Semilir angin menampar pipiku; menyadarkanku pada realita yang tak dapat kuterima. Hancur sudah kembang kenanga yang dahulu tertata indah di balik hamparan luas hutan adat yang berhiaskan hamparan Danau Toba. Hati terpukul ingin menangis; meratapi kenangan yang telah dihembus asap pabrik. Limbah mengalir dari mulut pipa pembuangan; mengalirkan racun yang bau, tertimbun di besarnya kubangan.
Di tempat yang dahulu menjadi wahana permainan masa kecil, telah berdiri kokoh pabrik PTL yang mengolah ribuan kayu eukaliptus menjadi bubur kertas. Corong asap mendongak sombong ke arah langit biru; menyumbang berton-ton polutan yang bergumpal, mengalahkan barisan awan-gemawan. Bangunan besar, yang penuh dengan keserakahan tangan-tangan kotor para pemodal nakal, mendapat status ‘perusak’ di tanah permai masyarakat. Dinding dingin yang menjadi bukti bahwa manusia telah kehilangan arah dari jalur ilahi yang menugaskan mereka untuk merawat alam. Berpuluh-puluh alat berat melintang ke sana-kemari; membawa sumber uang yang diolah secara licik dari kayanya tanah adat milik masyarakat.
Pilu! Yang tersisa hanyalah polemik semata. Hamparan eukaliptus telah menggantikan rindangnya hutan belantara yang dulu mempesona hati; memberi sumbangsih dalam karya indah alam geopark. Lambaian rerantingan kini berubah menjadi julangan dahan eukaliptus. Tak ada lagi keberagaman flora. Semuanya telah using ditindas keseragaman yang tak enak dipandang mata. Kini yang tersisa, hanyalah gambaran ketamakan para ‘kaum berdasi’, yang menghengkang kaki jauh di sisi lain ramainya metropolitan.
Tak kutemukan lagi rerantingan beringin yang dahulu menutupi kepala di kala raja siang menunjukkan taji. Keji, sungguhlah keji. Niatan gembira tatkala kembali ke tanah asal, tapi apa daya, hanya khayalan yang tinggal di akal. Semuanya berubah. Aroma kenangan masa lalu sekalipun tak dapat kucium lagi. Terlebih, bila kupandang dirimu yang sekarang, sahabat kecilku, Raja…
***
Samosir… Negeri indah kepingan surga. Di sanalah aku tuk pertama kalinya menjadi bagian penting dari penghuni bumi. Desa Peabang menjadi saksi bisu akan kelahiran seorang anak bermarga Saragih yang kelak akan menunjukkan kepada dunia bahwa kasarnya tangan para konglomerat harus disingkirkan total dari indahnya hamparan geopark; karya Tuhan nan indah.
Bersama alam nan asri, aku lahir dan bertumbuh menjadi pribadi yang mencintai setiap sudut tanah permai nan subur di daerah kaki Pusuk Buhit. Hamparan hutan nan rindang merajut untaian paradigma tradisional bahwa manusia dan alam hidup berdampingan, dan menciptakan keharmonisan. Dari sana terlahir yang namanya tradisi dan kecintaan yang menjadi asa untuk ke depannya. Irama alam menciptakan daya hidup di dalam dada yang berkobar ketika satu batang pohon terluka dan mati; di mana setiap belaian rumput menciptakan cinta yang menyejukkan sanubari.
Dengan bangga, orangtuaku menyematkan identitas abadi pada diriku: Alam Asri Saragih. Nama yang lahir dari refleksi akan keindahan alam tanah Samosir dan atas syukur karena ibu pertiwi yang merawat dan mengasuh kami, para penduduk desa Peabang.
Sedari kecil, ayah dan ibu telah memperkenalkan hutan, danau, dan semua yang hidup di dalamnya. “Nak, alam memberikan kepada kita kebutuhan sehari-hari. Ia rela diolah oleh manusia demi sebuah tujuan yang mulia. Tanah untuk lahan pertanian, kayu hutan untuk membangun rumah, sampai air bersih demi kelasungan hidup. Alam dan manusia adalah sahabat karib yang tak terpisahkan”. Demikianlah petuah yang selalu ayah gaungkan ke dalam diriku. Nasehat itu selalu memberikan pemahaman filosofis yang mendalam tentang siapa itu manusia di hadapan alam nan luas.
