Beranda / Artikel / Filsafat / Konsep Antropologi Gregorius Nyssa: Manusia Dicipta menurut Gambar Allah dalam De Hominis Opificio

Konsep Antropologi Gregorius Nyssa: Manusia Dicipta menurut Gambar Allah dalam De Hominis Opificio

Sdr. Amos Girsang

  1. Pengantar

Tulisan ini akan mendalami konsep antropologi Gregorius dari Nyssa dalam tulisannya De Hominis Opificio. Dalam karyanya De Hominis Opificio, ia menawarkan pemahaman tentang manusia sebagai gambar Allah yang bersifat dinamis dan terus bertumbuh menuju kepenuhan ilahi. Pemikiran ini sangat relevan dan penting untuk menanggapi krisis kemanusiaan di zaman digital ini.

Kita hidup di zaman ketika identitas semakin ditentukan oleh dunia digital. Media sosial, budaya visual, dan sistem algoritma membentuk cara seseorang melihat dirinya sendiri dan dilihat oleh orang lain. Nilai diri sering diukur melalui jumlah pengikut, tanda suka, komentar, atau citra yang berhasil ditampilkan secara daring. Akibatnya, identitas menjadi sesuatu yang diproduksi, dipoles, dan dipertontonkan. Fenomena ini membawa dampak serius. Banyak orang, khususnya kaum muda, mengalami krisis identitas: kebingungan tentang siapa dirinya, tekanan untuk selalu tampil sempurna, serta perasaan hampa ketika pengakuan sosial tidak terpenuhi. Identitas menjadi rapuh karena bergantung pada penilaian eksternal.

Dengan mendalami konsep antropologi Gregorius dari Nyssa dalam tulisannya De Hominis Opificio, kita dituntun untuk menemukan identitas manusia sebagai gambar Allah yang bersifat dinamis dan terus bertumbuh menuju kepenuhan ilahi.

  • Pembahasan: Konsep Antropologi Gregerius dari Nyssa
    • Siapa itu Gregorius dr Nyssa

Gregorius dari Nyssa adalah salah seorang dari tiga Teolog terkenal dari Kapadokia. Ketiga bapa Kapadokia itu adalah Basilius Agung, Gregorius dari Nazianzus, dan Gregorius dari Nyssa. Gregorius dari Nyssa lahir sekitar tahun 335. Ia dididik terutama oleh kakaknya, Basilius Agung, yang juga menjadi sahabat dekatnya sepanjang hidup. Seperti saudaranya, ia semula ingin menjadi imam dan bahkan pernah diangkat sebagai lektor, tetapi kemudian meninggalkan rencana itu untuk menekuni karier sebagai ahli retorika.

Setelah meninggalkan kehidupan duniawi, ia menjalani hidup asketis dalam komunitas monastik yang didirikan saudaranya di Pontus dan memperdalam studi teologi. Pada tahun 371 ia diangkat menjadi uskup Nyssa, sebuah kota kecil di Kapadokia. Nama Gregorius semakin dikenal karena karya-karya teologisnya. Ia menjadi salah satu pembela utama iman ortodoks pada masa pergolakan teologis abad ke-4 dan dihormati sebagai teolog besar Gereja. Untuk beberapa waktu ia juga dipilih menjadi uskup agung Sebaste, meskipun hanya menjabat singkat. Ia wafat sekitar tahun 394.

  • Konsep Antropologi Gregorius dari Nyssa dalam De Hominis Opificio

De Hominis Opificio berarti “Tentang Penciptaan Manusia.” Karya ini ditulis oleh Gregorius dari Nyssa pada akhir abad ke-4 sebagai semacam pelengkap atas khotbah kakaknya, Basilius Agung, tentang enam hari penciptaan (Hexaemeron). Jika Basilius banyak membahas alam semesta, Gregorius memusatkan perhatian pada manusia sebagai puncak ciptaan Allah. Konsep manusia menurut Gregorius dari Nyssa adalah manusia sebagai puncak ciptaan, manusia dicipta menurut Gambar Allah, dan dinamika pertumbuhan manusia tanpa akhir.

  • Manusia sebagai Puncak Ciptaan

Gregorius menafsirkan kisah penciptaan dalam Kejadian dengan menekankan bahwa manusia diciptakan terakhir bukan karena kurang penting, tetapi karena ia adalah mahkota ciptaan. Seluruh dunia seakan dipersiapkan sebagai “rumah” bagi manusia. “God made man neither from necessity nor by accident, but that which was in Him whence He made all things, that He might bestow on man the participation of good things.” Tuhan tidak menciptakan manusia secara kebetulan atau karena kekurangan, tetapi sengaja agar manusia dapat menerima kebaikan yang Tuhan sediakan.

  • Makna “Gambar Allah” (Imago Dei).

Ini adalah pendapat Gregorius yang paling penting mengenai manusia. Menurut Gregorius,  Gambar Allah tidak terletak pada tubuh, melainkan pada dimensi rohani manusia. Manusia menyerupai Allah dalam akal budi, kebebasan,  kemampuan mengasihi, kemampuan memerintah diri dan dunia. Karena itu, setiap manusia memiliki martabat ilahi, bukan hanya nilai fungsional. “The image of God in man… is assuredly that whereby human nature is enlightened and ennobled, rising above the rank of other life.” Citra Tuhan dalam manusia adalah apa yang membuat manusia berbeda dari makhluk lain. manusia memiliki kemampuan berpikir, bertumbuh, dan mengenal Tuhan.

  • Dinamika Pertumbuhan Tanpa Akhir

Salah satu gagasan paling khas Gregorius  adalah bahwa manusia dipanggil untuk terus bertumbuh menuju Allah. Karena Allah itu tak terbatas, maka pertumbuhan manusia dalam kebaikan dan pengenalan akan Allah juga tidak pernah berhenti. Artinya, kesempurnaan manusia bukan keadaan statis, tetapi perjalanan tanpa akhir dalam relasi dengan Allah. “Man was created that he might rise to the contemplation of God and be united with Him.” Menurut Gregorius tujuan hidup manusia adalah untuk mengenal Tuhan dan bersatu dengan-Nya secara rohani.

  • Relevansi di zaman ini

Pemikiran Gregorius dari Nyssa dalam De Hominis Opificio memberikan kerangka refleksi yang penting untuk memahami krisis identitas manusia pada era digital. Pada zaman ini, identitas manusia semakin dibentuk oleh ruang digital, terutama melalui media sosial dan budaya visual. Seseorang cenderung memahami dirinya berdasarkan bagaimana ia dilihat, dinilai, dan diakui oleh orang lain. Nilai diri sering diukur melalui representasi yang ditampilkan secara daring, sehingga identitas menjadi sesuatu yang diproduksi dan dipertahankan melalui citra.

Dalam situasi demikian, konsep manusia sebagai gambar Allah menghadirkan perspektif yang mendasar. Jika manusia sungguh diciptakan menurut gambar Allah, maka martabat dan identitasnya tidak bergantung pada pengakuan eksternal, melainkan pada realitas rohani yang melekat pada keberadaannya. Identitas manusia tidak ditentukan oleh konstruksi sosial atau penampilan digital, tetapi oleh relasi ontologisnya dengan Sang Pencipta. Dengan demikian, pemikiran Gregorius menegaskan bahwa nilai manusia bersifat intrinsik dan tidak dapat direduksi menjadi sekadar citra yang ditampilkan.

Selain itu, gagasan Gregorius tentang pertumbuhan manusia yang tidak pernah berhenti juga memberikan koreksi terhadap kecenderungan zaman digital yang menuntut kesempurnaan instan. Dunia digital sering menampilkan gambaran diri yang statis dan ideal, seolah-olah manusia harus mencapai kesempurnaan tertentu untuk memperoleh pengakuan. Sebaliknya, Gregorius memahami manusia sebagai makhluk yang terus bertumbuh menuju kepenuhan ilahi. Kesempurnaan manusia bukan keadaan yang sudah selesai, melainkan proses yang berlangsung sepanjang hidup dalam relasi dengan Allah.

Dengan demikian, krisis identitas digital dapat dipahami sebagai akibat dari pergeseran dasar identitas manusia, dari identitas yang berakar pada keberadaan rohani menuju identitas yang bergantung pada representasi eksternal. Pemikiran Gregorius dari Nyssa menegaskan kembali bahwa identitas manusia bersumber pada martabatnya sebagai gambar Allah dan pada panggilannya untuk terus bertumbuh dalam kebaikan. Dalam konteks zaman digital, pandangan ini menjadi dasar teologis untuk memahami kembali siapa manusia sesungguhnya.

  • Penutup

Melalui refleksi atas pemikiran Gregorius dari Nyssa dalam De Hominis Opificio, dapat ditegaskan bahwa manusia dipahami sebagai makhluk yang diciptakan menurut gambar Allah dan dipanggil untuk terus bertumbuh menuju kepenuhan ilahi. Identitas manusia, dengan demikian, tidak bersifat statis maupun bergantung pada penilaian eksternal, melainkan berakar pada martabat rohani yang melekat pada keberadaannya serta pada relasinya dengan Allah.

Pemahaman ini memberikan dasar teologis yang kuat untuk menanggapi krisis identitas pada era digital. Ketika dunia digital cenderung membentuk identitas sebagai konstruksi citra yang ditampilkan dan diakui secara sosial, pemikiran Gregorius mengingatkan bahwa nilai manusia bersifat intrinsik dan tidak dapat direduksi menjadi representasi visual atau pengakuan publik. Manusia tidak dipanggil untuk sekadar menampilkan diri, tetapi untuk bertumbuh dalam kebenaran, kebebasan, dan kasih.

Dengan demikian, konsep manusia sebagai gambar Allah tidak hanya memiliki makna teologis, tetapi juga relevansi eksistensial bagi manusia masa kini. Di tengah perubahan budaya yang cepat dan tekanan untuk membentuk identitas secara digital, pemikiran Gregorius dari Nyssa menuntun manusia untuk kembali memahami dirinya secara lebih mendalam, sebagai pribadi yang bermartabat, dinamis, dan terus bergerak menuju kepenuhan hidup dalam Allah.

Satu Komentar

  • Yunia Zendrato, S.H
    Balas

    Sangat menarik saya sangat setuju bahwa manusia itu ciptaan yang mulia karena ia adalah gambar dan secitra dengan Allah. Identitas manusia tidak ditentukan oleh penilaian eksternal namun identitas nya melekat pada dirinya sebagai manusia ciptaan yang mulia. Terimakasih bagus tulisan nya dan relevan pada masa kini. Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *