamai dan meminta keadilan. Saling memperhatikan satu sama lain, jangan sampai ada yang tercerai dari kelompok karena akan ada tiga kampung lagi yang akan bergabung dengan kita” ucap Kepala Adat dalam orasinya. Tiga mobil truk besar dan dua mobil L300 penuh dengan masyarakat kampung.

               Tiba di depan markas para monster tanah, kelompok dari kampung-kampung lain sudah berkumpul. Markas ‘monster tanah,’ sebuah perusahaan yang bergerak dalam penyediaan bahan mentah kayu Ekaliptus untuk pembuatan kertas. Pagar besi tertutup rapat. Puluhan mobil truk besar berbaris di depan gedung perusahaan. Dari luar pagar tampak beberapa orang lalu-lalang di dalam perusahaan. Penjagaan sangat ketat. Beberapa orang berdiri tepat di bagian depan gedung sambil menatap dengan tajam kerumunan yang berkumpul. Miris, beberapa dari mereka mengenakan seragam dengan senjata lengkap. Seragam loreng yang dulu kucita-citakan.

               Sebelum berorasi masyarakat berdoa bersama. Kemudian, Bang Olo memulai orasinya, “Saudara-saudari sekalian, rakyat yang tertindas, para pejuang keadilan! Kita menginjakkan kaki di sini bukan untuk ribut, bukan ingin perang, tetapi memperjuangkan keadilan. Tanah leluhur kita raib di tangan orang tak bermoral! Tanah yang seharusnya sumber kehidupan kita, tempat kita menanam, tempat kita membangun, tempat anak cucu kita bermain, telah dirampas oleh mafia tanah. Mafia tidak bekerja sendiri mereka bersembunyi dibalik badan mereka yang duduk di kursi pemerintahan, mereka yang berseragam lengkap, yang sedang menatap kita penuh amarah. Semua mereka lakukan hanya untuk istri dan anak-anak mereka yang serakah, demi perut mereka tanpa melihat jeritan rakyat jelata. Dengarlah saudara-saudari, apakah kita hanya diam dengan penindasan ini. apakah kita mau menjadi budak di tanah sendiri? Hari ini kita bersuara: tanah bukan milik mafia, tanah adalah hak rakyat, anugerah Tuhan kepada nenek moyang, warisan kita. Hari ini, kita menuntut keadilan: usir para mafia tanah, adili para pejabat dan aparat yang bersekongkol, kembalikan tanah yang telah direbut para kapitalis…”

               Belum selesai berorasi, beberapa orang dari kerumunan melempari batu ke dalam gedung sambil berteriak, “Sampah…sampah kalian semua.” Bang Olo terkejut. “Siapa mereka? Mengapa kita bertambah banyak?” salah seorang berkata kepada yang lain. “Tenang, tenang saudara, jangan anarkis, hentikan lemparan,” teriak Bang Olo. Aparat dan penjaga keamanan mereka mulai mode siaga, siap menyerang. “Serang…” terdengar suara, entah dari mana asalnya. Masyarakat tersulut emosi, mulai menyerang dan merusak fasilitas yang ada di luar gedung. Lemparan batu terus menghujani para petugas keamanan mereka. Beberapa orang menerobos masuk, membuka gerbang dengan paksa. Pak adi yang belum siap menyerang, terinjak oleh kerumunan yang berdesakan. Pak Tongam, terkena sayatan besi gerbang yang patah, hingga melukai wajah di bagian hidung hingga ke telinga, saat berdesak-desakan memasuki gedung. “Tenang…tenang,” teriak Bang Olo, namun tak seorangpun menghiraukan. Saling serang tidak dapat dihindarkan.

               Orang-orang dari pihak seberang menyerang menggunakan balok kayu, besi, dan batu. Monang yang hendak berlari menerjang seorang penjaga terkena pukulan balok kayu di bagian kepala, darah muncrat hingga mengenai orang-orang di sampingnya. Tangan kanan Anto patah saat menahan benturan besi panjang yang diarahkan ke kepalanya. Kerusuhan tak dapat terhindarkan. Suasana semakin gaduh. Demo yang semula damai menjadi ricuh dan anarkis. Semua orang saling baku hantam dengan batu, kayu, dan besi. Teriakan semakin keras. Tiba-tiba, sirine mobil polisi mulai terdengar. Semua orang berlarian meninggalkan gedung mencari perlindungan.

               Darah bercucuran dimana-mana, bahkan sampai merenggut nyawa. Pak Adi menghentikan perjuangannya sampai di sini dan menghadap sang Pencipta dengan meninggalkan sejarah romansa dengan ciptaan-Nya. Peristiwa ini memberi luka mendalam bagi masyarakat. Darah yang bercucuran dan nyawa yang terenggut tanda sebuah perjuangan dan keganasan hawa nafsu.

               Satu kalender berlalu dengan banyak drama pedih antara masyarakat dengan para mafia tanah. Di depan khalayak ramai bapak berkisah tentang nasibnya di balik jeruji besi. “Sejak Era Reformasi sudah banyak pihak yang ingin menguasai kita. Sebelum para ‘monster tanah’ yang sekarang sebelumnya berkeliaran mafia yang serupa dengan mereka. Iming-iming kesejahteraan digunakan untuk mengambil harta kita. Penderitaan tidak hanya pada masa ‘si bontar mata’. Penjajahan masih hidup berdampingan dengan kita. Kita tidak dijajah oleh tangan-tangan asing, tetapi tangan yang menyalam kita dengan senyuman, mereka yang ‘serumah’ dengan kita,” sambutan bapak, selesai kegiatan penanaman pohon di daerah sekitar jajahan para ‘monster tanah’.

               “Terimakasih, pastor karena telah mendengarkan keluh kesah dan memberi semangat kepada hati yang mulai menyerah ini,” ucap bapak kepada seorang Imam Kapusin yang telah berjasa dalam kegiatan penanaman pohon dan selama setahun ini. Ya. Ketika bapak ditahan di penjara, Pastor Kapusin ini sering kesana untuk merayakan Misa bersama para tahanan, sehingga banyak mengetahui penderitaan bapak. “Pastor inilah yang menguatkan saya untuk tetap berjuang, kendati dengan tangisan,” tambah bapak memuji Pastor yang mengenakan jubah coklat dengan tali putih di pinggangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *