Beranda / Artikel / Refleksi / Pengalaman Menghayati Cara Kapusin Bekerja (Fr. Tommy Sinaga,OFMCap)

Pengalaman Menghayati Cara Kapusin Bekerja (Fr. Tommy Sinaga,OFMCap)

Berangkat dari pemahaman mengenai pekerjaan yang saya terima dari masa formasi yakni sejak postulat hingga novisiat, saya menyadari bahwa pertama sekali harus disadari bahwa pekerjaan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari hidup seorang religius. Dalam Kitab Suci (2 Tesalonika 3:10), Anggaran Dasar (AngBul V, Cara Bekerja) dan Konstitusi Kapusin (Konst. Bab V, Cara Kita Bekerja) hal itu dijelaskan dengan sangat baik. Disana termuat tentang pemahaman tentang kerja, penghayatan terhadap kerja, dan bagaimana cara bekerja yang baik dan benar sebagaimana diajarkan Kristus dan para rasul yang kemudian disesuaikan Bapa Fransiskus untuk persaudaraannya secara spesifik lagi, seturut hidup saudara dina. Berangkat dari situ pula para saudara kapusin merumuskan cara mereka menghidupi kerja sebagai rahmat yang diberikan Allah kepada manusia. Segalanya telah tersedia secara cuma-cuma dan manusia tinggal mengusahakannya secara kreatif.

            Altar sebagaimana dipahami sebagai meja persembahan merupakan wadah untuk menyampaikan hasil upaya dan jerih payah kepada Allah Yang Maha Kuasa. Dengan kata lain pekerjaan yang saya miliki seharusnya dan idealnya dipahami dan dihayati sebagai persembahan kepada Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam konstitusi bahwa pekerjaan setiap saudara adalah karya bersama. Sesuatu yang dikerjakan adalah karya bersama dan milik bersama dan seorang saudara tidak boleh berbangga atas hal itu dan seolah menjadikannya pencapaian pribadi. Konsekuensi dari penghayatan bahwa kerja sebagai milik pribadi adalah rasa egois karena melihat pekerjaan sebagai prestasi pribadi (Konst. Bab V, No. 79). Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan bukan lagi sebagai rahmat apalagi sebagai altar karena telah menghianati kesakralan dari pekerjaan sebagai pemberian Tuhan secara cuma-cuma. Pekerjaan atau pelayanan bagi seorang kapusin adalah suatu yang sangat melekat dan tidak terpisahkan.

Para Kapusin terkenal dalam hal kerja tangan yang mana hal itu mewakili pekerjaan orang miskin dan sederhana. Bahkan dalam konstitusi disebutkan bahwa dalam kerja tangan itu baiknya dilakukan dengan senang hati karena melalui itu seorang kapusin semakin dewasa dalam hal bekerja. Apalagi bila pekerjaan itu dituntut oleh cinta kasih dan ketaatan (Konst. Bab V, No. 82, 3). Hal itu menunjukkan bahwa pekerjaan adalah bagian penting bagi seorang kapusin maka seorang kapusin harus menghayati pekerjaan sebagai bagian dari dirinya yang memilih untuk sederhana dan miskin.

            Dalam hidup sehari-hari, saya menghayati kerja dengan berangkat dari pemahaman bahwa pekerjaan adalah suatu pelayanan dan milik bersama. Pekerjaan yang saya lakukan dan tanggung jawab yang saya emban saat ini saya hayati sebagai suatu rahmat dan karena itu dengan sadar, saya memiliki kewajiban mempertanggungjawabkan pekerjaan yang saya miliki dan mengusahakannya menjadi karya bersama dan bukan karya pribadi. Sebagai idealisme pribadi hal ini sangat baik dan sangat mendukung terhadap panggilan sebagai seorang kapusin namun dalam aksi hal ini kerap mendapat tantangan dari luar diri. Umpamanya ketika memperoleh pujian dari orang lain karena pekerjaan yang saya lakukan baik. Kadang hal itu membuat saya terbuai dan menjadikan pekerjaan sebagai milik pribadi dan karya saya seolah adalah milik saya dan orang lain tidak ada kaitannya dengan pekerjaan saya.

Hal itu menjadi buruk karena rasa egois mulai timbul dan diri saya mulai ingin mendapat pujian dari orang lain. Maka dalam menghayati pekerjaan sebagai rahmat dan terlebih sebagai altar, saya harus terus berjuang agar semakin dewasa dalam menghayati kerja. Kemalasan sebagaimana disebut sebagai musuh jiwa juga kerap menjadi tantangan dalam menghidupi dan melaksanakan kerja sebagaimana mestinya. Usaha dan kesadaran rohani penting dalam menghayati kerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *