Kita kembali meresapi doa yang dipanjatkan oleh bapa serafik kita di depan salib San Damiano. Doa ini memiliki urutan makna yang tajam bagi perjalanan panggilan kita sebagai saudara Kapusin. Jika kita cermati, St. Fransiskus tidak memulai doanya dengan meminta kecerdasan intelektual atau kepekaan perasaan. Fransiskus justru pertama-tama memohon: iman yang benar, pengharapan yang teguh dan kasih yang sempurna atau yang biasa kita sebut iman, harap dan kasih. Mengapa urutan ini penting bagi kita? karena Fransiskus sadar bahwa tanpa fondasi keutamaan Ilahi ini, segala kemampuan manusiawi kita bisa menjadi bumerang bagi persaudaraan.
Jika kita memiliki perasaan peka tetapi tanpa iman, kita hanya akan menjadi saudara yang mudah terombang-ambing oleh perasaan kita atau gesekan kecil yang kita alami di komunitas ini. jika kita memiliki budi yang cerah tetapi tidak ada kasih, kita hanya akan menjadi pribadi yang sombong, dan kita akan menggunakan kecerdasan kita untuk menghakimi sesama saudara. Maka Fransiskus menyadari bahwa iman, harapan dan kasih adalah lensa yang harus terpasang lebih dulu agar kita mampu melihat dunia, sesama dan terlebih diri kita sendiri dengan cara pandang Allah. Setelah lensa itu barulah kita memohon perasaan peka dan budi yang cerah agar kita melaksanakan perintah-Nya yang kudus dan tak menyesatkan dalam kehidupan kita.
Para saudara, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita bisa memiliki kepekaan dan budi yang cerah di tengah suara-suara kesibukan kita? jawabannya terletak pada “kesediaan kita mendengarkan keheningan”. Mungkin terdengar aneh ya, bagaimana mungkin keheningan bisa didengarkan? Bagi kita, mendengarkan keheningan berarti mendengarkan dengan hati kita yang telah diam dari segala kegaduhan diri dan kebisingan ambisi-ambisi kita. keheningan bukan kekosongan yang mati atau tanpa suara, melainkan sebuah ruang yang penuh dengan kehadiran Sang Misteri.
Dalam keheningan yang jujur, kita sering merasa tidak nyaman karena di sini kita bertemu dengan kebenaran diri kita sendiri. Tanpa suara pujian dari orang lain atau tanpa topeng tugas-tugas kita, kita sekarang sedang terbuka di hadapan Allah. Pertemuan kita dengan Sang Misteri inilah yang membimbing kita untuk bertobat dan merawat kembali “ruang batiniah” kita. keheningan menjadi cermin yang memperlihatkan dengan jujur mana dari hidup kita yang masih perlu kita perbaiki.
Dalam poin atau nomor ke dua dikatakan di sana bahwa keheningan tidak membunuh keinginan kita, tetapi memurnikan keinginan itu menjadi kerinduan yang membara untuk bersatu dengan Tuhan. Di dalam keheningan pula, terjadi sebuah dialog yang luar biasa, bukan lagi dialog yang berisi kata-kata yang melelahkan, di mana kita harus terus berbicara agar didengar. Sebaliknya, yang terjadi adalah dialog keberadaan, saat kehadiran kita seutuhnya menjadi doa yang tenang di hadapan Allah.
Dalam dialog ini, kita belajar untuk berhenti mendikte Allah dengan segala daftar keinginan dan rencana-rencana kita. kita berhenti memberi tahu Allah apa yang harus Ia lakukan, dan kita mulai membuka diri untuk membiarkan Dia bekerja sesuai kehendak-Nya yang kudus.Kita sering takut akan keheningan karena kita takut kehilangan kendali atas hidup kita. namun, justru di saat kita melepaskan kendali itulah Allah mengambil alih kemudi panggilan kita.
Perlu kita ingat bahwa keheningan seorang Kapusin tidak pernah bersifat egois. Kita tidak masuk ke dalam batin hanya untuk kenyamanan pribadi. Keheningan harus membuat kita lebih lembut terhadap saudara satu komunitas. Ketika kita telah berdamai dengan diri kita sendiri dalam keheningan di hadapan Allah, kita tidak lagi merasa perlu untuk menang sendiri dalam diskusi atau merasa terancam oleh kelebihan saudara kita. saudara yang mencintai keheningan adalah saudara yang memiliki ruang yang luas di dalam hatinya untuk menampung kerapuhan sesamanya.
Ini sebenarnya yang disebut “kontemplasi” sebuah momen di mana mata kita dipenuhi dengan terang batin untuk menyambut bisikan suara Allah. Kita jarang menemukan Allah dalam keramaian, hiruk pikuk, walaupun sebenarnya Allah tetap hadir di sana. Namun Allah adalah sahabat yang berbisik lembut dalam keheningan batin yang teduh. Kita beruntung sebagai Kapusin, tradisi ini telah diatur sedemikian rupa agar setiap saudara terbantu memasuki kedalaman itu melalui silentium Magnum.
Mari kita hayati keheningan ini bukan sekadar aturan dalam komunitas untuk tidak berbicara. Silentium magnum adalah bentuk penghormatan tertinggi kita akan kehadiran Allah yang sedang menyapa. Tanpa Silentium, komunitas kita hanya menjadi organisasi sosial yang bising, namun dengan adanya tradisi ini komunitas kita menjadi Bait Allah yang hidup.
Sekali lagi, mari kita rawat keheningan di biara kita ini sebagai sumber keinginan, dialog dan keindahan. Melalui keheningan mari kita menyambut bisikan suara Allah yang menuntun kita dalam persaudaraan ini.