Tak hanya ayah, ibu pun menanamkan paham yang senada kepadaku, “Bila alam mampu memberimu makanan, maka rawatlah dia. Bila ia marah, maka ketahuilah bahwa kau telah melakukan kesalahan yang fatal”. Dua petuah yang kedengarannya berbeda, tetapi mengandung nilai yang sama: seruan etis untuk merawat alam. Tampaknya ibu lebih menonjolkan sisi keibuan alam yang tak ingin anaknya terlantar.
Demikianlah pengajaran demi pengajaran mengalir deras dari ayah dan ibu, yang berhasil membentuk diriku menjadi ‘manusia alam’. Filosofi tradisional yang membawaku kepada penghayatan mendalam akan kebersatuan seluruh ciptaan di dunia ini. Paradigma yang membangkit percikan cinta untuk menjadi garda terdepan melindungi mutiara berharga di belahan bumi Sumatera.
***
Hari demi hari. Siang berganti malam. Tahun berganti tahun. Alam Saragih yang dulu masih seorang bocah lugu, kini telah menjadi remaja gagah yang sedang menumpuh pendidikan di SMP N 1 Sianjur Mula-mula, tepatnya di bangku kelas 1 SMP. Hari-hari hidup dipenuhi warna-warni pengalaman bersama saudara pohon, saudara danau, saudara hewan, dan saudara lainnya. Mereka menungguku untuk bermain di dalamnya; merajut persaudaraan abadi, bertemankan hempasan angin dingin dari segala penjuru mata angin.
Aku bebas menikmati alam itu. Menyelam, memanjat, dan bermain bersama deraian ombak ria yang melambungkan salam kepada segenap orang yang memeluknya dengan gelak tawa lepas. Saudara hutan menyediakan kekayaan buah-buahan dan tanaman obat yang siap sedia untuk kebutuhan penduduk setempat. Aku bebas…. Aku sangat menikmati wahana permainanku yang membentang luas di kaki Pusuk Buhit.
“O…. Alam!” terdengar suara sayu yang memanggil dari kejauhan. Suara yang familiar bagi telingaku. Suara yang keluar dari mulut seorang kakek. Suara seorang pria renta yang masih terdengar gagah oleh banyak orang. Itu suara ompung doli-ku yang memanggil dari arah jalan masuk ke hutan. Tampaknya ada tugas khusus yang kukerjakan dengan segera.
“Kemari, Alam! Ada yang mau ompung sampaikan!”, pintanya dengan tegas. Tampaknya itu adalah panggilan tugas. Aku mengambil langkah seribu. Kaki ramping dengan betis batu bata, berlari lincah di antara pepohonan rindang hutan belantara. Secepat kilat, aku mendapati ompung yang tengah memegang bibit pohon yang ditanam di dalam polibag. Aku dapat melihat wajah keriputnya yang berhiaskan senyum lebar nan indah di masa tuanya. Tampaknya akan ada pelajaran filosofis yang baru, yang akan kudapat di tengah mentari siang merajai langit biru.
“Ompung bawakan sesuatu untuk kau tanam di dekat ladang kita. Ini adalah pohon raja. Bibit pohon ini ompung bawa dari Nagori Dolok. Ompung mau agar kau tanam dan rawatlah pohon ini. Jadikan dia sahabatmu, ya! Beri nama padanya. Biar akrab kalian. Hahaha….”, ujarnya sambil melontarkan tawa khasnya yang tak dapat ditiru orang lain, sekalipun itu seorang pelawak professional seantero bumi.
“Ndang adong hamijon, Ompung?”, dengan sedikit guraun, aku menggoda ompung yang sangat serius menjelaskan jenis pohon apa yang dipegangnya.
Sambil mengelus kepalaku, beliau berkata, “Hahaha…. Kau ini! Sudah banyak jenis itu bertebaran di hutan. Inilah tanam. Kelak, kau akan mengerti apa yang hendak kusampaikan lewat pohon ini.”
Pohon raja…. Ompung berkata bahwa ketika mencapai umur dewasa, pohon tersebut akan menjulang tinggi sampai lebih dari 8 m dengan diameter pohon yang besar; diperlukan 8 orang dewasa untuk memeluk satu lingkar pohon tersebut. Dengan dedaunan dan ranting yang rindang, pohon ini menjadi harapan baru bagi burung-burung muda yang ingin membangun sarang mereka. Mulutku tak dapat terkatup tatkala mendengar penjelasan dari ompung tadi. Bagaimana bisa pohon itu bisa sebesar demikian kelak ketika mencapai umur dewasa? Atas dasar itulah, pohon tersebut dinamakan pohon raja. Pohon yang beraura raja gagah, yang menudungi pohon lain di sekitarnya; membawa sebuah harapan baru bagi kehidupan manusia ke depannya.
