Beranda / Artikel / Karya Saudara / BAB YANG DIARSIPKAN (Fr. Innocentius Tinambunan,OFMCap)

BAB YANG DIARSIPKAN (Fr. Innocentius Tinambunan,OFMCap)

Pagi itu biara tak terlalu sunyi. Suara notifikasi ponsel terdengar samar dari ruang tamu komunitas. Bukan hanya satu, tapi tiga sekaligus. Saudara Dio, yang sedang menyapu, mendengus pelan. “Lonceng doa kalah cepat dengan WhatsApp”, katanya.

Saudara muda Rafael tersenyum tipis. Ia baru dua tahun berkaul sementara sebagai Kapusin. Di sakunya ada ponsel sederhana; dipakai untuk koordinasi pelayanan, katanya. Ia selalu menambahkan kalimat itu dalam benaknya, seolah-olah Tuhan perlu diyakinkan.

Di ruang tamu, para minister duduk mengelilingi laptop terbuka. Bukan lagi buku setinggi tembok seperti dulu, melainkan file PDF Anggaran Dasar yang sedang diedit.

“Kini perlu meninjau kembali bab tentang kemiskinan” “Bahasanya terlalu literal”,, kata Minister Provinsial sambil menggeser kacamatanya.

“Zaman sudah berubah”, sahut yang lain. “Kita perlu kendaraan, media sosial, perangkat digital. Kita tidak mungkin lagi ‘tidak membawa apa-apa dalam perjalanan’.”

Semua mengangguk. Rafael diam.

Kalimat itu terpampang di layar: janganlah membawa apa-apa dalam perjalanan. Kini terasa seperti kalimat kuno yang tersesat di dunia cloud storage.

“Yang kita hapus bukan semangatnya”. Lanjut seorang minister, “hanya redaksinya, supaya tidak disalahpahami.” “Disalahpahami oleh siapa?” tanya Rafael tiba-tiba. Ruangan hening sepersekian detik.

“Oleh generasi muda”, jawab seorang saudara cepat, “Supaya mereka tidak takut masuk.” Saudara Dio berbisik pelan di samping Rafael, “atau supaya kita tidak takut kehilangan”. Rafael hampir tertawa, hampir.

***

Siang itu Rafael pergi ke paroki pinggiran kota. Ia memimpin ibadat sederhana di kapel kecil yang dindingnya belum sepenuhnya diplester.

Setelah ibadat, seorang driver ojek online yang dipesannya, menghampirinya.

“Saudara, saya mau tanya”, katanya sambil membuka kaca helmnya. “kalau jadi biarawan itu berarti ngga punya apa-apa, ya?”

Rafael tersenyum tipis, “kurang lebih begitu.”

Driver ojek itu mengangguk pelan. “Saya punya cicilan motor, cicilan rumah, cicilan hidup. Kadang saya iri, saudara-saudara kelihatan bebas.”

Bebas.

Kata itu terdengar ringan. Tapi Rafael tahu, kebebasan juga bisa menjadi topeng.

Ia teringat laptop di ruang komunitas. Rencana renovasi gedung. Proposal yang rapi. Branding pelayanan yang mulai diperhatikan. Semua demi pelayanan. Semua masuk akal.

“Tidak punya apa-apa, bukan berarti tidak punya apa-apa”, jawab Rafael akhirnya, “kadang yang paling sulit dilepaskan bukan barang”.

Driver itu tertawa kecil, “iya, saudara. Yang susah itu gengsi.”

Rafael mengangguk. Ia merasa pria itu tanpa sadar baru saja berkhotbah.

***

Malamnya, rapat dilanjutkan. Bab tentang kemiskinan diproyeksikan di layar besar.

“Bagian ini,” kata seorang minister, “terlalu keras. Seolah-olah kita berdosa kalau punya cadangan.” “Bukankah memang begitu?” celetuk saudara Yakob yang sedari tadi diam.

Beberapa tersenyum kaku.

“Kita harus realistis,” jawab minister lain. “Transparansi keuangan, keamanan komunitas, tanggung jawab hukum. Kita bukan hidup di abad pertengahan.”

Realistis. Kata itu terdengar modern. Aman. Bijaksana.

Rafael menatap kalimat di layar yang sedang dihapus perlahan dengan tombol backspace. Huruf demi huruf hilang tanpa suara.

Aneh sekali, pikirnya. Menghapus kalimat rupanya jauh lebih mudah daripada menghapus ketakutan. Ketakutan akan kekurangan. Ketakutan dianggap gagal. Ketakutan tidak pas dan sesuai dengan situasi.

“Kalau kita terlalu miskin,” lanjut seorang sauadara, “umat juga ragu mempercayakan karya kepada kita.”

Kalimat itu masuk akal. Terlalu masuk akal juga.

***

Beberapa minggu kemudian, perubahan resmi diumumkan. Bahasa diperhalus. Kata-kata seperti tidak membawa apa-apa dignati dengan menggunakan secara bijaksana dan bertanggungjawab.

Umat bertepuk tangan saat peresmian gedung pelayanan baru disiarkan lewat live streaming. Like dan komentar mengalir deras. “Kapusin semakin maju!” “Bangga dengan gereja kita!”

Rafael membaca komentar-komentar itu sambil duduk di bangku ruang rekreasi. Ia senang – bahkan benar-benar senang – tetapi ada sesuatu yang sunyi dalam dirinya.

Malam itu, seorang anak kecil datang ke biara. Pakaiannya lusuh. Ia membawa kantong plastik berisi roti.

“Untuk pastor dan frater,” katanya malu-malu.

“Dari mana?” tanya Rafael lembut. “

“Dari sisa jualan mama.”

Rafael menerima kantong  itu. Roti-roti tidak sempurna bentuknya. Beberapa sedikit gosong. Ia teringat layar proyektor. Teringat rapat. Teringat kata realistis.

Anak itu tersenyum polos. “Kalau Pastor dan Frater hidup sederhana, kami merasa dekat.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada kritik apapun.

***

Beberapa bulan kemudian, Rafael dipercayai menjadi sekretaris komunitas. ia mengarsipkan dokumen lama, termasuk versi awal bab tentang kemiskinan.

Ia membacanya sendirian. Hening. Tanpa suara.

Para saudara wajib menepati Injil Suci secara nyata dan sederhana.

Tidak ada kata branding. Tidak ada kata strategi. Tidak ada kata optimalisasi.

Hanya sederhana

Ia tidak mengubah dokumen yang baru. Ia tahu dunia memang banyak berubah. Ia tahu pelayanan perlu sarana.

Tetapi di bagian catatan kaki (bagian yang paling jarang dibaca orang) ia menambahkan satu kalimat kecil: “Kemiskinan bukan soal tidak memiliki, tetapi soal tidak dimiliki”.

Kalimat itu lolos tanpa perdebatan. Terlalu puitis untuk dianggap ancaman.

***

Kini biara itu tetap berdiri. Lebih modern. Lebih teratur. Lebih dikenal.

Website aktif. Media sosial rapi. Laporan keuangan transparan. Dan di ruang doa, masih ada beberapa saudara yang bergumul dalam diam. Karena yang sesungguhnya, hal yang paling sulit bukan menghapus bab dari dokumen.

Yang paling sulit ada ketika Injil mulai kita edit dalam hati, bukan karena kita tidak percaya, tetapi karena kita takut terlihat bodoh di mata dunia.

Jika suatu hari kau berkunjung ke biara modern itu dan melihat para saudara tersenyum di depan kamera, jangan buru-buru menghakimi. Jangan juga buru-buru mengagumi.

Jika Yesus datang hari ini tanpa followers, tanpa rekening dan tanpa rencana strategis, apakah kita masih berani mengikutinya tanpa membawa apa-apa? Mungkin jawabanmu tidak langsung muncul. Dan mungkin memang harus dibaca dua kali. Atau tiga kali. Atau empat kali. Karena bab yang paling sering kita arsipkan bukanlah di  komputer, melainkan di hati kita.

(Cerpen ini terinspirasi dari buku Legenda Perugina, cerita no. 102 tentang “Melawan keinginan tak teratur memiliki buku. Para minister berusaha menghapus bab tentang kemiskinan dari anggaran dasar.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *