“Marilah kita mengembalikan semuanya yang baik kepada Allah yang Mahatinggi dan Mahabaik dan mengakui, bahwa semua yang baik adalah milikNya. Marilah kita mengucapkan Syukur kepadaNya atas segala-galanya karena Dialah berasal semua yang baik. (AngTBul XVII,17)
Cara hidup dan pendidikan Ordo Kapusin berakar pada pusat fransiskanisme yang mendalam, yaitu pengakuan bahwa segala sesuatu yang ada mulai dari keberadaan pribadi, keberlanjutan hidup, hingga panggilan khusus untuk menjadi seorang Kapusin, bahkan semua bakat dan kemampuan yang dimiliki sama sekali bukan hasil dari upaya atau hak yang diperoleh, melainkan murni karunia cuma-cuma dari Allah.
Pusat dari Fransiskanisme membuat setiap saudara Kapusin harus menyadari yang utama dan terutama adalah: karunia ini harus senantiasa diterima dengan rasa syukur yang tulus. Syukur bukan sekadar ucapan, melainkan sikap hati yang menghargai dan mengakui bahwa Allah adalah sumber daari segala kebaikan yang ada. Karunia yang telah diterima secara cuma-cuma tersebut tidak boleh ditimbun atau dipertahankan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan harus dibagikan, dimanfaatkan bagi sesama. Hidup dan panggilan itu dimaknai sebagai rahmat Allah kepada dunia.
1. Karisma Kita sebagai Karunia
Karisma Kapusin berpusat pada penerimaan bahwa semuanya adalah karunia cuma-cuma dari Allah. Karunia yang diterima bukan demi keuntungan pribadi, melainkan terutama untuk orang lain (semua orang). Semuanya dilatarbelakangi oleh Yesus sendiri yang memberikan hidupNya secara bebas dan murah hati kepada semua orang. Karunia yang diperoleh lahir di tengah-tengah persaudaraan dan persaudaraan sebagai tempat pertama pemberian diri. Persaudaraan adalah respons pertama atas karunia tersebut, yang melibatkan pemberian diri yang saling berhubungan dan saling bertanggung jawab atas karunia masing-masing. Artinya sebelum membagikan karunia yang dimiliki karunia itu harus dihidupi dan dipertangungjawabkan di dalam persaudaraan.
Kebaikan diutamakan dalam pusat visi fransiskan tentang hidup mengapa demikian? Karena di mata Allah dunia kita baik. Kita dipanggil untuk melawan sikap naif dengan bersikap optimis sehingga memiliki kerendahan hati yang menampakkan kebaikan. Panggilan sebagai saudara Kapusin terwujud dalam keinginan menjadi dan hidup seperti Yesus dalam persaudaraan di tengah-tengah dunia ini, dalam kesederhanaan dan sukacita, ini adalah karunia terbesar yang diterima. Persaudaraan dan kedinaan adalah ciri khas identitas kita (lih. RFO hal. 29 no.64).
2. Persaudaraan
Asal-Usul: Persaudaraan (fraternitas) berakar pada Allah Tritunggal (Trinitas) yang adalah pribadi-pribadi yang berelasi melalui kasih. Tanpa relasi tidak ada persaudaraan. Tujuan: Persaudaraan menjadi ruang di mana para saudara membangun relasi yang baik. Persaudaraan memiliki fungsi yakni: memberikan ruang untuk pertumbuhan manusiawi dan rohani, tempat belajar, refleksi, dan pengambilan keputusan dalam kebersamaan di komunitas. Panggilan pertama Kapusin adalah menjadi saudara-saudara dina, yaitu menjadi saudara bagi semua tanpa menyingkirkan siapa pun, yang bertumpu pada Yesus.
3. Kedinaan
Kedinaan adalah teladan dari Yesus yang rela merendahkan diri dan menampakkan diri-Nya yang rendah hati dan sederhana, puncaknya adalah pada salib yang menampakkan misteri pewahyuaan akan kedinaan Allah, yang terwujud dalam pengosongan diri secara total dan kecintaanNya yang tanpa syarat. Kedinaan bukan bersifat kuantitatif (berapa banyak yang dimiliki), tetapi kualitatif (bagaimana cara memandang dunia dan menjalin relasi yang bersifat cuma-cuma). Fransiskus menemukan kedinaan ini dalam kaum miskin, sakit, dalam salib, yang memimpin pada relasi cuma-cuma dengan yang sesungguhnya (esensial). Arah pencarian akan hal-hal yang esensial itu berkaitan dengan relasi. Misalnya: keterbukaan menyambut dan menerima orang lain sehingga mampu membangun hubungan yang baik dalam persaudaraan.
4. Kontemplasi
Kontemplatif Allah tertuju kepada yang miskin secara rohani, yang menderita, yang tidak punya apa-apa, dan yang lapar/haus akan keadilan, yang berbelaskasih, yang murni hati, yang bekerja memperjuangkan perdamaian dan yang dianiaya demi kebaikan. Kontemplasi artinya memnginginkan untuk mempunyai cara pandang Allah dengan sanggup melihat hal-hal yang tidak mampu dilihat orang lain. Kontemplasi adalah cara untuk memperoleh “cara pandang Allah” terhadap dunia, yang selanjutnya melahirkan persaudaraan, misi, yang secara khusus bagi kaum miskin. Kontemplasi dimurnikan dalam doa yang afektif yakni saling berbagi ruang dan waktu dalam persaudaraan untuk mengucapkan terima kasih atas karunia yang telah diterima. Semuanya disadari ketika setiap saudara menemukan kebaikan Allah yang disadari denga relasi yang baik diantara kita, tanpa kontemplasi, tidak ada persaudaraan.
5. Misi
Misi berakar pada perintah Yesus: “Telah menerima cuma-cuma, dengan cuma-cuma jugalah kalian memberi” (Mat 10:8). Hidup bersaudara adalah pelayanan pertama dari pewartaan Injil. Persaudaaraan dina akan peka terhadap kebutuhan dan penderitaan sesama manusia dengan keterbukaan terhadap jalan baru akan keadilan, kedamaian, dan pemeliharaan alam ciptaan. Misi Kapusin adalah menemukan semua yang baik dalam diri diri sendiri dan sesama kita dengan merawatnya, membantunya berkembang, kemudian membagikannya kepada mereka yang tidak adil dimiskinkan dari kekayaan dunia yang seharusnya juga mereka dapat. Misi Kapusin didedikasikan untuk membangun persaudaraan di wilayah konflik dan daerah pinggiran untuk menghidupi karunia cuma-cuma.
6. Pembaruan
Pembaruan Kapusin adalah sikap progresif, memandang ke depan, menerima risiko-risiko yang menyertai perubahan sosial. Melalui keinginan untuk membaharui diri terus-menerus yang mengundang kita memandang ke depan, tetapi melawan nostalgia masa lalu tetapi menerima risiko-risiko yang menyertai perjalanan menuju masa depan yang akan datang. Ini semua bukanlah rasa takut yang membuat kita tertutup tetapi melalui iman dan kepercayaan yang membantu untuk memilah dan memilih jalan di depan, untuk memulai sekali lagi, dengan melihat Injil serta intuisi Fransiskus dan Klara.



