Beranda / Artikel / Khotbah / Orang Muda Yang Kaya (Fr. Abdi Simarmata,OFMCap)

Orang Muda Yang Kaya (Fr. Abdi Simarmata,OFMCap)

Matius 19:16-22

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?” Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.

  1. Pendahuluan

          Yesus Kristus adalah Sang Juruselamat manusia yang diutus oleh Allah Bapa ke dunia. Allah sendiri begitu baik kepada manusia karena Dia rela menjadi manusia atau berinkarnasi dan serupa dengan kita. Allah Sendirilah yang pertama dan berinisiatif mengasihi kita sebagai ciptaan-Nya. Kasih itu tampak dalam diri Putera-Nya Yesus Kristus yang hadir di dunia dan mengalami kehidupan di dunia bersama dengan manusia biasa. Inisiatif Allah kepada kita menjadi tugas dan perutusan bagi manusia untuk mampu mendengarkan dan melaksanakan perintah-Nya. Dan yang perlu bagi manusia adalah bagaimana manusia itu menanggapi panggilan itu dan menjawab kasih Allah itu dalam kehidupannya sehari-hari.

          Perikop yang akan dibahas yaitu tentang Orang Muda Yang Kaya yang selama masa mudanya telah melakukan perintah Allah. Dia adalah seorang pemuda yang kaya dan selalu mengikuti dan menjalankan perintah Tuhan dalam kehidupannya sehari-hari. Dia merasa bahwa segala perintah Allah telah ia lakukan selama hidupnya sehingga di merasa bahwa hidupnya layak untuk memperoleh kehidupan yang kekal itu. Namun merasa sempurna di hadapan Allah menurut pandangan saya kurang tepat karena manusia seperti kita adalah manusia yang terbatas dan memiliki kelemahan dalam diri masing-masing. Tidak ada manusia satupun di dunia ini yang mampu menyamai dirinya dengan Yesus Sendiri yang adalah sempurna.

          Kisah orang kaya ini yang akan kita bahas ini akan menjadi renungan bagi kita sebagai murid-murid-Nya dan percaya akan Sabda-Nya. Harta bisa saja begitu melimpah tapi janganlah harta itu menjadi patokan bagi kita untuk mengikuti Dia yang tersalib dan miskin. Jika kita mampu menyerahkan segalanya kepada Dia, maka Allah sendiri akan mengambil jalan pada kita dan pada akhirnya sampai pada kebenaran akan keselamatan dan hidup bersama dalam kerajaan surga yang penuh dengan sukacita. Kerajaan Allah itu adalah dimana Allah sendiri berada dan meraja dalam diri kita manusia.

          Manusia tidak ada yang sempurna namun kita selalu berusaha untuk mampu melakukan kebaikan-kebaikan Tuhan dalam hidup kita agar kita sampai pada eskatologis itu sendiri. Pertanyaan yang disampaikan orang muda itu kepada Yesus bagi saya adalah suatu pertanyaan mengenai kerinduannya akan hidup yang kekal. Tentunya dari pertanyaan itu kita bisa menilai bahwa dia adalah orang yang beriman dan percaya bahwa ada kehidupan yang kekal dan itulah yang dicari dan dipersiapkan oleh semua orang di dunia ini.

  • Pembahasan

Veritatis splendor adalah satu ensiklik Bapa Suci Yohanes Paulus II kepada semua Uskup Gereja Katolik tentang pertanyaan-pertanyaan fundamental tertentu mengenai ajaran moral Gereja. “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat?” Injil Matius tidak menyebutkan siapa nama orang pemuda itu namun bukan itulah yang penting melainkan apa maksud dari si pemuda itu menanyakan pertanyaan itu kepada Yesus. Pemuda ini adalah pemuda yang baik karena dia telah mengatakan bahwa segala perintah yang telah dikatakan Yesus itu sudah dilakukannya. Dia bertanya demikian bukan untuk menaati peraturan-peraturan tetapi bagaimana dia sampai kepada kepenuhan hidup yang sepenuhnya.[1] Pertanyaan yang disampaikan pemuda itu adalah pertanyaan yang sering juga kita tanyakan dalam perjalanan panggilan maupun hidup kita sebagai pengikut Yesus Kristus.

          Yesus berkata “ Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah (Mat 19:17). Ungkapan ini dalam injil Markus dan Lukas dirumuskan “Mengapa kaukatakan Aku Baik? Tak seorangpun yang baik selain daripada Allah.” Hidup yang kekal itu mampu kita peroleh dengan mengarahkan pikiran dan hati kita kepada Satu yang baik dan yang baik itu adalah Allah Sendiri. Hanya Allah yang dapat menjawab pertanyaan mengenai apa yang baik, sebab Dia adalah kebaikan itu Sendiri.[2]

          Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan Allah sendiri telah membuat kita sungguh baik adanya dan paling istimewanya adalah kita serupa dan segambar dengan-Nya. Dalam Kejadian 1:1-2:4a Allah telah memberkati dan memberi manusia kuasa untuk memenuhi bumi dan menaklukkannya serta berkuasa atasnya. Dalam Kej 2:4B-25 Allah melihat bahwa manusia tidak baik jika sendiri saja sehingga Allah menciptakan perempuan untuk saling melengkapi. Allah memberi tugas untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden itu dan hendaklah manusia mampu setia akan perinta-perintah Allah.  Setiap orang yang melakukan dan mengakui perintah-perintah Allah adalah orang yang percaya bahwa hanya pada Allahlah keselamatan untuk memperoleh kehidupan kekal itu. Allah menciptakan manusia dan melengkapinya dengan kebijaksanaan dan cinta kasih lewat hukum dalam hatinya yaitu hukum kodrat. Hukum Kodrat itu adalah cahaya pemahaman yang dimasukkan ke dalam diri kita oleh Allah, sehingga kita mengetahui apa yang harus dikerjakan dan apa yang harus kita hindari supaya sungguh-sungguh kita sampai kepada pengalaman yang intim dengan Allah.[3] Turutilah segala Perintah yang disampaikan Yesus merupakan suatu hubungan yang sangat erat antara hidup abadi dan ketaatan kepada perintah Allah. Perintah Allah dikaitkan dengan suatu janji. Dalam perjanjian lama obyek dari janji itu sendiri adalah tanah yang mana orang-orang hidup dengan merdeka dan sesuai dengan keadilan. Perjanjian baru yang menjadi objek adalah Kerajaan Surga dan itulah yang dimaksudkan Yesus untuk menjawab pertanyaan si pemuda itu.

          Jawaban yang disampaikan oleh Yesus kepada pemuda itu tentang menuruti Perintah membuatnya tidak puas karena dia menyadari bahwa semuanya itu telah dilakukannya. Si pemuda itu menyadari bahwa dia masih memiliki kekurangan di hadapan Yesus. Yesus Berkata “ Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku”. Apa yang dimaksudkan Yesus di sini ingin mengatakan khotbahnya di bukit yaitu Sabda Bahagia. Pada bagian pertama Sabda mengarah kepada kaum miskin. Tidak semua orang berhak memiliki sebagian harta benda sehingga mencukupi kebutuhan dirinya, para Bapa dan Pujangga Gereja mengajarkan bahwa manusia wajib meringankan beban kaum miskin.[4] Inilah yang menjadi kekurangan si pemuda kaya itu, dia kurang menyadari bahwa kekayaan yang dia miliki sudah menjadi alat baginya untuk berbagi kepada orang miskin yang ada di sekitarnya. Semua sabda Bahagia yang disampaikan Yesus merupakan perbuatan-perbuatan yang baik jika melakukannya dengan benar yang sesuai denga kehendak Allah. Sabda Bahagia dan perintah-perintah Allah memiliki tujuan yang sama yaitu mengarah manusia kepada kebaikan untuk sampai kepada hidup abadi.

          Menjadi pengikut Kristus yang sejati bukanlah sesuatu yang mudah untuk melaksanakannya. kesetiaan, pemberian diri, rendah hati, keterbukaan sangat mendukung kita untuk mampu menjadi muridnya. Tentunya seseorang mau menjadi pengikut karena menyadari bahwa apa yang diikuti adalah jalan yang benar dan percaya bahwa kebahagiaan akan didapatkan ketika semuanya didasarkan kepada Kristus. Menjadi pengikut Kristus bukan hanya meneladan secara lahiriah saja, melainkan harus menyentuh lubuk hati manusia yang terdalam. Menjadi serupa dengan Dia adalah tujuan pengikut Kristus walaupun kita tidak pernah persis sama dengan Kristus yang rela memberi-Nya di Salib. Ketika kita bersatu dengan Kristus, maka kita menjadi anggota Tubuh-Nya yang adalah gereja. Setiap kali kita merayakan Perayaan Ekaristi yang adalah sumber dan puncak iman adalah bukti bahwa kita mengambil bagian bersama Kristus dan menyatu bersama-Nya dengan menerima Tubuh dan Darah-Nya. Ketika kita menerima-Nya dalam bentuk hosti kudus maka Kristus Sendirilah yang bersatu dengan kita. Dengan demikian setiap harinya kita mempunyai tugas perutusan yaitu untuk melakukan kebaikan-kebaikan dalam hidup kita sehari-hari, karena segala hidup kita adalah untuk Kristus di mana kita memperoleh kebahagiaan yang kekal itu.

  • Kesimpulan

          Kebahagiaan Bersama Allah Bapa di surga adalah tujuan semua orang yang percaya akan keselamatan. Perbuatan baik selama di dunia ini adalah proses bagi kita untuk sampai kepada kebahagiaan itu sehingga Kerajaan Allah itu sudah kita mulai dari sekarang dan saat ini. Jangan pernah bosan untuk berbuat baik kepada sesama manusia karena dalam setiap manusia Yesus Kristus ada dalam diri mereka. Bisa saja kita seperti si pemuda kaya itu yang sudah melakukan segala perintah Allah dalam hidupnya namun lupa untuk berbagi kepada sesamanya manusia karena sibuk dengan dirinya sendiri. Menurut saya, kita tidak akan masuk ke dalam Kerajaan surga dengan pikiran dan kekuatan manusiawi kita sendiri, kita harus menyadari bahwa segala sesuatu yang ada pada kita adalah berasal dari Allah sebagai pencipta dan seharusnya kita juga mampu menanggapi Kasih Allah itu dalam kehidupan di dunia ini.

          Setiap manusia bisa saja melakukan yang terbaik bagi dirinya sendiri namun bukanlah itu yang dikehendaki Allah. Allah menghendaki supaya kita mampu saling melengkapi satu dengan yang lain sehingga kita bersama-sama memperoleh keselamatan. Si pemuda itu memang seseorang yang baik dan dia telah berusaha melakukan dan melaksanakan perintah Allah. Dia merasa bahwa dengan semua yang telah ada padanya, dia akan memperoleh kehidupan yang kekal. Padahal harta yang terikat padanya membuatnya lupa akan sesama yang berkekurangan dan terpinggirkan atau sering disebut sebagai manusia yang rentan.

          Kasih adalah dasar bagi kita untuk mampu merasakan kehadiran Tuhan sendiri melalui karya dan tugas pelayanan kita. Kasih adalah hukum utama dan pertama. Siapa yang melakukan segala sesuatu dengan kasih, maka dia berhak mendapat kebahagiaan dalam Kerajaan Surga. Allah sendiri telah mengasihi kita dan itu tampak dalam diri Yesus Kristus Putera-Nya yang menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Oleh karena itu, Kristus adalah teladan dan panutan hidup kita di dunia ini sehingga banggalah menjadi murid-Nya dan pengikut-Nya. Kita semua orang beriman diajak dan wajib untuk mengejar kesucian dan kesempurnaan untuk menyerupai Kristus yang taat.[5] Kristus saja yang menjadi teladan bagi kita di dunia ini karena hanya Dialah yang sempurna dan tidak akan ada lagi wahyu selain Yesus Kristus.[6] Oleh karena itu, kita sebagai murid-murid pengikut Kristus dan secara khusus bagi kita yang menjalani hidup sebagai lembaga hidup bakti harus merasa bangga dengan Yesus Kristus. Kita semua dipanggil untuk mampu menjadi pewarta kasih itu di tengah-tengah dunia sehingga semakin banyak orang yang mengalami Kasih Kristus dan semakin banyak orang yang akan diselamatkan. Perbuatan yang baik dan berkenan di hadapan Allah akan menghasilkan kebaikan dan membawa kita kepada kebahagiaan yang sempurna bersama Kristus. Senantiasalah berbuat baik dalam Kristus. Pace e bene.


[1] Seri Dokumen no. 35 Veritatis Splendor No 7

[2] Seri Dokumen No. 35 Veritatis… No.9

[3] Seri Dokumen No. 35, Veritatis…. No 12

[4] Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes (Kegembiraan dan Harapan): Konstitusi Pastoral tentang Tugas Gereja dalam Dunia Dewasa ini, Diterjemahkan oleh R. Hardawiryana, SJ (Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia, 2021), no. 69.

[5] Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes…, no. 42.

[6] Konsili Vatikan II, Dei Verbum (Sabda Allah): Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi, diterjemahkan oleh R. Hardawiryana, SJ (Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia, Februari 2011), no.4.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *