Sdr. Martinus Manullang, OFMCap.
Dalam era digital dewasa ini, media sosial sudah menjajaki di berbagai kalangan usia, baik tua sampai anak-anak. Setiap orang dengan bebas mengekspresikan diri di dalamnya. Sebelum berbicara dengan siapapun secara langsung, kita telah berbicara melalui status, komentar, dan pesan singkat. Fenomena ini menunjukkan suatu ciri khas manusia, yakni kebutuhan mengungkapkan diri. Alasan yang paling mungkin karena sesorang membutuhkan untuk membagikan pikiran kepada orang lain atau mungkin tidak ingin sendiri.
Media massa menjadi wadah berkomunikasi, namun tidak selalu tanpa resiko. Kemudahan berekspresi dan keterhubungan dengan yang lain dapat memengaruhi cara kita memahami diri, memabngun relasi, dan menghayati iman. Muncul pertanyaan mendalam: apakah kita sungguh berelasi, atau hanya sekadar tampil?
Perkembangan media massa dapat memperkaya komunikasi, tetapi juga dapat memudarkan identitas kita sebagai orang beriman jika tidak berakat kuat. Kita dapat bebicara aktif tentang iman, tetapi jarang sungguh-sungguh berjumpa dengan Allah. Di sini, fondasi hidup religius: doa, karisma khas, dan pendidikan menjadi penting dan perlu. Bagi saudara Dina Kapusin, ketiganya merupakan satu kesatuan yang saling menopang dalam menjawab tantangan zaman.
Doa sebagai Nafas Hidup
Doa adalah komunikasi kepada Allah – keinginan berelasi dengan Allah. Agustinus dari Hippo mengungkapkannya sebagai kerinduan hati manusia kepada Allah. Lebih lagi, doa bukan hanya kerinduan manusia akan Allah, melainkan juga kerinduan Allah akan manusia. Doa adalah keinginan Allah untuk bernafas di dalam Allah. Ketika aku bernafas dengan Allah, aku mengalami keintiman dengan Allah. Roh Allah yang bernafas di dalam aku menarikku ke dalam lingkaran cinta Allah Tritunggal.
St. Bonaventura mengibaratkan cinta seperti seorang pematung. Cinta selalu didahului dengan penyangkalan. Dia menuliskan, “seorang pematung tidak pernah menambahkan sesuatu, lebih-lebih dia menyingkirkan sesuatu meninggalkan bentuk yang agung dan cantik dalam batu itu.” Doa adalah cinta Allah yang menyingkirkan barang-barang , seperti egoisme, ambisi, dan kelekatan yang menutupi gambar Allah yang di dalamnya aku dicipta. Di tengah perkembangan yang cenderung menampilkan citra diri, doa membebaskan kita dari kelekatan yang berlebihan dan menuntun kita kembali pada jati diri anak-anak Allah.
Fransiskus: Doa yang Menjadi Hidup
Relasi keintiman dengan Allah menjadi pusat hidup Fransiskus dari Asisi. Dia manasihatkan para saudaranya agar memiliki di atas segalanya (supra omnia) Roh Tuhan dengan cara-Nya berkarya yang suci, untuk berdoa selalu dan memiliki hati yang murni. Bagi Fransiskus doa bukan hanya kewajiban, tetapi sumber hidup dan hidup itu sendiri.
Thomas dari Celano melukiskan Fransiskus sebagai “doa yang hidup”. Dia tidak hanya meluangkan waktu untuk berdoa, tetapi menjadi doa itu sendiri – seluruh hidupnya adalah doa. Doa merupakan keintiman dengan Allah yang pada akhirnya membentuk cara kita menghidupi hidup kita. Doa adalah kejujuran yang tampak dalam kehidupan nyata.
Fransiskus menuliskan dalam salah satu nasihatnya, “apa manusia di hadapan Allah, bahwa dia ada dan tidak ada yang lain.” Ketika seseorang menyadari “apa adanya” dirinya di hadapan Allah, ia dibebaskan kecenderungan mencari pengakuan. Untuk Fransisikus, kerendahan hati dan pengenalan diri adalah satu. Ketika kita menerima “ke-ini-an” kita, maka kita bebas untuk bernafas dalam cinta Allah dan memeluk Allah dalam diri orang lain. Dari kebebasan ini lahir kemampuan untuk mencintai tanpa syarat.