Selekas mandat itu diserahkan, cangkul andalan melekat di tangan; menciptakan lubang yang siap tanam. Perlahan namun pasti, Raja, demikianlah aku menamainya, mendapat tempat baru di tengah kawanan pohon yang bersanding ramah dengan ladang sayur kami. Indah sekali! Seolah-olah pepohonan lain menyambutnya dengan hangat dengan sapaan lembut ‘Selamat datang di keluarga, Raja!’. Seolah-olah pepohonan bersukacita atas kedatangannya. Mereka melambaikan dahan; lambaian penuh cinta yang mengisyaratkan cinta kekeluargaan universal. Desiran angin meniup nafas segar sebagai modal baginya untuk bertumbuh dan berkembang; menjulang tinggi dan menampakkan eksistensi.
Sepulang sekolah, kuberlari kegeringan menemui sahabat kecilku, Raja. Sapaan hangat kulantunkan dalam lagu nyanyian alam yang indah dengan gaya khas orang Batak bila sedang bernyanyi. Setiap lantunan syair mengisyaratkan persaudaraan yang erat antara aku dan Raja. Alam semesta menikmati lagu itu. Desiran angin berhembus dengan penuh sukacita. Kicauan burung menjadi biolis alami dalam orkestra alam siang itu. Tak lupa sekelompok imbou menambah deretan barisan basis.
Begitulah seterusnya, hingga pakaian putih abu-abu akan mengakhiri masanya dengan perahilan yang begitu cepat. Dunia perkuliahan telah menunggu di depan mata; menanti dengan pasti untuk mengubah seorang remaja menjadi seorang individu yang berilmu tinggi di jenjangannya. Tak ada kata lain selain kata ‘pamit’ yang dapat kusampaikan kepada para sahabat alamku, terkhusus kepada Raja.
“Bertahan hiduplah, Raja. Aku akan kembali dan membawa segudang cerita dari tanah perantauan. Tentunya kau akan merindukanku. Namun, bertahanlah dalam jarak yang begitu jauh. Aku tak akan melupakan sejengkal pun kenangan indah kita. Sampai ketemu di lain waktu, Raja!”, kata-kata yang terucap dari mulut itu bertemankan derai air mata sedih bercampur kebahagiaan. Aku akan menempuh babak baru dalam pergulatan hukum di Universitas Oxford. Jarak akan memisahkan kami. Namun, satu hal yang pasti, tak ada yang bisa mengingkari yang dirasakan oleh hati. Pertemanan kami terpisah oleh belahan benua. Langit Inggris akan menyampaikan pesan manisku kepada Raja dan teman-teman lainnya. Derai angin sejuk pasti akan menyampaikan pesanku tepat waktu. Tunggu aku, Raja. Aku akan kembali dengan segala usaha yang manis di balik rasa berat ini tuk meninggalkanmu.
***
Jarum jam arloji terus berpacu. Waktu seolah-olah bermusuhan denganku. Ia memakan detik demi detik peluangku untuk membangun narasi yang kuat untuk mematahkan belenggu ganas para kaum investan yang merauk keuntungan dari alam yang takberdaya melawan. Setiap jengkal kekejian mereka terukir rapi di lembaran putih gugatan, yang akan menjadi kata-kata penghancur ego barisan penjahat berkedok pengusaha sukses. Kisah usang mereka akan menjadi bumerang kilat yang membelah nafas panjang para penguasa pasar bisnis itu. Aku tak ingin sebenarnya melihat wajah penggeruk kotor itu.
Aku tidak sendiri. Barisan orang yang sakit hati akibat ulah kotor para pengusaha rakus itu terbentang rapi dengan untuaian kata-kata indah di telinga para penggiat lingkungan hidup. Satu tuntutan mereka, “TUTUP PTL!”. Mereka telah kehilangan tanah leluhur mereka akibat suap-menyuap antara para pengusaha dengan pejabat pemerintahan. Kini, aku tak akan bungkam. Seluruh aspirasi rakyat adat kutanggung di atas bahuku. Kebulatan suara mereka bergema di ruang rapat melalui alunan protes yang kulayangkan.
“Aku membawa bukti yang akurat!”, kuperdengarkan auman perlawanan sembari memaparkan bukti lewat slide di Power Point.
“Mereka menjebak rakyat agar mendapatkan tanah mereka dengan berbagai iming-iming palsu! Gelombang protes coba mereka patahkan dengan menculik dan memenjarakan banyak tokoh adat yang bersuara atas nama keadilan dan keutuhan alam ciptaan! Tak lain dan tak bukan, INI ADALAH TINDAKAN PIDANA! Mereka merusak alam dan menghancurkan situs alami yang seharusnya dijaga ketat oleh pemerintah sedari awal negara ini berdiri! Rakyat menghadapi ‘neo-kolonialisme’ di bawah rentetan kemunafikan dan permainan uang di bawah meja kerja para penjabat negara. Demikianpulakah hari nurani kalian, Yang Mulia Hakim, akan tumpul juga, meskipun Saya telah mempunyai bukti kuat?”, dentuman keras memekakkan telinga mereka, dengan hantaman seeksemplar bukti kuat atas perilaku immoral yang dengan leluasa telah terjadi di depan mata.
Semua mendengarkan. Hakim mulai berbisik-bisik tak karuan, seolah-olah mereka tak memiliki pilihan lain, selain menunda persidangan. Kami hanya menelan ludah dengan tamparan keras kekecewaan yang menyayat hati. Palu hakim telah berbunyi, dengan sebuah putusan yang mengecewakan: ‘persidangan kembali ditunda’. Ya, seperti yang telah kuduga. Aku tahu mereka telah disuap. Mana mungkin ada yang bisa menunda kembali persidangan dengan bukti kuat yang bisa saja menjerumuskan para penjahat dengan mudah ke balik jeruji besi. Namun, aku tersenyum dan berkata dengan nada lemas, “Aku berhasil membuktikan bahwa kalian pun merupakan komplotan para penjahat itu juga”.
Gelombang demonstran dibubarkan. Raut wajah kecewa dan derai air mata dari para korban tak dapat terbendung. Aku hanya bisa memberi tatapan kosong kepada mereka, seolah-olah tak ada lagi harapan yang dapat dibangun sebagai bentuk perlawanan dari pihak yang dirugikan. Kini, perlahan namun pasti, aku menyadari betapa ternodainya keluhuran hukum di negeriku, biarpun aku menjadi salah seorang lulusan terbaik bidang hukum dari Negeri Ratu Elisabeth. Maafkan aku, semuanya. Namun, perjuangan kita belum berakhir!
Kembali…. Kedua mata ini menatap miris gundukan kayu hutan yang telah membusuk. Aku hanya dapat duduk termenung di hadapan bangkai Raja yang telah usang dimakan waktu. Deru air mata membasahi pipi. Sentuhan terakhir hanyalah kesia-siaan. Tak dapat lagi kumenyentuh dahan rindang yang ia miliki. Kini, yang tersisa hanyalah tungkul tubuhnya dengan lingkaran usia yang menggambarkan perjuangannya besar untuk tumbuh dan berkembang. Tatapan penuh penyesalan dan hati yang tak tenang menambah barisan kekecewaan hati.
Perlahan, aku menadah ke langit dan menatap hamparan biru yang tak lagi seindah dulu. Secara tak terduga, semangatku kembali tumbuh. Petuah mendiang ompung berkibar bebas dalam benak. Api perlawanan membara dalam diri; kebenaran dan keadilan harus berkibar bebas di tanahku! Wajah hijau alamku harus kembali pada keadaan sedia kala. Aku menatap kembali tungkul tubuh Raja seraya berkata, “Jangan khawatir, Raja. Aku tidak akan pernah menyerah. Tak ada yang dapat mengendorkan niatku tuk mengembalikan kembang kenanga yang dulu. Tak ada yang dapat menghapus jejakmu yang terukir abadi di tanah Samosir, Raja. Aku akan kembali….”
***
Pesan:
- Manusia, sebagai citra Allah, seharusnya menjadi wakil Allah di bumi dengan merawat semua ciptaan-Nya. Manusia seharusnya menumbuhkan semangat ekologis, bukan sifat bengis yang membuat alam terus menangis. Oleh sebab itu, manusia harus ‘ringan tangan’ dalam mengusahakan kelestarian alam ciptaan; bukan malahan mengurasnya seolah-olah manusia-lah tuan takur nan rakus atas bumi dan langit.
- Sembari menjaga keutuhan alam ciptaan, kita harus berbela rasa pula terhadap sesama kita, terutama bagi mereka yang haknya atas bumi dan air direnggut secara paksa oleh oknum yang rakus akan uang dan kekuasaan.


