Dasar Ontologis: Manusia Sebagai Makhluk yang Relasional
Sejarah perkembangan manusia adalah topik yang sangat menarik untuk diamati dan didiskusikan. Dunia manusia meliputi realitas yang kompleks. Dinamika hidup manusia yang tercatat di sepanjang sejarah menunjukkan manusia sebagai makhluk yang intensional. Intensional karena manusia bertanya, mencari jawaban, dan menemukannya, walaupun tidak semua pertanyaan manusia dapat dijawab secara tuntas/final. Dengan ciri khas itu, maka ‘dalam arti tertentu’, manusia adalah makhluk yang eksentris. Manusia senantiasa terarah keluar untuk menemukan dirinya atau secara lebih radikal dapatlah dikatakan pusat manusia terletak di luar dirinya. Manusia akan menemukan dirinya ketika ia keluar dari dirinya dan terarah kepada dunia dan sesamanya. Kenyataan ini memang adalah bagian dari esensi paradoksal manusia; manusia egosentris tetapi sekaligus eksentris. Namun bagi saya, syarat utama untuk dapat menemukan diri, bukan terutama pada dimensi egosentris (kendati ini penting untuk mencerap semua pengalaman dan berefleksi) melainkan pada dimensi eksentris. Sejak awal terbentuk sebagai individu, manusia sudah harus bergantung (kontinggen) pada orang lain dan baru bisa hidup saat ia bersama dengan orang lain. Manusia belajar untuk bertahan hidup dan itu didapat dalam dinamika dengan manusia yang lain. Ada begitu banyak contoh lain yang dengan jelas menunjukkan manusia sebagai makhluk eksentris. Yang pasti, manusia akan menemukan dirinya ‘seutuhnya’ hanya ketika ia keluar dari dirinya; terarah kepada yang lain.
Sebagai makhluk yang intensional-yang dengan demikian eksentris- manusia berupaya untuk memahami apa saja yang berada di luar dirinya. Namun kecenderungan ini yang akan membawa manusia pada satu sikap ekstrim yakni sikap menguasai dan mengontrol apa saja yang di luar dirinya, termasuk sesamanya. Sejak zaman filsafat Yunani klasik, yang ditandai dengan keinginan untuk memahami alam semesta (kosmologi), hingga zaman modern yang ditandai dengan subyektifisme radikal, manusia selalu berupaya untuk memahami dan menguasai dunia. Kecenderungan ini melahirkan satu karakter yang sangat mendasar dalam diri manusia modern (dan juga sebagian besar manusia postmodern) yakni kecenderungan untuk menaklukkan yang ada di luar dirinya dan dalam arti tertentu sebetulnya menjadikan dirinya sebagai pusat (egosentrisme). Dengan demikian, manusia sebetulnya telah mengingkari esensinya sebagai makhluk eksentris yang dipanggil untuk menjalin relasi kepada yang lain, bukan mengeksploitasi. Eksentris tidak lagi dipahami sebagai pra-syarat untuk menemukan diri dalam relasi harmonis dengan yang lain. Keterarahan pada yang di luar diri tidak lagi dilihat sebagai jalan untuk menemukan makna. Dengan paradigma egosentrisme, manusia terdorong untuk menguasai dan menaklukkan sekaligus menjadikan dirinya tuan atas apa dan siapa saja.
Suatu Problem Dewasa Ini: Egosentrisme
Dunia modern sangat kental dengan prinsip egoisme karena karakter ego sangat diutamakan. Perinsip “keakuan” nampaknya merasuki manusia modern pada umumnya sehingga cenderung memandang yang lain di luar dirinya hanya sebagai objek yang harus dikendalikan dan dikuasai. Nampaknya slogan “Cogito Ergo Sum” milik Rene Descartes dipahami secara radikal dan dihidupi secara ekstrim. Dalam keadaan sedemikian, lahirlah relasi aku-itu di mana sesama diperlakukan sebagai objek. Jenis relasi ini terjadi dalam sikap pragmatisme buta; aku menjalin relasi sejauh ia beruntung bagiku. Sesama diperlakukan seperti benda saja dan tidak dihiraukan jika rasanya ia tidak dibutuhkan atau tidak berguna. Kecenderungan semacam ini, bisa membawa manusia pada sikap yang semakin radikal di mana ke’akuan’ku mau membentuk orang lain sesuai dengan kehendakku. Salah satu filsuf modern yang mengusung tema ini adalah Jean Paul Sartre yang menyatakan sesama sebagai musuh. Sikap membenci adalah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri sebagai subjek. Sesama dilihat sebagai ancaman dan penyerang melalui sorotan mata yang menjadikan diri sebagai objek. Kesosialan menjadi suatu pemahaman yang tidak masuk akal dan tidak berarti. Dalam keadaan ini terciptalah chaos relationship yang bermuara pada tindakan dehumanisasi.
Keadaan chaos relationship ini bukan sekadar teori atau sebatas konspirasi. Sejarah telah membuktikannya. Lebih dari enam juta orang yang sebagian besar adalah orang-orang Yahudi, mati di tangan rezim Nazi pada periode Perang Dunia II. Perang Dunia II sendiri menjadi implikasi bahwa tindakan peniadaan manusia dapat dibenarkan demi tujuan subyektif yang disamarkan lewat misi mulia atau alasan ‘politik-perdamaian’. Sejak tahun 1975 hingga 1979, rezim Khmer Merah pimpinan Pol Pot membunuh sekitar dua juta orang di Kamboja. Genosida di Rwanda tahun 1994 memakan korban sekitar 800 ribu orang suku Tutsi yang dibantai oleh pihak Hutu. Di Indonesia, peristiwa G30S PKI 1965 memakan korban paling tidak dua juta orang. Pula peristiwa Tanjung Priok tahun 1984 dan kerusuhan Mei 1998. Tindakan-tindakan berciri dehumanisasi ini tidak dapat dibenarkan dengan alasan atau dasar apa pun. Namun sayangnya, tindakan itu justru dilegalkan seringkali karena kepentingan atau ideologi tertentu. Apa yang dikatakan oleh Thomas Hobbes menjadi sangat relevan. Manusia menjadi serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Manusia menjadi rakus, kehilangan esensi, dan bersikap seolah ia bisa menguasai semua hal.
Suatu Paradigma Contra Totalitarian ala Emmanuel Levinas
Namun demikian, tidak semua manusia jatuh pada sikap egosentrisme radikal. Dari kalangan para filsuf khususnya di masa postmodern muncul kritik tajam terhadap totalitas modern dan membuka cakrawala pikiran; menggugah setiap orang untuk kembali kepada dasar sejati panggilan manusia sebagai makhluk yang eksentris-relasional. Saya mengambil contoh filsuf Prancis bernama Emmanuel Levinas. Seorang Yahudi dengan etika wajahnya yang sangat terkenal dan khas. Levinas mengkritik era filsafat modern dengan mendobrak totalitas. Manusia modern cenderung bersikap totalitarianisme dengan menyatakan “yang lain sebagai aku yang lain”; yang lain adalah objek yang kupahami dan kumengerti. Manusia dengan gampang menjadikan orang lain sebagai objek yang seolah sudah dipahami sepenuhya. Maka manusia menjadi “sok tahu”, “sok mengerti”, atau “sok paham” tentang apa saja. Levinas datang dengan etikanya yang sangat relevan untuk mendobrak sikap totalitarian. Baginya, dasar dari segalanya, termasuk filsafat adalah relasi dengan sesama. Dalam relasi kita bertemu dengan wajah ontologis yang berseru dengan kepolosannya dan ketelenjangannya: “jangan membunuh aku”. Wajah dalam hal ini bukanlah ciri-ciri wajah. Wajah adalah bahasa metaforis untuk mengatakan sesuatu yang sangat mendasar dalam diri manusia. Bahwa sebelum kita sempat berpikir, memutuskan, atau bertindak wajah sudah lebih dahulu menyerukan panggilan etis. Hal ini yang kemudian melahirkan tanggungjawab yang bersifat primordial. Aku bertanggungjawab terhadap sesama karena itu menjadi panggilan dasarku sebagai manusia jauh sebelum aku dapat berefleksi atau memikirkan sesuatu tentang dia.
Bagi Levinas, wajah bukanlah ciri-ciri wajah yang mewakilkan suku, golongan, ras, kelompok, institusi, dan sebagainya. Wajah yang berseru adalah wajah ontologis yang ada dalam setiap manusia mana pun di dunia. Dengan wajah ontologis, kita melihat yang tak berhingga menampakkan diri dalam diri setiap orang. Aku melihat wajah yang menyerukan suara yang sama dalam setiap diri manusia. Ini menjadi dasar relasi dengan sesama yang bersifat etis dan mewajibkan. Secara cukup radikal, sesama dilihat sebagai tuan yang harus dilayani karena dasar etis itu. Penampakan wajahnya menciptakan suatu hubungan asimetris, bukan timbal balik. Aku dipanggil dari kedalaman etis untuk memberi diri, mengorbankan diri, tanpa mengharapkan imbalan apa-apa. Pandangan Levinas sangat kental fenomenologis, yang menekankan fenomen sebagai subyek yang berbicara dan tidak boleh direduksi sebagai objek yang dengan demikian dikuasai dan dipahami. Panggilan etis yang berseru melalui wajah bukanlah proses mengobjekkan yang lain justru menghormati yang lain sebagai subyek yang sungguh lain daripada aku. Ketika aku melihat sesama, sebelum aku berpikir, berefleksi, atau menafsirkan dia, aku sudah lebih dahulu dipanggil oleh seruan wajahnya yang polos tetapi menuntut untuk bertanggungjawab atasnya. Tanggungjawab yang dimaksud Levinas bukanlah tanggungjawab yang secara sederhana sering kita pahami melainkan suatu tanggungjawab yang bersifat primordial, suatu tanggungjawab yang mendasari diri setiap manusia secara ontologis. Intinya, bagi Levinas, relasi adalah hal yang mutlak dalam kehidupan manusia. Aku hanya akan menemukan diriku ketika aku berelasi dengan yang lain bahkan harus mengorbankan diri baginya sebagai bagian dari tanggungjawab primordialku. Sesama bukan objek yang dapat ditafsirkan, dipahami, dikuasai, atau dikendalikan. Sesama adalah yang sungguh lain dari aku yang tidak dapat kupahami sepenuhnya dan yang darinya aku menemukan kepenuhan panggilanku sebagai manusia.
Kisah orang Samaria yang baik hati dalam Injil adalah salah satu contoh yang relevan. Ada seorang yang baru pulang dari Yerusalem dirampok secara habis-habisan dan dipukul sampai setengah mati. Kebetulan ada seorang imam yang lewat situ. Ia melihat orang itu lalu meninggalkannya begitu saja. Ada pula seorang Lewi yang lewat situ, melihatnya, namun juga mengabaikannya dan meninggalkannya begitu saja. Kemudian lewatlah seorang Samaria, seorang yang asing dan sering dicela, lewat jalan itu dan melihat orang yang sekarat itu. Orang Samaria itu kemudian menolong orang itu dan tidak berhenti di situ ia merawat orang itu sampai benar-benar sembuh dan membayar semua biaya perobatannya. Padahal ia adalah seorang Samaria, seorang yang asing sama sekali bagi orang Yerusalem dan dianggap Najis. Tetapi justru orang asing yang menunjukkan belaskasihan sebelum ia sempat memikirkan apa pun tentang orang yang sekarat itu, bukan seorang imam atau seorang Lewi. Kisah ini mengajarkan relasi asimetris yang ditekankan oleh Levinas. Sesama adalah subyek bukan objek. Terlepas dari apa pun latarbelakangnya, setiap manusia memiliki esensi etis yang sama yang berseru dan memanggil setiap orang yang melihatnya. Imam dan orang Lewi adalah tipe pragmatisme buta yang melihat sesama terbatas pada relasi untung-rugi dan dengan demikian memandang sesama terbatas sebagai objek belaka.
Yesus Kristus sebagai Model Relasi Etis yang Totalitas dan Sejati
Dalam diri Yesus Kristus, dapat juga dilihat dimensi relasi asimetris yang sejati. Yesus Kristus tidak hanya sekadar memberi Dirinya kepada yang lain, tetapi lebih jauh bahkan menyerahkan diri-Nya sepenuhnya dan seutuhnya dengan mengorbankan diri di salib demi satu tujuan yang tidak akan dapat dilakukan oleh manusia mana pun juga. Dalam pemberian diri tanpa pamrih Yesus Kristus tampaklah suatu relasi etis yang sungguh final dan sejati. Relasi etis yang mendalam dan final itu didasarkan pada kasih sejati yang mengantar pada pemberian diri asimetris terhadap yang lain dan dunia. Terlepas dari daya Ilahi yang dimiliki-Nya, Yesus adalah manusia sejati yang barangkali tidak akan dapat ditiru sepenuhnya oleh manusia mana pun juga. Yesus adalah model sejati yang kepada-Nya setiap orang berguru tentang pemberian diri tanpa pamrih dalam relasi etis yang mendalam. Manusia zaman sekarang perlu berguru pada guru sejati dalam relasi dengan yang lain dan mengesampingkan sikap egosentris yang cenderung menjadikan diri sebagai tuan dan mereduksi orang lain sebatas objek yang harus dikuasai dan dikendalikan. Panggilan etis bukanlah konsep utopis karena Manusia Yesus telah menunjukkannya secara penuh. Bagi kita, meniru sedikit dari cara hidup Yesus dalam berelasi dengan yang lain rasanya sudah cukup untuk menciptakan perdamaian dunia. Dengan memberi diri dan menghormati setiap manusia tidak akan ada perang atau konflik yang berujung pada genosida atau peniadaan ‘wajah’ orang lain.
-Pace E Bene-