Doa yang sejati tidak berhenti pada kontemplasi pribadi, namun bergerak menuju solidaritas konkret. Fransiskus tidak membangun identitas melalui pengakuan publik, melainkan melalui kedekatan dengan Allah dan sesama. Di sini, kita melihat kontras dengan budaya digital masa kini. Dunia sering mendorong kita untuk membangun citra, tetapi Fransiskus mengajarkan untuk membangun relasi.
Spirit Doa dalam Konstitusi Kapusin
Dalam Konstitusi Saudara Dina Kapusin, doa kepada Allah dipahami sebagai sebagai nafas cinta, lahir dari dorongan Roh Kudus. Allah yang pertama mencintai kita, berbicara dengan berbagai cara, termasuk dalam kehidupan manusia sehari-hari. Melalui kehadiran putra-Nya ke dunia, kehadiran-Nya sungguh nyata.
Dalam doa kita bersatu dengan Allah. Dengan menjawab Allah yang berbicara di dalam doa, kita keluar dari cinta diri dan beralih kepada Kristus, Allah-Manusia, kita bersatu dengan Allah dan manusia. Doa bukan pelarian dari dunia, tetapi partisipasi dalam kasih Kristus bagi dunia.
Seperti Fransiskus yang menemukan rencana keselamatan Allah dalam kontemplasi (doa), saudara Kapusin dipanggil untuk ambil bagian sepenuhnya dalam cinta Kristus bagi manusia dengan memeluk orang kusta dan mewartakan kepada semua orang kabar baik pengharapan dan damai melalui pertobatan. Doa kita hendaknya menjadi ungkapan solidaritas dan belas kasih universal. Dengan menyelaraskan diri sedekatnya dengan doa Yesus, Saudara Dina Kapusin menjadikan diri sebagai suara setiap kenyataan, dan merasakan sendiri kegembiraan dan harapan, penderitaan dan kecemasan semua manusia.
Digitalisasi menjadi tantangan nyata. Ketika reaksi lebih cepat daripada refleksi, apakah kita masih memberi ruang bagi Roh untuk berbicara? Doa menuntut kesediaan untuk berhenti, berhenti dari keriuhan informasi dan notifikasi yang tanpa henti. Berhenti adalah tindakan yang esensial di zaman ini.
Pendidikan sebagai Pembentukan Identitas mendalam di Tengah Kedangkalan
Pada tahun 2019, Ordo Saudara Dina Kapusin menetapkan Pedoman Pendidikan Saudara-saudara dina Kapusin, Rasio Formationis Generalis OFM Cap. Pedoman ini berisikan pedoman pendidikan ordo mulai pendidikan awal dan berlanjut, yang selaras dengan pemahaman identitas karismatis Ordo dan yang sesuai dengan zaman.
Diakui bahwa perjumpaan merupakan pengalaman terpenting dalam hidup Fransiskus. Tidak seorang pun dapat hidup sendirian. Allah menciptakan manusia unik dan tak terulang, tetapi tidak lengkap tanpa orang lain. Tidak ada yang kebetulan, tetapi semua terjadi pada tempat dan waktu yang konkret-tepat. Di reruntuhan kapel San Damiano, Fransiskus sanggup mendengarkan lebih baik sabda Allah dan juga dengan berjumpa dengan orang kusta, membawanya pada Kristus yang miskin dan telanjang.
Dalam perspektif pendidikan Fransiskan-Kapusin, dimensi karismatis diletakkan sebagai yang pertama. Karisma khas sebagai saudara dina, sebagai pusat program pendidikan mendorong suatu pembaktian hidup sesuai dengan pola Kristus, yang memberikan hidup-Nya secara bebas dan murah hati untuk kesejahteraan manusia. Menjadi saudara dina berarti menjadi saudara bagi semua tanpa menyingkirkan siapa pun, bahkan menerima terlebih dahulu mereka yang paling hina dalam masyarakat.
Dalam dunia digital, kita dapat terhubung dengan banyak orang, tetapi sekaligus merasa terasing. Relasi dapat menjadi dangkal jika tidak ditopang dengan kehadiran nyata. Karena itu, pendidikan Kapusin membentuk saudara yang mampu hidup dalam relasi yang mendalam, bukan sekadar interaksi cepat. Pendidikan dipanggil untuk membangun hati yang sederhana, reflektif, dan terbuka.
Tantangan Dunia Digital dan pembaruan Cara Berelasi
Dunia saat ini ditandai dengan berbagai perubahan yang kompleks. Plurlisme antropologis dan tantangan-tntangan dunia digital (cyber-antropologia) memengaruhi cara berpikir, berkomunikasi, memahami kebebasan, kemampuan berefleksi, dan cara mengungkapkan keintiman kita. Keterhubungan yang terus-menerus melalui internet mengubah pola relasi dan ekspresi keintiman.
Dalam konteks ini, aspek emosional mengatasi refleksi rasional. Subjektivisme lebih dominan daripada rasa memiliki. Pembelaan diri sendiri lebih dikedepankan daripada identitas kolektif. Dalam hal ini, kepekaan dan cara baru dalam berelasi perlu dalam lingkup pendidikan. Realitas menuntut kepekaan baru dalam pendidikan dan formasi. Saudara dipanggil untuk belajar menggunakan media secara bijaksana dan injili, sambil menyadari risiko ketergantungan dan dampaknya terhadap relasi persaudaraan.
Mendidik diri berarti secara bertahap menyamakan diri dengan pola seorang saudara dina dari dan dalam persaudaraan. Di sini, saudara kapusin menjalin relasi-relasi horizontal, dengan menghidupi hal-hal yang esensial, bukan yang superfisial, dan menggali kegembiraan yang mendalam. Bagi Fransiskus pendampingan terwujud dalam menarik saudara kepada Allah melalui belas kasih dan cinta kasih.
Bahasa digital baru saat ini, mengakibatkan cara berkomunikasi dan berelasi terus berubah. Kenyataan baru ini menciptakan ruang misi baru untuk mendengarkan dan dialog antara iman dan akal budi, antara kaum beriman dan tidak beriman, antara kelompok kristiani dan aneka kelompok agama. Maka dari itu di perlukan sikap terbuka dan fleksibel, sambil menghindari fundamentalisme yang merintangi bagian kebenaran dalam kasih yang juga hadir di pihak lain. Media massa menyentuh titik-titik kritis dari dunia pengetahuan dan afektif, menolong kita berbagi pengalaman, pengetahuan, pekerjaan, dan hiburan. Penggunaan media massa yang tepat dan injili menuntut perhatian akan kelekatan/ketergantungan, akan akibat-akibat terhadap relasi bersaudara.
Menjadi Saudara di Tengah Dunia yang Terhubung
Program-program pendidikan Kapusin mendorong setiap saudara untuk memiliki pemahaman yang memadai tentang dunia nyata, agar mampu melakukan penjernihan pastoral dalam berbagai konteks sosial dan budaya. Dimensi okumenis menjadi bagian dari panggilan tersebut.
Seorang saudara dina dikenal dari kedekatan dan solidaritasnya terhadaap kaum miskin, dari penghargaan terhadap budaya, dari komitmen pada keadilan dan damai, dan pemeliharaan bumi. Identitas ini tidak berubah oleh perkembangan teknologi. Yang berubah hanyalah konteksnya.
Di tengah dunia digital yang serba cepat dan terus terhubung, panggilan dasar tetap sama: berakar dalam doa, hidup dalam persaudaraan sejati, dan hadir bagi semua. Jika doa sungguh menjadi nafas, maka dunia digitasl tidak perlu ditakuti. Ia dapat menjadi ruang baru untuk mewartakan harapan dan menghadirkan kasih Allah dengah lebih mudah.
Doa memurnikan hati. Karisma memberi arah. Pendidikan membentuk identits. Dari ketiganya lahir kesaksian yang relevan bagi zaman ini. Kesaksian pling profetis di era ini bukanlah banyaknya kata yang kita tulis, tetapi kedalaman relasi yang kita bangun. Bukan seberapa sering kita tampil, tetapi seberapa sungguh kita hadir. Di tengah dunia scroll tanpa henti, berhenti untuk berdoa mungkin menjadi tindakan yang paling esensial. Pace e bene..


