Beranda / Artikel / Refleksi / Alam Semesta Adalah Rumah Kita Bersama

Alam Semesta Adalah Rumah Kita Bersama

 Refleksi Kritis Dari Tinjauan Ensiklik Laudato Si’

Oleh Fr. Giovanni Piang

Abstrak

Hubungan Fransiskus dari Assisi dengan alam ciptaan tidak hanya tinggal pada level kodrati dan manusia, tetapi sampai pada level Ilahi, adikodrati dan spiritual dalam kasih mesra. Fransiskus bukanlah manusia yang hidup secara individu. Ia terbuka pada sesamanya manusia dan juga terhadap semua ciptaan-Nya. Tidak pernah ia acuh tak acuh terhadap ciptaan apa pun. Cinta Fransiskus terhadap ciptaan adalah refleksi dari kasihnya yang mendalam terhadap Sang Pencipta. Melalui ciptaan, Fransiskus menemukan sarana untuk memuji dan memuliakan Tuhan. [1]Artikel ini akan mengeksplorasi secara lebih rinci spiritualitas Fransiskus terhadap ciptaan, mulai dari pandangannya terhadap kemiskinan dan kesederhanaan, hingga bagaimana ia melihat semua ciptaan Tuhan, ia sebut sebagai saudara/saudari dalam perjalanan spiritualitas.

Kata Kunci: Santo Fransiskus dari Assisi, spiritualitas ciptaan, Laudato Si’, ekologi integral, keadilan sosial, pertobatan ekologis.

  1. Pengantar

          Spiritualitas Fransiskus dari Assisi terhadap alam semesta berakar pada relasinya dengan Allah Pencipta. Ia melihat segala makhluk dan lingkungan alam sebagai sama-sama berasal dari satu sumber/satu asal, yaitu semuanya diciptakan oleh Allah. oleh karena itu, semua makhluk ciptaan dipandang dan dicintai sebagai saudara-saudari. Melalui ciptaan, Fransiskus menemukan sarana untuk memuji dan memuliakan Allah.[2]

2. Pengertian Spiritualitas

    Secara etimologi kata spiritualitas berasal dari bahasa Latin spiritus yang berarti nafas, kehidupan, roh. Dalam pengertian lebih luas, spiritualitas berhubungan dengan keseluruhan hidup yang didasari atas realitas yang utama, di dalam roh, dan diselaraskan dengan keberadaan dimensi rohani (dalam hal ini baik di dalam tubuh secara fisik yang hidup dan yang transenden). [3] Spiritualitas adalah jalan yang penuh hidup (energi), cara hidup yang penuh roh.[4]

3.    Spiritualitas Fransiskus dari Assisi terhadap ciptaan

3.1 Panggilan terhadap kesederhanaan dan kemiskinan

    Kesederhanaan hidup dan kemiskinan adalah dua aspek mendasar dari spiritualitas Fransiskus. Bagi Fransiskus, kemiskinan bukan sekadar pilihan etis, melainkan jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan alam. Dalam hidup miskin, manusia diajak untuk melepaskan segala keterikatan pada benda duniawi, dan dengan demikian lebih mudah untuk berhubungan dengan ciptaan sebagai saudara, bukan sebagai objek eksploitasi. Kesederhanaan hidup ini, menurut Fransiskus menciptakan harmoni antara manusia dan alam. Karena tanpa kerakusan dan keinginan untuk menguasai, manusia bisa hidup berdampingan secara damai dengan ciptaan lainnya. dengan hidup sederhana, Fransiskus percaya bahwa kita mengakui semua yang kita miliki adalah pemberian Tuhan, dan kita harus bersikap rendah hati serta bersyukur atas konsep Saudara Semesta.

