Pada era digitalisasi sekarang ini, terdapat sebuah masalah aktual yang mengiringi perkembangan teknologi, terutama dalam media massa elektronik, yaitu maraknya berita bohong atau hoax. Manusia, sebagai makhluk berakal budi, dituntut untuk selalu waspada dengan bernalar secara tepat, sehingga tidak terjerumus ke dalam jurang permasalahan tersebut. Dengan pengaktualisasian teori Rene Descartes, yaitu ‘Cogito Ergo Sum’, pada era digitalisasi ini, banyak orang terbantu untuk selalu berpikir kritis terhadap informasi atau berita yang beredar di media massa elektronik tertentu.
Kata kunci: Cogito Ergo Sum, era digitalisasi, hoax, erasio manusiawi, berpikir kritis.
Pendahuluan
Pada era digitalisasi sekarang ini, masyarakat, dengan mudah, mengakses pelbagai informasi dari belahan dunia lain lewat aplikasi atau media massa elektronik dengan platform[1] tertentu, yang dapat diakses lewat internet. Hal tersebut tentunya menguntungkan masyarakat karena dapat mengetahui informasi terbaru dengan cepat, walaupun, dalam kenyataannya, seseorang berada di tempat yang sangat jauh dan dalam waktu yang berbeda dengan tempat atau sumber informasi berasal dan yang dimaksudkan. Masyarakat dapat dengan mudah dan aman mengakses bermacam-macam informasi aktual dalam hitungan detik dengan sekali ‘klik’. Namun, apakah hal tersebut sudah betul-betul aman?
Di satu sisi, kemudahan yang didapat oleh masyarakat ini memberi keuntungan yang cukup besar. Literasi masyarakat dapat meningkat dengan memperoleh pelbagai pengetahuan, yang mungkin merupakan hal yang baru bagi beberapa orang. Namun, di sisi lain, masyarakat justru berpotensi besar untuk terjerumus ke dalam berita bohong atau hoax. Menurut Oxford Learner’s Dictionaries, ‘hoax is an act intended to make somebody believe something that is no true, especially something unpleasant’.[2] Berita bohong atau hoax membuat seseorang mempercayai informasi yang tidak benar, bahkan sampai pada informasi yang tidak mengenakkan. Hal ini tentunya membuat keresahan yang cukup besar di tengah masyarakat. Hoax menciptakan ketidaknyamanan di tengah masyarakat. Kebingungan yang cukup besar pun timbul, membuat masyarakat akan mengambil keputusan yang kurang kuat, bahkan salah.[3] Kekacauan yang besar berpotensi untuk timbul dan memecah-belah beberapa pihak karena pihak yang satu dirugikan oleh pihak lain yang tidak dikenal (pembuat informasi atau berita). Di lain pihak, orang yang membaca pun tidak luput dari ‘pembodohan’ oleh pihak yang tidak bertanggung jawab tersebut. Hal ini menjadi kontradiksi terhadap nilai positif dari perkembangan teknologi informasi pada era globalisasi ini: meningkatkan literasi masyarakat lewat media elektronik. Nalar banyak orang menjadi lemah karena ‘diperdaya’ oleh berita atau informasi yang seolah-olah benar dan logis.
Sejatinya, nalar atau rasio manusia dapat menangkal potensi berbahaya tersebut. Rasio manusiawi dapat menjadi ‘tameng’ bagi seseorang untuk tidak lekas percaya pada informasi tertentu yang dapat menjerumuskannya ke dalam ‘bahaya’ yang besar. Manusia dapat bernalar dengan akal budinya, sehingga informasi yang didapat dan diolah menjadi jelas dan terang baginya. Keunggulan rasio manusia ini telah dilihat dan dikembang dengan baik oleh beberapa filsuf terdahulu, khususnya pada masa bangkitnya rasionalisme, yang muncul sekitar abad ke-15 atau 16. Rene Descartes, yang merupakan pencetus dan bapa rasionalisme, membuktikan kehebatan rasio manusia dalam teorinya ‘Cogito Ergo Sum’ (saya berpikir, maka saya ada). Descartes menunjukkan bahwasanya rasio manusiawi dapat memikirkan sesuatu, sampai ia mendapatkan informasi yang jelas dan terpilah-pilah (clara et distincta), sehingga manusia yang berpikir tidak dapat digoyahkan dan merupakan sebuah realitas dalam kehidupan manusia. Dengan meragukan segala sesuatu, manusia dapat melihat kebenaran di depan matanya. Dengan mengaktualisasikan teori Descartes ini, hendaknya orang-orang pada era digitalisasi sekarang ini dapat ‘menggenggam’ kebenaran yang tidak tergoyahkan.
Corak Filsafat Zaman Descartes Hidup
Ketika berbicara setting philosophy pada zaman Descartes hidup, kita tidak boleh lepas dari usaha para filsuf zaman Renaissance yang berusaha keras untuk mengreinterpretasikan makna filsafat dari kebudayaan Yunani dan Romawi kuno. Para Filsuf pada zaman Renaissance berhasil menemukan nilai-nilai dari zaman Yunani dan Romawi kuno, yang harus dihidupkan kembali dalam kebudayaan Barat[4]. Para filsuf tersebut menjadi ‘pendobrak’ untuk lepas dari kungkungan sistem totaliter religius abad pertengahan.[5] Semangat para filsuf tersebutlah yang masih dirasakan sampai pada zaman Descartes hidup. Para filsuf mencoba mengemukakan teori mereka yang rasional dan menciptakan pemikiran baru pada masa mereka. Hal tersebut menjadi angin segar bagi filsafat. Pembahasan yang lebih mejurus kepada manusia mulai bangkit kembali; tidak melulu tentang persoalan metafisik.
Kita juga tidak boleh lepas dari pembahasan mengenai kaum elite bangsawan yang hidup semasa dengan Descartes. Minat elite bangsawan semasanya menjurus pada masalah metafisika Skolastik[6]. Hal tersebut merupakan bukti dari pengaruh kuat Filsafat Skolastik yang telah bertumbuh dan berkembang subur di pelbagai negara, termasuk di tanah kelahiran Descartes. Hal ini tentunya tidak lepas pula dari masalah yang dihadapi para filsuf zaman Renaissance; pembahasan tentang manusia dikesampingkan. Persoalan metafisik melulu diperbincangkan. Descartes pun tampil dengan pembahasannya yang dinilai oleh para kaum Yesuit telah menyimpang dari teologi Katolik. Ia tidak menerima fondasi para pendahulunya.[7] Dengan teorinya yang mahsyut pada zamannya, yakni ‘Cogito Ergo Sum’, ia menunjukkan bahwa manusia mampu mendekati kebenaran dengan rasionya.
Teori Descartes: Cogito Ergo Sum
Dalam bukunya Discours de la Methode, Descartes mengemukakan teorinya yang terkenal yakni ‘Cogito Ergo Sum’. Descartes berpendapat bahwa ilmu pengetahuan harus memiliki dasar yang kuat. Oleh sebab itu, para filsuf, pertama-tama, harus menyangsikan segala sesuatu, secara metodis, agar kepastian dapat diperoleh. Dengan pengujian ini, jika suatu kebenaran dapat dipertahankan, maka kebenaran tersebut dapat diterima.[8] Ia mulai menyangsikan bahwa pengetahuan atau asas matematika dan pandangan-pandangan metafisis bukanlah sebuah bukanlah sebuah tipuan yang berasal dari ‘iblis yang cerdik’ (genius malignus). Dengan menyangsikan hal tersebut, Descartes mendapatkan satu kepastian yang tidak dapat tergoyahkan yakni ‘aku yang sedang menyangsikan sesuatu’. Dengan metode cogito, maka saya ada (ergo sum), sekaligus menyatakan bahwa metode tersebut membuktikan bahwa ‘saya mengada’. Kepastian bahwa ‘saya menyangsikan sessuatu’ tidak dapat disangkal. Metode ini memperlihatkan bahwa dengan berpikir, saya dapat mencapai eksistensiku.[9] Descartes menyatakan bahwa identitas pribadi berkaitan erat dengan pikiran. Selama saya berpikir, saya ada.[10]
Langkah selanjutnya yang dibuat Descartes adalah membuktikan atau memberikan argumentasi mengapa cogito dan kebenaran tersebut merupakan hal yang tidak tergoyahkan. Dalam proses berpikir, saya mendapatkan kebenaran yang sifatnya jelas dan terpilah-pilah (clara et distincta). Inilah yang menjadi dasar bagi Descartes mengatakan bahwa cogito dan kebenaran yang didapat darinya merupakan hal yang tidak tergoyahkan. Bagi Descartes, yang jelas benar adalah sesuatu yang jelasd dan terpilah-pilah. Prinsip ‘clara et distincta’ menjadi norma dasar untuk menentukan kebenaran.[11] Melalui metode ini, Descartes menemukan fondasi yang kokoh dalam filsafatnya. Ia memperlihatkan bagaimana proses berpikir menggunakan rasio dapat mengantarkan manusia kepada kebenaran. Ia menunjukkan bahwa manusia tidak boleh skeptis terhadap pernyataan bahwa ‘manusia tidak dapat menggapai kebenaran’, yang selama ini, kerap kali, ‘menghantui’ para pemikir sebelum dan sezamannya.
Aktualisasi Teori Cogito Ergo Sum dalam Upaya Menangkal Hoax
Setelah menilik dan memahami pemikiran filosofis Descartes lewat teori ‘Cogito Ergo Sum’, kita dapat melihat pengaktualisasian teori ini terhadap upaya untuk menangkal hoax yang merebak di tengah masyarakat. Namun, sebelumnya, kita harus memahami terlebih dahulu apa itu hoax secara etimologis dan maknanya. Kata hoax sendiri berasal dari kata ‘hocus’, yang berarti ‘mengelabui’.[12] Hoax, bila dimengerti lewat arti etimologis ini, membuat siapa saja yang menerima informasi tersebut dikelabuhi, sehingga percaya terhadap berita atau informasi bohong yang disuguhkan kepada penerima informasi. Penerima informasi menjadi terprovokasi oleh berita bohong tersebut, sehingga terjadilah kesalapahaman hingga kekacauan.
Kondisi ini tentunya bisa diantisipasi lewat pemikiran kritis dan penggalian kontinu. Masyarakat dituntut untuk menggunakan rasio untuk mencerna informasi atau berita yang mereka dapat lewat media massa elektronik ataupun dari sumber lainnya. Kegiatan berpikir, yang tidak dapat lepas dari setiap individu, dilakukan demi menggapai kepastian dari berita atau informasi yang didapat. Dalam hal inilah teori ‘Cogito Ergo Sum’ diaktualisasikan. Dalam upaya penggalian informasi atau berita secara kritis dan kontinu, masyarakat harus mulai ‘menyangsikannya’ terlebih dahulu. Artinya ialah bukan berprasangka buruk atau bersikap skeptis, melainkan mempertanyakan berita atau informasi tersebut dan melihat dasar-dasar fakta. Pada tahap ini, masyarakat hendaknya cermat dalam menilai informasi atau berita yang didapat.
Tidak hanya sampai pada tahap tersebut, masyarakat hendaknya pula tidak menyimpulkan sesuatu secara tergesa-gesa, melainkan memilah-milah informasi tersebut, terkhusus pernyataan-pernyataan yang termuat di dalamnya.[13] Masyarakat harus menyelidiki berita atau informasi yang diterima dengan cermat, serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada pernyataan di dalamnya, yang menjurus pada informasi yang benar. Kecermatan dan kejelian para penerima berita atau informasi diasah di dalamnya lewat pencarian data-data faktual dan korelasi yang ditemukan setelah menemukan data-data tersebut.[14] Maka, dengan demikian, kepastian akan diperoleh. Kepastian tersebut bersifat terang (jelas) dan terpilah-pilah.
Dalam hal itulah, konsep ‘Cogito Ergo Sum’ diaktulasasikan dalam upaya menangkal hoax yang marak terjadi di tengah masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat terus diajak untuk berpikir kritis dengan bersikap waspada terhadap berita atau informasi yang didapat. Masyarakat harus mampu, secara bijaksana, bersikap dan bertindak terhadap setiap berita atau informasi yang beredar di media elektronik manapun. Penggalian secara mendalam dan kontinu, serta berpikir secara rasional, memiliki potensi yang besar untuk dapat membebaskan banyak orang dari ‘jurang’ masalah atau kekacauan yang ditimbulkan oleh berita bohong atau hoax.
Kesimpulan
Di tengah ‘serbuan’ berita bohong atau hoax, sejatinya, setiap individu dapat menghindari setiap ancaman yang berusaha untuk mengacaukan, baik keadaanya sendiri maupun relasinya dengan individu yang lain. Hal tersebut telah ‘diantisipasi’ oleh Descartes bertahun-tahun yang lalu dengan teorinya ‘Cogito Ergo Sum’, walaupun memang tujuan ini dilihat secara tersirat lewat pengaktualisasiannya di era digitalisasi ini. Ia menunjukkan bahwasanya setiap individu mampu menggapai kepastian yang jelas dan terpilah-pilah lewat kegiatan berpikir. Rasio manusiawi mendukung setiap individu untuk menghidari tipuan belaka dari berbagai pihak, bahkan membawa manusia kepada kebenaran.
Dengan berpikir dengan akal sehat dan bersikap bijaksana, manusia dapat melakukan penggalian secara mendalam dan kontinu untuk menghidarkan diri dari bahaya yang ditimbulkan oleh berita bohong atau hoax. Setiap individu dapat mencari informasi yang mendalam dan analisa yang akurat demi keselamatan dirinya dan orang lain dari bahaya yang cukup besar ini. Hal ini juga menjadi teguran bagi setiap orang untuk tidak puas pada hal-hal yang dangkal. Setiap orang harus terus mencari dan mempertanyakan banyak hal, sehingga didapatlah titik terang kendala yang sedang menghadang. Kita hendaknya terus berusaha untuk waspada terhadap setiap berita atau informasi yang kita dapat. Kemungkinan besar, berita bohong atau hoax terkandung di dalamnya. Maka, teruslah waspada dan tetap berpikir kritis.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku:
Hardiman, F. Budi. Filsafat Modern: dari Machiavelli sapai Nietzsche. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004.
Juanda, Anda. Aliran-aliran Filsafat Landasan Kurikulum dan Pembelajaran. [tanpa nama kota]: CV. Confident, 2016.
Sesady, Muliati. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Trust Media Publishing, 2019.
Zubaedi. Filsafat Barat: dari Logika Baru Rene Descartes hingga Revolusi Sains ala Thomas Khun. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2007.
Sumber Jurnal:
Hamzah, Radja Erlan dan Citra Eka Putri. “Mengenal dan Mengantisipasi Hoax di Media Sosial pada Kalangan Pelajar”, dalam Jurnal Abdi MOESTOPO, vol. 03 no.1, 2018.
Rahmadany, Anissa et al. “Fenomena Penyebaran Hoax dan Hate Speech pada Media Sosial”, dalam Jurnal Teknologi dan Informasi Bisnis, vol. 3 no.1, 2021.
Rama, Muhammad dan Fatma Ulfatun. “Pengaruh Berita Hoax terhadap Kesatuan dan Persatuan Bangsa Indonesia”, dalam Jurnal Kewarganegaraan, vol. 06 no.1, 2022.
Sumber Artikel:
[tanpa nama penulis]. “Cogito Ergo Sum: Exploring the Significance of Descartes’ Epistemology”, dalam episode of BBC 4’ In Our Time, [tanpa volume dan nomor], [tanpa tahun].
Sumber Internet:
Oxford Learner’s Dictionaries. https://www.oxfordlearnersdictionaries.com/definition/english/hoax_1?q=hoax, diakses pada 11 Mei 2024.
[1] Dalam penulisan kata ‘platform’, penulis tidak memiringkan kata tersebut karena kata ‘platform’ sendiri merupakan kata baku yang terdapat dalam KBBI.
[2] Oxford Learner’s Dictionaries, https://www.oxfordlearnersdictionaries.com/definition/english/hoax_1?q=hoax, diakses pada 11 Mei 2024.
[3] Radja Erlan Hamzah dan Citra Eka Putri “Mengenal dan Mengantisipasi Hoax di Media Sosial pada Kalangan Pelajar”, dalam Jurnal Abdi MOESTOPO, vol. 03 no.1, 2018, hlm 10.
[4] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern: dari Machiavelli sapai Nietzsche (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004), hlm. 8-9.
[5] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern…, hlm. x.
[6] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern…, hlm. 34.
[7] Zubaedi, Filsafat Barat: dari Logika Baru Rene Descartes hingga Revolusi Sains ala Thomas Khun (Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2007), hlm. 17.
[8] Muliati Sesady, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Trust Media Publishing, 2019), hlm. 104.
[9] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern…, hlm. 38.
[10] [tanpa nama penulis], “Cogito Ergo Sum: Exploring the Significance of Descartes’ Epistemology”, dalam episode of BBC 4’ In Our Time, [tanpa volume dan nomor], [tanpa tahun].
[11] Muliati Sesady, Pengantar…, hlm. 104.
[12] Muhammad Rama dan Fatma Ulfatun “Pengaruh Berita Hoax terhadap Kesatuan dan Persatuan Bangsa Indonesia”, dalam Jurnal Kewarganegaraan, vol. 06 no.1, 2022, hlm 530.
[13] Anda Juanda, Aliran-aliran Filsafat Landasan Kurikulum dan Pembelajaran ([tanpa nama kota]: CV. Confident, 2016), hlm. 143.
[14] Anissa Rahmadany et al., “Fenomena Penyebaran Hoax dan Hate Speech pada Media Sosial”, dalam Jurnal Teknologi dan Informasi Bisnis, vol. 3 no.1, 2021, hlm. 33.


