Saya beruntung karena dalam perjalanan pendidikan saya sebagai mahasiswa, saya dapat mengecap dua bidang ilmu yang satu sama lain punya cakupan pembelajaran yang berbeda. Keduanya punya objek material dan objek formal yang berbeda. Statusnya berbeda tetapi keduanya berhubungan erat. Ilmu itu adalah Filsafat dan Teologi. Filsafat adalah ilmu yang berlandaskan pada refleksi rasional sementara teologi adalah ilmu yang tidak hanya didasarkan oleh akal tetapi juga oleh iman.
Dalam teologi, tentunya ada banyak dogma dan doktrin yang mesti saya pelajari dan memang harus saya terima sebagai kebenaran iman (wahyu). Walaupun kerap tak tercerna lewat akal manusiawi tetapi sebagai seorang yang beriman, saya punya kewajiban untuk meyakini ajaran-ajaran itu dengan setia. Namun demikian, kehadiran filsafat sebagai ilmu yang lain dari teologi juga membantu saya untuk menerima kebenaran teologi. Saya tidak menjadi taat buta dan menerima begitu saja ajaran teologi itu, tetapi dengan bantuan filsafat, kebenaran teologi pun bisa saya pertanggungjawabkan dengan pikiran.
Manusia, Makhluk Paradoksal
Dalam filsafat, saya mendapat suatu wawasan tentang apa itu paradoks dan mengapa manusia disebut makhluk paradoks. Paradoks tidak sama dengan kontradiksi. Paradoks mengandung dua kebenaran atau kenyataan yang bertentangan tetapi keduanya berjalan beriringan. Kontradiksi sementara itu menyatakan kondisi atau situasi di mana yang satu benar dan yang lain mesti salah. Manusia adalah makhluk paradoks. Ia sekaligus bebas dan terikat; terbatas dan tidak terbatas; otonom dan tergantung; terbatas dan tidak terbatas; individual dan sosial; rohani dan jasmani; material dan spiritual. Manusia itu paradoks: Dia mengandung dua kebenaran yang bertentangan tetapi punya panggilan etis untuk menjaga keseimbangan dua kutub yang berbeda itu. Jika terjadi ekstremisasi ke salah satu kebenaran maka manusia bukan makhluk paradoksal lagi dan hal itu mengurangi kualitasnya sebagai manusia.
Problem Paradoks dalam Sejarah
Sayangnya manusia tidak bisa hidup dalam kenyataan tersebut. Dalam sejarah perkembangan kehidupan manusia, manusia sering condong dan bertendensi terhadap salah satu dari dua kebenaran yang inheren dalam diri manusia. Dalam salah satu kondisi paradoksal yakni individual dan sosial misalnya orang kerap jatuh pada kecondongan terhadap salah satu kebenaran hingga menjadi apa yang dikenal dengan individualisme maupun sosialisme, yang berarti kenyataan manusia dipersempit pada satu sisi Individualisme menyebut manusia melulu adalah makhluk individual dan sosialisme berpandangan bahwa manusia hanyalah makhluk sosial. Aspek individualnya kurang atau bahkan tidak diakui.
Sama halnya ketika kita berbicara kondisi paradoks lainnya. Sebut saja kenyataan bahwa manusia itu adalah materi dan sekaligus rohani. Oleh karena ketidakmampuan untuk menjaga dinamika paradoksal itu, orang bisa jatuh pada keyakinan yang berat sebelah. Di satu sisi orang menjadi penganut materialisme dan di sisi lain, bisa menjadi spiritualisme. Parahnya, karena saking tergodanya pada satu paham dan keyakinan, orang bisa jatuh pada apa yang disebut individualistik atau sosialistik, dan materialistik atau spiritualitik. Jika sudah disebut dengan terminologi demikian, orang yang menganut kecondongan itu sudah jauh sangat ekstrem.
Kondisi-kondisi parsial demikian menjadi problem manusiawi. Kecondongan terhadap salah salah satu kondisi dan paham, akan menurunkan derajat kemanusiaan manusia. Padahal manusia baru disebut manusia dan bersifat manusiawi tatkala ia tetap berada pada kondisi paradoks. Manusia tidak melulu materi. Jika melulu materi, manusia tidak ubahnya seperti benda mati. Begitu sebaliknya bahwa manusia tidak sepenuhnya spiritual. Jika melulu spiritual, manusia bukan manusia yang bermateri tetapi lebih tepat malaikat yang hanya roh.
Paradoks merupakan suatu kebenaran dan kenyataan yang harus diterima. Kalau dalam bahasa Heideger, seorang filsuf eksistensial, kondisi paradoks adalah kondisi faktisitas: fakta objektif yang harus diterima dan ditanggung oleh manusia sebagai manusia. Manusia dituntut berproyek untuk mengolah, mengelola dan menjaga keseimbangan paradoksal.
Relevansi Terhadap Teologi
Paradigma paradoks juga merupakan paradigma yang mesti diterapkan ketika belajar teologi. Salah satu ajaran inti dalam teologi kekristenan adalah kristologi yang mengatakan bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh manusia dan sungguh-sungguh Allah. Istilah teknis modernnya mengatakan, Yesus 100% manusia dan 100% Allah.
Tradisi apostolik dan alkitabiah merumuskannya demikian: “Yesus orang Nazaret adalah Kristus.” Ajaran ini merupakan dogma yang bersumber dari pengalaman dan penghayatan para rasul dan Gereja Perdana yang mengalami hidup bersama dengan Yesus. Terhadap pengalaman mereka, mereka memberi eksplisitasi (upaya penjelasan dan membahasakan) dan mengakui bahwa Yesus adalah manusia dan Allah.
Pertama-tama perlu ditekankan bahwa gagasan itu adalah kebenaran iman yang diwahyukan. Para rasul mengimani eksplisitasi atas pengalaman mereka bersama Yesus secara khusus pengalaman kebangkitan, dan Gereja atau kekristenan dalam perjalanan sejarah mengakui keyakinan dan tradisi antik itu.
Jelas bahwa keyakinan itu adalah keyakinan paradoksal dan memang mesti disikapi dengan sikap paradoksal. Nah, orang kesulitan meyakini ajaran ini dan memang dalam perkembangan sejarah banyak aliran dan upaya rasional yang mempersempit kekayaan kebenaran iman itu. Ada yang condong pada kemanusiaan Yesus dan ada pula sebaliknya condong terhadap keilahian Yesus. Ada yang menekankan kemanusiaan Yesus dengan mengatakan bahwa Yesus hanyalah manusia unggul bukan; dia bukan Allah. Di sisi lain, yang terlalu menonjolkan atau mengunggulkan keilahian mengatakan bahwa Yesus adalah Allah dan kemanusiaan hanyalah ketampakan dan ilusi belaka. Inilah juga yang menyebabkan perbedaan dalam ajaran hingga mengakibatkan perpecahan dalam kekristenan. semua dilatarbelakangi oleh kesulitan untuk menerima dengan setia ajaran para rasul yang mengalami secara langsung hidup bersama dengan Yesus.
Kesimpulan
Pelu diingatkan bahwa eksplisitasi akan kenyataan dan pengalaman tidak bisa sepenuhnya memadai, lengkap dan adekuat. Apalagi berbicara tentang Yesus yang adalah sosok yang spesial, berbeda, lain dan misteri. Para rasul mengalami secara langsung dan intim hidup bersama Yesus. Mereka mengalami kesejarahan Yesus. Mereka menyaksikan wafat dan kebangkitan-Nya. Atas pengalaman itu, para rasul mengeksplisitasi bahwa Yesus, manusia yang mereka alami itu, juga adalah Allah. Paradoks bukan? Misteri bukan? Begitulah mereka mencoba membahasakan dengan “terbatas” tentang siapa Yesus. Dari pihak orang Kristen, perlu untuk bersikap paradoks. Bersikap paradoks bukan berarti taat buta.
“Tetapi bersikap paradoks adalah sikap filosofis yang menunjukkan bahwa setelah berfilsafat dan berupaya mencoba mengeksplisitasi Yesus secara rasional, akhirnya aku sampai pada suatu keyakinan bahwa Yesus itu paradoks, sulit dijelaskan dengan sempurna, dan hanya bisa terus dialami dan dijelaskan secara berkelanjutan dalam kerangka paradoks juga” Pace e Bene!


