Dalam hidup bersama, tidak semua orang berjalan dengan kepekaan yang sama. Ada yang peka membaca suasana, ada pula yang bergerak dengan spontanitas yang sulit dikendalikan. Ada yang tahu kapan harus berhenti, ada pula yang terus melangkah, berbicara, dan tertawa, bahkan ketika tanda-tanda kelelahan sudah tampak jelas di wajah orang-orang di sekitarnya.
Ada seseorang yang hampir selalu tampak ceria. Kata-katanya mengalir tanpa banyak saringan dan tawanya muncul bahkan ketika suasana menjadi tegang. Ketika orang lain meninggikan suara atau mengekspresikan kekesalan, ia tidak serta-merta berhenti. Kadang ia justru menanggapi dengan tawa, namun bukan karena niat meremehkan, melainkan karena ia tidak mampu membaca kedalaman situasi yang sedang dihadapinya.
Bagi banyak orang, kehadiran pribadi seperti ini melelahkan. Kesabaran terkikis sedikit demi sedikit. Yang awalnya berupa teguran berubah menjadi kejengkelan, dan pada akhirnya menjelma menjadi ejekan serta pelabelan. Di titik inilah persoalan muncul: bukan lagi sekadar soal perilaku yang mengganggu, melainkan soal bagaimana kelelahan membuat manusia lupa bahwa yang dihadapinya adalah sesama yang bermartabat.
Situasi seperti ini memperlihatkan dua keterbatasan manusiawi yang saling berhadapan. Di satu sisi, ada mereka yang tidak mampu berhenti melakukan kehendak bebasnya. Di sisi lain, ada mereka yang tidak mampu lagi bersabar berhadapan dengan situasi itu. Keduanya bukan musuh, melainkan manusia rapuh dengan batas yang berbeda-beda. Namun, justru dalam perjumpaan antar keterbatasan inilah kasih sering kali diuji.
Di sini, teladan Santo Fransiskus dari Asisi berbicara dengan lembut namun tajam. Semangat Be Brother for All bukan sebatas buah pikiran, namun sungguh dihidupinya. Fransiskus tidak mencintai sesama karena mereka mudah dicintai. Ia juga mencintai mereka yang dijauhi, disalahpahami, dan melelahkan, bahkan mereka yang secara sosial dianggap mengganggu atau tidak pantas. Salah satunya tampak dalam kisah Pertobatan Tiga Perampok. Dikisahkan bahwa suatu hari, tiga orang perampok datang ke biara Fransiskan di daerah Monte Casale. Mereka datang untuk meminta makanan. Kemudian Guardian biara itu menghardik mereka dengan keras dan mengusir mereka. Guardian itu menceritakan peristiwa tersebut kepada St.Fransiskus. Tanggapan Fransiskus ternyata tidak seperti yang diharapkannya. Fransiskus menegur guardian itu dengan berkata “Para pendosa dipulangkan kepada Allah oleh kelembutan daripada yang kasar….”. Kemudian Fransiskus meminta saudaranya itu meminta maaf kepada perampok itu sambil membawa makanan. Perampok itupun kemudian tersentuh oleh peristiwa lalu bertobat (Fioretti,26). Bagi Fransiskus, martabat manusia tidak ditentukan oleh perilakunya atau kemampuanya menyesuaikan diri, melainkan oleh fakta bahwa setiap orang adalah ciptaan Allah. Dosa atau kelemahan seseorang tidak menjadi alasan untuk menimpakan kepadanya sikap yang kasar.
Teladan Fransiskus juga tidak naif. Ia tidak menutup mata terhadap keterbatasan, tidak pula menyangkal kelelahan. Yang ia tolak adalah godaan untuk mengubah kelelahan menjadi penghinaan, dan batas menjadi penghakiman. Ia menegur tanpa merendahkan, dan menghindar tanpa meniadakan martabat. Seperti dalam kisah tiga perampok itu.
Dalam terang ini, penerimaan perlu dibedakan dari pembenaran. Menerima seseorang dengan segala keterbatasannya tidak berarti membenarkan semua tindakannya. Namun kelelahan menghadapi seseorang juga tidak pernah menjadi alasan untuk melukai martabatnya.
Barangkali, dalam hidup bersama, kita semua pernah berada di dua posisi itu: menjadi mereka yang tak bisa berhenti, atau menjadi mereka yang tak bisa lagi bersabar. Dan mungkin, panggilan kristiani kita bukan pertama-tama untuk menentukan di pihak mana kita berdiri, melainkan untuk bertanya: di titik kelelahan ini, masihkah kita memilih untuk melihat sesama sebagai saudara?
Di antara mereka yang tak bisa berhenti dan mereka yang tak bisa lagi bersabar, jalan Injil tetap sama: bukan mencari siapa yang harus disingkirkan, melainkan bagaimana kasih tetap dijaga, meski dalam bentuk yang sederhana, terbatas, dan sering kali sunyi. Kasih akan membantu kita melampui batas-batas kemampuan manusiawi kita. Pace e Bene