Beranda / Artikel / Refleksi / DI BALIK AIR MATA SUMATERA

DI BALIK AIR MATA SUMATERA

Oleh Fr. Mulyadi Pardosi,OFMCap

Aku tiba di tanah yang belum sempat bernafas.

Banjir telah lewat, tetapi hujan masih berjaga di atasnya.

Seperti luka terbuka yang disiram air garam oleh langit,

Sumatera menangis bukan sekadar metafora,

yang direduksi jadi kabar mencekam di media sosial saja,

tetapi ia menangis lewat angka.

Lebih dari 1.140 orang meninggal,

ratusan masih hilang

dan hampir 399.000 jiwa mengungsi dari rumahnya sendiri.

Jalan-jalan masih bergelut dengan lumpur,

pemukiman manusia tergantikan oleh gelondongan kayu,

aroma sisa air menyeruak di pori-pori rumah yang roboh,

dan sungai yang dulu indah,

kini serupa mulut raksasa yang menelan tepi-tepinya sendiri.

Aku berjalan di lorong pengungsian,

melihat wajah-wajah yang tak lagi utuh oleh mimpi.

Pengungsian itu bagaikan ruang tunggu tanpa waktu,

Penuh orang, penuh lelah, tanpa kepastian.

Bahkan anak kecil,

yang seharusnya menikmati indahnya bermain,

terpaksa meminjamkan pundaknya,

untuk mengangkat logistik yang kubawa.

Aku menyentuh tangan seorang ibu yang gemetar.

Bayi dalam pangkuannya gelisah dalam kedinginan,

tanpa tahu bahwa ayahnya sudah hanyut bersama air mata bumi.

“Apakah anakku ini masih dapat tersenyum tanpa ayahnya?”

Tanyanya berlinang air mata.

Sumatera tidak menangis tanpa sebab.

Di bawah hujan deras yang tiada henti,

ekosistem yang dulu menahan air,

sekarang menyisakan tanah yang mudah rapuh,

tanpa penyangga dan tanpa pengikat bak tubuh tanpa tulang.

Hujan turun,

setia pada perannya dalam perjalanan alam semesta.

Tetapi, kali ini tidak sama dengan tahun-tahun sebelumnya.

Curah hujan meningkat,

sungai meluap tanpa ampun,

sementara pepohonan yang dulu setia berjaga,

sudah hilang tergantikan tambang, proyek ekonomis, dan lahan kosong.

Akhirnya air mata bumi Sumatera tak terbendung,

hingga menenggelamkan perkampungan dan segala isinya.

Aku datang sebagai relawan,

penuh niat baik dan sedikit bantuan logistik.

Namun aku pulang dengan sadar bahwa

bantuan materi tak cukup menjahit kembali tubuh bumi yang robek,

dan menyembuhkan luka batin warga yang terdampak.

Kita menolong mereka yang terdampak banjir,

tapi siapa yang membuat mereka terdampak banjir?

Aku berdiri di bawah langit yang tampak teduh,

mengamati perkampungan yang tertutup gelondongan kayu,

tanah runtuh berderet laksana halaman yang disobek alam,

dan perut bumi yang dikeruk oleh pertambangan.

Aku sadar ini adalah akibat dari ketamakan manusia.

Korporasi menikmati keuntungan,

sementara rakyat kecil hanya mendapat lumpur yang melukai.

Di sisi lain, pemangku kekuasaan diam dan menyalahkan cuaca,

padahal tanda tangannya yang membuat korporasi bebas membabat hutan.

Hatiku basah oleh kenangan akan suara tangis,

pelan-pelan aku mengerti,

ini bukan semata hujan.

Ini adalah akumulasi luka yang panjang.

Air tidak pernah jahat.

Ia hanya pulang ke ruang yang dulu miliknya.

Ia tak pernah berniat melukai rakyat kecil itu.

Namun ada satu hal yang terlupakan

saat manusia berada di ambang kemajuan zaman.

Pikiran manusia tertuju pada eksploitasi,

membayangkan uang mengalir lancar ke rekening.

Manusia lupa mencintai bumi.

Manusia lupa memeluk bumi yang telah menopang kehidupan.

Karena mencintai bumi bukan soal slogan,

bukan sekadar titel di feed media sosial,

melainkan janji yang terpaut pada tiap langkah kita,

maka menanam harus lebih banyak daripada menebang.

Dengarkan bisikan bumi sebelum airnya menenggelamkan lagi.

Biarlah doa tidak hanya naik saat rumah terendam,

tapi juga turun dalam cara kita memperlakukan tanah, air,

dan hutan sehari-hari.

Jika kelak hujan datang lagi,

semoga ia disambut oleh bumi yang siap menjaga,

bukan oleh luka lama yang menunggu diulang.

Biarlah setiap pengungsi menemukan rumahnya kembali,

biarlah anak-anak lupa kenangan basah itu,

tapi jangan biarkan kita lupa pada janji.

Janji untuk mencintai dan merawat bumi.

Mencintai bumi berarti

kita tidak lagi membiarkan air hujan menjadi saksi terakhir

dari tangisan yang enggan reda.

***

Sinaksak, 06 Januari 2026

CATATAN

  1. Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, https://www.tempo.co/politik/banjir-sumatera-1-140-orang-meninggal-399-ribu-mengungsi-2102841.

Satu Komentar

  • Yunia Zendrato, S.H
    Balas

    Tulisan menarik menyentuh dan menyadarkan akan pentingnya hati yang menjaga dan merawat bumi sekaligus mengingatkan kembali akan duka akibat bencana. Terimakasih tulisan nya pastor teruslah menulis. Mantap, ditunggu tulisan berikutnya.

Tinggalkan Balasan ke Yunia Zendrato, S.H Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *