Hidup di Tengah Kesulitan

(Fr. Edwardo Vanlit Sinaga)

Di Lorong yang sempit hari-hariku terasa berat,

langkahku terseret oleh waktu yang berlalu begitu cepat.

aku berhenti sejenak menatap lagit biru penuh cerita,

sekilas aku terdiam melihat lingkaran derita,

namun tak apa, sebab berita pasti sungguh ada.

            Angin berbisik dengan nada risih,

            seolah membuat hati sedih,

            tentang mimpi yang nyaris terbunuh.

            Namun dibalik cela yang begitu sempit

            ada ruang pasti untuk tempat merapat.

                        Aku belajar dari luka yang kejam,

                        bahwa kuat tak selalu tentang teriak yang tajam.

                        Kadang ia hadir dalam nafas yang tertahan,

                        meski dunia terasa kehilangan arah tujuan.

Di Tengah gelap aku menyalakan diri,

kemudian cahaya itu redup sendiri,

tanpa kabar untuk menepi.

Walau hidupku terasa sepi,

namun aku harus beranjak untuk pergi.

            Meskipun esok datang tanpa janji indah,

            aku akan terus berjalan meski melangkah dengan lemah.

            Karena di balik setiap getar yang merambat,

            ada makna yang perlahan memperkuat,

            demi seutas makna yang terus mengikat.

Tinggalkan komentar