Beranda / Artikel / Spiritualitas Fransiskan Kapusin Dan Semangat Gita Sang Surya: Jalan Menuju Kesadaran Ekologis Dalam Terang Laudato`Si- Sdr. Daniel Simatupang OFMCap

Spiritualitas Fransiskan Kapusin Dan Semangat Gita Sang Surya: Jalan Menuju Kesadaran Ekologis Dalam Terang Laudato`Si- Sdr. Daniel Simatupang OFMCap

Abstrak

Krisis ekologi global bukan hanya menyangkut kerusakan lingkungan, melainkan juga persoalan moral dan keadilan sosial. Paus Fransiskus melalui Ensiklik Laudato Si` menawarkan paradigma integral ecology yang menekankan keterhubungan antara manusia, alam, dan Allah. Kidung Sang Surya karya Santo Fransiskus Assisi menghadirkan perspektif baru bahwa seluruh ciptaan adalah saudara dan saudari yang harus dihormati, bukan sekedar dieksploitasi. Dalam Spiritualitas  Kapusin,  hidup  sederhana,  miskin,  dan  bersaudara  dengan  ciptaan  merupakan bentuk nyata penghayatan iman sekaligus jawaban atas krisis ekologi.  

Kata kunci: Spiritualitas Fransiskan, Kapusin, Gita Sang Surya, Laudato Si`, Ekologi Integral, Kesadaran Ekologis. 

Pendahuluan

            Krisis ekologi global menjadi salah satu tantangan terbesar umat manusia di abad ke-21 ini, karena menyangkut kelangsungan hidup seluruh ciptaan dan keseimbangan bumi sebagai rumah bersama. Alam dan segalanya isinya telah menopang dan menunjang kehidupan manusia: sebagai penyedia pangan, tempat tinggal, penyedia air dan udara, dan sebagainya. 

Perubahan iklim yang sangat meresahkan masyarakat secara global saat ini menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan bencana alam terjadi di dunia1. Banyak orang miskin tinggal di wilayah yang paling terpengaruh oleh dampak pemanasan bumi dan perubahan iklim, seperti kekeringan, banjir, serta kerusakan ekosistem, padahal penghidupan mereka sangat bergantung pada sumber daya alam dan jasa ekosistem. Situasi ini menegaskan bahwa krisis ekologi tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga menyangkut persoalan moral dan keadilan sosial, sebab mereka yang paling sedikit berkontribusi terhadap kerusakan bumi justru menanggung akibat paling berat dari krisis  tersebut. 

Krisis ekologi yang kian marak terjadi sebagian besar disebabkan, karena selama ini lingkungan hidup hanya dipahami sebagai lingkungan hidup manusia saja, padahal lingkungan hidup adalah lingkungan di sekitar manusia, tempat organisme dan an-organisme berkembang dan berinteraksi. Di bumi terdapat sekitar lima juta spesies flora dan seratus juta fauna. Manusia hanya merupakan satu spesies saja. Jadi sebenarnya manusia hanyalah merupakan bagian kecil dari lingkungan hidup ini dan berperan kecil saja dalam mempertahankan keseimbangan ekologi. Manusia  selalu  mencari  kesejahteraan  pribadinya.  Untuk  mencapai  tujuan  itu,  manusia berlomba-lomba   untuk melakukan eksploitasi secara terus-menerus dengan tidak wajar yang mengakibatkan kerusakan pada alam. 

Kekurangan  kesadaran  akan  kepekaan  dalam  menata  dan  mengelola  alam  telah melahirkan krisis kesadaran untuk mencintai lingkungan hidup. Hal yang paling konkret yang dapat dilihat dari situasi tersebut ialah gaya hidup yang konsumtif, eksploitasi yang berlebihan akan sumber daya alam, serta ketidakpekaan dalam menanggungjawabi keberlanjutan ekosistem. Manusia cenderung menyingkirkan sesama, serta menguasai, mengeksploitasi ciptaan lain, dan menjauh dari Allah.2 Akibatnya, kerusakan lingkungan tidak hanya merusak lingkungan alam, tetapi juga mengarah pada dampak sosial. Untuk itu diperlukan suatu upaya bersama untuk membangun kembali kesadaran untuk mencintai lingkungan.  

Untuk  merespons  berbagai  persoalan  ini,  dibutuhkan  sebuah  sikap  ekologis  dalam menjalin relasi bagi seluruh ciptaan di alam semesta. Sikap ekologis tidak hanya membantu manusia  menghadapi krisis lingkungan yang terjadi, tetapi juga meneguhkan kembali kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari jaringan kehidupan yang saling terkait. Karena itu, sikap ekologis perlu dijadikan prinsip dasar bagi manusia untuk mengakui keterikatan eksistensialnya dengan alam, sehingga tumbuh rasa hormat, kepedulian, bahkan perasaan kekerabatan dengan setiap makhluk. Dengan cara ini keberadaan manusia bukan lagi sebagai penguasa absolut atas alam, melainkan sebagai penjaga dan sahabat ciptaan yang setia memelihara keberlanjutan bumi sebagai rumah bersama. Menghayati panggilan untuk melindungi karya Allah adalah bagian penting dari kehidupan yang saleh, dan bukan sesuatu yang opsional dan sekunder, melainkan panggilan iman yang hakiki.3 

Pembahasan

Laudato Si`: Paradigma Ekologi Integral

Ketika berbicara mengenai ekologi dalam Gereja Katolik, tidak bisa dilepaskan dari Ensiklik Laudato Si`  yang diterbitkan Paus Fransiskus pada tanggal 24 Mei 20154. Laudato Si` sendiri berarti Terpujilah Engkau yang diambil dari nyanyian pujian Santo Fransiskus dari Assisi, Kidung Sang Surya, yang mengekspresikan rasa syukur yang mendalam atas seluruh ciptaan.  Laudato  Si`  menjadi  suara  Gereja  bagi  dunia  untuk  kembali  memperhatikan  bumi sebagai rumah semua makhluk yang hidup. Seruan ini lahir dari sebuah kesadaran mendalam tentang relasi yang mendalam antara manusia-alam dan Tuhan.5 Merawat bumi bukan hanya kewajiban ekologis, tetapi juga ungkapan iman dan tanggung jawab spiritual terhadap Sang Pencipta. Kepedulian terhadap lingkungan hidup harus dipahami sebagai bagian integral dari iman yang menuntun pada sikap bersyukur terhadap seluruh ciptaan. 

Dalam Ensiklik ini, Paus Fransiskus menegaskan bahwa krisis ekologis tidak akan dapat dipisahkan yang dihadapi dunia. Kerusakan lingkungan, kemiskinan, dan pola hidup konsumtif akan  membentuk  lingkaran  yang  semakin  memperburuk  kondisi  bumi.  Karena  itu,  Paus menawarkan  sebuah  paradigma  yang  disebut  integral  ecology,  yakni  cara  pandang  yang menghubungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan martabat manusia, keadaan sosial dan tanggung  jawab  spiritual.    Paradigma  ini  menolak  pendekatan  yang  terfragmentasi,  sebab permasalahan ekologi tidak dapat dipisahkan dari permasalahan sosial, ekonomi, budaya, bahkan iman.  Paus  menegaskan  “Segalanya  saling  berhubungan,  dan  itu  mengundang  kita  untuk menemukan solusi yang menyeluruh.6 Dalam konteks ini, persoalan krisis lingkungan yang dialami manusia tidak serta-merta dapat dihubungkan dengan sikap andil Tuhan. Manusia tidak dapat begitu saja menyalahkan Tuhan atas peristiwa yang sesungguhnya lahir dari keserakahan dan kejahatan manusia7. Integral ekologi mengajak manusia untuk melihat  bumi bukan hanya sebagai sumber daya yang dieksploitasi, tetapi sebagai rumah bersama yang harus dijaga demi keberlangsungan seluruh ciptaan.  Paus Fransiskus mengingatkan bahwa bumi, rumah bersama kita, kini “mulai tampak lebih seperti tumpukan   kotoran daripada taman yang indah.8 Alam sebagai rumah bersama mengharapkan manusia menjadi penjaga sekaligus pemelihara tempat tinggal yang unik dan indah. Manusia perlu mengedepankan rasa kepedulian terhadap kondisi alam. Ungkapan profetis ini seharusnya menggugah kesadaran kita untuk melihat betapa parahnya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh ulah manusia. Pernyataan tersebut tidak hanya mengandung kritik moral yang tajam, tetapi juga sebagai seruan etis. 

Gita Sang Surya: Spiritualitas Pujian atas Ciptaan

Nyanyian saudara Matahari (Cantico delle Creature) adalah doa pujian yang digubah oleh Santo Fransiskus dari Assisi. Dalam doa ini, Fransiskus melantunkan syukur kepada Allah melalui ciptaan-ciptaan-Nya  yang disebutnya sebagai saudara dan saudari. Dalam kidung yang digubahnya, ia berbicara tentang matahari, bulan, angin, air, api, dan bumi, bukan sebagai objek yang   dimanfaatkan.   Cara   pandang   tersebut   menggeser   relasi   dari   dominasi   menjadi persaudaraan: hormat pada nilai intrinsik setiap makhluk, kesederhanaan, dan merawat bumi.9 Kidung yang digubah orang kudus ini mengubah cara orang memandang diri dan lingkungan sekitarnya. Dengan Gita Sang Surya, Santo Fransiskus menyadari dan hendak memaparkan bahwa kodrat alam dan setiap makhluk ciptaan ikut ambil bagian dalam kesempurnaan Allah pencipta-Nya. Keberlangsungan hidup manusia di dunia ini tidak terlepas dari bantuan matahari, bulan, bintang, laut  dan alam semesta lainnya.  Sejatinya, manusia dapat bertahan hidup dengan menyadari  bahwa  mereka  adalah  bagian  dari  alam  semesta  ini.  Dalam  menjalin  hubungan manusia dengan alam saat ini perlu didasari atas cinta-kasih persaudaraan dan bukan lagi sebatas hubungan  fungsional. Allah  adalah  pemilik  dan  penguasa  alam  sedangkan  manusia  adalah penjaga dan pemelihara alam10. Sebagai penjaga dan pemelihara, manusia bekerja sebagai mitra Allah dalam karya abadi menyempurnakan alam semesta. 

Ciptaan  merupakan  medium,  sarana  yang  melaluinya  Allah  menyatakan  kasih-Nya kepada ciptaan lainnya11. Dengan demikian, karena ciptaan dapat menjadi medium dari pihak yang Ilahi, maka ciptaan itu juga  dapat menjadi medium lewat mana manusia sampai kepada Allah.  Cara orang melihat dunia mengarahkan tindakan mereka terhadap dunia. Bagi Fransiskus alam semesta merupakan tempat kehadiran Tuhan. Tuhan memperkenalkan diri-Nya dan alam menyediakan simbol-simbol yang berbicara tentang Tuhan.  Melalui  Kidung  ini,  Fransiskus mengungkapkan  unsur-unsur  penting:  pengangkatan martabat makhluk ciptaan Tuhan dengan sapaan khas dan perlakuan sebagai saudara-saudari, penghargaan kekhasan nilai-nilai intristik dalam diri setiap makhluk yang hanya bergantung pada Tuhan pencipta, dan menyadarkan manusia agar tumbuh keinginan “merangkul” akan makhluk ciptaan lainnya sebagai rekan dalam memuliakan Tuhan. Tradisi Fransiskan yang lahir dari kidung ini menanamkan kesederhanaan, solidaritas dengan orang miskin, dan penghormatan terhadap bumi. Pemahaman yang demikian dapat mendorong banyak orang untuk mengurangi konsumsi berlebih serta memperjuangkan keadilan lingkungan bagi yang paling rentan. Gita Sang Surya merupakan undangan kepada seluruh umat manusia untuk memuji, bersyukur dan mengabdi Allah dengan rendah hati.  Bersama ciptaan, di hadapan Sang Pencipta, St. Fransiskus menerima diri sebagai sesama ciptaan. 

Spiritualitas Fransiskan Kapusin

      Hidup bersatu dengan alam bukanlah sekedar gaya hidup romantis, melainkan panggilan injili. St. Fransiskus dari Assisi telah mengajarkan bahwa seluruh ciptaan adalah saudara-saudari. Teladan yang diberikan oleh St. Fransiskus mengajarkan kita untuk hidup dengan penuh harmoni dengan  semua  ciptaan.12  Para  Kapusin  menghidupi  semangat  tersebut  dengan  cara  yang sederhana  dan  miskin.  Dengan  hidup  sederhana,  Para  Kapusin  hendak  menjaga  agar  tidak terjebak  dalam  pola  hidup  konsumtif  yang  sering  kali  merusak  alam.  Semangat  Kapusin menjalankan kaul kemiskinan sebagai jalan mengikuti Kristus yang miskin serta merangkul ciptaan sebagai bagian dari keluarga, seperti tertuang dalam konstitusi:  

Kita harus menghormat ciptaan sebagaimana Santo Fransiskus melakukannya, yang  memandang semua makhluk sebagai saudara dan saudari, karena semuanya berasal dari Bapa 

yang sama dan menuju tujuan yang sama.13 

Kedekatan  dengan  alam  membuat  para  Kapusin  semakin  menyadari  bahwa  kerusakan lingkungan selalu berdampak berat bagi kaum miskin. Itu sebabnya, spiritualitas Kapusin tidak hanya   tentang   doa      dan   kesederhanaan,   tetapi   juga   tentang   solidaritas.   Laudato   Si“ mengingatkan bahwa “jeritan bumi dan jeritan kaum miskin adalah satu” (LS.49).  

Spiritualitas ekologis pada intinya adalah mengenai bagaimana kehidupan manusia di dasari dan digerakkan oleh Roh dan kesadaran akan keterhubungan  semua yang ada di alam semesta. Spiritualitas  Fransiskan  Kapusin  dengan  jelas  menghubungkan  iman  dan  ekologi14.  Santo Fransiskus telah meletakkan pondasinya: melihat ciptaan sebagai saudara, memilih hidup miskin dan sederhana, serta menghidupi solidaritas dengan kaum miskin dan dengan bumi. Hal itu dipertegas juga dalam konstitusi bahwa kesederhanaan hidup adalah pintu menuju solidaritas dengan ciptaan.  

Implementasi Spiritual Ekologis

Dalam masyarakat luas, kesadaran ekologi dimulai dari hal-hal yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari: mengurangi penggunaan plastik, memilah sampah rumah tangga untuk kemudian di daur ulang. Setiap tindakan yang memperhatikan lingkungan, sekecil apapun, memiliki  nilai  moral.15  Gita  Sang  Surya  yang  digubah   Santo  Fransiskus  tidak  hanya mengekspresikan sebuah doa, tetapi juga menyimpan nilai ekologis yang sangat relevan untuk menjawab krisis lingkungan masa kini.16 Krisis ekologi nyata terjadi seperti, banjir, kekeringan, polusi, sampah plastik, kerusakan hutan, serta berbagai bencana alam. Spiritualitas Kapusin sangat relevan untuk mengubah pola hidup masyarakat yang konsumtif. Dengan menekankan solidaritas, akan lebih mudah dipadamkan.  

Sejatinya, para Kapusin hidup dalam kesederhanaan, bersaudara, dan dekat dengan alam. Spiritual ini tidak sebatas teoritis, tetapi nyata dalam praktik hidup sehari-hari: cara merawat lingkungan alam sekitar, serta bagaimana membangun relasi yang harmonis dengan semua makhluk hidup. Upaya dalam meminimalisir berbagai penyebab kerusakan lingkungan, seperti menanam pohon, mengurangi konsumsi yang berlebihan, memanfaatkan sumber daya dengan bijak, memilah sampah, membuat kompos organik, mengurangi plastik sekali pakai, mengurangi penggunaan  kendaraan  dan  aktivitas  yang  dapat meminimalisir  dampak  krisis  ekologi  serta menciptakan ruang hijau.  Dengan demikian, menjadi Kapusin yang berpandang ekologis tidak pernah lepas dari semangat Gita Sang Surya sekaligus ajakan Laudato Si`. 

Penutup

Allah  adalah  satu-satunya  pencipta.  Manusia  tidak  dapat  berada  dan  bertahan  hidup apabila  mengabaikan  ciptaan  yang  lainnya  karena  sejatinya  alam  semesta  adalah  ruang aktualisasi diri manusia.  

Allah menghendaki, supaya bumi beserta segala isinya digunakan oleh semua orang dan  sekalian bangsa, sehingga harta benda yang tercipta dengan cara yang wajar harus mencapai  semua orang berpedoman pada keadilan, diiringi dengan cinta kasih…Tetapi semua orang  berhak memiliki sebagian harta -benda sehingga mencukupi bagi dirinya maupun kerabatnya17 

Kesadaran akan krisis ekologi pada masa kini tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai permasalahan teknis atau sekadar urusan ilmiah, namun telah menyentuh inti kehidupan manusia secara utuh. Krisis Ekologis merupakan panggilan untuk pertobatan batin yang mendalam. 

Hari ini, kita tidak dapat lagi berbicara tentang pembangunan berlanjutan tanpa solidaritas antar-generasi18.  

Eksploitasi yang dilakukan manusia tidak hanya merusak bumi saat ini, tetapi juga  mengancam masa depan generasi selanjutnya. 

            Di sinilah spiritualitas Fransiskan  Kapusin menemukan maknanya. Santo Fransiskus dari Assisi melalui Gita Sang Surya telah menunjukkan cara pandang yang unik: bahwa seluruh ciptaan adalah saudara dan saudari. Para Kapusin menghidupi warisan ini dalam kesederhanaan serta bersaudara dengan ciptaan. Dengan begitu, para Kapusin menghadirkan teladan bahwa menjaga bumi bukan hanya kewajiban moral, melainkan jalan penghayatan iman yang sejati 

Bagaimana  manusia  memahami  makna  hidup  jika  rumah  bersama  dihancurkan  oleh keserakahan dan  tidakpedulian? Laudato Si` menghadirkan sebuah seruan profetis bahwa kepedulian ekologis adalah bagian integral dari iman kristiani.Pertanyaan Paus Fransiskus dalam ensiklik ini: “Dunia seperti apa yang akan kita wariskan kepada generasi mendatang?19 hendaknya menggugah hati setiap orang beriman. Dengan demikian, Laudato Si` bukan sekadar ajakan menjaga lingkungan,melainkan seruan profetis bahwa kepedulian ekologis merupakan bagian integral dari iman Kristiani. Merawat bumi berarti merawat iman; menjaga ciptaan berarti mengasihi  Sang  Pencipta.  Spiritualitas  Fransiskan  Kapusin  dan  semangat  Gita  Sang  Surya menegaskan kembali panggilan itu, agar manusia hidup sederhana, bersyukur, bersaudara dengan seluruh ciptaan, dan meninggalkan warisan bumi yang lestari bagi generasi mendatang. 

Krisis ekologis pada dasarnya adalah panggilan moral dan spiritual20 

1 Fransiskus. Ensiklik Laudato Si`: Tentang Perawatan Rumah Kita Bersama, no. 25 (Jakarta: Obor, 2015), no. 23, hlm. 18. 
2 Largus Nadeak, Laurensius Tinambunan, dan Anton Moa, “Bersama Bertransformasi Menjadi Manusia Menurut Gambar Allah,”Logos: Jurnal Filsafat-Teologi 22, no. 2 (Juli 2025): 194-195 ]

3 Emmanuel Gerrit Singgih, Pengatar Teologi Ekologi (Sleman: Kanisius, 2021), hlm. 216. 

4 Fransiskus. Ensiklik Laudato Si`: Tentang Perawatan Rumah Kita Bersama (Jakarta: Obor, 2015). 5 Fransiskus. Ensiklik Laudato Si`…Ibid., no. 66, hlm. 55. 

6 Fransiskus. Ensiklik Laudato Si`… Ibid., no. 137, hlm. 110 

7 John B. Cobb Jr. dan David Ray Griffin, Proccess Theology: An Introductory Exposition (Philadelphia: Westminters Press, 1976), hlm 64 

8 Fransiskus. Ensiklik Laudato Si`: Tentang Perawatan Rumah Kita Bersama (Jakarta: Obor, 2015), no. 21, hlm. 17 

9 Willem Marie Speelman, “Nature is a Mystery in a Problem Oriented World: Francis of Assisi`s Cantale of the  Creatures,NTT Journal for Theology and the Study of Religion 77, no. 3 (2023): 201 

10 Peter C. Aman, “Teologi Ekologi dan Mistik-Kosmik St. Fransiskus Assisi,” Jurnal Diskursus Vol. 15, no. 2 (2016): 192 

11 Surip Stanislaus, “Peduli Ekologi Ala Fransiskus Assisi,” Logos: Jurnal Filsafat-Teologi. Vol 18, no. 2 (2021): 71 

12 Fransiskus. Ensiklik Laudato Si“: Tentang Perawatan Rumah Kita Bersama (Jakarta: Obor, 2015), no. 1, hlm. 3. 

13 Konstitusi Saudara Dina Kapusin, Konstitusi No. 105, ayat 2. 

14 Illia Delio, Keith D. Warner, dan Pamela Wood, Care for Creation: A Franciscan Spirituality of the Earth (Cincinnati: St. Anthony Messenger Press, 2008), hal. 21. 

15 Fransiskus. Ensiklik Laudato Si`: Tentang Perawatan Rumah Kita Bersama (Jakarta: Obor, 2015), no. 211, hlm. 128. 

16 Peter C. Aman, “Teologi Ekologi dan Mistik-Kosmik St. Fransiskus Assisi,” Jurnal Diskursus Vol. 15, No. 2 (2016): 146-147. 

17 Konsili Vatikan II, Gadium et Spes (Konstitusi Pastoral tentang Gereja di dunia Dewasa Ini), art. 69, 1 

18 Fransiskus. Ensiklik Laudato Si“: Tentang Perawatan Rumah Kita Bersama (Jakarta: Obor, 2015), no. 159, hlm. 127. 

19 Fransiskus. Ensiklik Laudato Si`…Ibid., no. 160, hlm. 128 

20 Fransiskus. Ensiklik Laudato Si`… Ibid., no. 200, hlm. 156sss 

Daftar Pustaka

Aman, Peter C. “Teologi Ekologi dan Mistik-Kosmik St. Fransiskus Assisi.” Jurnal Diskursus

Vol. 15, no. 2 (2016) :146-147

Cobb, John B. Jr. dan David Ray Griffin. Process Theology: An Introductory Exposition.

Philadelphia: Westminster Press, 1976.

Fransiskus. Ensiklik Laudato Si`: Tentang Perawatan Rumah Kita Bersama. Jakarta: Obor, 2015.

Konsili Vatikan II. Gaudium et Spes: Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini.

Dalam Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: Obor, 1993.

Nadeak Largus, Laurensius Tinambunan, dan Anton Moa, “Bersama Bertransformasi Menjadi  Manusia Menurut Gambar Allah,” Logos: Jurnal Filsafat-Teologi 22, no. 2 (Juli 2025): 194-195 Nadeak Largus, Laurensius Tinambunan, dan Anton Moa, “Bersama Bertransformasi Menjadi 

Manusia Menurut Gambar Allah,” Logos: Jurnal Filsafat-Teologi 22, no. 2 (Juli 2025): 194-195 

Ordo Saudara Dina Kapusin. Konstitusi Saudara Dina Kapusin. Roma: Curia Generalis

OFMCap, 2013.

Singgih, Emanuel Gerrit. Pengantar Teologi Ekologi. Sleman: Kanisius, 2021.

Speelman, W. M. (2023). Nature as a Mystery in a Problem Oriented World: Francis of Assisi`s

Canticle of the Creatures. NTT Journal for Theology and the Study of Religion 77.3 (2023) 197 -208.  

Stanislaus, Surip. “Peduli Ekologi Ala Fransiskus Assisi.” Logos: Jurnal Filsafat-Teologi Vol.

18, no.2 (2021): 71-90

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *