Beranda / Artikel / Karya Saudara / “Pujian Di Bawah Langit Seorang Kapusin” (Fr. Greg Ripo,OFMCap)

“Pujian Di Bawah Langit Seorang Kapusin” (Fr. Greg Ripo,OFMCap)

Sore itu, mentari merayap malas di balik bukit kecil di ujung desa. Langit jingga meneteskan warna keemasan di dinding Biara St. Clara, membuat salib kayu tua di atas kapel bersinar seolah terbakar cahaya surgawi. Dari berandanya yang sederhana, Andreas Maran, seorang frater Kapusin muda, menyesap kopi Flores yang masih mengepul. Ia baru selesai membersihkan ruang makan biara, dan untuk sejenak ingin meresapi ketenangan sore. Di kejauhan, angin membawa alunan gitar tua dan suara lantang para frater muda yang tengah berlatih paduan suara. Mereka menyanyikan “Gita Sang Surya”, lagu warisan para saudara Kapusin yang selama berabad-abad menjadi doa dan pujian harapan. Kata-kata Fransiskus dari Assisi, “Terpujilah Engkau, Tuhanku, bersama Saudara Matahari,” mengalun bersama tawa dan denting senar gitar. Andreas membuka ponselnya. Ada lima pesan masuk di Messenger. Namun matanya langsung berhenti pada satu nama: Bruder Matthäus Van der Meer, misionaris Belanda yang pernah berkarya di paroki mereka puluhan tahun lalu. Bagi Andreas, nama itu bukan sekadar kenangan Br Matthäus adalah sosok yang menanamkan semangat fransiskan ke dalam hatinya.

“Andreas, kau sehat? Suara surya sore ini mengingatkanku padamu dan anak-anak dulu. Semoga panggilanmu tetap hangat seperti nyala mentari.”

Andreas menahan napas. Bertahun-tahun ia tak mendengar kabar Bruder itu. Jemarinya segera menari:

“Aku baik, Bruder. Bagaimana kabar Bruder di Assisi House? Gita Sang Surya kami nyanyikan sore ini dan aku ingat engkau.”

Ia menunggu balasan, tapi tak kunjung datang. Bruder Matthäus memang bukan penggemar media sosial. Andreas tersenyum getir, lalu memandang horizon: sinar matahari terakhir seolah menjawab kerinduannya.

***

Keesokan harinya, dua sahabat lamanya datang berkunjung: Gavin Taneo, kini seorang polisi yang sering dipindahtugaskan ke daerah-daerah terpencil, dan Leonard Paath, pemilik kafe kecil di kota. Mereka bertiga dikenal sebagai “trio altar boy” semasa kecil ketiganya dibentuk oleh Bruder Matthäus dengan disiplin dan kasih. Mereka duduk di bawah flamboyan dekat lapangan bola paroki, sambil menyeruput cappuccino yang dibawa Leonard. Lapangan itu ramai oleh anak-anak kampung. Ada yang Katolik, ada yang Muslim, dan sebagian Protestan semua bercampur tanpa sekat.

“Masih ingat waktu Bruder Matthäus membeli tanah ini untuk lapangan?” Leonard tersenyum, matanya menerawang.
“Tentu,” Gavin menyahut. “Dia lebih memilih lapangan untuk anak-anak daripada aula megah. Katanya, ‘Gita Sang Surya tak hanya dinyanyikan di kapel, tetapi juga lewat tawa anak-anak di lapangan.’”

Seekor ayam melintas di antara anak-anak. Seorang bocah kecil bertelanjang dada dijuluki Messi kampung mencetak gol dan berlari kegirangan. Gavin menepuk tangannya. “Andai semua warga negeri ini akur seperti mereka, mungkin pekerjaanku lebih ringan,” katanya, bercampur canda dan harapan. Andreas menatap lapangan itu. Setiap sorak gembira anak-anak adalah gema pujian masa depan Kapusin. Sore itu, mereka duduk lebih lama, menukar kisah tentang masa kecil. Gavin bercerita tentang tugasnya menjaga hutan dari penebangan liar mengingatkan mereka pada ajaran Bruder Matthäus tentang menjaga ciptaan. Leonard menceritakan pengalamannya di kafe: ia memasang poster “Gita Sang Surya” di dinding, agar setiap pelanggan ingat untuk bersyukur. Ketika lonceng Angelus berdentang pukul enam, anak-anak berhenti bermain dan berlari pulang. Suasana desa mendadak hening, hanya suara jangkrik dan derik sepeda tua seorang bapak yang lewat. Beberapa hari kemudian, kabar pahit menyambar. Leonard berlari ke biara dengan napas tersengal. “Andreas! Gavin! Kalian tahu? Bruder Matthäus akan dipulangkan ke Belanda.

Visa tinggalnya habis, dan tak ada yang mengurus perpanjangan.” Andreas terdiam, seolah petir menyambar di siang bolong. Ingatannya melayang: Bruder Matthäus memberi mereka rosario kayu, mengajak mereka membagi roti pada pengemis, dan menanam pohon bersama anak-anak desa. Ia yang mengajarkan bahwa Gita Sang Surya bukan sekadar lagu, tetapi cara hidup: bersyukur, rendah hati, dan merawat bumi. Mereka bertiga memutuskan untuk menemui Bruder Matthäus. Jalan menuju komunitasnya melewati ladang jagung yang mulai menguning. Angin sore mengibaskan dedaunan, seakan turut berduka.

Di beranda biara kecil, sosok renta itu berdiri menunggu. Jubah cokelatnya berkibar ditiup angin, dan salib kayu sederhana tergantung di dadanya. Wajahnya menua, tetapi senyumnya tetap hangat.

“Bruder… benarkah?” suara Andreas parau.

Matthäus mengangguk pelan. “Aku akan kembali ke Belanda. Bukan keinginanku, tetapi surat izin tinggalku tak lagi berlaku.” Gavin mengepalkan tangan. “Tak ada cara lain?”
“Ada yang mencoba membantu,” sahut Bruder, “tapi waktu terlalu singkat.”

***

Mereka duduk di pendopo biara. Cahaya senja menyinari wajah-wajah mereka. Andreas ingat betul, di tempat inilah dulu Bruder Matthäus sering menceritakan Santo Fransiskus menyanyikan Gita Sang Surya sambil memeluk penderitaan.

***

Ingatan Andreas melompat ke belasan tahun lalu. Ia, Gavin, dan Leonard masih bocah-bocah altar boy. Suatu Minggu sore, Bruder Matthäus mengajak mereka ke pinggir sungai. Ia membawa gitar tua, roti tawar, dan beberapa botol susu kacang hijau. Di tepi sungai yang berkilau, Bruder berkata, “Lihat matahari ini. Fransiskus memanggilnya Saudara Surya. Ia bernyanyi bagi kita dan kita harus menjawab dengan hidup yang penuh kasih.”

Bruder memberi mereka tugas: memberikan roti dan susu itu kepada pengemis di jembatan. Saat mereka ragu, Bruder tertawa kecil. “Gita Sang Surya bukan hanya dinyanyikan di kapel, tetapi juga lewat tangan kalian.”

Kembali ke masa kini, Andreas sadar kenangan itu membentuk panggilannya sebagai Frater Kapusin.

***

Malam itu, Andreas duduk sendirian di kapel. Lilin-lilin kecil menyala di depan patung Santo Fransiskus. Ia memandang jendela kaca patri bergambar matahari dan burung-burung. Hatinya gelisah.

Ia berdoa, “Tuhan, mengapa orang sebaik Bruder Matthäus harus pergi? Bagaimana masa depan Kapusin tanpa dia?”

Dalam hening, suara Gita Sang Surya terngiang dari latihan paduan suara sore tadi. Ia merasa Tuhan menjawab: Masa depan Kapusin tidak bergantung pada satu orang. Surya tetap bersinar. Kalianlah penerusnya.

Keesokan paginya, Andreas dan sahabat-sahabatnya mengumpulkan warga desa. Mereka menggelar doa bersama di lapangan bola. Anak-anak menyanyikan Gita Sang Surya dengan penuh semangat. Beberapa ibu membawa bunga matahari. Bahkan para pemuda non-Katolik ikut hadir, karena mereka pun mengenal kebaikan Bruder Matthäus. Leonard berdiri dan berkata, “Bruder Matthäus mengajarkan kita bahwa Gita Sang Surya adalah lagu persaudaraan lintas batas. Mari kita hidupkan itu untuk menjaga alam, menolong sesama, dan tidak membiarkan siapa pun berjalan sendirian.” Gavin menambahkan, “Aku petugas keamanan. Aku tahu betapa mudahnya kita terpecah karena perbedaan. Tapi Bruder menunjukkan: persaudaraan lebih kuat daripada sekat.” Mata Andreas basah ketika melihat anak-anak mengangkat spanduk kecil bertuliskan: “Matahari yang Sama Menyinari Kita Semua.”

***

Beberapa hari kemudian, mereka kembali ke biara untuk berpamitan. Bruder Matthäus menyambut mereka di ruang tamu yang sederhana. Di dinding tergantung salib tua dan foto hitam-putih para Kapusin yang dulu berkarya di tanah ini.

“Bruder,” kata Andreas dengan suara bergetar,

“Aku ingin engkau tahu, aku menjadi frater Kapusin karena teladanmu.” Bruder tersenyum lemah. “Aku hanya saudara yang menunjukkan matahari. Kalianlah yang memilih berjalan ke arahnya.” Mereka berbicara lama. Bruder menceritakan awal kedatangannya ke Indonesia: menyeberangi sungai dengan rakit rapuh, tidur di rumah-rumah bambu, menanam pohon bersama anak-anak, dan membagi makanan bagi keluarga miskin. “Banyak hal telah berubah,” ujarnya, “tetapi kasih yang sederhana tak pernah usang.”

Saat tamu Bruder datang untuk membantunya mengurus beberapa dokumen, ia merogoh saku jubahnya, mengeluarkan tiga rosario kayu, rosario yang ia ukir sendiri. “Simpanlah ini,” katanya. “Setiap butirnya adalah doa. Mereka bertiga memeluk Bruder. Lonceng Angelus berdentang, menandai pukul enam sore. Suasana senja terasa syahdu.

***

Beberapa minggu kemudian, Bruder Matthäus meninggalkan desa itu. Seluruh umat paroki datang ke bandara kecil untuk melepasnya. Anak-anak paduan suara menyanyikan Gita Sang Surya dengan penuh semangat. Bruder melambaikan tangan, air mata menetes di pipinya yang renta. Pesawat kecil lepas landas. Cahaya mentari pagi menimpa sayapnya, seolah surya sendiri memberkati perjalanan pulangnya

Pesan: Marilah kita tetap setia akan sabda dan Panggilan yang Telah diberikan Tuhan Kepada Kita. Lakukan dengan sepenuh hati dan harapan yang penuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *