Beranda / News / Spiritualitas / Dimensi Intelektual: Belajar berpikir dengan hati

Dimensi Intelektual: Belajar berpikir dengan hati

(RFO OFMCap atau Ratio Formationis Ordinis; pedoman pendidikan Kapusin)

Dalam hidup Kapusin, intelektual bukan pertama-tama gelar, kepandai atau merangkum sebuah argumen yang rapi. Intelektual bukan sekedar menguasai konsep atau teori yang luas. Intelektual sejati adalah ketika pengetahuan itu menyentuh hidup konkret, dan lebih jauh mampu mengubah cara kuta bersikap, berelasi serta melayani. Maka, belajar berpikir dengan hati berarti membiarkan apa yang kita pelajari membentuk cara kita bersikap serta berjalan bersama dalam semangat persaudaraan.

            “Berpikir dengan hati” berarti belajar itu bukan untuk merasa lebih unggul, tetapi agar semakin rendah hati. Jadi ilmu yang tidak melahirkan kerendahan hati dan tidak membawa kasih dalam persaudaraan, belum sungguh menjadi ilmu dalam pandangan Fransiskan.

            Kapusin tidak menempatkan intelektualitas sebagai kepintaran akademik semata, atau sarana untuk menonjolkan diri. Intelektual dalam semangat kapusin adalah jalan untuk semakin merendahkan diri di hadapan Allah dan sesama. Karena itu belajar bagi seorang kapusin selalu diarahkan pada pembentukan hati: agar apa yang kita ketahui tidak berhenti di pikiran, tetap menjelma dalam kesederhanaan hidup serta kepekaan relasi

 Belajar bagaimana Belajar

            Bukan apa yang pertama-tama sedang di pelajari, melainkan tentang  sikap bati kita ketika belajar. Belajar bukan sekedar mengumpulkan pengetahuan, atau memenuhi tuntutan akademik, tetapi menyentuh kesediaan hati untuk dibentuk.  Perlu kesadaran dan keterbukaan dari dalam diri akan keterbatasan kita, dan keterbatasan itu bukanlah sesuatu yang memalukan. Justru karena kita mengenali kelemahan dan kekurangan, maka kita harus menanamkan dalam diri niat untuk belajar. Belajar untuk belajar. Belajar bukan demi merasa mampu, tetapi karena kita sadar bahwa kita belum selesai dibentuk. Kebijaksanaan hidup mengundang kita untuk menerima kemampuan dan keterbatasan kita, dan bahkan menyadari bahwa kesalahan-kesalahan adalah bagian dari perjalanan  dalam belajar. Dari sana kita belajar untuk tidak cepat menyerah, dan tidak takut gagal. Jadi belajar bagaimana belajar itu sebenarnya belajar menjadi murid seumur hidup.

Intuisi, Pengalaman, Afektivitas dan Relasi

            Tradisi dalam Fransiskan selalu mencoba untuk mengatasi dualisme antara hidup dan studi, antara apa yang dipikirkan dan apa yang dijalani. Manusia tidak dapat tergantung melalui rasio semata; pengalaman hidup sehari-hari yang diolah dengan baik dapat menjadi pengetahuan; melalui pengalaman itu, pengetahuan tidak berhenti sebagai informasi, tetapi perlahan berubah menjadi kebijaksanaan, berkat pancaindra yang memperkenalkan kita ke dalam dunia. Dalam RFO, ditegaskan bahwa, dalam tradisi Fransiskan, manusia bukan hanya hewan yang berakal budi, melainkna juga ciptaan yang berkeinginan.  keinginan tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi selalu terhubung dengan Allah. Jadi intuisi yang dimaksud ialah bukan sekedar perasan sesaat, melainkan intuisi yang dibentuk oleh hidup doa, serta pengalaman hidup.

            Pengalaman ialah mencakup seluruh dinamika hidup yang kita jalani: apa yang kita alami, baik di komunitas – kampus, baik kegagalan ataupun pencapaian; semuanya itu adalah ruang untuk belajar. Tidak ada pengalaman yang sia-sia jika diolah dengan hati yang terbuka. Afektivitas ialah sesuatu yang menyangkut ranah perasaan, kematangan emosi, sikap terhadap tugas dan tanggungjawab. Afektivitas yang matang membantu kita untuk tidak reaktif, namun reflektif. Relasi ialah hubungan dengan orang lain yang ditandai dengan perjumpaan nyata dengan sesama. Kebenaran sering kali lahir dari sebuah perjumpaan. Berpikir dengan hati berarti membiarkan relasi membentuk cara kita memahami kebenaran dan menjalani panggilan kita sebagai saudara.

Mengubah Dunia Secara Bersama Melalui Kemiskinan Kita

            Kita tidak dipanggil untuk menjadi pahlawan intelektual yang berdiri sendiri, tetapi menjadi saudara yang berpikir dan berjalan bersama. Dalam semangat Kapusin, pengetahuan tidak pernah dimaksudkan untuk membangun jarak, tetapi untuk menumbuhkan persaudaraan. Kaum miskin menjadi tempat kebijaksanaan, untuk Fransiskus. Ia menyebut “Mereka sebagai guru kita”. Dari mereka kita belajar ketergantungan pada Allah, tentang kesederhanaan, tentang makna hidup. Kemiskinan kita, yaitu keterbatasan kemampuan dan pengetahuan, bukan menjadi penghalang, namun justru menjadi kekuatan. Dengan mengakui kemiskinan itu, kita berhenti mengandalkan diri sendiri, dan mulai membuka ruang untuk belajar dari sesama. Mengubah dunia tidak dimulai dari gagasan besar, tetapi dari kesetiaan kecil: berpikir, berbicara dalam kasih, dan bertindak dengan randah hati. Intelektualitas dalam pandangan seorang Kapusin harus sampai pada tindakan melayani serta menyembuhkan sesama dengan kehadiran kita.

            Sekarang semakin jelas bahwa belajar berpikir dengan hati adalah perjalanan seumur hidup. Sebuah perjalanan di mana akal budi harus terus-menerus dimurnikan di dalam doa dan relasi dengan sesama. Dalam perjalanan ini, kita tidak dituntut untuk menjadi sempurna, tetapi setia: setia belajar, setia berjalan bersama, dan setia membiarkan Allah bekerja melalui keterbatasan kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *