Beranda / Artikel / Refleksi / Kitab Pertama

Kitab Pertama

Kitab pertama

Pertama kali aku mengenal Tuhan bukan melalui Alkitab. Namun jauh sebelum aku mampu membaca kitab itu, aku telah lebih dulu mengenal-Nya melalui alam. Lewat sungai yang mengalir tanpa lelah, hutan yang diam namun penuh makna, dan langit yang setia membentang di atas kepalaku, aku belajar bahwa Tuhan telah lebih dulu hadir sebelum aku mampu menyebut nama-Nya.

Sejak kecil aku hidup dekat dengan alam. Sungai jernih tempat mandi sepulang sekolah, ladang luas yang menjadi arena bermain, dan hutan rimba yang sejuk bahkan ketika matahari sedang terik-teriknya. Saat itu aku belum mengenal kata-kata besar, belum paham cara menjelaskan apa pun secara rumit. Namun aku tahu satu hal: alam tidak pernah benar-benar diam. Ia berbicara dengan caranya sendiri, menyampaikan pesan-pesan sederhana yang hanya bisa ditangkap oleh hati yang mau mendengarkan. Dari sanalah perlahan aku percaya bahwa alam bukan sekadar latar kehidupan. Ia adalah sebuah kitab “kitab pertama” yang tidak ditulis dengan tinta, melainkan dengan air, pohon, tanah, dan cahaya.

Pepohonan bagiku seperti huruf-huruf yang membentuk makna. Hutan adalah lembaran-lembaran luas yang terbuka, tempat aku belajar membaca kehidupan. Selama alam masih asri, kitab itu terasa jernih dan utuh. Setiap desir angin, gemericik air, dan kicau burung seolah mengeja sesuatu tentang kasih, kesetiaan, dan kehadiran Tuhan yang tenang namun nyata. Membaca alam terasa seperti membaca Kitab Suci yang hidup, jernih, bersih, dan penuh penghiburan.

Namun waktu berjalan tanpa menunggu siapa pun. Suatu hari aku menyusuri sungai di kampung sambil memancing, dan aku sadar airnya tak sejernih dulu. Plastik dan sampah mengapung pelan, merusak pantul cahaya. Hutan di sekitar kampung mulai menghilang, digantikan barisan sawit yang rapi dan asing. Bahkan di belakang rumah kami, pohon-pohon lama telah lenyap. Di hadapanku, lembaran-lembaran kitab itu seperti terkoyak. Noda, lumpur, dan kotoran menutupinya, membuatnya sulit dibaca.

Aku berdiri lama di tepi sungai dan merasa kehilangan. Kitab yang dahulu memperkenalkanku pada Tuhan kini tak lagi berbicara dengan bahasa yang sama. Huruf-hurufnya kabur, maknanya tercerai. Aku mencoba membaca ulang halaman-halamannya, tetapi yang kutemukan hanyalah jejak-jejak kerusakan. Aku mencari nama Tuhan di sana, namun nama itu semakin sulit kutemukan, seolah tertutup oleh tangan manusia sendiri.

Perlahan aku mengerti: jika alam adalah Kitab Suci yang darinya aku mengenal Tuhan, maka ketika manusia merusaknya, kitab itu kehilangan kemampuannya untuk dibaca. Bukan karena Tuhan pergi, melainkan karena lembaran-lembarannya telah ternodai, koyak, dan kotor. Alam adalah cermin. Dan ketika cermin itu retak, pantulan makna di dalamnya pun menjadi kabur. Kitab yang dahulu suci kini kehilangan kesuciannya, bukan karena ia berubah, tetapi karena manusia berhenti menjaganya. Inilah luka zaman kami: kitab pertama masih terbuka, tetapi maknanya nyaris tak terbaca.

Namun di balik luka itu, aku juga belajar tentang harapan. Setiap kali seseorang menanam pohon, membersihkan sungai, atau memilih untuk tidak merusak, ia sedang membersihkan lembaran yang ternodai. Ia sedang menjahit halaman yang koyak. Harapan tidak selalu hadir dalam suara besar atau janji megah; sering kali ia tumbuh dalam tindakan kecil yang dilakukan diam-diam, dalam kesediaan untuk merawat apa yang masih tersisa.

Kini aku berdiri sebagai seorang dewasa. Aku menyadari bahwa menjaga alam bukan hanya soal kelestarian, melainkan soal memulihkan makna. Selama sungai masih mau mengalir, selama pohon masih diberi kesempatan tumbuh, dan selama manusia masih berani berhenti sejenak untuk membaca kembali, kitab itu belum sepenuhnya tertutup. Aku masih berharap suatu hari nanti, di antara halaman-halaman yang dipulihkan, aku dapat kembali menemukan nama Tuhan tertulis dengan jelas, bukan dengan tinta, melainkan dengan kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *