Matahari terbit di balik Bukit Sibaganding, mewarnai langit dengan semburat jingga yang perlahan merekah menjadi keemasan. Cahaya itu menembus sela-sela pepohonan yang menjulang tinggi, seakan tangan lembut Sang Surya mengusap wajah bumi yang masih mengantuk. Udara pagi membawa aroma tanah basah bercampur embun, hening, teduh dan penuh dengan kesejukan. Bima – pemuda paruh baya – berdiri di tepi danau. Kakinya merasakan lumpur yang lembut, sementara matanya mengikuti riak kecil yang diciptakan ikan yang melompat. Ia selalu menyukai saat-saat seperti ini, ketika dunia masih seolah suci, belum tercemar oleh kebisingan manusia. Seakan-akan alam masih menyimpan rahasia purbanya, teduh, murni, dan jauh dari tangan serakah yang acap kali merusak keindahan.
“Kakek, lihat… matahari pagi ini indah sekali,” katanya pada kakeknya, Pak Daman, yang sedang duduk di batu besar sambil mengunyah sirih. Kakek tersenyum, keriput di wajahnya tampak jelas, tanda perjalanan hidup yang panjang. “Matahari memang selalu indah,cucuku. Ia tidak pernah letih memberi cahaya, meski manusia kadang tidak tahu berterima kasih. Kau tahu, leluhur kita menyebutnya Gita Sang Surya. Nyanyian matahari yang memberi hidup pada tanah, air, dan segala makhluk.” Kata kakek kepada Bima dengan penuh semangat.
Bima, yang selalu ingin tahu, bertanya kepada kakek? “Leluhur? Siapakah gerangan leluhur kita itu, Kek? Lantas, mengapa mereka menyebutnya Gita Sang Surya?” Kakek memperbaiki posisi duduknya supaya mantap menjawab pertanyaan Bima, cucunya. “Pertanyaan yang bagus, cucuku. Dan memang kamu harus mengetahuinya juga. Leluhur kita bukan hanya orang-orang yang mendahului kita. Tetapi, juga roh penjaga tanah, sungai, dan hutan ini. Mereka selalu hadir dalam setiap kicauan burung, gemericik air, dan hembusan angin. Bagi leluhur kita matahari adalah roh agung yang bernyanyi di langit. Setiap sinarnya adalah bait doa, setiap hangatnya adalah berkat. Maka mereka menyebutnya Gita Sang Surya, nyanyian suci yang menjaga keseimbangan hidup dan tak pernah berhenti memberi.” Bima tertegun mendengar penjelasan kakeknya. “Indah sekali ya, Kek. Ternyata matahari bukan sekadar terang. Leluhur kita sungguh bijak memberi nama itu.”
Bima menatap matahari itu lama-lama. Ada sesuatu yang terasa suci dari cahaya yang jatuh ke wajahnya, seolah bisikan halus menyentuh hatinya. Ia merasakan seakan-akan matahari berbicara kepadanya, bukan dengan kata-kata biasa, melainkan dengan sebuah pertanyaan yang menusuk diam-diam, “Sampai kapan kau hanya menjadi penonton, Bima, dan bukan bagian dari kehidupan itu sendiri?” Bima tertegun. Cahaya itu menyingkap sesuatu dalam dirinya yang tak pernah ia sadari. Perlahan ia menganggukkan kepala, seakan menjawab pertanyaan yang datang dari langit.
Namun keindahan itu tidak berlangsung lama. Sejak beberapa bulan terakhir, suara asing ikut meramaikan pagi, deru mesin gergaji dan truk-truk besar yang membawa bang pohon. Sebuah perusahaan bernama PT. Lestari Pulpindo membuka lahan di sekitar hutan. Awalnya banyak warga yang menyambut dengan sangat gembira. “Ada lapangan kerja!” Begitulah kata beberapa orang. Bahkan ketua rt menyebut perusahaan itu sebagai ‘berkat yang dikirim oleh Tuhan’.
Tetapi bagi Bima, seperti ada yang aneh. Sungai kecil tempat ia biasa mandi dan bermain mulai keruh. Ikan-ikan berkurang, burung-burung enggan hinggap di ranting pohon dekat rumahnya. Ia merasakan kesunyiaan yang berbeda. Bukan lagi kedamaian, tetapi kehilangan yang diam-diam menggerogotinya. Di dada Bima tumbuh rasa getir seolah alam sedang berbisik bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Sesuatu yang akan merenggut keindahan yang telah lama ia cintai.
Suatu sore, ketika Bima pulang sekolah, ia melihat dan segera menghampiri ibunya, Bu Lestari, mengeluh samil mengisi kendi. “Air makin keruh, Bim. Air untuk dimasak saja harus menunggu lama, sampai keruhnya mengendap. Padahal dulu sangat bening dan bisa langsung diminum.” Bima hanya terdiam. Hatinya memberontak, tetapi lidahnya kelu. Siapa yang hendak disalahkan? Ia teringat pada euforia pembangunan desa, jalan baru, pabrik kecil, dan hiruk pikuk kemajuan yang dulu disambut sorak gembira. Namun di balik euforia itu, sungai yang memberi kehidupan justru perlahan sekarat.
Desa mulai terpecah menjadi dua kubu. Sebagian warga menyambut kehadiran perusahaan itu dengan sukacita. Ada yang bekerja sebagai buruh tebang dan mendapatkan upah yang lumayan. Jalan aspal baru terbentang meski hanya sampai pos keamanan perusahaan. Beberapa keluarga bahkan mampu membeli sepeda motor tanda kemakmuran yang seolah datang mendadak bersama janji-janji kemajuan.
Namun, tidak semua orang menyambut perusahaan itu dengan suka cita. Para petani menunduk lesu, mengeluhkan sawah yang kering dan retak karena air tak lagi mengalir. Sekelompok nelayan kembali dengan perahu kosong, hanya membawa letih yang tergurat di wajah mereka. Sementara itu, orang tua adat marah, dada mereka bergetar karena hutan ruang sakral yang diwariskan leluhur, dirampas tanpa izin roh yang menjaganya. Menurut mereka, PT. Lestari Pulpindo adalah penjajah era modern. Lebih kejam dari para kolonial. Mereka menjajah dan menjarah teman sebangsanya sendiri. Sungguh kejam dan mengerikan.
Di balai desa, diskusi berubah jadi pertengkaran. “Jangan hanya memikirkan perut sendiri!” Seru Pak Daman, kakek Bima. “Hutan itu ibu kita. Kalau semua pohon ditebang, siapa yang memberi makan anak cucu kalian?” Tambahnya lagi dengan raut wajah marah. “Ah, itu cuman dongeng, Pak Tua!” Balas seorang pemuda yang baru diangkat menjadi mandor perusahaan. “Kita butuh uang, bukan cerita tentang roh hutan. Mau makan dengan mitos? Sudahlah, mari bekerja sama dengan perusahaan ini. Lihat saya, telah mampu membeli sepeda motor setelah bekerja dengan perusahaan.” Suara warga bercampur riuh, Bima yang duduk di pojok depan merasa dadanya panas. Ia ingin bersuara, tetapi merasa terlalu kecil. Semua warga pulang dengan sejuta risih dan ricuh di pikiran masing-masing.
Langit menghitam, bintang-bintang bermunculan tanda malam telah berkuasa. Malam itu, Bima menulis di buku catatannya. Matahari tetap bersinar, tapi nyanyian hutan perlahana hilang. Sungai menjerit, ikan mengambang, tanah menjadi haus. Apakah cahaya surya sudah cukup untuk menyalakan hati manusia yang buta oleh uang?
Keesokan harinya, ia pergi ke hutan bersama sahabatnya, Clara. Mereka ingin melihat langsung apa yang telah terjadi. Mereka melihat dengan jelas tanah luas yang tidak lagi ditumbuhi aneka pohon, dan batang-batang pohon berserakan seperti mayat raksasa. Clara menutup wajahnya, “Bim, aku takut. Ini seperti medan perang…” Bima meremas tanah kering di tangannya. “Hutan ini rumah kita. Kalau rumahmu dirusak orang, apakah kau akan tinggal diam saja?” Tanyanya pada Clara dengan tenang namun menusuk. Clara menatapnya, ragu. “Tapi kita bisa apa? Mereka mempunyai uang, punya senjata, sedangkan kita ini hanya anak sekolah saja.” Kata Clara gemetaran. Bima tidak menjawab. Tetapi dalam hatinya, ada sesuatu yang menyala.
Musim hujan tiba lebih cepat dari yang biasa. Langit sore menghitam pekat, angin membawa tanah bercampur asap sisa pembakaran lahan. Malam itu hujan turun dengan sangat deras, mengguyur desa tanpa ampun. Bima terbangun karena ada suara gemuruh yang aneh. Ia berlari keluar, dan matanya terbelalak. Air bercampur mengalir deras dari bukit yang sudah gundul. Batang-batang pohon yang sudah ditebang hanyut terbawa arus. “Banjir… Banjir…,” teriak warga sembari berlari mencari tempat yang aman.
Orang-orang panik, berlari ke tempat tinggi. Anak-anak menangis, ibu-ibu memanggil nama anggota keluarganya. Sawah yang baru ditanami padi tenggelam dalam lumpur cokelat. Bima berlari menolong seorang bocah kecil yang hampir terseret arus. Dengan sekuat tenaga ia menarik tangan bocah itu, tubuhnya hampir terjatuh. Lumpur hampir menutupi seluruh wajahnya. Tetapi ia tidak mempedulikannya.
Ketika hujan sedikit reda, Bima berdiri di tengah genangan. Matanya menatap ke timur, tempat langit berwarna pucat. Dari balik awan kelabu, cahaya matahari perlahan muncul, tipis namun nyata. Di dalam hatinya ia berteriak, “Aku harus jadi cahaya, meski sekecil api lilin. Kalau aku diam, maka gelap akan menang.”
Setelah banjir, desa tidak lagi sama. Rumah-rumah rusak, sawah hancur, dan ternak banyak yang mati. Warga mulai menyalahkan perusahaan tanpa lupa saling menyalahkan satu sama lain. “Ini gara-gara kalian yang serakah! Kalau dari dulu kita melawan dan menolak, hutan kita masih ada,” bentak serang ibu kepada kelompok yang bekerja di perusahaan. “Kalau perusahaan tidak ada, kita sudah mati kelaparan sejak dahulu!” Balas seorang pemuda yang tidak mau dipersalahkan atas apa yang menimpa desa mereka. Keributan itu membuat suasana semakin muram. Bima mendengarkan dari kejauhan. Hatinya semakin yakin bahwa orang-orang dewasa tidak akan berhenti bertengkar. Ia semakin sadar juga bahwa dewasa tidak ditentukan oleh umur. “Sesuatu harus segera dilakukan,” kata Bima pelan.
Bima mengumpulkan sahabat-sahabatnya, Clara, Andi, dan Togar. Mereka berkumpul di rumah panggung sederhana, diterangi lampu minyak. “Kita tidak bisa melawan perusahaan dengan senjata,” kata Bima dengan tegas. “Tetapi kita bisa melawan dengan harapan. Kita mulai dari yang kecil,” katanya lagi. “kita bersihkan sungai, menanam pohon di bukit yang sudah gundul, dan kita tulis apa yang kita lihat, lalu disebarkan,” tambahnya dengan percaya diri. Tetapi Clara ragu, “Apa gunanya, Bim? Mereka bisa menebang ratusan pohon dalam sehari. Sedangkan pohon yang kita tanam membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh sampai besar.” Bima tersenyum tipis, “Tetapi kalau tidak ada yang memulai, kapan harapan itu lahir? Matahari selalu bersinar tiap pagi, meski malam terus datang. Kita pun harus begitu.” Bima meyakinkan sahabat-sahabatnya bahwa langkah yang mereka ambil pasti akan berhasil walau memang sulit juga melaksanakannya, mengingat mereka hanyalah sekumpulan anak sekolah saja. Malam itu, mereka sepakat memulai gerakan kecil yang mereka namai Sahabat Surya. Sudah pasti Bimalah yang mengusulkan nama itu.
Esoknya, mereka memulai harapan itu. Mereka menanam pohon di bukit yang longsor. Tangan mereka penuh lumpur, keringat mereka bercucuran, tetapi wajah mereka tetap berseri. Beberapa orang dewasa mencibir. “Anak-anak main-main saja! Pohon itu toh akan mati juga.” Mereka seakan menciutkan semangat Bima dan sahabat-sahabatnya. Namun ada juga yang diam-diam terharu melihat keberanian mereka. Seorang ibu tua membawa air dari sumur untuk menyiram bibit pohon.
Bima menulis poster sederhana dengan cat seadanya. “Hutan adalah ibu, jangan biarkan ia mati.” Poster itu ditempel di balai desa. Anak-anak sekolah lain ikut bergabung. Lambat laun, gerakan kecil itu menjadi obor yang menyala di tengah kegelapan. Berita tentang aksi mereka mulai terdengar hingga ke sekolah-sekolah tetangga. Guru-guru mendukung, bahkan mengajak siswa menulis puisi dan cerita tentang hutan.
Suatu sore, Bima kembali ke tepi danau bersama kakeknya. Pohon-pohon kecil yang mereka tanam mulai bertunas. Matahari sore menyinari pucuk hijau yang mungil, memantulkan cahaya emas di permukaan danau. Pak Daman, kakek Bima, berkata lirih, “Kau tahu, Bim, Gita Sang Surya bukan hanya nyanyian matahari. Itu juga nyanyian kita manusia yang berani memberi terang, walau kecil. Dan kau sudah melakukannya.” Bima terdiam. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. Ia tahu perjuangan ini panjang, mungkin lebih panjang dari umurnya sendiri. Tetapi ia juga tahu, ia sudah menyalakan api kecil yang tak akan mudah padam.
Hari berganti minggu, minggu menjadi bulan. Perusahaan tetap beroperasi, truk-truk besar berlalu-lalang membawa tumpukan kayu besar, seolah senang mengangkut jantung hutan yang dicabik-cabik. Terdengar kabar bahwa pihak perusahaan melakukan intimidasi kepada warga yang tidak mau memberi tanah leluhur mereka secara cuma-cuma untuk ditebang. Mereka menekan warga dengan ancaman, bahkan mengirim preman untuk menakut-nakuti keluarga. Ada yang dipaksa utuk menandatangani pelepasan tanah di bawah todongan senjata, ada pula yang diseret keluar rumah hanya karena berani menolak. Suara protes dibungkam, tangisan perempuan dan anak-anak diabaikan. Rasa takut menjerat desa seperti bayangan gelap yang tak kunjung pergi.
Seperti pupus sudahlah harapan Bima. Baru saja ia meyakinkan dirinya untuk terus berjuang, cobaan besar datang. Lebih kejam daripada yang ia bayangkan. Bagi Bima ini bukan lagi sekadar keserakahan. Melainkan wajah kekuasan yan lebih kejam dari penjajah manapun yang pernah ia dengar dari kakeknya. “Apa yang harus kulakukan? Kulanjutkah pencapaian harapan ini?” Bima terpekur di bawah pohon rambutan yang kini hanya menyisakan ranting-ranting kering. Namun dalam keheningan itu, ia merasakan bara kecil yang belum padam di dalam dadanya. Meski lelah dan ketakutan mengepung, ia tahu dirinya tak boleh menyerah. Harapan boleh goyah, tetapi tekad untuk menjaga alam tetap menyala, menuntun untuk terus berjuang. Ia mengambil buku catatannya dan mulai menulis.
Hari ini aku kembali menyaksikan betapa rapuhnya harapan. Seperti daun yang luruh sebelum waktunya, ia bisa gugur oleh angin keserakahan. Namun aku belajar, meski ranting tampak gundul, kehidupan tidak pernah benar-benar padam. Selalu ada bara kecil yang menyala di kedalaman dada, menolak dipadamkan oleh ketakutan. Aku sadar, perjuangan menjaga alam bukan sekadar melawan perusahaan, melainkan melawan keputusasaan dalam diriku sendiri. Jika aku meneyrah, maka aku sama saja membuarkan nyanyain matahari bungkan dan suara lelhur terkubur. Mungkin aku hanyalah seorang anak muda tanpa kuasa. Tetapi bukankah setiap tetes embun juga bagian dari samudera? Bukankah setiap bisikan doa bisa mengguncang langit? Aku ingin terus berjuang, bukan karena aku yakin akan menang, melainkan karena menyerah berarti kehilangan diriku sendiri.
Di bukit yang gundul, pohon-pohon kecil berdiri, dijaga dengan cinta. Anak-anak desa menuliskan cerita mereka, menempelkan gambar matahari bersinar di papan bambu. Orang-orang mulai belajar memilah sampah, membersihkan sungai, dan saling membantu.
Bima menatap matahari yang terbit di ufuk timur. Ia tersenyum. Cahaya itu menembus wajahnya, hangat memberi janji. Air matanya jatuh, bukan karena putus asa. Tetapi karena ia merasakan panggilan yang lebih besar dari dirinya. “Selama surya masih menyanyi,” bisiknya dalam hati, “aku akan menjaga agar bumi pun tetap bernyanyi.” Sebab tanpa nyanyian itu, manusia kehilangan dirinya sendiri. Sekali lagi, Bima kembali menuliskan isi hatinya di buku catatannya. Tangannya gemetar. Ia membuka lembaran kosong dan mulai menulis.
Jika hutan adalah nyanyian bumi, maka aku ingin suaraku menjadi bagiannya. Meski kecil,biarlah ia terdengar bersama desau angin dan gemericik air. Sebab tanpa nyanyain itu, manusia hanyalah bayangan yang kehilangan jiwa.”
Pesan
Hutan bukan sekadar deretan pohon, melainkan nadi kehidupan yang mengikat manusia dengan tanah, air, dan langit. Saat ia dirusak, bukan hanya ekosistem yang mati, tetapi juga jiwa manusia yang tercabut dari akar kebijaksanaan leluhurnya. Namun, seperti matahari yang setia terbit meski malam selalu kembali, kita pun dipanggil untuk menjadi cahaya, sekecil apapun, agar bumi tetaap bernyanyi. Perjuangan ekologis sejatinya adalah perjuangan spiritual yakni menjaga kesucian hidup, menolak tunduk pada keserakahan, dan menghidupi janji kepada generasi yang akan datang – yang belum lahir.