    Salah satu aspek paling khas dari spiritualitas Fransiskus adalah konsep “Saudara Semesta” (brotherhood of Creation), yang menjadi dasar dari cintanya terhadap seluruh ciptaan. Dalam pandangannya, setiap makhluk baik itu manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, maupun elemen alam seperti matahari, bulan, bintang, air dan angin memiliki nilai intrinsik dan layak dihormati karena mereka semua diciptakan oleh Tuhan. Dalam doa-doannya, terutama dalam Kidung Saudara Matahari (Canticle of the Sun), Fransiskus menyapa matahari sebagai “Saudara Matahari”. Sedangkan untuk bulan dan bintang ia menyapanya sebagai Saudari. Bahkan maut yang sangat ditakut oleh semua orang ia menyapanya sebagai “saudarai maut”.[5] Fransiskus melihat semuanya sebagai saudara dan saudari.

3.2 Ekologi Integral dalam spiritualitas Fransiskus

    Walaupun istilah “Ekologi integral” baru dipopulerkan dalam diskursus teologi dan magisterium Gereja pada abad ke-21 khususnya melalui ensiklik Laudato Si’ (2015) yang ditulis oleh Paus Fransiskus, namun gagasan dasarnya sudah dapat ditemukan dalam spiritualitas dan pemikiran Santo Fransiskus dari Assisi (1181-1226).

Pemahaman mengenai ekologi integral tidak hanya terbatas pada relasi antara manusia dan alam semesta dalam arti ekologis semata, melainkan mencangkup dimensi yang luas, yakni keterpaduan antara aspek ekologis, spiritual, moral, sosial, ekonomi, dan budaya. Dengan demikian, ekologi integral memandang bahwa persoalan lingkungan hidup tidak dapat dipisahkan dari persoalan kemanusiaan dan keadailan sosial. Santo Fransiskus dari Assisi merupakan tokoh kunci dalam tradisi Gereja yang memperlihatkan suatu paradigma ekologis yang holistik. Dalam Kidung Saudara Matahari, ia memuji Sang Pencipta dengan menyebut mereka sebagai saudara-saudari: “Terpujilah Engkau, Tuhanku, bersama Saudara Matahari, Terpujilah Engkau Tuhanku, bersama Saudari Bumi, yang menopang dan memilihara kami, menghasilkan buah-buahan yang beraneka ragam, bunga berwarna-warni dan rerumputan” (Kidung Saudara Matahari, 1224). Melalui ungkapan ini, Fransiskus menegaskan bahwa seluruh ciptaan memiliki martabat dan nilai intrinsik, serta menjadi bagian dari persatuan kosmik yang memuliakan Allah.

Lebih jauh, spiritualitas Fransiskus menekankan keterkaitan yang erat antara ekologi dan etika sosial. Bagi Fransiskus, merusak alam tidak hanya berarti merusak harmoni kosmik, tetapi juga merupakan bentuk ketidakadilan yang berdampak langsung pada kehidupan manusia, khususnya kau miskin dan terpinggirkan. Paus Fransiskus menegaskan hal ini dalam dokumennya Laudato Si’: Hari ini, kita tidak bisa lagi berbicara tentang pembangunan berkelanjutan tanpa solidaritas antar generasi. Ketika kita berfikir tentang situasi lingkungan, kita tidak hanya bisa memikirkan masa kini dan melupakan mereka yang akan datang, karena bumi yang kita terima juga milik mereka”.[6]

Ensiklik tersebut secara eksplisit menyebut Santo Fransiskus dari Assisi sebagai teladan utama dalam hal relasi manusia dengan ciptaan: “Saya percaya bahwa Santo Fransiskus adalah teladan luar biasa bagi kita. Ia menunjukkan betapa integral relasi antara perhatian pada alam, keadilan bagi kaum miskin, komitmen terhadap masyarakat, dan kedamaian batin pribadi”.[7]

Dengan demikian, Santo Fransiskus menghadirkan suatu paradigma ekologi integral yang tidak hanya bersifat teknis atau ilmiah, tetapi menyentuh ranah moral, spiritual, dan sosial.

    Dalam perspektif akademis, dapat dikatakan bahwa ekologi integral menurut teladan Santo Fransiskus dari Assisi menawarkan suatu hermeneutika baru dalam memahami relasi manusia dengan ciptaan. Relasi ini bersifat trinitaris: manusia dipanggil untuk membangun relasi dengan Allah, dengan sesama manusia, dan dengan seluruh ciptaan. Keseluruhan relasi tersebut membentuk kesatuan yang tak terpisahkan. Oleh karena itu, upaya penyelamatan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari perjuangan mewujudkan keadilan sosial, solidaritas, serta spiritualitas yang berakar pada iman akan Allah Sang Pencipta.

Maka, dalam kerangka pemikiran teologi kontemporer, spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi dapat dipandang sebagai landasan penting bagi pengembangan ekologi integral. Pemikiran ini bukan hanya relevan bagi refleksi teroritis, tetapi juga memberikan inspirasi praktis bagi Gereja dan masyarakat untuk mengembangkan gaya hidup ekologi yang sederhana, berkeadilan, serta berlandaskan kasih. Dengan demikian, ekologi integral bukan sekadar konsep ekologis, melainkan suatu panggilan iman untuk menjaga keutuhan ciptaan sebagai bagian dari perwujudan iman Kristiani di tengah dunia.

3.3 kesederhanaan sebagai jalan menuju Tuhan

      Fransiskus menegaskan bahwa kesederhanaan adalah jalan utama untuk menghargai ciptaan dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam hidupnya, dia memilih untuk melepaskan segala kekayaan dan kemewahan, memilih jalan kemiskinan yang radikal. Pilihan ini bukan hanya untuk mengikuti Kristus dalam penderitaan dan pengorbanan, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap ciptaan. Fransiskus memahami bahwa keinginan manusia untuk memiliki dan menguasai lebih banyak hal, terutama dalam bentuk materi, hanya akan menjauhkan kita dari kesadaran bahwa semua yang ada di dunia ini adalah karunia dari Tuhan. Dalam hidup yang sederhana, Fransiskus mengajarkan bahwa manusia dapat lebih menghargai keindahan alam, melihatnya sebagai cerminan dari kasih Allah.[8]

3.4 Cinta Fransiskus kepada hewan dan alam

    Cinta Fransiskus kepada hewan dan seluruh ciptaan sudah menjadi bagian penting dari spiritualitasnya. Ia tidak hanya melihat hewan sebagai makhluk yang berada di bawah manusia, tetapi sebagai saudara dan saudari dalam rencana keselamatan Allah. Salah satu kisah yang paling terkenal dalam tradisi Fransiskan adalah legenda tentang serigala di Gubbio, yang menjadi gambaran konkret bagaimana Fransiskus memperlakukan ciptaan lain dengan penuh kasih, pengampunan, dan dialog.

    Menurut kisah yang tercatat dalam Fioretti di San Francesco (Bunga-bunga Kecil Santo Fransiskus), di kota Gubbio pernah muncul seekor serigala yang buas dan menakutkan penduduk. Serigala ini menyerang ternak, bahkan membahayakan manusia, sehingga penduduk desa hidup dalam ketakutan. Mereka tidak berani keluar rumah atau menggarap ladang karena takut diterkam oleh binatang buas itu. Dalam konteks ini, serigala menjadi simbol ancaman dan teror, baik terhadap kehidupan manusia maupun terhadap keseimbangan komunitas.

Ketika mendengar situasi tersebut, Fransiskus dari Assisi dengan penuh belas kasih memutuskan untuk menjumpai serigala itu. Ia tidak membawa senjata, tidak pula mempersiapkan diri untuk membunuh, tetapi hanya berbekal iman, doa, dan keberanian yang lahir dari cintanya pada seluruh ciptaan. Fransiskus dari Assisi keluar dari kota, berjalan menuju hutan tempat serigala itu bersembunyi. Ketika akhirnya berjumpa dengan binatang buas tersebut, ia membuat tanda salib dan dengan suara lembut berkata.  Mari kemari, Saudara Serigala, atas nama Kristus aku memerintahkan engkau untuk tidak menyakiti aku maupun orang lain.” Menurut legenda, serigala itu segera merendahkan diri, menutup mulutnya yang ganas, dan menunjukan sikap jinak di hadapan Fransiskus dari Assisi.

Kemudian, terjadi dialog simbolis antara Fransiskus dan serigala. Fransiskus dari Assisi menegur sang serigala karena telah menebar teror dan menyebabkan banyak penderitaan bagi penduduk. Namun, ia tidak hanya menuduh, melainkan juga mendengarkan dan mengajak berdamai. Fransiskus lalu menawarkan perjanjian damai; penduduk akan memberi makan serigala itu setiap hari, dan sebagai gantinya, serigala tidak akan lagi menyerang penduduk maupun hewan ternak. Serigala itu, menurut kisah, menganggukan kepala dan meletakan cakarnya di tangan Fransiskus sebagai tanda persetujuan. Sejak saat itu, penduduk Gubbio hidup damai bersama binatang yang sebelumnya begitu ditakuti, bahkan serigala itu menjadi semacam penjaga kota hingga akhir hidupnya.

Kisah ini, meskipun sering dianggap legenda, mengandung makna teologis yang sangat mendalam. Pertama, ia menunjukkan bagaimana Fransiskus memahami seluruh ciptaan sebagai bagian dari keluarga besar Allah. Serigala, meskipun dianggap berbahaya, tetaplah ciptaan Tuhan yang memiliki tempat dalam rencana keselamatan. Dengan menyebut binatang itu sebagai “Saudara Serigala,” Fransiskus menegaskan bahwa hewan pun termasuk dalam jaringan relasi yang lebih luas, yakni relasi kasih antara manusia, alam dan Allah.

Kedua, legenda ini menampilkan spiritualitas perdamaian Fransiskus. Alih-alih menyelesaikan konflik dengan cara kekerasan, ia memilih jalan dialog, pengampunan, dan rekonsiliasi. Fransiskus tidak membunuh serigala untuk melindungi penduduk, tetapi justru merangkulnya sebagai bagian dari saudara. Dengan demikian, ia mengajarkan bahwa perdamaian sejati tidak dicapai dengan menyingkirkan musuh, melainkan dengan mengubah relasi yang penuh ketakutan menjadi relasi persaudaraan.

Ketiga, kisah ini dapat ditafsirkan secara alegoris. Serigala melambangkan kekerasan, ketamakan, atau dosa yang mengancam kehidupan manusia. Dengan iman dan kasih, Fransiskus menunjukkan bahwa bahkan kekuatan yang menakutkan sekaliipun dapat diubah menjadi sesuatu yang baik jika ditempatkan dalam terang Kristus.

Maka, perjumpaan dengan serigala di Gubbio bukan hanya kisah moral tentang kebaikan hati Fransiskus, tetapi juga sebuah simbol teologis mengenai kuasa injil yang mampu mentrasformasi realitas yang menakutkan menjadi sarana perdamaian.

Dalam persepektif ekologi integral, kisah ini menjadi sangat relevan. Relasi harmonis antara manusia dan ciptaan lain tidak bisa dibangun dengan logika dominasi atau eksploitasi, tetapi dengan sikap hormat, dialog, dan saling memberi. Fransiskus mengingatkan kita bahwa semua makhluk ciptaan memiliki nilai intrisik dan peran dalam ekosistem, bahkan hewan yang dipandang berbahaya sekalipun. Dengan menolak laogika kekerasan dan menggantinya dengan kasih, Fransiskus menghadirkan sebuah paradigma baru: manusia dipanggil bukan sebagai penguasa atas ciptaan, melainkan sebagai saudara di tengah ciptaan.  Bagi Fransiskus seluruh makhluk, termasuk hewan memiliki tempat dalam rencana Tuhan dan layak untuk dihormati.[9]

3.5 Spiritualitas Fransiskus krisis Ekologi Modern

    Dalam konteks modern, ajaran Fransiskus dari Assisi tentang cinta terhadap ciptaan menjadi semakin relevan. Dunia sedang menghadapi krisis ekologis yang semakin parah yang saat ini sedang dialami dunia dewasa ini, salah satu tantangan paling serius bagi umat manusia. Perubahan iklim, kerusakan hutan, polusi, dan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan adalah tanda nyata betapa hubungan manusia dengan ciptaan telah mengalami ketimpangan. Alam yang seharusnya dipandang sebagai rumah bersama kini diperlakukan semata-mata sebagai objek eksploitasi demi keuntungan ekonomi. Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia telah menyimpang jauh dari pandangan Fransiskus tentang harmoni dengan alam.

Kesimpulan

Refleksi atas spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi dalam terang Laudato Si` mengingatkan kita bahwa alam semesta merupakan rumah kita bersama yang harus dirawat, dijaga, dicintai dan dipelihara. Fransiskus menampilkan suatu paradigma iman yang memandang seluruh ciptaan sebagai saudara-saudari, bukan objek eksploitasi. Kesederhanaan, kemiskinan, serta sikap hormat terhadap seluruh makhluk menegaskan bahwa relasi dengan Allah tidak pernah terpisah dari relasi dengan sesama manusia dan seluruh ciptaan.

    Dalam konteks Krisis ekologi modern, perubahan iklim, polusi, deforestasi, serta ketidakadilan ekologi. Spiritualitas Fransiskus menjadi relevan sebagai dasar untuk membangun yang namanya “Ekologi Integral”. Pandangan ini menuntut keterpaduan antara dimensi ekologis, sosial, ekonomi, spiritual, dan moral. Menjaga lingkungan berarti sekaligus memperjuangkan keadilan bagi kaum miskin dan masa depan generasi mendatang.

    Dengan demikian, panggilan utama bagi manusia zaman ini adalah bertobat ekologis, mengembangkan gaya hidup sederhana, rendah hati, dan penuh syukur, serta menumbuhkan solidaritas dengan semua ciptaan. Alam semesta tidak hanya tempat tinggal kita, melainkan juga gambar kasih Allah yang menuntun manusia pada kedekatan dengan Sang Pencipta. Maka, menjaga keutuhan ciptaan wujud nyata iman Kristiani dan jalan menuju perdamaian sejati di dunia.

Daftar Pustaka

Bowe, Barbara E. Biblical Foundations of Spirituality. Maryland: Rowman and Littlefield Publishers Inc., 2003.

Fransiskus, Paus. Ensiklik Laudato Si’ (Terpujilah Engkau). Seri Dokumen Gerejawi no. 98. Diterjemahkan oleh Martin Harun. Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2016.

Marpaung, Managar C. Spiritualitas Disarm Fransiskan. Medan: Bina Media Perintis, 2018.

Simanullang, Gonti. “Spiritualitas Ciptaan dan Hidup Ugahari.” Logos Jurnal Filsafat-Teologi vol. 2, no. 1 (Januari 2003): 28.

Stanislaus, Surip. “Peduli Ekologi Ala Fransiskus Asisi.” Logos Jurnal Filsafat-Teologi vol. 18, no. 2.


[1] Managar C. Marpaung, Spiritualitas Disarm Fransiskan (Medan:Bina Media Perintis, 2018), hlm. 510.

[2] Surip Stanislaus, “Peduli Ekologi Ala Fransiskus Asisi”, dalam Logos Jurnal Filsafat-Teologi, vol.18, no 2.

[3] Barbara E. Bowe, Biblical Foundations of spirituality (Maryland: Rowman dan Littlefiled publishers Inc, 2003), hlm. 11.

[4] Gonti Simanullang, :Spiritualitas Ciptaan dan Hidup Ugahari”, dalam Logos Jurnal Filsafat-Teologi vol.2, no. 1 (Januari 2003), hlm. 28.

[5] Managar C. Marpaung, op. cit., hlm. 357-359

[6]Paus Fransiskus, Ensiklik Laudato Si’ (Terpujilah Engkau) Seri Dokumen Gerejawi no. 98), diterjemahkan oleh Martin Harun (Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2016), no. 159. Selanjutnya akan ditulis Laudato Si, dan diikuti dengan nomor.

[7] Laudato Si’. No. 10.

[8] Managar C. Marpaung, op. cit., hlm. 569

[9] Ibid., hlm. 512

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *