Beranda / Artikel / Karya Saudara / Kado untuk Karin (Fr. Yohanes Sinaga,OFMCap)

Kado untuk Karin (Fr. Yohanes Sinaga,OFMCap)

Namaku Pindo. Entah mengapa aku sangat bahagia dengan namaku itu. Mungkin bagi orang Simalungun, nama Pindo tidaklah asing. Aku berasal dari suku itu, dan aku bangga akan asal-usulku. Namun kini aku tinggal di tanah perantauan, Kota Batam, kota industri yang tak pernah benar-benar tidur. Hiruk-pikuk mesin, pelabuhan, dan lalu-lalang manusia seakan menjadi latar hidupku sehari-hari.

Sayangnya, kebanggaanku pada namaku itu tidak selalu dibagikan oleh teman-temanku. Mereka sering memanggil namaku dengan nada bercanda yang lama-kelamaan terasa menyakitkan. Namaku dipelesetkan menjadi pin… pin…, seolah-olah aku disamakan dengan Upin atau Ipin dari kartun Malaysia. Aku tahu mereka tidak sepenuhnya berniat jahat.

Aku memilih mengabaikannya. Dalam pikiranku, itu hanyalah tanda keakraban. Lagipula Batam memang dekat dengan negeri seberang itu. Namun, ketika candaan berubah menjadi kebiasaan yang berlebihan, tanpa kusadari sikap agresif mulai tumbuh dalam diriku. Ada kalanya aku merasa lelah terus berpura-pura kuat.

            ****

Tahun ini adalah tahun keduaku mengenakan celana panjang. Status sebagai murid baru sudah lama hilang. Kini aku berdiri sebagai siswa yang mulai merasa mengenal lingkungan sekolah dengan baik. Saatnya bagiku memperhatikan wajah-wajah baru yang datang, para siswa baru yang masih tampak canggung dan penuh harap.

Tak butuh waktu lama bagiku untuk berkenalan dengan seorang siswi baru. Namanya segera menjadi pembicaraan di kepalaku, lalu kutuliskan diam-diam dalam status batinku sebagai pacarku. Ia siswi kelas X Sains I, dan sejak awal aku merasa ia adalah tipe yang kucari.

Parasnya anggun. Rambutnya selalu tergerai rapi, seakan membiarkanku menikmati setiap lekuk wajahnya. Nada suaranya lembut dan tenang. Kadang, mendengarnya berbicara saja sudah cukup membuat hatiku nyaman, seperti mendengarkan lagu favorit yang tak pernah membosankan.

Mudah saja bagiku meluluhkan hatinya. Kami mulai sering berbincang, berbagi cerita ringan, hingga akhirnya kami membuat sebuah tanggal. Tanggal itu menjadi penanda bahwa kami resmi berpacaran, ciri khas anak seusia kami yang ingin diakui.

Sejak hari itu, rasa canggung di awal perkenalan perlahan terkikis. Obrolan kami semakin hangat, diselingi ungkapan manis yang membuat hati berdebar. Aku merasa hidupku menjadi lebih berwarna.

Aku pun mulai rajin memoles sepeda motorku setiap kali hendak memboncengnya sepulang sekolah. Ada rasa bangga yang mengembang di dadaku setiap kali ia duduk di belakangku. Aku merasa seperti pria paling beruntung di jagat raya.

Teman-temanku mulai melirik kagum. Mereka membicarakan kehebatanku meluluhkan hati siswi baru itu. Aku menikmatinya, meski jauh di dalam hati aku tahu kebanggaan itu rapuh.

            ****

Hari ini adalah hari kedelapan aku menjalin hubungan dengannya. Seperti biasa, sepulang sekolah aku menunggunya di depan gerbang. Aku tak ingin ada roda lain yang lebih dulu menawarinya tumpangan.

Begitu ia datang, langsung kupasangkan helm di kepalanya. Dalam momen itu aku lupa bahwa aku masih seorang pelajar, tanpa penghasilan, tanpa masa depan yang mapan. Aku memperlakukannya seolah ia adalah istriku sendiri.

Aku mengendarai motor dengan santai. Kuberi isyarat agar ia berpegangan erat. Dunia terasa hanya milik kami berdua. Tatapan orang-orang di jalan seolah mengakui kemesraan kami.

Perlahan ia memelukku dari belakang. Dadaku bergetar. Aku tak menyangka ia begitu cepat merasa nyaman. Lalu, dengan nada bercanda, ia berkata, “Pin…, besok kayaknya ada yang ulang tahun ya?”

“Oh ya? Siapa?” tanyaku, ikut berpura-pura bingung.

“Aku lupa. Tapi kayaknya ada, deh,” sambungnya ringan.

            ****

Malam itu aku sibuk membungkus kado. Aku bahkan membuka tutorial di ponsel demi memastikan bungkusannya rapi. Aku ingin semuanya sempurna, karena ini untuk wanita yang kuanggap paling spesial.

Aku mengerjakannya sendiri. Tanganku pegal, mataku lelah, tapi hatiku hangat. Kado itu kuhias dengan pita dan lipatan kertas karton menyerupai bunga mawar.

            ****

Hari yang kutunggu akhirnya tiba. Dengan kado di tangan, aku memarkir motor di depan rumahnya. Aku melangkah masuk dengan perasaan campur aduk antara gugup dan bahagia.

Beberapa temannya menyambutku di teras. Rumah itu penuh hiasan. Namun ada sesuatu yang terasa janggal. Dari dalam rumah terdengar lagu ulang tahun dinyanyikan.

Aku melangkah cepat menuju ruang tamu. Namun langkahku perlahan melambat, seolah dunia bergerak dalam adegan lambat. Mataku terpaku pada pemandangan yang membuat dadaku runtuh.

Ia berdiri mesra dengan seorang pria lain. Tanganku gemetar. Kado itu tak lagi nyaman kugenggam. Semua harapan dan kebanggaan runtuh seketika.

Pria itu mengecup keningnya. Senyum mereka terasa seperti pisau yang mengiris tanpa suara. Kenangan manis yang kurajut selama ini hancur tak bersisa. Aku sadar, mungkin semua itu hanyalah sandiwara. Aku hanyalah figuran dalam kisah cintanya.

Ia menoleh ke arahku. Tak ada rasa bersalah di matanya. Hanya pandangan datar yang menusuk. Dadaku nyeri, seperti tersayat sembilu.

Aku ingin meluapkan amarah, ingin menghantam pria itu. Namun keramaian menahanku. Aku memilih pergi dan duduk sendiri di taman rumah itu. Suara jangkrik malam terdengar seperti ejekan.

            ****

Langkah kaki mendekat dari belakang. Kukira ia. Ternyata bukan. Seorang wanita paruh baya berdiri di hadapanku. “Kamu Pindo, ya?” tanyanya lembut. “I…iya, Bu,” jawabku pelan.

“Karin sudah cerita tentang kamu,” katanya.

Aku mengangguk.

“Karin bilang sesuatu kemarin?”

“Iya, Bu. Katanya besok ada ulang tahun. Saya juga melihat buku hariannya.”

Wanita itu tersenyum tipis. “Mungkin kamu belum melihat nama pemilik buku itu.”

Ia menarik napas panjang. “Nak, yang ulang tahun itu Keshy.”

“Keshy?” ungkapku dala hati terkejut.

“Karin memiliki gangguan psikologis. Dalam dirinya ada dua kepribadian. Karin dan Keshy hidup dalam satu tubuh. Karin polos dan tenang, Keshy lebih ekspresif.”

Kata-kata itu menggantung di kepalaku. Dunia terasa asing.

            ****

Aku baru menyadari bahwa cinta yang kujalani tak sesederhana yang kubayangkan. Kekasihku hadir dan menghilang, tanpa bisa kupastikan kapan ia kembali menjadi dirinya yang kukenal.

Aku memandangi kado di tanganku. Masih utuh. Belum terbuka. Seperti perasaanku yang tak sempat tersampaikan.

Tanganku terkatup pelan.

“Tuhan,” bisikku, “aku mohon bantuan-Mu.”

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *